dodolan kroto

16 Apr 2016 15:08 2336 Hits 1 Comments
Ilustrasi : pojoksatu

Musim kemarau yang panjang membuat banyak perkebunan yang membutuhkan banyak air menjadi banyak yang mati, dan akhirnya menjadikan gagal panen. Hal tersebut di alami seorang pemuda desa yang sedang hobi bertani untuk menyambung hidup dirinya beserta keluarganya.

Suatu ketika, petani muda tersebut, sebut saja namanya, Jaka. Jaka merasa rugi banyak karena beberapa kali hasil panennya gagal terus, dan akhirnya terbesit untuk mencari lahan pekerjaan selain bertani, entah sebagai pedagang, karyawan atau apalah yang penting bisa menyambung hidup dirinya dan keluarganya.

Akhirnya Jaka, menemui temannya yang kebetulan sedang liburan di desa. Tidak mau kehilangan kesempatan akhirnya Jaka datang dan bertamu ke rumah temannya itu, sebut saja Jono. Berada di emperan rumah Jono, sambil menikmati kopis panas dan singkong goreng, Joko menceritakan keinginanya untuk mencari pekerjaan lain. Jaka juga bersedia semisal pekerjaan itu harus pergi ke kota.

Ngobrol sana-ngobrol sini, akhirnya teman si Jaka, si Jono mengajak Jaka untuk ikut bersamanya merantau ke kota. Mendengar ajakan tersebut si Jaka tidak pikir panjang untuk menjawab “ya”. Setelah tiba waktunya untuk balik ke kota si Jono berpesan kepada si Jaka agar nantinya kalau sudah berada di kota jangan terlalu percaya dengan orang lain, dan juga jangan terlalu gumunan.

Perjalanan pun dimulai, bus jurusan antar provinsi yang sudah lama ditunggu akhirnya nongol juga, si Jaka dan si Jono mulai memasuki bus tersebut dan mencari tempat duduk yang bersamaan. Dalam perjalan, kedua sahabat ini tidak mengalami kendala ataupun hambatan. Si Jaka yang tidur pules itu akhirnya dibagunkan karena bus yang dinaikinya sudah sampai di kota tujuan.

wah koyok ngene yo jebule kota kwi, motore wakeh,” ucap si Jaka seusai keluar dari bus.

“yo ngene iki lah jenenge kota Jek, akeh motor tur danalane ombo-ombo,” sahut si Jono.

Setelah sampai di terminal tempat bus tadi berhenti, keduanya segera mencari angkutan jurusan yang melewati kontrakan si Jono, berhubung waktu sudah mulai gelap dan angkutan yang menuju kontrakan Jono mulai habis. Kebetulan saat itu masih ada satu angkot yang lagi menunggu penumpang, dan angkot itu merupakan angkot terakhir yang melewati lokasi kontrakan si Jono.

Sampailah akhirnya kedua pemuda tadi di kontrakan,. Berhubung habis melakukan perjalanan jauh, si Jaka merasa tubuhnya pegal-pegal dan ngantuk,. Jono tanpa basa-basi mempersilahkan Jaka untuk beristirahat dulu,.

Matahari pagi mulai terlihat, si Jaka yang biasanya bangunnya sebelum matahari ini, kali ini bangun setelah matahari terbit. Dia merasa kaget, seakan jarum jam berputar begitu cepat, mungkin juga itu efek karena kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.

Terlihat si Jono keluar dari kamar mandi yang berada di samping kamar tidur, Jono terlihat sudah rapi dan segar setelah mandi. Seperti hari-hari biasa, sebelum berangkat ke kantor, Jono selalu menyempatkan diri untuk membeli sarapan di warung yang berada tidak jauh dari tempat kontrakannya. Maklum lokasi kontrakannya berada di daerah kost-kost an mahasiswa dan karyawan perusahaan.  Kali ini Jono tidak hanya membeli satu bugkus nasi, melainkan dua bungkus . Ibu penjual nasi langganannyapun terkejut ketika Jono membeli 2 bungkus nasi.

“kok tumben mas Jono beli dua bungkus,?” tanya Ibu penjual nasi.

“‘oh, kebetulan hari ini ada teman dari kampung sedang nginap,”jawab Jono

Si Ibu pun akhirnya paham dan tidak lagi pertanyakan lagi perihal pembelian dua nasi bungkus tersebut. Keduanya akhirnya menikmati sarapan pagi. Namun karena hari ini si Jono lagi sibuk jadi belum bisa mengajak kemana-mana temannya si Jaka itu. Tapi si Jono sebelum berangkat berpesan kepada Jono untuk tidak pergi jauh-jauh dari kontrakan, takut kesasar.

Waktu siang telah tiba, Jaka merasa perutnya mulai lapar, maklum saja kebiasaan Jaka memang makan siang  tepat waktu ketika tinggal di desa. Namun kali ini dirinya tetap ingin membeli makan. Keluarlah si Jaka dari kontrakan dan menuju ke tempat warung yang juga tidak jauh dari kontrakan, namun kali ini warungnya bukan tempat langganan Jono dipagi hari.  Karena memang warung langganan Jono hanya buka pada pagi hari saja.

Si Jaka akhirnya memasan makan di warung tersebut, namun dia sadar sekarang posisinya lagi di tempat perantauan jadi tidak berani makan yang enak-enak, yang penting mengenyangkan. Seusai makan, Jaka ikut ngobrol orang-orang yang sedang lagi asik duduk di samping warung tersebut. Karena terlihat orang baru, Jaka pun di tanya sama pemuda yang ada di situ.

Pemuda: Orang baru ya mas

Jaka: iya, saya lagi mencoba ikut merantau ke kota

Pemuda: sejak kapan dan mau ngapain merantau ke sini?

Jaka: saya mau mencari kerjaan mas

Pemuda: ohh mau mencari pekerjaan, mau ikut kerja sama saya?

Jaka: kerja apaan mas, dimana?

Pemuda: kerjanya sih mudah mas, lokasinya di sekitar sini saja, nanti kita mantau saja.

Mendengar dan melihat ajakan pemuda tersebut, si Jaka menjadi penasaran dengan pekerjaan yang ditawarkannya. Namun sepertinya si Jaka masih mengingat-ingat pesan dari temannya si Jono tentang jangan mudah percaya dengan orang lain. Sadar dengan pesan itu, Jaka mencoba mencari apa pekerjaan yang ditawarkan tadi.

Jaka: boleh mas, tapi bisa melihat dulu gak kerjanya seperti apa

Pemuda: ohh santai mas, boleh, nanti mas nya magang dulu saja, biar nyaman

Jaka: oke lah kalau begitu. Emang kerjanya apaan mas?

Pemuda: oh iya lupa, kalau boleh tahu namanya siapa mas?

Jaka: Jaka mas, mas siapa namanya?

Pemuda: Panggil saja Gareng

Jaka: Oke mas Gareng, lalu pekerjaannya tadi apa mas?

Pemuda: Kerjanya jualan kroto mas, tau kroto kan?

Jaka: Ohh tau banget mas, kalau kroto saya tahu mas itu makanan burung, itu di desa saya banyak banget mas.

Pemuda: tapi ini krotonya mungkin beda mas, sama yang mas maksud

Jaka: kroto buat makanan burung kan mas?

Pemuda: iya, tepat sekali. Udah mas Jaka tunggu dulu, sebentar lagi krotonya bakal  kesini dan pembelilnya juga datang kesini.

Jaka: okelah mas, saya belajar dulu.

Tidak berapa lama, datang seorang perempuan berpakaian seksi menghampiri pemuda tadi dan si Jaka. Jaka pun mulai kaget dan juga penasaran setelah melihat wanita bertubuh seksi itu ngobrol asyik dengan pemuda tadi.  

Pemuda: Mas jaka perkenalkan dulu, ini namnya Bunga

Bunga: Saya Bunga mas,

Jaka: Saya Jaka mbak (sambil berjabat tangan)

Tentu Jaka merasa senang, karena baru satu malam hidup di kota sudah dikenalkan  seorang perempuan yang cantik dan seksi oleh pemuda yang baru dikenalnya pula. Setelah keduanya berkenalan, ada mobil  keren yang berhenti, dan keluarlah seorang laki-laki dengan pakaian yang terlihat serba mahal. Laki-laki tersebut menghampiri Jaka, Bunga dan Pemuda (Gareng) yang lagi duduk-duduk.

Laki-laki: Bagaimana mas Gareng, sudah ready kah?

Pemuda : Ready, ini tinggal bawa, semuanya bisa diatur.

Bunga: Oke mas gareng, saya pergi dulu,

Tak lupa pula Bunga berpamitan kepada si Jaka,

Bunga: Mas Jaka, saya pergi dulu ya, (sambil berbisik-bisik di dekat telinga jaka ) saya sudah laku.

Jaka pun terbengong dan terkejut, setelah mendengar bisikan Bunga. Jaka pun bertanya kepada Gareng pemuda yang dikenalnya barusan.

Jaka: Mas Gareng, krotonya sudah laku ya.

Pemuda: Wahhh mas Jaka sudah cepat tanggap, belum saya jelaskan sudah langsung tahu.. gimana mas tertarik gak?

Jaka: Waduh mas, meskipun krotonya harganya mahal, saya mau ternak kroto yang ada di desa saya saja lah mas.

Setelah tahu apa kerjaan yang ditawarkannya tadi, akhirnya Jaka menolaknya, biar tidak dibujuk-bujuk lagi akhirnya si Jaka berpamitan kepada Gareng untuk pulang dulu. Tapi, biar tidak terkesan menghindar, si Jaka berpamitan kepada Gareng.

Jaka: Selamat bekerja mas Gareng, saya pamit pulang dulu ya, untuk tawaran pekerjaannya terima kasih, saya mau ternak kroto sendiri saja di desa.

Tiga langkah dari tempat duduknya, Jaka menengok dan melambaikan tangan kepada Gareng, sambil berucap. “wuiiiihh krotonya sedang laku,,, cuit,,cuittt”, ucap Jaka.

 

Tags

About The Author

Abdus Salam 34
Ordinary

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel