article

"Gowo" Sejarah dan Budaya Indonesia

"Gowo" Sejarah dan Budaya Indonesia

 

“Jowo digowo, arab digarap, barat diruwat”

(Emha Ainun Najib)

ads

Negeriku kaya akan budaya. Ada 1000 lebih bahasa yang digunakan oleh penghuni negara ini. 2000 ribu suku (etnis) yang hidup berdampingan menjunjung persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berasaskan pancasila dan undang-undang dasar (UUD 1945) dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu jua).

 

Negeri yang dikarunia ribuan perbedaan ini memantik para peneliti luar negeri menggali keilmiahan yang ada dalam bumi pertiwi. Direktur Elsa Semarang, Dr. Tedi Kholiludin[1] mengatakan Indonesia sangat kaya akan hal-hal yang diteliti, namun orang-orang kita terkadang malas untuk menelitinya

 

Kekayaan yang perlu digali ini menjadi penting untuk masa depan bangsa ini. Budaya yang begitu banyak jangan dijadikan sebuah ekslusivisme kehidupan. Merasa hebat sendiri dari budaya yang lain dan tak mau ber-akulturasi dengan budaya postif zaman sekarang.

 

Bahasa yang merupakan kekayaan kita diuntungkan oleh adanya bahasa pemersatu bangsa yaitu bahasa Indonesia seperti termaktub dalam Sumpah Pemuda 1928. Jangan diartikan bahasa pemersatu ini menjadi lemah dalam pengembangan bahasa daerah. Justru dengan adanya bahasa pemersatu, bahasa daerah dapat dikenalkan kepada mancanegara. Bahasa Indonesia yang dijadikan komunikasi dengan bangsa asing tentu akan mengenal logat bahasa Indonesia yang berbeda. Logat orang timur dengan orang barat tentunya itu berbeda. Tentu orag luar negeri aka penasaran melihat keragaman negeri kita dalam persoalan bahasa.

 

Masuknya bahasa asing ke Indonesia merupakan tren postif yang perlu dikembangkan untuk kemajuan negara kita. Beberapa bahasa yang masuk ke negara kita, bahasa Arab, Inggris, Prancis, Mandarin, dll. Tempat les bertebaran dimana-mana menandakan beberapa orang mulai tertarik dengan bahasa asing. Apakah itu akan merusak tatanan budaya kita ? Apakah masuknya bahasa asing menjadi “penjajahan” budaya ?. Pertanyaan itu selalu muncul dikalangan para tetua adat yang tak selalu menginginkan kebudayaan kita kalah dengan budaya lain.

 

Frans Magnis Suseno membeberkan analisa menarik salah satu suku yang ada di Indonesia yaitu suku jawa. Dimana salah satu dari ciri khas mereka adalah meruwat budaya luar agar sesuai dengan konteks ke-Indonesian dan ke-Jawaan. Beliau juga menambahkan beberapa budaya yang berhasil di olah menjadi bentuk asli Indonesia. Misalnya wayang, kebiasaan tahlilan, sekaten, dll.

 

Wayang yang tadinya adalah kebudayaan orang-orang India yang dibawa oleh penganut Hindu. Budaya menerapkann strata sosial pada wayang masih ada, tokoh-tokoh yang mereka bawa pun masih berbau India. Kemudian ada nilai kreatif dari salah seorang walisongo bernama Sunan Kalijaga untuk membawakan wayang sesuai dengan kebudayaan daerahya. Disitulah kreatifitas yang dimiliki oleh orang kita. Tak melulu mengambil mentah-mentah suatu budaya luar, tetapi memodifikasikan agar sesuai dengan tempatnya.

 

Semua suku di Indonesia memiliki tetua adat yang sangat bersikukuh menjaga kearifan lokal untuk masa depan sukunya. Bagaimanapun sejarah tak bisa lepas dari pergolakan budaya yang ada di Indonesia. Pepatah mengatakan dimana ada budaya disitu bertebaran sejarah. Masa lalu soal budaya memang sangat rumit, Indonesia memang seperti budaya itu. Salah kalau kita menghindari budaya tersebut. Sebagai orang Indonesia perlu melaksanakan kebudayaan kita dan juga tidak buta mengenai sejarahnya.

 

Buta sejarah itulah yang meski kita tanggulangi bersama. Program pemerintah yang selalu meyuarakan pemberatasan buta aksara. Dua permasalahan ini dapat ditanggulangi bersama tentunya hasilnya akan luar biasa. Bapak proklamator mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah para pendahulunya.

 

Mengetahui sejarah dengan berbagai macam tafsir itu tak bermasalah. Sejarah pada hakikatnya mengikuti siapa penguasa pada waktu itu. Mejaga sejarahnya yang perlu kita suarakan dan tanamkan kepada generasi muda-mudi Indonesia.

 

Hilangkan stigma anggapan “kuno” demi menjaga sejarah yang ada. Tafsiran sosial yang selalu menyudutkan penjaga sejarah memang benar adanya. Apakah hal tersebut menjadi serta merta menghalangi kita untuk menjaga sejarah ?. Tentunya, tidak. Perkataan Ir. Soekarno mengenai betapa berharganya sejarah bagi bangsa ini. Apapun resikonya, sejarah yang ada di negara ini perlu dijaga.

 

Budaya dan sejarah tentunya menjadi harga mati sebuah bangsa. Masa lalu dan identitas suatu negara dibuktikan dengan dua hal tersebut. Masa lalu yang kelam tidak berarti masa depan yang kelam juga. Belajaralah dari Jepang yang telah diluluh lantahkan oleh pasukan sekutu sekarang sudah bisa berdikari dalam teknologi.

 

Mereka berusaha mengkolaborasi antara budaya dengan teknologi di masa sekarang. Tak ada kecanggungan untuk selalu meg-upgrade budaya dengan teknologi yang ada. Belajar dari literatur-litaratur yang telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang menjadi makanan pokok yang tak boleh ditinggalkan.

 

Kita bangsa yang besar dan baru 17 tahun reformasi juga mempunyai hal yang tak jauh berbeda dengan Jepang.  Budaya kita sedang berusaha untuk mengadopsi teknologi modern. Kritis terhadap keadaan menjadi kunci untuk meng-klop-kan budaya tersebut. Tak ada hal-hal yang tabu ketika beberapa budaya kita di pentaskan dengan teknologi modern. Dimana tari kecak di Bali dapat meriah karena pengaturan cahaya sedemikian rupa.  Penonton pun berdecak kagum melihat parade budaya tersebut.

 

Sudah saatnya bangsa yang besar ini melihat ke depan. Tatap masa depan bersama genggam dunia untuk sebuah kesuksesan. Budaya yag kita miliki harus dibawa entah kamu melangkah kemanapun. Kecanggungan terhadap budaya Indonesia harus di nihilkan. Bangga terhadap budaya harus ditanamkan pada generasi kini dan masa mendatang.

 

  

 

 


[1] Dalam acara Sekolah Islamic Studies LPM Justisia Semarang, 20 Januari 2015. 

0
Comments (0)
Unable to Comment
You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login

No comments yet. Be the first to comment.

From Author
Loading…
ads
ads
ads