Dewasa ini, dunia penulisan di Indonesia bisa dikatakan sedang merangkak naik ke tahap yang lebih baik. Hal itu terbukti dengan semakin menjamurnya penulis-penulis muda yang cukup produktif. Novel – nove best seller pun hampir ada tiap bulannya di toko – toko buku ternama.
Semakin banyaknya kalangan muda yang ingin terjun ke dunia penulisan tentu dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, dari yang memang hobi menulis sampai dengan alasan ketenaran dan finansial menjadi syair nyaring ala penulis baru. Namun sebelum kita terjun lebih dalam ke dunia penulisan, tidak ada salahnya jika kita memahami dulu perbedaan antara penulis dan juru tulis.
Baca juga:Â Jenis Tema Musik Dan Manfaat Psikologi Bagi Manusia
Ada semacam perbedaan yang nampak, namun banyak yang tak menyadarinya dari dua kata ini. Pada pembahasan awal kita tadi tentu yang saya maksud, ialah penulis yang mempunyai inspirasi, ide dan gagasannya sendiri untuk ditulis. Baik itu fiksi maupun non fiksi. Berbeda dengan juru tulis yang hanya bertugas menuliskan ide, gagasan, dan inspirasi orang lain.
Sampai disini lebih nampak perbedaan antara penulis dan juru tulis. Jika penulis menyalin ide dan gagasannya ke bentuk tulisan, namun juru tulis menyalin ide dan gagasan orang lain dalam bentuk tulisan.
Dalam sejarahnya, banyak sekali karya tulisan yang justru ditulis bukan oleh penulisnya. Melainkan oleh juru tulisnya, salah satu karangan yang paling terkenal dikalangan umat islam ialah kitab ushul fiqh karangan Imam syafi’i, yang berjudul AR-Risalah. Menurut beberapa riwayat, kitab tersebut dikarang oleh Imam Syafi’I dengan mendiktekan kepada muridnya yang bernama Rabi’ Bin Sulaiman. Itu artinya posisi Imam Syafi’I sebagai pemilik ide dan gagasan berada pada posisi penulis. Dan muridnya yang menyalinkan ide dan gagasan Imam Syafiâ€i berada pada posisi juru tulis.
Tak menutup kemungkinan dari penulis justru tidak memiliki keahlian merangkai tulisan, dalam artian seseorang yang memiliki gagasan tulisan itu, malahan tidak bisa menuangkannya kedalam bentuk tulisan nyata. Baik karena teknis penulisan yang kurang mumpuni, maupun karena faktor lain.
Kita tarik permasalahan ini ke masa sekarang. Jika mahasiswa tingkat akhir dibebani dengan tugas penulisan skripsi, tentu yang dimaksud disini ialah penulisan ide dan gagasannya sendiri. Bukan menjadi juru tulis gagasan orang lain. Dan sekali lagi Skripsi ialah pembelajaran mahasiswa tentang penelitian dan penulisan, bukan  juru tulis penelitian orang lain.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.