Sebagai salah satu pilar dari sistem demokrasi, peran media dalam dinamika politik, ekonomi maupun budaya di bangsa Indonesia sangat besar. Besarnya peran dan pengaruh media bagi masyarakat, membuat keberadaan media bak dua sisi mata pisau, yang mungkin saja bisa menguntungkan bagi kita atau juga merugikan kita.
Dalam ranah kebudayaan, dengan semakin majunya ruang teknologi media massa, membuat semua kebudayaan yang ada di berbagai negara bisa tersebar kepelosok negri manapun. Akibatnya, kita harus berusaha sekuat tenaga menjaga kebudayaan warisan bangsa dari terjangan gelombang kebudayaan asing.
Dibidang politik, media mempunyai peran yang sangat besar. Bahkan boleh dikatakan terjadinya reformasi 98 juga tidak lepas dari peran media dalam pemberitaannya. Begitu juga dibidang ekonomi, media diibaratkan sebagai sopir yang bisa menggiring keberadaan perekonomian di Indonesia, tidak jarang terjadinya krisis akibat pemberitaan di media. Contohnya masih di reformasi 98. Dengan begitu gencar media memberitakan kerusuhan 98, membuat Negara lain menyaksikan kondisi Indonesia saat itu. Dan para investor maupun wisatawan asing sudah pasti enggan datang ke Indonesia, dan dampaknya perekonomian di Indonesia kian terpuruk kala itu.
Itu hanya beberapa contoh peran media bagi bangsa Indonesia. Sekali lagi media diibaratkan sebagai dua sisi mata pisau, jika pisau dipegang dan dikendalikan oleh orang yang tepat maka pisau mempunyai manfaat dan kegunaan yang positif. Namun sebaliknya, jika pisau dikendalikan oleh orang yang tidak tepat, maka akan digunakan tidak tepat juga.
Pun demikian dengan media massa, jika kita merujuk kepada media massa saat ini, bisa dikatakan media massa tidak lagi memenuhi empat fungsi utama media massa yaitu, sebagai media hiburan, control social, informasi dan pendidikan. Media yang ada saat ini sudah melupakan fungsi pendidikan dan control sosialnya. Peran media sebagai baris terdepan penjaga kebudayaan tak lagi Nampak, hanya hiburan-hiburan yang minim nilai pendidikan dan kebudayaan yang ada.
hal itu disebabkan pada orientasi media massa yang hanya terpaku pada income financial semata. Sampai tak menghiraukan lagi tugas dan fungsi utama dari media itu sendiri. Keadaan demikian diperparah dengan kepemilikan media yang dimonopoli hanya beberapa orang saja, dan parahnya lagi media yang ada saat ini dimiliki oleh para politisi.
Dengan kepemilikan media oleh politisi, tentu hal ini mempengaruhi kebijakan dari media itu sendiri. Sampai pada kebijakan dalam pemberitaan, sikap media yang seharusnya netral, independent dan cover both side pun kini diragukan. Karena jika media sudah dimiliki oleh golongan politisi, maka fungsi media pun untuk memenuhi kepentingan politisi tersebut. Bukan kepentingan masyarakat atau publik.
Baca juga:Â Cerdas Dalam Memahami Informasi, Simak Pendapat Cerdas Ala Najwa Shihab
Lalu langkah apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan media massa? Masa depan ada ditangan kaum muda saat ini, untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, maka perlu juga kita kaum muda memperbaiki media massa yang ada saat ini. Mengutip dari wartawan senior new York times yang juga seorang pemerhati media, Bill Covach mengatakan, jika kemajuan atau keberadaan, baik/buruknya suatu tananan masyarakat ditentukan oleh media yang ada. nah untuk memperbaiki bangsa dan masyarakat kita. mari kaum muda sepagai pelopor perubahan dengan mengembalikan fungsi media massa, cara yang paling sederhana ialah tidak menonton acara-acara yang tidak membangun masyarakat dan acara-acara yang mengandung kepentingan pemilik media.
Â
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.