Kalimat Si Bapak di Plasa Simpang 5

4 Mar 2016 14:08 2165 Hits 1 Comments
sumber foto: merdeka.com/ilustrasi

Tiba-tiba bapak-bapak yang berada di sampingku bertanya kepadaku, tidak bertanya serius, tapi sepertinya bapaknya butuh teman ngobrol, ya meskipun bapak itu duduk di sampingku dan datang dengan pasangannya, yang pasti pasangannya istrinya sendiri bukan istri orang lain.

Sebut saja si bapak, karena saya belum sempat tanya namanya. Obrolan si bapak itu, seakan mengingatkanku apa yang harus saya lakukan untuk masa depan. Meski tidak terlalu banyak bercerita, tapi ada satu kalimat yang diucapkannya membuat hatiku menjadi teringat apa yang harus saya lakukan.

Perbincangan itu (sengaja tidak saya tuliskan perbincangannya) bermula ketika saya sedang menunggu servis tablet (biar kelihatan kekinian punya tab) di plasa simpang 5 lantai 5B (pojok paling atas sendiri). Sudah hampir setengah jam saya duduk dan menunggu servisan selesai, karena hanya mengganti layar, jadi proses pengerjaannya bisa ditunggu dan kebetulan sedang tidak banyak antrian pula.

Tiba-tiba si bapak tadi dan istrinya datang dan seperti mau ikut menserviskan gadgetnya yang lagi rusak. Setelah proses negosiasi sama tukang servisnya, si bapak dengan istrinya (karena gak jomblo) akhirnya bersedia menunggu, duduk di sebelah kanan (istrinya) dan kiri (si bapak) saya posisinya persis di tengah, karena memang hanya ada tiga kursi.

Hampir 10 menit saya hanya bengong (sambil ngantuk-ngantuk), sabar menunggu servisan selesai, mau ngajak ngobrol samping kiri dan kanan juga tidak kenal, terasa canggung untuk basa-basi membuka obrolan. Maklum jhon, jomblo je, nek ndi-ndi yo dewean. Tapi yo disyukuri wae,,.

Pikir saya si bapak juga mulai jenuh, hanya diam saja, ngalamun kemana-mana, mau ngajak ngobrol mantan pacarnya (istrinya) juga terhalang posisi saya yang berda di tengah antara keduanya. Akhirnya si bapak basa-basi bertanya dan menyapaku.

Bertanya hal sepele untuk membuka obrolan. Saya berusaha menjawabnya saja, tidak berusaha untuk basa-basi bertanya. Karena melihat dari barang yang nempel di telinga sebelah kanan (kayak headset) sepertinya si bapak mengalami gangguan pada pendengarannya, karena terbukti dari beberapa jawaban yang saya berikan harus saya ulang beberapa kali. Dan sempat juga si istrinya yang menjelaskan lebih detail tentang apa yang saya sampaikan.

Singkat cerita, tiba-tiba si bapak juga menceritakan anaknya (putrinya, sekali lagi putrinya). Terkait kerjaan putrinya (ingat perempuan ya) yang baru saja didapatnya. Si bapak menceritakan betapa susahnya anaknya mencari kerja dan proses seleksi berkali-kali hingga sampai diterima. Saat si bapak bilang anaknya perempuan, reflek, saya menoleh ke kanan (arah si istrinya). Setelah saya melihat istrinya, saya jadi teringat pesan teman saya si jomblo yang lagi mengejar-ngejar cintanya (katanya sih terhalang-halangi sesuatu).

"Kak, kalau melihat ibu-ibu yang cantik, pasti anak perempuannya juga cantik," kata si jomblo.

Jadi saya bisa memberikan hipotesa seperti apa kira-kira anak perempuan si bapak dan si ibu tadi yang diceritakannya. Setelah cerita sana-sini tentang anak perempuannya, si bapak balik lagi tanya kepada saya.

"Mas nya sudah berkeluarga?", tanya si bapak.

Waduh ini pertanyaan biasa tapi sepertinya ngledek status saya yang “lagi” jomblo, walaupun saya yakin, si bapak tidak tahu kalau saya jomblo (single fighter). Tapi, sepertinya pertanyaan bapak tadi kalau dikaitkan, menyambung dengan cerita anak perempuannya tadi yang baru lulus kuliah di Universitas ternama di Semarang.

"Opo meh mbok entukke anakmu pak-pak," pikirku.

Ahh,, tapi gak usah terlalu banyak berkhayal dan berharap yang tidak-tidak, lagi pula saya juga tidak tahu latar belakang (koyok skripsi pakai latar belakang) si bapak dan lain-lainnya. Dan kenapa juga saya kePDan, lagi pula si bapak juga gak ada pikiran "ke sana". Wkwkwkwk...

Berhubung servis selesai saya langsung pergi dan pindah menunaikan kewajiban yang lain. Tidak lupa saya menyapa pamit untuk pergi kepada si bapak dan si ibu tadi.

"Jangan terlalu terlena dengan keasyikan," pesan si bapak, sebelum saya menutup perbincangan.

 

Tags

About The Author

Abdus Salam 33
Pena

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel