Update Erupsi Gunung Merapi, Boyolali Diguyur Hujan Abu Tebal Sampai Ke Kawasan Kota dan Beberapa Kecamatan

19 Feb 2024 10:29 453 Hits 3 Comments Approved by Plimbi

Update Erupsi Gunung Merapi, Boyolali Diguyur Hujan Abu Tebal Sampai Ke Kawasan Kota Dan Beberapa Kecamatan

Pada hari Minggu siang WIB (21/01/2024) terjadi hujan abu yang sangat tebal sebagai akibat adanya erupsi Gunung Merapi hingga mencapai wilayah Kecamatan Sambi Jawa Timur. Namun hujan abu hanya turun tipis-tipis saja di wilayah terdekatnya yaitu Selo termasuk kategori aman-aman saja.

Diketahui bahwa Gunung Merapi adalah salah satu gunung aktif yang secara administratif berlokasi di perbatasan antara Provinsi Jawa tengah (mencakup Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Kabupaten Sleman). Menurut laporan berita update dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah/BPBD daerah Boyolali, Bapak Suratno, menyampaikan bahwa dampak dari adanya erupsi dari Gunung Merapi pada pukul 14.12 WIB sudah mencapai daerah Sambi terlihat dari udara diselimuti oleh hujan abu meskipun tipis.

Menurut Bapak Suratno, untuk Kecamatan Selo aman-aman saja karena tidak terdampak hujan abu dari erupsi Gunung Merapi. Sebaran hujan abu melebar hingga beberapa kecamatan seperti Kecamatan Cepogo, Musuk, Tamansari, Mojosongo, Teras termasuk Boyolali dan terjauh adalah wilayah Sambi.

Lebih lanjut Bapak Suratno menambahkan bahwa hujan abu vulkanis ada yang intensitas parah, sedang dan tipis. Wilayah Boyolali termasuk kategori tebal tetapi abu langsung hilang sebagai akibat turun hujan sehingga kegiatan masyarakat untuk sementara waktu tidak terganggu. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada namun jangan terlalu panik karena bisa memicu kondisi menjadi semakin stress.

Fenomena alam ini tidak perlu disikapi secara berlebihan karena semuanya masih dalam kondisi terkontrol. Dan jika ditemukan adanya perubahan informasi yang perlu disampaikan kepada warga setempat berhubungan dengan aktivitas Merapi maka pihak BPBD akan segera mengambil langkah sebagaimana mestinya. Salah satu Kadus di daerah Boyolali, Stabelan Maryanto mengatakan bahwa saat terjadi erupsi, masyarakat setempat tidak ada yang tahu mengingat dalam posisi kabut sangat tebal namun tidak terjadi hujan abu sama sekali. Masyarakat saat terjadi erupsi tetap melakukan aktifitas seperti biasa.  

Gunung Merapi beberapa kali mengalami peningkatan aktivitas yaitu erupsi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi/ BPPTKG Yogyakarta mencatat bahwa dalam sehari terjadi 101 guguran dan awan panas guguran/APG yang memiliki jarak luncur maksimal 2 km. Hari ini Minggu (21/01/2024) telah terjadi peningkatan intensitas erupsi dimana memuncak sampai dengan pukul 18.00 WIB, demikian penjelasan Kepala BPPTKG Yogyakarta, Bapak Agus Budi kepada media sosial. Ia mengatakan bahwa peningkatan intensitas erupsi seperti ini setidaknya sudah Sembilan kali terjadi dan menjadi karakter Merapi sejak awal erupsi tahun 2021. Diingatkan bahwa APG masih akan terjadi mengingat adanya suplai magma yang masih berlangsung berdasarkan aktivitas seismik dan deformasi yang siginifikan. Juga curah hujan yang tinggi bisa mengganggu kestabilan kubah lava serta dapat memicu kejadian APG dan lahar yang mengikuti. Menurut Agus Budi, jarak luncur APG masih dalam daerah potensi bahaya yang ditetapkan yaitu jalur sungai pada sektor barat daya maksimal 7 km dan pada sektor selatan tenggara maksimal 5 km. Dihimbau bahwa masyarakat supaya tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa dengan selalu mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Merapi dari BPPTKG.     

Gunung Merapi memiliki ketinggian puncak sekitar 2.930 mdpl per tahun 2010. Terletak di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu jenis gunung api teraktif di Indonesia. Lereng selatan berada dalam administratif Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan sisanya berada di dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Magelang di bagian barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004. Gunung ini mempunyai potensi kebencanaan yang tinggi, telah mengalami erupsi setiap dua hingga lima tahun sekali yang dikelilingi oleh pemukiman yang padat.

Meskipun demikian, kondisi di sini tidaklah sedahsyat ketika terjadi erupsi Gunung Marapi di Sumatera barat. Menurut Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan/Basarnas daerah Padang, Sumatera Barat mengkonfirmasi bahwa sebanyak 11 pendaki tewas dalam peristiwa erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat pada Senin (4/01/2023), sementara terdapat 14 pendaki yang menjadi korban keseluruhan dengan 3 orang lainnya yang selamat. Masing-masing identitas korban yang meninggal masih belum diketahui dan proses evakuasi dari puncak gunung sedang berlangsung. Basarnas Padang sebelumnya mencatat adanya 75 pendaki yang terjebak saat erupsi Gunung Marapi pada Minggu sore (3/11/2023) dimana 40 diantaranya berhasil dievakuasi dengan selamat pada malam hari. 

Erupsi Gunung Marapi pada hari Minggu sore (3/12/2023) menyebabkan hujan abu bercampur kerikil melanda beberapa daerah seperti Ampek Angkek, Candung dan Kabupaten Agam. Rumah-rumah warga di wilayah tersebut tertutup abu vulkanik. Gunung Marapi mengeluarkan abu letusan mencapai 3 ribu meter disertai suara gemuruh. Gunung Marapi di Sumatera Barat meletus sekitar pukul 14.53 WIB Minggu (3/12/2023). 

Tags Desktop

About The Author

Utamii 66
Expert

Utamii

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel