Messi, Tak Masalah Menangis, Heathcliff Juga Menangis

29 Jun 2016 13:13 5212 Hits 6 Comments

Barangkali, ucapan Isabelle pada Hugo Cabret tepat untuk dikatakan pada Messi saat ini: “Messi, tak masalah menangis... Heathcliff juga menangis.”

Dalam film Hugo (2011), Isabelle (Chloë Grace Moretz), satu-satunya teman Hugo Cabret (Asa Butterfield) dan seumuran dengannya, menghibur anak kecil berumur 12 tahun itu dengan mengatakan: “Tak masalah menangis... Heathcliff juga (menangis).”

Wajar belaka Hugo bersedih dan menangis. Hidup anak itu penuh derita dan nestapa. Heathcliff saja, yang tangguhnya bukan main, juga menangis. Apalagi Hugo, yang hidup kesepian di atas menara jam stasiun kereta api Gare Montparnasse, Paris. Tentu juga Lionel Messi, yang hidupnya dipaksa kesepian tanpa piala di timnas Argentina. Meskipun diluar timnas, Messi bergelimang piala dan prestasi individu.

Heathcliff adalah karakter utama dalam novel Wuthering Heights (1847) karya Emily Brontë (1818-1848). Di Wuthering Heights, sebuah rumah mewah di Yorkhshire, Inggris, Heathcliff mula-mula hanyalah “pendatang” yang sebatang kara dan seorang gipsi tanpa garis keturunan yang jelas. Kondisi Heathcliff itu, segera membuat ia disayangi oleh Mr. Earnshaw, kepala keluarga sekaligus tuan tanah di Yorkhshire. Perlakukan istimewa terhadap Heathcliff melahirkan sikap cemburu dari salah seorang anak Mr. Earnshaw, Hendley. Di saat yang sama, Heathcliff dicintai oleh Cahterine, anak kedua Mr. Earnshaw.

Beriringan dengan kebencian Hendley, cinta Catherine pada Heathcliff gayung-bersambut. Namun, cinta mereka terbentur tembok kelas sosial. Catherine menikah dengan orang lain. Cinta tak sampai ini membuat Heathcliff membabi buta. Cinta Heathcliff membuat mental Chaterine terbunuh—yang pada akhirnya benar-benar membunuh Catherine. Catherine meninggal dunia.

Sepeninggal Catherine, Heathcliff semakin membabi buta. Lewat dendamnya pada keluarga Cahterine disertai kelicikan dan keangkuhan, Heathcliff dapat mengusai Wuthering Heights. Ia menguasai seluruh tanah dan harta benda pewaris Mr. Earnshaw. Pada titik itu, Heathcliff benar-benar telah menjadi laki-laki tangguh, tak kenal kompromi dengan batin rapuh: cinta tak sampai dan ditinggal Cathterine membuat Heathcliff selalu menangis sampai akhir hayatnya meskipun di tengah-tengah harta yang melimpah. Ketangguhan dan kerapuhan bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam diri Heathcliff.

Nyaris dua abad setelah Emily Brontë menuliskan Heathcliff, laki-laki setangguh Heathcliff lahir ke dunia: Lionel Messi. Meskipun sifat Heatcliff dan Messi tak sama, tetapi keduanya dipertemukan dalam satu hal: obsesi. Obsesi memiliki Chaterine-lah yang membuat Heathcliff mampu memiliki Wuthering Heights dan obsesi memiliki trofi kejuaraan timnaslah yang membuat Messi bergeliman trofi di Barcelona. Obsesi Heathcliff dan Messi pun berakhir sama: gagal. Heathcliff gagal memiliki Chaterine dan Messi gagal memiliki trofi dalam kejuraan timnas (baik Copa America maupun Piala Dunia).

Namun, Heathcliff bukan Messi dan Messi bukan Heathcliff. Keduanya berbeda. Sementara Heathcliff terus dibayang-bayangi “pengejarannya” pada Catherine sepanjang hidupnya dengan terus berlaku brutal pada penghuni Wuthering Heights, sedangkan Messi tidak. Tak sebagaimana Heathcliff, Messi memilih memupus impian untuk menggenggam trofi lewat timnas Argentina setelah negara yang dinahkodainya itu takluk di tangan Chile untuk kedua kalinya, sama-sama di final Copa America. Messi menyatakan pensiun dini hanya sesaat setelah Chile pesta pora sebagai kampium Copa Centenario, Copa America edisi khusus memperingati seabad digelarnya Copa America (makanya berlangsung setahun kemudian setelah Copa America 2015 di Chile).

Bagaimanapun, kegagalan Messi membawa Argentina juara di Copa America 2016 itu adalah pukulan berat bagi Messi setelah pukulan demi pukulan bertubi-tubi menghantam Argentina dan Messi sebelumnya (gagal di Piala Dunia 2007, 2014/final dan Copa America 2015/final). Messi, yang mega bintang di Liga Spanyol dan membawa Barcelona—dan juga membawa dirinya sendiri—merengkuh banyak trofi dan prestasi individu, di timnas tanah kelahirannya megap-megap: di era Messi, Argentina hanya mampu bernafas di putaran final sebagai runner-up.

Ekspektasi publik Argentina—dan fans Argentina-Messi di seluruh dunia—yang tinggi terhadap Messi berakhir mengecewakan. Sulit dielakkan, pastilah Messi merasa dirinya yang paling layak dihakimi atas kegagalan Argentina, khususnya di Copa America 2016. Iya, resiko seorang mega-bintang. Eksprektasi itu tak mampu diembang Messi (dan skuad Argentina lainnya) meskipun Messi dan rekan senegaranya telah berusaha sekuat tenaga. Dan, terasa sangat tidak adil—juga berlebihan—bila kegagalan Argentina dialamatkan pada Messi. Memang, Messi mega-bintang di Barcelona, namun kemega-bintangannya di Spanyol dan Eropa tak lantas menjadikan sebab untuk ia didudukkan di kursi pesakitan.

Lebih dari itu, Messi—dengan gemerlap trofi dan penghargaan individunya di Barcelona—hanya seorang manusia biasa yang pada suatu masa bertemu dengan kegagalan yang mesti ditangisi. Dan memang, Messi menangis usai tendangannya melambung di atas mistar gawan Chile. Ia terus menangis saat tendangan rekan senegaranya, Lucas Biglia, diamankan oleh Claudio Bravo, kiper Chile.

Di akhir kegagalan, Messi telah membuat pilihan yang tak kalah beratnya dari menanggung kekalahan: ia pensiun sebelum umurnya mencapai batas pensiun. Tentu ini mengecewakan dan memupus harapan di masa mendatang, yang mungkin saja harapan itu masih terbentang. Namun sekali lagi, Messi bukan Heathcliff yang terus dibayang-bayangi Catherine sepanjang hayat. Messi memilih menghapus bayang-bayang (trofi timnas) itu dengan keputusannya untuk pensiun dini dari timnas Argentina. 

Barangkali, ucapan Isabelle pada Hugo Cabret tepat untuk dikatakan pada Messi saat ini.

“Messi, tak masalah menangis... Heathcliff juga menangis.”

 

Note: film Hugo diadaptasi dari novel The Invention of Hugo Cabret (2007) karya Brian Selznick (lahir pada 1966).

*sumber foto: equator.co.id

Tags

About The Author

RACHEM McADAMS 26
Novice

RACHEM McADAMS

penyuka prosa & kucing | sesekali menulis cerpen & novelette

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel