“.... Kita harus menanamkan budaya tabayyun dengan yang berbeda dan sesama .....†Gus Mus, Pengasuh PP. Raudhatut Thalibin, Rembang.
Â
Matahari masih malu menapakkan jati diri yang sesungguhnya. Udara segar masih menyelimuti kota atlas (Semarang). Laki-laki parubaya menggendong mesin pemotong rumput untuk pergi kerja. Anak-anak sekolah dasar bergorombol di depan gang untuk berangkat ke sekolah. Beberapa ibu-ibu ngerumpi ngalor ngidul di depan penjual sayur. Purwoyoso kelurahan yang terletak di samping kawasan industri berikat (KIB) Candi Semarang. Selimut berupa polusi udara berbanding terbalik dengan angin segar dipagi hari. Debu-debu dan panasnya suhu memperparah kondisi udara yang jauh dari kata sehat. Â Kawasan industri terbesar di Jawa Tengah ini menampung ribuan pabrik mulai dari home industry hingga industry macro. Padatnya bukan main. Kawasan industri yang digagas oleh Bapak Pembangunan pada program Pelita di daerah Kota Semarang, tepatnya di Kecamatan Ngaliyan Keluarahan Purwoyoso yang terdiri dari 11 RW Â Â dan 77 RT. Masyarakatnya yang teridiri dari kelas proletar abis hingga borjuis lupa daratan kata Mbah Marx. Sedikit Sejarah tentang berdirinya kawasan industry tersebut. Merupakan perbukitan yang dikeruk sehingga menjadi dataran yang luas. Tanah kerukan dipindah ke pesisir laut untuk membangun beberapa kawasan industri juga. Sekali mengeruk satu, dua pabri terbangun kalau kata pepatah.
Â
Salah satu daerah RW 05 RT 07 kelurahan Purwoyoso menajdi salah satu imbas dari pengerukan bukit. Masyarakat asli tanah tersebut dengan besar hati harus meninggalkan dengan pesangon yang pas-pasan. Meskipun sebagian kecil bertahan dan berbaur dengan kaum urban. Letaknya dibelakang pabrik minuman kelas nasional. Gerungan mesin-mesin tak pernah berhenti kecuali mesin rusak dan bangkrut pabriknya.
Â
Hidup penuh dengan kebisingan, mendengarkan musik macam genre hadcore pun tak terasa dag dig dug dihati. Apalagi musik melankolis macam Band Kerispatih. Parahnya lagi, masyarakat sekitar diberi makanan sehari-hari untuk menghirup udara tak sedap dari hasil pembuangan berupa udara. Kondisi masyarakatnya pun jauh dari sejahtera. Warga yang terdiri dari buruh pabrik, nelayan, pengepul barang bekas dan kerja serabutan lainya. Rumah-rumah yang masih berupa gubug reyot. Tingkat pendidikan yang hanya mengikuti program pemerintah dan beberapa  orang tua tidak memikirkan pendidikan. “Kota tapi masih tertinggal, aduh mama sayange†kata Abdur Stand Up Comedy Indonesia Season 2014. Melihat permasalahan ekonomi yang sudah peliknya  mencapai stadium empat. Macam Syaikhona Prof. Dr. Jonru, S.Thi saja mungkin saja angkat koper dari desa. “Ekonomi saja sudah pelik, apalagi  beragamanyaâ€. Pernyataan yang begitu pesimis yang sdisampaikan oleh manusia yang diberi akal oleh  sang pencipta.
Â
Gereja dan Masjid
Dua tempat ibadah berbeda perspektif  jalan menuju kebahagian memang sudah biasa ada di Indonesia. Selalu menjadi “bulan-bulanan†media moderat kalau persoalan agama memanas tanah air Indonesia. Mulai dari masjid Istiqlal dan Gereja Katedral hingga tiga tempat ibadah yang dalam kawasan di Desa Purwodadi Kecamatan Kuwarasan Kebumen. Sekali lagi itu hal-hal yang biasa dan hanya ada di Indonesia. Di daerah ini terdapat Gereja Baptis Krapak dan Masjid Al-amin yang letaknya berdampingan. Umurnya hanya terpaut 10 tahun, masjid di dirikan 1980 sedangkan gereja 1990.
Â
Perekonomian yang sangat sulit  dalam  masyarakat tersebut tidak berimbas terhadap kedamain agama. Mereka mengerti hak kebebasan beragama dan hak untuk saling menghormati agama lain dengan bahasa sederhana. “Ojo ndupaki wong sing lagi khusyuk†(jangan mengganggu orang yang sedang khusu’) kata Bu Sumi juru kunci gereja. Maksud khusyuk disinil lebih mengembalikan persoalan agama ke persoalan individu masing-masing tanpa di masuki hal-hal yang berpotensi merusak kedamaian. Salah satu contohnya setelah ba’da isya ada kegiatan di masjid. Pengeras suara yang dihidupkan hanya speaker dalam. Alasanya, menghormati semua lapisan masyarakat yang akan istirahat di malam itu. Analoginya kegiatan keagamaan diadakan dengan tujuan untuk memperbanyak khazanah keilmuan kita, bukan untuk menggangu orang lain. Tidak disadari pencarian ilmu itu menggangu hak orang lain (menikmati istirahatnya). “Banyak orang yang hebat tentang hak asasi manusia, tetapi mereka kurang bisa membahasakan ham secara bodoh (masyarakat awam)†ucap Nur Khafidz salah satu imam masjid al-amin. Perlunya pemahaman kita sebagai orang yang tahu perlunya menyadarkan mereka yang masih saja menganggap perbedaan keyakinan itu tabu. Mulai dari hal-hal kecil saja, misalnya saja membantu menjaga rumah ibadah bersama hingga ke hal-hal yang besar, missal mengucapkan selamat hari raya. Orang awan akan tahu jika pendekatan kulturar yang dilakukan, kemudian diberitahukan secara struktural. Hal-hal semacam itu sudah diterapkan pada masyarakat tersebut.
Â
Budaya ngumpul, ngobrol, ngopi, lan ngudud bareng dalam masyarakat untuk menjalankan roda kehidupan keberagaman menjadi salah satu kuncinya. Kesepakatan-kesepakatan bersama dari hasil masukan warga harus dibicarakan secara bersama dan terbuka. Permasalahan-permasalah kecil sekaliber suara dari pengeras suara gereja yang pernah bersaut-sautan dengan masjid diselesaikan secara musyawarah. Jalan keluarnya adalah keduanya agar saling mengerti dan tahu akan jadwal ibadah mereka, yaitu dengan publikasi di papan informasi. Bukan sampai itu saja, sosialisasi ke masyarakat sekitar serta peran orang tua dan pemuka agama terhadap anak dan umatanya sangat dimanfaatkan. Perjalanan masyarakat di RT 07 ini masih panjang dan perlunya merawat nilai-nilai dasar kerukunan beragama. Masyarakat harus ikut peran serta dan tahu akan hak menghormati dalam hal ibadah. Lingkup agama yang bersifat privat perlu disosialisikan  oleh kita yang tahu tentang hak asasi manusia terhadap masyarakat dalam bahasa awam.
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.