Mengintip Wihara-Wihara Tua di Lasem

5 May 2021 20:10 174 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Mengintip wihara-wihara tua di Lasem.

Daerah Lasem di Indonesia populer disebut dengan nama lain yaitu daerah Tiongkok kecil atau Petit Chinois dimana orang-orang Eropa di zaman colonial Belanda menyebutnya dengan nama The Little Beijing Old Town karena kota ini mengingatkan mereka terhadap Negeri Tirai Bambu.

Kota kecil di Tanah Rembang ini menyimpan banyak pesona termasuk banyak ditemukan wihara-wihara bersejarah. Ada tiga wihara tua yang mempunyai cerita sejarah panjang yaitu yang pertama adalah Wihara Poo An Bio terletak di Jalan Karangturi. Wihara ini didirikan seiring dengan adanya perkembangan warga Tionghoa di kawasan Karangturi. Lokasinya tepat di tepi Kali Lasem. Wihara kedua adalah bernama Wihara Gie Yong Bio terletak di Jalan Babagan No. 7 yang ditandai dengan bangunan tua berwarna merah terang. Merah dalam hal ini menyimbolkan api dan darah yang memang menjadi warna keberuntungan dari warga Tionghoa. Juga menggambarkan simbol-simbol kemakmuran, kebenaran, dan juga kebajikan. Gie Yong Bio kabarnya dibangun pada tahun 1780 untuk tujuan menghormati para pahlawan Lasem yaitu Oey Ing Kiat, Tan Kee Wie dan Raden Panji Margono yang gugur dalam perang melawan VOC pada tahun 1742 hingga 1750. Di wihara ini terdapat tiga altar suci yang dikelilingi oleh dinding-dinding wihara penuh dengan lukisan serupa komik karya warga Jepang yang sangat menakjubkan.

Terakhir adalah wihara tua dengan nama Cu An Kiong merupakan wihara tertua di Lasem yang berlokasi di Jalan Dasun yaitu salah satu jalan raya tertua yang dibangun di daerah Lasem. Ada beberapa prasasti di dalam ruangan yang bertuliskan tentang hal-hal berhubungan dengan sejarah warga Tionghoa di masa lalu.    

Lasem, Tiongkok Kecil Di Utara Jawa Yang Selalu Bikin Kangen

Ketika anda memutuskan untuk berkunjung ke kota Lasem, apa yang akan anda bayangkan akan dijumpai di kota kecil yang masih jarang diketahui orang ini ? Lasem identik dengan suasana sebuah kota kecil yang nampaknya sangat kental dengan suasana pecinan tempo dulu. Lasem adalah kota yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Rembang terletak di jalur pantura. Bisa dicapai dengan naik bus jurusan Jakarta – Surabaya dimana bus tersebut akan melewati Lasem. Anda bisa turun di depan bangunan tua dari Masjid Jami’ untuk selanjutnya menuju ke pusat kota Lasem. 

Lasem dikenal sebagai sebuah kota tua yang pernah menjadi lokasi syuting film Ca-Bau-Kan. Banyak ditemukan rumah-rumah tua khas Tiongkok masih berdiri kokoh dan berjejer dengan rapi di sepanjang jalan-jalan tikus yang dilalui oleh para pengunjung. Pintunya besar berwarna terang seakan-akan memanggil para pejalan kaki untuk bersedia mendengarkan tentang cerita klasik kota mereka di masa lampau.

Perjalanan dilanjutkan ke belakang wihara tua Cu An Kiong dimana terdapat bangunan Vihara Karunia Dharma atau The Abandon Vihara dimana terdapat sebuah keluarga yang dengan setia mengabdi menjaga vihara ini. Saat ini vihara ini sudah jarang digunakan sebagai tempat ibadah melainkan cenderung difungsikan secara komersil yaitu digunakan sebagai tempat lokasi syuting beberapa film.

Selain terkenal akan bangunan wihara tua yang banyak ada di setiap sudut kota, Lasem tidak bisa dipisahkan dengan batik. Batik Lasem memiliki sejarah tersendiri dalam budaya Indonesia. Yang paling tersohor adalah batik tulis tiga negeri adalah kain batik yang dibuat dari 3 wilayah yang berbeda-beda yaitu warna soga dari Solo, biru dari Pekalongan dan merah dari Lasem. Warna merah pada batik Lasem menjadi ciri khas yang paling menonjol dimana hal ini konon karena kandungan mineral pada air di daerah Lasem mengandung warna merah. Sedangkan jejeran rumah-rumah tua yang terletak di pinggir kota Lasem yaitu di desa Babagan dan Karangturi sebagian besar pada zaman dahulu adalah rumah tinggal sekaligus sebagai rumah batik. Hanya saja sekarang sudah jarang pembatik dijumpai di Lasem karena anak-anak muda di sini menekuni kegiatan lain.

Rumah-rumah tua di desa Babagan dan Karangturi rata-rata dibangun menyerupai rumah khas warga Tionghoa dengan ujung atap melengkung seperti menyerupai atap klenteng. Rumah-rumah ini ibarat pendopo dimana pada bagian depan adalah ruangan untuk menerima tamu dan tempat membatik ada di bagian belakang.

Rumah-rumah tua, klenteng-klenteng, vihara tua, rumah batik, pabrik tegel tua, dan pantai bukan semata-mata menjadi daya tarik dari Lasem. Lasem juga dikenal sebagai sebuah kota yang menyimpan banyak kisah tentang toleransi dan perjuangan. Lasem adalah kota tua yang tak sepantasnya dilupakan.

Demikian kami mengulas dengan singkat tentang mengintip wihara-wihara tua di Lasem yang dirangkum dari berbagai sumber berita. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

Tags Keluarga

About The Author

Kadek Nila Utami 23
Novice

Kadek Nila Utami

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel