Rumah Adat Aceh, Filosofi Didalamnya, dan Ragam Jenisnya

11 Dec 2021 12:35 330 Hits 1 Comments Approved by Plimbi

Rumah Adat Aceh : Filosofi Di Dalamnya Dan Ragam Jenisnya

Rumoh Aceh adalah nama yang diberikan untuk rumah adat khas warga Aceh dimana di sini masing-masing daerah dikenal memiliki rumah adat tersendiri sehingga dari sinilah muncul beragam jenis rumah adat Aceh. Beberapa diantaranya mempunyai ciri khas yang hampir sama yaitu rumah panggung namun secara filosofi, nama dan terutama maknanya pastilah berbeda-beda antara satu sama lain. Semua itu disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang menetap di dalamnya.

Rumoh Aceh tampak anggun berdiri di atas tanah karena peran orang-orang terdahulu di dalam pembuatan rumah adat ini. Merekalah yang merumuskan rumah terbaik bagi para warga yang sudah disesuaikan dengan keadaan dan kondisi lingkungan sekitar.

Filosofi Dan Keunikan Rumoh Aceh

Seperti dijelaskan tersebut di atas bahwa masyarakat Aceh tidak mengenal yang namanya rumah adat Aceh melainkan mereka memberi istilah rumoh Aceh kepada rumah adat yang mereka tempati. Di sini rata-rata setiap penduduk mempunyai desain rumah yang hampir mirip antara satu dengan yang lainnya.

Berikut ini kami berikan beberapa keunikan dari rumoh Aceh berdasarkan atas filosofi yang menyertainya :

1/ Rumah harus dibuat tinggi

Rumoh Aceh biasanya dibangun dengan terlebih dahulu memperhatikan konsep rumah panggung yaitu harus mempunyai jarak dari tanah ke bangunan yang akan dibuat. Karena ini adalah rumah panggung tentu bangunannya rata-rata tinggi maka dari itu dibutuhkan tangga untuk sampai ke rumah panggung. Jumlah tangganya dibuat ganjil disesuaikan dengan kepercayaan warga Aceh bahwa angka ganjil adalah angka bertuah. Tempat yang dibuat tinggi ini dibangun untuk tujuan mengurangi kelembaban di dalam rumah dimana dengan konsep rumah panggung maka diharapkan udara bisa masuk ke dalam rumah melewati kolong-kolong bangunan sehingga berpengaruh bagus terhadap bahan-bahan makanan yang disimpan di dalam rumah tidak mudah rusak.

2/ Di dalam rumah menunjukkan ukiran yang melambangkan status sosial

Seperti rumah pada umumnya, masing-masing rumah pastilah mempunyai ukiran atau ornamen. Bagus tidaknya atau banyak sedikitnya ornamen ini menjadi salah satu tanda yang memperlihatkan tentang status sosial warga masyarakatnya. Semakin tinggi kedudukannya di dalam lingkungan masyarakat tertentu maka ornamen dan hiasan di dalam rumah akan semakin bagus dan jumlahnya banyak. Dengan begitu jika suatu hari anda berkunjung untuk bertamu ke rumoh Aceh, ini sekaligus kesempatan untuk mengetahui tentang status sosial pemilik rumah melalui ornamen yang ada di dalam rumah.

3/ Pintu berukuran pendek sebagai salah satu bentuk penghormatan

Jangan heran jika anda berkunjung ke rumoh Aceh maka anda akan mengetahui bahwa pintu-pintu di sini rata-rata dibuat cukup pendek yaitu tidak sampai setinggi orang-orang penghuni rumah tersebut. Ini memang sengaja dibuat supaya ketika baru memasuki rumah, semua orang seolah-olah memberikan penghormatan kepada pemilik rumah. Karena saat mereka melewati pintu rumah maka setiap orang harus jalan menunduk. Hal ini dilakukan agar masyarakat bisa saling menghormati sesama tanpa membedakan kasta.

4/ Sebelum membangun rumah harus melalui musyawarah

Sebelum membangun rumah, pemilik bangunan diwajibkan untuk melakukan musyawarah terlebih dahulu. Musyawarah dilakukan di ranah keluarga dan ranah tokoh-tokoh adat. Musyawarah diperlukan agar bisa menentukan berbagai macam kebutuhan sebagai persiapan melakukan pembangunan. Dengan adanya musyawarah ini maka diharapkan pembangunan bisa berjalan dengan lancar tanpa kendala sebab segala sesuatu yang akan dilakukan baik itu mengumpulkan bahan, menentukan tanggal pembuatan maupun pihak-pihak yang terlibat telah diputuskan bersama-sama. Setelah melakukan musyawarah di tingkat keluarga maka selanjutnya adalah melakukan musyawarah bersama para teuku dan ulama. Ini adalah salah satu bentuk permintaan doa restu supaya pembangunan rumah adat dapat dilakukan dengan lancar.

Rumoh Aceh dibangun dengan penuh perhitungan dimana para pendahulu masyarakat akan selalu memperhitungkan beberapa hal sebelum membangun sesuatu. Termasuk di dalamnya adalah kegunaan suatu tempat, rumoh Aceh tidak dibangun seperti rumah-rumah beton jaman sekarang namun dibangun dengan bahan-bahan yang berasal dari alam. Dengan bahan inilah justru rumah adat Aceh diharapkan mampu berdiri dengan kokoh dan kuat. Dimana seperti diketahui bahwa daerah Aceh termasuk salah satu daerah yang rawan bencana alam yaitu gempa bumi. Maka dari itu, proses pembuatan rumahnya pun tidak sembarangan dilakukan. Para pendahulu akan memperhitungkan apakah rumah akan tahan terhadap goncangan karena adanya gempa bumi. Di samping itu rumah juga akan terhindar dan aman dari banjir maupun serangan binatang buas dari hutan di dekat perkampungan warga. Rumah akan menjadi nyaman untuk ditempati terutama ketika ada bencana. Selanjutnya adalah memperhatikan ruang-ruang yang ada di dalam rumah biasanya dibagi ke dalam beberapa ruang dengan fungsi yang berbeda-beda dimana ini menunjukkan adanya etika dan nilai-nilai kesopanan dalam masyarakatnya.

Ciri Khas Pembangunan Rumah Adat Aceh Berdasarkan Kitab Adat

Adat yang tertuang di dalam kitab adat hingga saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Aceh termasuk di dalamnya yang berhubungan dengan pembangunan rumah. Salah satu kitab adat yang menjelaskan tentang hal ini dinamakan kitab adat meukuta alam yang dijadikan sebagai pedoman bagi warga masyarakat dalam melakukan sesuatu termasuk saat akan mempersiapkan pembangunan rumah. Di dalam kitab ini dijelaskan tentang proses pembangunan diawali dengan mengikat kain berwarna merah dan putih di tiang utama bangunan. Kedua kain ini menjadi lambang bahwa di tempat tersebut sedang ada proses pembangunan sebuah rumah adat yang disebut tameh radja dan tameh putroe. Tak hanya berlaku untuk rumah saja melainkan juga berguna untuk pembangunan masjid atau balai desa. Dalam kitab adat ini juga disebutkan bahwa pekarangan dan rumoh Aceh menjadi milik anak perempuan dan ibunya, jadi keseluruhan rumah tersebut menjadi milik anak-anak perempuan tatkala sang kepala keluarga sudah meninggal. Tetapi jika tidak mempunyai anak perempuan maka rumah akan menjadi milik istri. Kepemilikan rumah adat ini tidak boleh digantikan.

Rumah Adat Aceh Dan Komponen Ruang Di Dalamnya

Di masing-masing kabupaten di Aceh memiliki rumah adat tersendiri. Bangunan di setiap daerah tersebut berbeda-beda namun secara umum komponen yang terdapat di dalam bangunan hampir mirip antara rumah yang satu dengan rumah lainnya. Berikut akan kami jelaskan satu per satu.

1/ Ruang serambi depan atau seuramoe-ukeu

Yang menjadi komponen pertama adalah serambi bagian depan. Tempat ini terletak di bagian depan rumah dan biasa digunakan untuk menerima tamu laki-laki. Jika tamu laki-laki ingin menginap maka di sinilah mereka akan makan dan tidur.

2/ Ruang teras atau seulasa

Bagian teras berada di depan yang letaknya bersebelahan dengan serambi. Lokasinya tidak pernah berubah dari zaman dulu sebab sudah ditentukan dalam kitab adat.

3/ Ruang serambi belakang atau seuramoe-likoot

Ketiga adalah serambi bagian belakang dimana serambi ini letaknya di bagian belakang rumah yang mempunyai fungsi sebagai tempat untuk menerima tamu perempuan. Sama halnya seperti serambi depan, serambi belakang juga digunakan untuk makan dan tidur tamu perempuan.

4/ Rumah induk atau rumah inong

Bagian keempat adalah rumah induk dimana ruangan ini terletak diantara serambi depan dan serambi belakang. Biasanya rumah induk akan dibangun dengan posisi lebih tinggi dibandingkan dengan ruang yang lainnya. Rumah induk dilengkapi dengan 2 ruangan yang bisa difungsikan sebagai kamar. Kedua ruangan dipisahkan oleh sebuah lorong yang mengubungkan antara serambi depan dan belakang.

5/ Ruang dapur atau rumoh dapu

Ruang kelima adalah rumoh dapu yang biasanya dibangun bersebelahan dengan serambi belakang. Posisi tanahnya akan dibuat lebih rendah dari serambi. Di sinilah pemilik rumah akan memasak untuk anggota keluarga ataupun untuk menjamu tamu yang akan berkunjung.

6/ Ruang lumbung padi atau kroong padee

Ruang keenam adalah lumbung padi atau dikenal dengan istilah kroong padee. Masyarakat Aceh rata-rata mempunyai mata pencaharian sebagai petani sehingga mereka membutuhkan ruang khusus untuk menyimpan berkarung-karung padi atau hasil panen lainnya di dalam rumah. Lumbung inilah yang menjadi tempat yang biasa digunakan untuk menyimpan padi setelah melalui masa panen. Biasanya lumbung akan dibuat tersendiri di area pekarangan rumah yaitu bisa di samping atau belakang rumah utama.

7/ Gerbang utama atau keupaleh

Bagian terakhir adalah keupaleh atau gerbang utama yang berada di bagian depan rumah. Tetapi tidak semua kalangan mempunyai gerbang ini. Hanya tokoh masyarakat tertentu saja yang membuat gerbang depan. Gerbang ini akan dibangun dengan memakai bahan kayu yang dibuat seperti bilik yang memiliki payung pada bagian atapnya.

Rumoh Aceh Dan Macam-Macamnya

Seperti dijelaskan tersebut di atas bahwa orang-orang Aceh biasa menyebut rumah adat Aceh dengan istilah rumoh Aceh. Rumah adat Aceh ini mempunyai beberapa jenis yang memakai konsep rumah panggung. Tingg rumah dari permukaan tanah dibangun dengan menggunakan jarak sekitar 2 sampai dengan 3 meter. Sehingga tidak terlalu sulit untuk mengenali rumoh Aceh ketika anda berkunjung ke sini. Ciri khas selanjutnya yang bisa anda kenali dari rumoh Aceh adalah pada bagian pintu yang tingginya sekitar 120 sampai dengan 150 cm. Jika hendak melewatinya maka anda harus menunduk terlebih dahulu. 

Rumoh Aceh saat ini sudah mulai jarang ditemui di daerah-daerah perkotaan karena masyarakat Aceh sekarang lebih suka memilih bangunan rumah yang lebih modern. Namun beberapa rumah adat di Aceh masih bisa anda jumpai di daerah-daerah pedesaan. Adapun jenis-jenis rumoh Aceh yang umum dibangun adalah sebagai berikut :

1/ Rumah Krong Bade

Rumah adat Aceh yang pertama perlu anda kenali dikenal dengan nama rumah krong bade. Konsep bangunannya memakai konsep rumah panggung yang ketinggiannya mencapai sekitar 2 sampai dengan 3 meter. Hampir seluruh material bangunannya menggunakan bahan-bahan alami yaitu berbagai jenis kayu. Lalu untuk atapnya banyak menggunakan daun rumbia. Pada bagian kolong rumah panggung, pemilik rumah biasa menyimpan bahan-bahan makanan di sana. Kagiatan masyarakat terutama ibu-ibu dan kelompok perempuan lainnya banyak dilakukan di bawah rumah panggung seperti menenun. Aka nada tangga untuk bisa masuk ke dalam rumoh Aceh. Adapun jumlah tangganya disesuaikan dengan aturan pembuatannya yaitu harus berjumlah ganjil karena dianggap sebagai angka bertuah. Setelah menaiki tangga selanjutnya anda akan melihat beberapa hiasan seperti lukisan yang dipasang di dinding. Jumlahnya bisa satu atau lebih. Jumlah hiasan di dinding inilah yang menggambarkan tentang status sosial pemilik rumah krong bade ini. Dimana semakin banyak hiasan atau lukisan yang dipajang maka artinya semakin tinggi pula golongan pemilik krong bade tersebut, begitu juga sebaliknya.

2/ Rumah Santeut

Rumah adat Aceh yang kedua dikenal dengan nama rumah santeut atau tampong limong. Memiliki bentuk yang sangat sederhana dimana masyarakat Aceh sangat menyukai desain rumah jenis ini. Tiang pada bangunannya dibuat sama yaitu sekitar 1.5 meter lalu untuk material bangunan juga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan jenis di atas. Atap rumahnya menggunakan daun rumbia sementara untuk lantai menggunakan belahan bambu yang ditata atau dijajar rapat. Selain berfungsi sebagai lantai, belahan bambu ini digunakan juga untuk mendapatkan sirkulasi udara yang memadai di dalam ruangan yang dihasilkan dengan memakai bahan tersebut sekaligus terlihat lebih eksotik. Sehingga lantai dan ruangan tidak akan terasa lembab namun lebih sejuk. Rumah santeut biasanya tidak terlalu luas. Maka dari itu di bagian kolong biasanya akan dipakai untuk tempat mengadakan acara rumahan tertentu atau untuk menerima tamu.

3/ Rumah Rangkang

Rumoh Aceh yang terakhir adalah rumah rangkang, ini bukanlah rumah tinggal seperti sebelumnya melainkan tempat untuk beristirahat bagi masyarakat yang dikenal sebagai tempat singgah. Rumah ini memang sengaja dibangun untuk orang-orang yang ingin singgah seperti yang ingin beristirahat saat sedang dalam perjalanan jauh. Memiliki bentuk mengusung konsep panggung. Dimana karena hanya sebagai tempat singgah maka biaya pembuatannya juga cukup murah. Bahan-bahan yang dipakai biasanya berupa kayu ditambah dengan daun rumbia sebagai atapnya. Meskipun terlihat sederhana namun rumah ini sangat berguna bagi masyarakat Aceh. Sebab ketika lelah, mereka dapat menggunakan tempat ini untuk istirahat sejenak.

Sumber tulisan :

https://www.gramedia.com/literasi/filosofi-dan-macam-macam-rumah-adat-aceh/

Tags Keluarga

About The Author

Utamii 44
Ordinary

Utamii

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel