Magic Hour―Satu Cinta untuk Selamanya

4 May 2016 20:35 73955 Hits 0 Comments
Bagiku hujan itu indah, hujan itu menyenangkan. Aku merasa berarti saat aku sendirian. Nggak perlu bicara apalagi keramaian. Aku bisa menciptakan kebahagianku sendiri. Aku nggak perlu malam menjemput sang mimpi. Karna aku hidup dalam imajinasi. Aku nggak perlu jatuh cinta untuk ngerasain apa itu cinta. Aku nggak perlu kehilangan untuk merasa sedih dan hampa. Yang aku lakukan cukup berdiri menatap matahari yang perlahan terbenam. Bagaikan sang putri yang tersenyum terlelap dalam peraduan. Hingga suatu saat nanti, aku yakin, cinta sejatiku akan datang. Seindah magic hour yang selalu kunikmati di dermaga ini.

Magic Hour adalah salah satu film Indonesia tahun 2015 yang bergenre drama romantis, diadaptasi dari novel berjudul Magic Hour : Let In The Unexpected karangan Tisa TS.  Film Magic Hour yang berdurasi 96 menit ini diproduksi oleh Screenplay Films, tayang perdana di bioskop pada 13 Agustus 2015 dan mampu menduduki peringkat ke-5 dengan penonton sebanyak 859.705 pada tahun 2015.

Asep Kusdinar yang berperan sebagai sutradara Magic Hour, telah mengemas cerita ini dengan sangat apik. Ia membuat sedikit perbedaan dengan novel aslinya, agar yang sudah membaca novel Magic Hour bisa merasakan sesuatu yang fresh dari film ini. Film yang digarap Asep ini juga dibumbui dengan kata-kata puitis yang begitu romantis. Melalui kata-kata yang puitis inilah, film ini mampu memikat hati para penonton.

“Namaku Raina. Tapi aku lebih suka dipanggil Rain. Kenapa ? Karena aku suka hujan. Bagiku hujan itu indah, hujan itu menyenangkan. Aku merasa berarti saat aku sendirian. Nggak perlu bicara apalagi keramaian. Aku bisa menciptakan kebahagianku sendiri. Aku nggak perlu malam menjemput sang mimpi. Karna aku hidup dalam imajinasi. Aku nggak perlu jatuh cinta untuk ngerasain apa itu cinta. Aku nggak perlu kehilangan untuk merasa sedih dan hampa. Yang aku lakukan cukup berdiri menatap matahari yang perlahan terbenam. Bagaikan sang putri yang tersenyum terlelap dalam peraduan. Hingga suatu saat nanti, aku yakin, cinta sejatiku akan datang. Seindah magic hour yang selalu kunikmati di dermaga ini.”

Magic HourÃÃÃâSatu Cinta untuk Selamanya

Cerita ini berawal dari Raina (Michelle Ziudith) anak yatim piatu, yang diadopsi oleh Flora (Meriam Bellina), wanita single parent yang sudah memiliki anak, Gweny (Nadya Arina) yang seusia dengan Raina. Raina diasuh oleh Flora layaknya anak sendiri. Mereka berdua, Gweny dan Raina, sejak kecil hidup sebagai saudara tiri. Namun mereka sangat akrab, lebih akrab dari sepasang sahabat. Mereka layaknya sepasang saudara kandung. Raina juga bekerja di florist milik Flora, ia sering mengantar bunga-bunga pesanan dengan mengayuh sepeda kesayangannya. Ia bahkan sempat mengalami kecelakaan saat mengantar bunga.

Semua masalah berawal dari keinginan Flora untuk menjodohkan Gwen dengan anak sahabatnya bernama Dimas (Dimas Anggara). Gweny yang belum mengenal Dimas sama sekali, meminta Raina untuk menyamar menjadi dirinya dan menyelidiki tentang Dimas lebih dalam. Raina awalnya menolak keras untuk melakukan hal konyol itu, tetapi akhirnya luluh karena Gweny terus saja memohon padanya. Ternyata kehadiran sosok Dimas yang tak pernah direncanakan sebelumnya oleh Raina bagaikan magic hour, mampu membuat hidup gadis itu lebih berwarna dari sebelumnya.  Mereka bahkan menari bersama di bawah guyuran hujan. Seiring berjalannya waktu, mereka saling mencintai.

Semua awalnya berjalan baik-baik saja. Sosok Dimas yang cuek menjadi luluh saat ia jatuh cinta pada Raina. Namun, hampir semua cerita cinta tak pernah berjalan mulus layaknya papan seluncur. Begitu pula cerita cinta tentang Raina dan Dimas. Semakin mereka ingin melepaskan, semakin kuat rasa cinta yang mereka rasakan. Semakin mereka ingin memperjuangkan cinta, semakin banyak pula rintangan yang menghadang. Mulai dari Gweny yang mulai jatuh cinta dengan Dimas, Toby (Rizky Nazar) sahabat kecil Raina yang ternyata menyimpan rasa padanya, hingga Raina mengetahui rahasia terbesar yang disimpan oleh Dimas.

“Kalau menurut kamu, magic hour itu apa ?”

“Waktu dimana matahari tenggelam dan bulanpun terbit. Sederhananya seperti sekarang ini.”

“Kalau menurut aku, magic hour itu adalah waktu dimana semua keindahan dan keajaiban langit tergambarkan di depan mata kita.”

Magic HourÃÃÃâSatu Cinta untuk Selamanya

Dalam dunia fotografi atau sinematografi, Magic Hour atau yang juga biasa disebut Golden Hour, didefinisikan sebagai masa setelah matahari terbit atau sebelum matahari terbenam, saat warna langit agak kemerah-merahan atau lebih lembut ketimbang saat matahari berada tinggi di angkasa. Keindahan transformasi warna alam itu yang digambarkan sebagai keindahan kisah cinta Raina dan Dimas.  (Wikipedia)

Tema melankolis cinta memang selalu menjadi favourite remaja Indonesia. Alur cerita Magic Hour mungkin sudah berulang kali kita tonton, tapi tetap saja tak pernah membosankan. Film tentang keajaiban cinta ini sangat menarik, banyak kata-kata puitis romantis yang begitu ngena di hati. Seperti kalimat puitis yang yang mungkin saja banyak dikenang oleh para penonton, “Terus, buat apa Tuhan ciptain hati kalo cuma buat dipatahin kaya gini ?”

Pemilihan pemeran utama Michelle Ziudith dan Dimas Anggara dirasa sangat tepat. Pasangan yang naik daun berkat perannya dalam sinetron Love in Paris  ini membangun chemistry dengan sangat menawan, meskipun  di akhir cerita Dimas Anggara sedikit kaku. Film ini sangat cocok untuk ditonton oleh para remaja maupun orang dewasa yang sangat menyukai drama romantis. Dengan kutipan kata-kata romantis yang terlontar dari mulut Michelle dan Dimas membuat penonton hanyut dalam keajaiban cinta yang ada. Meskipun pada ending-nya cerita ini terkesan memaksa, namun tetap saja, film ini tak boleh terlewatkan untuk ditonton. Karena setiap cinta, punya cerita tersendiri di dalamnya, dan Magic Hour ini adalah cerita cinta Raina, sang gadis pecinta hujan.
 

 

About The Author

Belinda Mufidah 29
Novice

Belinda Mufidah

I love reading and writing. Because with words I can explain my own feelings :)

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel