Halo temen-temen programmer dan designer semua! Dari temen-temen ada yang lagi fokus frontend atau belajar design ga nih? Nah bagi kalian yang fokus di frontend, ngulik CSS atau Tailwind biar animasinya mulus pasti jadi kebanggaan yang bisa kalian pamerin. Tapi, pernah ga sih kalian nemu aplikasi yang tampilannya modern banget, tapi pas mau dipake buat cari menu setting atau tombol checkout aja nyarinya haru kesana kesini?
Di sinilah peran penting dari User Experience (UX) yang seringkali kelupaan karena kita terlalu asik buat User Interface (UI). UI itu ibaratnya penambilan, yang bisa narik orang buat dateng. Nah UX Itu ibaratnya sifat, yang jadi alasan kenapa orang mau menetap dan balik lagi. Tanpa UX yang bagus, aplikasi kalian cuman bakal jadi pajangan yang tampangnya ganteng doang, tapi ga bisa bikin orang betah buat lama-lama di aplikasi kalian.
Pada artikel kali ini, kita bakalan ngebahas bareng-bareng mengenai hubungan erat antara UI dan UX, kenapa UI yang bagus belum tentu UX-nya bagus, serta hal-hal penting apa aja yang harus diperhatiin biar user ga langsung buang aplikasi kalian di pemakaian pertama.
UX dan UI Itu Posisinya Setara
Secara definisi sederhana, kalau UI itu adalah apa yang user lihat, maka UX adalah apa yang user rasakan saat berinteraksi dengan produk yang dibuat. UI bicara soal tipografi, warna, layout, dan estetika design. Sedangkan UX bicara soal kemudahan, kenyamanan, dan alur dari satu halaman ke halaman lain.
Masih banyak yang salah kaprah menganggap UX itu cuman tugasnya desainer doang. Padahal developer juga punya peran dalam ningkatin pengalaman pengguna. Kalau tanpa pertimbangan UX, kita mungkin bakal nerapin animasi loading yang terlalu lama cuma biar kelihatan canggih, padahal user lagi buru-buru pengen liat data.
Coba bayangin tombol "Beli Sekarang" di sebuah e-commerce warnanya abu-abu, tulisannya item, dan posisinya ngumpet di pojok kiri bawah. Secara UI mungkin estetik karena minimalis, tapi secara UX itu ga banget. User bakal bingung, frustasi, dan akhirnya pindah ke aplikasi lain. Pendekatan UX yang baik itu salah satunya adalah gimana user bisa mencapai fitur ini dengan langkah sedikit mungkin.
Elemen Kunci: Konsistensi dan Feedback System
Salah satu tantangan terbesar dalam mendesain antarmuka adalah menjaga konsistensi design. User atau kita sendiri itu punya kebiasaan yang udah kebentuk dari aplikasi lain. Misalnya, user udah terbiasa kalau mau kembali ke menu utama itu ngeklik logo di pojok kiri atas, kalau mau ke pengaturan itu klik ikon grigi.
UX yang baik harus bisa nanganin semua ekspektasi ini. Jangan sampe demi terlihat unik atau anti-mainstream, kalian malah ngubah fungsi-fungsi dasar yang udah umum jadi kayak bahasa alien. Misalnya, bikin tombol buat kembali tapi fungsinya malah buat nge-save. Ini bakal bikin beban pikiran user jadi berat. Siapa juga yang mau mikir keras cuman buat make aplikasi?
Selain itu, ada aspek feedback system. Pengertiannya ga rumit, bayangin aja kalian ngebuat tombol "Submit" tapi ga kalian tambahin reaksi apa-apa. Ga ada loading, ga ada pesan sukses. SI user pasti mikir, "Ini aplikasinya nge-lag atau gimana?"
Pertimbangan Antara Estetika vs Fungsionalitas
Meski UI yang memukau itu bisa ningkatin ketertarika user, ada satu hal yang perlu dipahami baik-baik oleh temen-temen, yaitu prinsip kegunaan di atas estetika.
Sering terjadi kasus di mana desainer terlalu kreatif bikin desain yang modern-style banget, pokoknya penuh gradasi, shadow, dan elemen melayang. Tapi pas diimplementasiin sama frontend jadi berat dan tombolnya susah dipencet di layar HP kecil. Itu hal yang pasti terjadi kalau kaliam mentingin estetika di atas kegunaan
Hukum UX yang terkenal, Jakob's Law, bilang kalau user lebih memilih aplikasi untuk bekerja persis seperti yang mereka sudah tahu, karena user menghabiskan sebagian besar waktunya di aplikasi lain. Mereka pengen aplikasi kalian kerjanya sama kayak situs lain yang udah mereka kenal. Jadi, kalau kamu pengen ngebangun aplikasi yang sukses, jangan korbankan fungsionalitas cuma demi terlihat beda. Pastikan aplikasinya mudah dipelajari learnability dan efisien buat dipake sama semua kalangan user.
Kesimpulan: Harus Mulai Dari Mana?
Jawabannya adalah mulai dari nempatin diri kalian disisi pengguna. Sebelum nulis satu baris kode atau bikin satu komponen desain, posisiin diri kalian sebagai user yang gaptek dan ga sabaran.
UI yang bagus bakal ngebuat orang penasaran buat nyoba, tapi UX yang bagus bakal ngebuat orang setia menggunakan. Jadi, kalau kamu pengen ngebangun aplikasi yang ga cuma enak dipandang tapi juga enak dipake, mulailah peduli sama alur dan perasaan user kalian. UI dan UX itu satu paket, ga bisa dipisahin kalau mau hasil yang maksimal. Sekian untuk artikel kali ini. Sampai bertemu di lain waktu!
Daftar Referensi:
-
[https://www.nngroup.com/articles/definition-user-experience/]
-
[>https://www.interaction-design.org/literature/topics/ui-vs-ux]
-
[>https://www.adobe.com/products/xd/ideas/designing-for-web-and-mobile/ui-vs-ux.html]