Bandung, Plimbi.com -- Teknologi semakin hari semakin berkembang. Sekarang kita bisa ngobrol sama orang dari belahan dunia manapun cuma dengan HP. Bisa tau kabar teman lama yang udah jarang ketemu. Bisa kerja, belajar, belanja, semuanya dari rumah. Dunia yang dulu terasa luas dan jauh, sekarang seperti ada di ujung jari, semuanya dipermudah dengan adanya Teknologi.
Tapi dibalik kemudahan itu, ada sesuatu yang pelan pelan mulai menghilang. Sesuatu yang sangat sederhana, tapi sangat penting, yaitu percakapan. Yang di maksud percakapan bukan sekedar obrolan lewat chat seperti “wkwkw”, “iyaa” atau “sip”. Tapi percakapan yang bener bener percakapan yang ada interaksi tatap mata, nada suara, jeda dan perhatian penuh.
Baca Juga : https://www.plimbi.com/article/179980/bahas-game-growtopia-kreativitas-tanpa-batas
Dunia yang Terbuka, Tapi Kita Makin Tertutup
Coba lihat di kafe, ruang tunggu, bahkan di rumah. Berapa banyak orang yang lebih fokus ke layar di banding ke orang terdepannya?
Kita bisa tau berita dunia dalam hitungan detik, tapi kita kadang nggak tau kabar orang tua kita sendiri. Kita follow ratusan akun, tapi lupa ngajak ngobrol tetangga sebelah rumah. Kita rame di grup chat, tapi sepi pas duduk bareng.
Teknologi memang membuka dunia. tapi kadang, tanpa sadar, dia juga menutup pintu pintu kecil tempat percakapan hangat biasanya terjadi.
Percakapam Serba Singkat
Ngobrol sekarang sering kali jadi serba praktis. Singkat. Hemat waktu. Efisien. Tapi ya beberapa point tadi membuat percakapan menjadi makin singkat, sehingga makin sedikit makna yang menyangkut.
Kita terkadang kirim emoji buat nunjukin perasaan. Pakai stiker biar lucu. Kirim “oke” atau “haha” tanpa benar benar mendengarkan lawan bicara.
Padahal, makna asli dari percakapan itu bukan soal siapa yang paling cepat. Tapi soal hadir. Soal memberi perhatian. Soal mengisi ruang. Bukan sekedar mengisi waktu.
Dunia yang Ramai Tapi Kadang Kosong
Scroll media sosial, isinya orang orang ngobrol, update, live, bikin konten. Tapi kenapa ya, terkadang kita malah ngerasa sendiri?
Banyak orang yang ngalamin hal ini : punya banyak teman online, tapi ngga tau harus curhat ke siapa. Ada banyak notifikasi masuk, tapi nggak ada yang bener bener “nyamperin”. Ini bukan berarti media sosial itu jelek. Tapi kita perlu sadar bahwa, kalau yang bikin hidup terasa lebih penuh itu bukan dari jumlah followers yang kamu punya, tapi kualitas suatu hubungan.
Masalahnya Bukan di Teknologi, Tapi di Cara Kita Memakainya
Teknologi itu Cuma sebuah alat. Dia netral. Mau bikin hubungan jadi lebih dekat atau malah makin jauh, semua itu tergantung sama cara kita gunain nya.
Kita bisa aja pakai teknologi buat ngobrol lebih sering, saling support, bertukar kabar. Tapi teknologi juga bisa bikin kita cuma “numpang lewat” di hidup orang lain, tanpa benar benar hadir.
Kalau contoh simpelnya misal, ngobroll sambil scrollan TikTok. Kamu lagi kumpul tapi sibuk ngecek DM. Video call tapi mata tetep fokus di notifikasi lain. Yang hilang bukan Cuma waktunya aja tapi perhatian nya juga.
Ayo Berubah Pelan Pelan
Kita ga harus berubah secara drastis. Tapi bisa di mulai dari hal yang kecil dulu.
- Simpan HP waktu ngumpul bareng temen.
- Tanyakan kabar dengan tulus, dan mendengar jawabanya.
- Balas pesan bukan cuma pakai emoji, tapi tambah dengan kata kata juga.
Ini cuma point kecil untuk berubah, kita bisa banget pakai teknologi untuk berkomunikasi tapi kita harus tetap mempertahankan point penting dalam berkomunikasi yaitu perhatian, empati, feedback dan ketulusan. Atau kalau di ringkas jadi satu kalimat “komunikasi yang baik itu bukan cuma soal bertukar kata, tapi soal menghubungkan diri dengan orang lain secara sadar dan tulus”.
Penutup
Teknologi memang ngebikin semuanya jadi lebih gampang. Kabar jadi cepat sampai, jarak jadi nggak kerasa. Tapi dibalik semua layar dan sinyal, kita tetap manusia yang butuh didengar, dipahami, dan diajak ngobrol tanpa ada distraksi atau gangguan.
Kadang kita sibuk ngurusin notifikasi, sampai lupa kalau orang yang kita sayang cuma pengen ditemani secangkir obrolan. Terkadang kita terlalu fokus mencari tau isi dunia, sampai nggak sadar kalau sebenarnya kita udah nutup hati untuk sebuah komunikasi yang benar benar penting.
Nggak ada salahnya make teknologi. Tapi alangkah sayangnya kalau kita kehilangan rasa, demi kecepatan. Kehilangan makna, demi kenyamanan. Karna pada akhirnya, yang bikin hidup itu terasa hangat bukan Wi-Fi yang kencang, tapi “tatapan yang tulus dan percakapan yang nggak terburu buru”.
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.