HAN GARDEN - HOBI ASIK & MENGUNTUNGKAN SAAT PANDEMI

9 Feb 2022 11:25 326 Hits 2 Comments Approved by Plimbi
Cuan dari hobi bisa jadi adalah mimpi semua orang.
Analisa Bisnis

Pria Ini Berhasil Meraup Puluhan Juta Rupiah Siapa sangka, dari pengalaman pahit seseorang bisa lebih berjaya daripada masa lalunya. Itulah yang dirasakan Handry Chuhairy—pemilik usaha tanaman hias “Han Garden”—saat ini.

Tahun 1998 yang lampau ibarat sebuah mimpi buruk bagi dirinya. Krisis moneter menyebabkan timbulnya protes besar-besaran dari masyarakat dan berujung anarkis. Imbasnya, banyak tempat-tempat usaha yang dijarah termasuk milik Handy. Semula ia memiliki beberapa outlet, hingga pada akhirnya hanya menyisakan satu outlet saja dan itupun tak bisa bertahan lama.

Sejarah kelam itu tak ayal membuat ia sempat merasakan yang namanya terpuruk dan stres berat. Kendati demikian, ia tak mau menyerah begitu saja. Sambil recovery, ia browsing hal-hal baru yang belum pernah dilakukannya selama ini. Perhatiannya kemudian tertuju pada kegiatan gardening.

Sebenarnya, berkebun bukanlah hobi bagi seorang Handry. Bahkan, tak pernah sekalipun terpikir olehnya untuk menekuni aktivitas ini. Namun ketika mulai mencoba, ia merasakan suatu kenyamanan tersendiri. Stresnya jadi berkurang. Sejak itu Handry semakin tertarik menekuni dan mendalami aktivitas berkebun. Di atas lahan berukuran 450 m2 ia menanam berbagai jenis tanaman sekaligus menjadikan aktivitas barunya ini sebagai sebuah hobi yang menguntungkan.

 

Mengapa Harga Tanaman Bisa Mencapai Ratusan Juta?

Dalam sejarah perjalanan bisnisnya, tanaman pertama yang mencuri perhatian Handry adalah Adenium. Adenium merupakan spesies tanaman hias yang berciri khas batang besar, tidak berkambium, dan akarnya bisa membesar mirip umbi. Di kalangan lokal, tanaman ini disebut Kamboja Jepang. Tapi, di kalangan internasional Adenium mendapat sebutan Desert Rose atau Mawar Gurun.

Selain tertarik pada keindahan pada daun dan mahkota bunga Adenium, nilai jualnya yang tinggi turut membuat Handry tergugah menanam sekaligus menjadikannya sebuah “komoditas” berharga. FYI, beberapa jenis Adenium ada yang sampai dijual seharga setengah milyar rupiah lho. Jelas sebuah angka fantastis yang membuat orang berdecak kagum sekaligus bertanya-tanya, “Kok bisa sih bunga dijual semahal itu? Apa istimewanya?”

Handry memaparkan penyebab harga tanaman bisa mencapai ratusan juta rupiah tak terlepas dari hukum ekonomi supply dan demand. “... tergantung ketersediaan tanaman itu sendiri. Jumlahnya, berapa populasi yang ada. Semakin dia sedikit, semakin demand tinggi, itu harganya semakin mahal.” Ternyata soal harga tanaman tak melulu ditentukan dari sudut pandang keindahannya saja, tapi juga kelangkaannya.

 

Prospek Menjanjikan

Umumnya orang beranggapan bahwa berkebun hanya bagian dari hobi semata. Sedikit yang mungkin menyangka bahwa aktivitas ini sesungguhnya punya prospek bagus bila ditekuni sungguh-sungguh. Dari tanaman hias, kita bukan hanya bisa menikmati keindahannya saja melainkan profit dalam bentuk uang.

Di mata Handry Chuhairy sendiri, hobi sekaligus bisnis yang ia tekuni kini bukan termasuk investasi. Segmennya cenderung ke arah trading atau pertukaran barang dan jasa.
“Saya adalah pemain di ritel. Jadi, saya sedikit di profit tapi saya main di quantity,” beber Handry. Selama 20 tahun berkecimpung di dunia gardening, Handry menangkap sinyal bahwa tanaman hias punya prospek yang menjanjikan. Hanya saja, sistemnya tidak bisa ditinggal diam lalu profit “bertelur” sendiri sebagaimana pola-pola yang dimainkan dalam produk-produk investasi. Melainkan, harus terus diurus/kelola secara terus-menerus.

Ia sendiri terinspirasi dari apa yang dilakukan para pebisnis tanaman hias di Thailand dan Belanda. Mereka berani membudidayakan tanaman hias dalam jumlah ribuan. Hal itu dilakukan karena mereka sadar bahwa tanaman hias sangat mungkin untuk diekspor. Nilai jual tanaman hias di dalam negeri dengan di luar negeri bisa selisih jauh. Dengan membudidayakannya dalam jumlah besar, memungkinkan kita memenuhi permintaan ke seluruh negara dan keuntungannya jelas tidak main-main. Apalagi bila tanaman hiasnya termasuk langka, tingkat permintaannya pasti tinggi. Sementara ketersediaan barang terbatas. Di situlah kesempatan bagi para pebisnis tanaman hias seperti Handry bisa mengolah harga.

“Karena itu trading, hal seperti itu akan mempengaruhi hukum ekonomi supply and demand. Jadi demand semakin banyak, tapi supply tidak ada, harga pasti akan growing,” jelas Handry penuh antusias.

 

Pandemi Ternyata Membawa Berkah

Tak dipungkiri, di satu sisi banyak orang yang terdampak dari sisi ekonomi akibat pandemi yang telah berlangsung cukup lama ini. Tapi di sisi lain justru jadi gerbang rezeki baru bagi orang-orang yang tak henti bergiat seperti Handy.

Perubahan rutinitas harian selama pandemic berdampak pada perilaku manusia. Sebagian besar orang lebih banyak beraktivitas dari rumah. Jam kerja jadi lebih singkat dari biasa. Ketersediaan waktu luang membuat orang memilih menyalurkan hobi, salah satunya berkebun. Handy mengakui bahwa penjualan tanaman-tanaman hias dalam pot mengalami peningkatan.

“Jadi sekarang ini memang benar, beberapa kebutuhan daripada tanaman dalam pot cukup banyak dan bahkan dianggap ada suatu keprestisiusan bila memiliki satu tanaman yang agak sedikit populasinya.”

Dalam hal ini Handry bukan hanya banyak mendapat permintaan dari dalam negeri saja, tapi juga hingga ke mancanegara terutama yang memberlakukan lockdown. Contoh Amerika, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya. Lockdown membuat supply tanaman hias di negara-negara tersebut menipis sehingga mereka melakukan switching dengan negara-negara lain, salah satunya Indonesia dan Thailand.

 

Kompetisi Internasional

Kian lama Handry semakin menyatu dengan bidang yang ditekuni saat ini. Hal itu menumbuhkan kesadaran bahwa selain mengumpulkan keuntungan, Handy juga merasa perlu membuat harum nama Indonesia di mata mancanegara melalui tanaman hias. Karenanya, ia rajin mengikuti kompetisi-kompetisi tanaman hias tingkat Internasional. Thailand adalah salah satu negara yang paling sering menyelenggarakan exhibition dan kompetisi tanaman hias. Di negeri gajah putih itu pula tahun 2018 silam Epipremnum Pinnatum White Variegata miliK Handy berhasil menyabet juara dengan predikat Best of The Best. Melalui prestasinya itu, ia membuka mata dunia bahwa Indonesia punya koleksi tanaman hias yang tak kalah memukau dan patut diperhitungkan.

 

Tanaman Hias dan Properti

Produk properti banyak dipilih khalayak sebagai investasi jangka panjang karena dianggap menguntungkan. Paham tersebut ada benarnya, namun perlu diketahui juga bahwa value dari produk properti tidak terlepas dari kondisi properti itu sendiri. Bila tidak terawat dengan baik, akan sulit mendongkrak nilai jualnya.

Produk-produk properti harus memerlukan maintenance secara berkala agar tampilannya tidak terkesan kumuh dan horor. Meletakkan tanaman hias pada bagian-bagian tertentu adalah one of most solution untuk membuat rumah/properti tampak segar, indah, dan tidak monoton. Itu mengapa tanaman hias dan rumah/apartemen menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

 

Tips Berbisnis Tanaman Hias Ala Handry :

1. Mulailah dari tanaman yang memang benar-benar Anda sukai. Pelajari hal-hal yang berkenaan dengan media tanam, pemupukan, pengairan, dan lainnya. 

2. Tentukan dan sesuaikan tanaman dengan target market: apakah lower class, medium class, atau top class.

3. Fokus dan hindari sekadar mengikuti tren.

Cukup sederhana dan mudah diterapkan ternyata tips yang dibagikan Handy. Ada yang ingin mengikuti jejak keberhasilannya?

Tags

About The Author

Ruby Herman 14
Novice

Ruby Herman

CEO Ren Property , Property Youtuber no.1 Finansialku.com

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel