Renungan Jomblo Di Gedong Songo

25 Sep 2016 17:17 2202 Hits 1 Comments
“Berakit-rakit kehujanan, berenang-renang ketepian. Yang lain sudah jadian kamu masih betah sendirian. (Lesen)”

“Berakit-rakit kehujanan, berenang-renang ketepian. Yang lain sudah jadian kamu masih betah sendirian. (Lesen)”

Suntuk menghuni kontrakan yang berukuran 7 X 8. Penghuni dan tetangganya masih ajek itu-itu saja. Aku putuskan untuk pergi ke tempat wisata guna merefresh pikiran, perkataan, serta perbuatan. Bersama tiga teman wanita pria.  Ya, pergi bersama pria yang  tidak memilikii kesibukan (kencan) di hari sabtu dan minggu. Tidak memikirkan (parfum) wangi agar tampil cool di depan  Si Doi. Poko’e mak cleng. Iso kencan gak iso tuku paketan.

Candi Gedong Songo merupakan salah satu wisata bersejarah di daerah Sumowono, Kabupaten Semarang. Hawa ditempat tersebut membuat nyaman dan betah. Apalagi ditemani dengan pacar. Terdapat beberapa spot untuk melangsungkan foto atau selfie pasca jadian, pra wedding, pasca ditinggal mantan, atau pasca di duakan. Kalau anda memiliki uang lebih, bisa memilih penginapan kelas wahid di area wisata. Untuk jomblo bisa beli  tisu, masker, kacamata, atau membawa air minum untuk persedian perjalanan dari Candi 1 hingga Candi 5.

Mblo, disana bisa melihat dedek emesh hingga mbah-mbah kepala 7 bergandeng layaknya adegan Ainun dan Habibi di becak. Cukup dilihat saja, tidak usah memberikan komentar atas kemesraan blio-blio yang sedang memadu kasih. Coba tanyakan pada dirimu sendiri, kapan kamu terakhir bergandeng dengan si dia ? . Kalau jawabnya masih “Ah, si dia bukan muhrim yang tidak boleh digandeng sama seseorang yang belum memantaskan diri untuk bersatu di pelaminan nanti”. Kalaupun ditanya mau nikah kapan. Aku cuma bisa jawab, cukup datang dan bawa aku ke KUA. Berani ?

Mblo, sebenarnya saya ingin sekali menjadi penggemar Aliando Syarif dan Prili Latu Conshina. Keduanya cukup mumpuni dalam memainkan peran kehidupan asmara. Dag dig dug der, jadian terus ada bribikan setelah itu digebet. Eh, jadian lagi. Apa sebenarnya kita wayang yang memainkan kehidupan fana ini dengan circural live ? Atau jangan kita “ter-alienasi” oleh gebetan-jadian-bribikan-putus. Terus berputar seperti itu.  

Mblo, percaya diri menjajaki tangga di Candi Gedung Songo dengan memandang kedepan. Melihat betapa luasnya hamparan bumi yang diciptakan oleh sang Maha Kuasa. Rawa Pening nun jauh di daerah Ambarawa saja bisa terlihat apalagi hanya pasangan yang sudah ada ditangan Tuhan (katanya). Kuatkan batin sebagai bentuk ikhtiar. Jangan terlalu sering menoleh kebelakang. Pasti terdapat puluhan pasangan yang membuat kamu goyah karena dikala hujan mereka berada di dekapan sang kekasih sementara kamu masih kedinginan di bawah pohon pinus.

Mblo, hari ini memang anugrah. Simpanlah perasaanmu . Ungkapkan pada tempatnya. Jangan memberikan harapan palsu. Nenek bilang “mulutmu harimaumu”.

Mblo, jodoh, penghasilan, dan masa depan memang jadi problem masa depan remaja generasi Y. Mereka memang digadang-gadang manusia-manusia melineal meskipun harus tuna cinta. Namun, banyak penganut tuna asmara di masa muda yang sedang menata masa tua dengan matang.

Sungguh menghayati kejombloan di antara puluhan pasangan kekasih yang melancong di Candi Gedung Songgo sesuatu sekali. Jangan ditiru karena dapat membuat anda baper dan syndrome rondo.

Tags opera author

About The Author

Fadli rais 37
Pena

Fadli rais

Pecinta mamah muda made in Indonesia

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel