Jika Anda tinggal di Bandung, mungkin nama “Dayeuhkolot” itu sudah sering Anda dengar bahkan langsung dikaitkan dengan daerah rawan banjir. Ya, memang pada kenyataannya, dayeuhkolot yang berada di cekungan selatan kabupaten Bandung ini sering dilanda musibah banjir di setiap musim penghujannya.
Sudah ada beberapa langkah nyata dari pemerintahan setempat untuk menanggulanginya. Mulai dari pembuatan kolam retensi yang yang memang berfungsi tapi kalau hujannya terlalu besar kolam retensinya penuh dan akhirnya air tumpah ke pemukiman juga.
Lalu apa sih sebetulnya yang membuat Dayeuhkolot itu selalu banjir?
Jika Anda menelusuri lebih detail tentang Dayeuhkolot ada beberapa detail penting tentang Dayeuhkolot. Pertama, Dayeuhkolot itu sangat rentan terkena luapan air sungai karena memang dilalui sungai terpanjang di Jawa Barat yaitu sungai citarum.
Yang kedua, pemerintahan kabupaten yang kemudian berkolaborasi dengan pemerintahan provinsi Jawa Barat beberapa kali pernah menjalankan upaya mitigasi bencana banjir seperti pembuatan kolam retensi dan pembangunan tanggul untuk menahan luapan air sungai tapi hingga saat ini masih belum berhasil dan perlu dilakukan upaya-upaya lanjutan lainnya.
Yang ketiga, banjir yang terjadi di Dayeuhkolot selalu di titik yang sama setiap tahunnya dan di waktu yang tidak jauh berbeda dari waktu banjir sebelumnya. Itu membuktikan bahwa upaya pencegahan musibah banjir yang dilakukan belumlah maksimal.
Rekomendasi Solusi untuk Dayeuhkolot Menjadi Wilayah Bebas Banjir
Berikut beberapa rekomendasi solusi yang perlu ditingkatkan dan ditempuh untuk mengurangi risiko banjir di Dayeuhkolot:
1. Infrastruktur Struktural
- Normalisasi sungai lewat pengerukan sungai yang sudah semakin dangkal di tahun 2025 ini belum dilakukan.
- Pembangunan kolam retensi/embung untuk menampung air hujan sebelum masuk sungai utama suda dilakukan namun belum maksimal karena menurut bapak bupati kabupaten Bandung yaitu H. Dadang Supriatna, kolam retensi akan dibangun satu lagi.
- Peninggian atau pembangunan jembatan dan tanggul di titik kritis untuk mencegah luapan sungai ke permukiman sudah dilakukan baru-baru ini. Namun air yang masuk ke pemukiman tetap saja ada melalui celah-celah dan saluran air.
- Perbaikan drainase lokal juga sudah dilakukan dimana masing-masing RW melakukan kerja bakti di setiap hari minggu baik itu 2 minggu sekali maupun tiap minggu. Yang jelas setiap bulan kerja bakti untuk pembersihan lingkungan sudah dilakukan.
2. Tata Ruang & Penggunaan Lahan
- Pengaturan zona rawan banjir seperti membatasi pembangunan di wilayah yang rawan banjir
- Memperbanyak area resapan air (hutan kecil, taman hujan) agar air hujan tidak langsung mengalir ke saluran. Sayangnya area resapan di kabupaten Bandung bagian selatan wilayah Dayeuhkolot itu saat ini semakin hilang. Akibat dari pembangunan-pembangunan perumahan yang tidak memperhatikan tata kelola lingkungan. Kesalahan ini tentunya ada pada pemerintahan setempat yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan masyarakat luas.
3. Keterlibatan Masyarakat & Sistem Peringatan
- Harus adanya edukasi mengenai kesadaran masyarakat tentang resiko banjir, bagaimana bertindak saat hujan ekstrem, evakuasi, dan menjaga kebersihan saluran air. Karena banjir itu ada juga besar kemungkinannya akibat ulah manusia juga.
- Sistem peringatan dini seperti yang dibuat oleh BBWS citarum bernama Citarum River Flood Forecasting and Warning System sangat membantu masyarakat dalam memprediksi datangnya banjir.
4. Kolaborasi Pemangku Kepentingan
- Faktanya, solusi banjir di Dayeuhkolot ini tidak bisa hanya dari pemerintah. Terbukti dengan selama ini pemerintah mengerjakan berbagai solusi banjir tapi belum berhasil dengan optimal. Solusi ini juga melibatkan pengusaha, akademisi dan masyarakat setempat seperti konsep pentahelix yang disebut dalam rencana Pemkab Bandung.
- Harus adanya anggaran yang memadai untuk proyek mitigasi, dan koordinasi instansi (kabupaten, provinsi, pusat) agar tidak tumpang-tindih. Karena selama ini yang sering diperlihatkan di media televisi ataupun online adalah koordinasi yang masih kurang. Bahkan pernah juga saling menyalahkan dan melemparkan tanggung jawab.
Langkah Praktis yang Bisa Dilakukan Warga Dayeuhkolot untuk Mencegah dan Mengurangi Dampak Banjir
- Bersihkan selokan kecil, saluran di sekitar rumah agar tidak tersumbat saat hujan.
- Simpan barang berharga di tempat yang agak tinggi/sebagai antisipasi genangan.
- Adakan forum warga atau rapat lingkungan untuk menyuarakan kebutuhan banjir seperti sistem drainase atau saluran yang kurang.
- Dokumentasikan titik genangan dan waktu terjadinya banjir (foto/video) untuk membantu pemerintah melakukan kajian lokasi. Bisa menggunakan TikTok atau Youtube jika tidak digubris. Karena salah satu jalur agar aspirasi yang tidak didengar menjadi terpaksa untuk didengar adalah dengan jalur viral.
- Selalu cari informasi mengenai curah hujan di kota Bandung dan di kabupaten Bandung. Untuk Dayeuhkolot, bisa cek kondisi sungai di Majalaya dan Cikapundung.
Penutup
Banjir adalah sebuah bencana yang memang selalu merugikan banyak orang. Ketika terjadi banjir, janganlah saling menyalahkan, namun buatlah rencana agar kedepannya banjir tidak akan terjadi lagi. Jika Anda adalah bagian dari masyarakat, maka lakukan berbagai antisipasi dan koordinasi dengan warga lain agar banjir dapat diminimalisir. Dan jika Anda adalah bagian dari pemerintahan, maka pastikan Anda juga berkoordinasi dengan pemerintahan setempat seperti pemkab, pemprov dan jika perlu ke pemerintahan pusat.