Mirror of the Heart

1 Mar 2022 20:20 553 Hits 2 Comments Approved by Plimbi
Dari moment ini saya belajar, apa yang ada di luar diri kita adalah merupakan pantulan dari diri kita, apa yang kita rasakan dari sekitar kita, perlakukan, reaksi, respon, merupakan pantulan dari siapa diri kita, bagaimana kita bertindak, berpikir, berperasaan, berekspresi, beremosi dan merupakan cerminan hati dimana jiwa – roh kita bersemayam.

“When the mirror of the heart becomes pure and clear, impressions of the other world will become manifest." (Rumi)

Buat penyuka angka seperti saya, tentu bahagia melihat tanggal hari ini, yaitu 22 02 2022 dimana istimewa nya merupakan palindrom (dibaca sama ke depan ke belakang) sekaligus ambigram (sifatnya simetris ∞) jadi dibolak balik atas bawah kanan kiri tetap sama dan bisa juga dibilang suatu pemantulan dicermin, refleksi, bila dibagi dua.

Maka dari itu, ingatan saya langsung mengembara di moment yang saya alami ketika diberi berkat berlibur tanpa direncana, 4 hari 3 malam di Telaga Sarangan, di Gunung Lawu awal bulan ini. Dimana selain jalan berkeliling telaga dan daerah sekitar, saya juga tiap hari meluangkan waktu duduk diam di tepi telaga, biasa di sekitar matahari terbit atau matahari terbenam.

Ada suatu moment saya duduk diam di tepi telaga, waktu itu sore hari sekitar jam 7, suasana mendung kelabu, sudah hujan rintik-rintik sehingga pengunjung sudah sangat sepi, warung & kios sudah banyak yang tutup, tersisa yang memang jualan sampai malam seperti sate, bakso, jagung bakar dll.  Saya tetap keluar dari hotel dan turun ke tepi telaga, membawa payun besar, memilih tempat duduk yang sepi dan menghadap kea rah puncak gunung, walau tak tampak karena telaga tertutup kabut & awan kelabu.


Saya tetap mulai duduk hening di tepi telaga, memakai payung, dan hujan mulai turun deras sehingga kaki saya sudah basah, outfit saya tetap sama walau udara dingin, karena kesehatan saya sedang prima, ber-kaos lengan pendek, celana jeans pendek juga, bersandal jepit, tanpa jaket hingga mantap terasa  & menyatu sejuk nya alam.


Pemandangan di depan saya selama 30 menit pertama, praktis kelabu, karena kabut & awan tebal serta hujan, saya duduk hening, berada di saat ini dan di sini, here & now, pikiran yang awalnya kemana-mana, saya ajak untuk berada di saat ini & di sini juga di saat itu, enjoy the present moment, berusaha menyadari semuanya dengan tetap diam. Dengan sesekali mengambil foto perubahan pemandangan moment by moment.


Dan saya rasakan walau duduk diam hening, semua terus berubah, pemandangan di depan saya pelan-pelan mulai terlihat samar pepohonan, puncak gunung, air telaga.. terus perlahan kabut & awan menipis, makin terang karena hujan yang turun dengan deras.


Sampai akhirnya di 30 menit kedua, sudah berangsur nampak permukaan air telaga, tepian di seberang, pepohonan, puncak-puncak Gunung Lawu dan langit mulai terlihat, begitu indah perubahan yang ada, saya tetap duduk diam, mengawasi semua dengan diam, mengusahakan tanpa menganalisa, hanya menyadari dan menerima serta mensyukuri semuanya.


Akhirnya di 30 menit terakhir, langit sudah bersih, langit senjakala yang indah, permukaan telaga sudah semuanya terlihat, puncak-puncak gunung  & pepohonan sudah jelas terlihat dan cahaya senja, candikala mula terlihat begitu indah, kemerahan jingga sampai keunguanan yang begitu syahdu dan divine


Dan nampaklah pemandangan Langit, pepohonan, puncak-puncak gunung tampak memantul indah di permukaan telaga, suatu hadiah begitu luar biasa dari alam semesta untuk saya yang sabar duduk diam dari jam 5, di tengah kabut-awan kelabu & hujan deras sampai dengan pemandangan indah di depan say aini, saya sungguh bersyukur atas ini semua dan saat itu pikiran saya teringat kepada suatu buku, yang saya dapatkan dari seorang karib terkasih hampir tepat 2 tahun lalu di 02 2020 (tepat sebelum pandemic datang) , karya Master Cheng Yen berjudul “Mirror of the Heart : the Power of Mindfulness” dimana kutipan paling mengena untuk saya dari buku itu adalah bagian ini “For the person in the mirror to smile, we must smile first”(supaya orang di cermin itu tersenyum, maka kita harus tersenyum terlebih dahulu) (Mirror of the Heart – Master Cheng Yen)

Ya pemandangan indah yang tersaji di depan saya, mirip dengan cermin alam semesta, dimana permukaan air telaga merupakan cermin yang memantulkan keindahan alam di sekitarnya, baik itu langit senjakala, puncak-puncak gunung, pepohonan bahkan juga memantulkan diri saya, sosok, wajah, pikiran, hati, jiwa & roh saya yang sedang duduk diam di tepi telaga.
Dari moment ini saya belajar, apa yang ada di luar diri kita adalah merupakan pantulan dari diri kita, apa yang kita rasakan dari sekitar kita, perlakukan, reaksi, respon, merupakan pantulan dari siapa diri kita, bagaimana kita bertindak, berpikir, berperasaan, berekspresi, beremosi dan merupakan cerminan hati dimana jiwa – roh kita bersemayam.

Apabila kita tidak bisa menghalau kabut-awan kelabu yang menutup diri kita, yang biasa disebut ego-persona, shadow, luka bathin – inner wound, trauma masa lalu, maka apa yang berharga di dalam pusat hati kita, tak akan terpancar keluar dan sekitar kita tak akan bisa memantulkan kembali ke kita dengan indah. 


Maka marilah kita terus masuk ke dalam diri, memeriksa diri, inner work, untuk terus coba mengenali, menyadari, menerima serta memeluk bagian diri kita tersebut, baik ego, luka, shadow, trauma untuk bersama-sama kita bawa untuk menuju sembuh, utuh & penuh baik secara bodyfulness, mindfulness, heartfulness maupun Godfulness, sehingga kejernihan hati kita, diri sejati kita, dimana esensi murni nya adalah aksi Cinta Kasih, yang begitu indah bisa terpancar keluar ke sekitar kita, ke seluruh alam semesta ini untuk terus membawa sukacita damai sejahtera & cinta kasih untuk diri sendiri, sesama, seluruh ciptaan & Semesta Raya menyatu utuh bersama Sang Pencipta.

Dan semoga hari ini dengan tanggal cantiknya, 22 02 2022, bisa menjadikan cermin yang memantul dengan indah buat semua usaha, doa, kegigihan, ketabahan, kesabaran, rasa syukur, penerimaan, kepedulian, iman, harapan & cinta kasih kita selama sekitar 2 tahun pandemic ini sehingga ke depan menjadi pantulan yang indah di kehidupan kita.
Semoga yang kehilangan akan mendapatkan, yang terpisah akan disatukan, yang pergi akan kembali, yang sedih akan dihibur, yang mencari akan menemukan, yang sakit akan disembuhkan, yang luka akan dipulihkan, yang benci akan dilegakan, yang marah akan disabarkan, yang dendam akan memaafkan, yang berbeban akan diringankan, yang bucin akan dikasihi, dst. Amin.

“The face is the mirror of the mind, and eyes without speaking confess the secrets of the heart.” (St. Jerome)

#mirroroftheheart
#everydayismiracle

#innerhealing

#fulness

#wholenes

#unity

 

AP-20222202

Tags

About The Author

Airin Pangastuti 13
Novice

Airin Pangastuti

seorang manusia bumi pecinta kehidupan yang selalu rindu bersama Sang Pencipta, berniat menjalani mindfulness, heartfulness, Godfulness & contemplative life

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel