Review Novel Berjudul Berjalan di Atas Cahaya

4 May 2021 12:35 557 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Nah dari kisah-kisah tersebut di atas, masih ada 14 kisah lainnya yang dirangkai secara apik dan apa adanya oleh tim penulis. Semua kisah yang ditulis sederhana namun sarat akan makna dan banyak ada kejutan yang diberikan oleh penulis terselip dalam cerita yang dirangkai yang diharapkan mampu membuat pembaca tercengang dan kagum.

Setelah mengalami kesuksesan dengan buku berjudul Kisah 99 Cahaya Di Langit Eropa, kini Hanum Salsabiela Rais kembali menciptakan karya baru berupa kumpulan tulisan perjalanan. Tetapi kali ini dia tidak menulis sendirian melainkan bekerja sama dengan beberapa penulis lain yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Beragam kisah-kisah perjalanan dari berbagai negara di Eropa akan menambah wawasan anda mengenai perkembangan Islam di Eropa. Dengan mengaplikasikan gaya bahasa yang mengalir dengan ringan dan cara penulisan yang menarik mampu menjadikan buku ini cocok untuk dinikmati di waktu luang anda.

Detail Buku

Judul buku : Berjalan Di Atas Cahaya

Pengarang buku : Hanum Salsabiela Rais, Tutie Amaliah, dan Wardatul Ula.

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal buku : 210 halaman.

Harga per buah : Rp.40.000,-

Buku buah karya Hanum Salsabiela Rais dan kawan-kawan yang berjudul Berjalan Di Atas Cahaya ini adalah sebuah novel yang merupakan sambungan dari novel terdahulu berjudul Kisah 99 Cahaya Di Langit Eropa dimana ditulis berkelanjutan karena terlalu tingginya antusias pembaca dalam mengetahui kondisi para Muslim di Eropa. Namun buku terbaru agak berbeda dengan buku sebelumnya yang berisikan kisah perjalanan si penulis dalam mencari jejak kebesaran Islam.

Buku terbaru ini berisikan pemikiran si penulis di dalam menguak nilai-nilai Islam yang dijumpai di Eropa seperti tentang kejujuran, ketulusan hati, dan kecerdasan serta ingin meyakinkan para pembaca bahwa agama tidak disebarkan melalui pedang dan perang melainkan dari budi pekerti yang luhur.

Anda bisa membaca kisah yang dituturkan oleh Hanum ketika dia melakukan kunjungan ke wilayah Neerach di Swiss.

Adalah Markus merupakan seorang mualaf yang ingin ditemui oleh Hanum untuk keperluan wawancara yang meminta Hanum untuk menunggunya di sebuah kedai bunga yang terlihat unik. Dimana di kedai bunga ini hanya ada lampu-lampu yang sudah using dan bangunan kedai tampak sangat sederhana yaitu dirakit dari papan kayu yang pada bagian sudutnya dipaku dengan asal saja. Persis menyerupai kedai penjual roko atau bensin di pinggir-pinggir jalan raya di Indonesia (halaman 41). Namun bedanya, di kedai bunga tersebut tidak ada penjual yang menunggu.

Pembeli secara langsung membayar barang-barang yang dibeli dengan cara meletakkan uang pada kaleng yang sudah disediakan. Jika memiliki kembalian maka tinggal ambil sendiri di kaleng lainnya. Apabila tidak ada uang tersedia dalam jumlah yang diinginkan maka pembeli cukup menulis nama dan alamat pada notebook yang disediakan, maka uang kembalian pun akan diantarkan oleh penjual ke alamat yang dituliskan. Sungguh luar biasa, praktik kepercayaan yang luar biasa. Bagaimana mungkin orang-orang Swiss menerapkan syariat Islam tanpa membubuhkannya pada konstitusinya ? (Halaman 44).  

Sebuah praktik ketulusan yang dikisahkan oleh Tutie Amaliah sebagai penulis kontributor.

Dalam penerbangan ke Wina untuk menyusul suami tercinta, Tutie bertemu dengan seorang pendekar bercadar. Sewaktu di dalam pesawat hingga tiba di bandara Wina, Tutie mendapat banyak petuah tentang kehidupan yang sederhana dilakukan dari pendekar bercadar tersebut. Salah satunya adalah wanita tersebut rela bertukar tempat antri dengan Tutie. Alasannya sangat sederhana karena petugas bandara senang dengan orang bercadar. Jadi, dia pasti akan diperiksa lebih lama (halaman 83) dan tentu saja hal ini akan menyebabkan Tutie menunggu lebih lama. Dimana Tutie harus menunggu bersama dengan buah hatinya yang baru berusia 6 bulan.

Ketika anda membaca kisah tersebut di atas maka akan terasa ketulusan dan keikhlasan hati yang sangat kuat. Tutie menuliskan, “ Sungguh saya ingin kembali kepada petugas di imigrasi, dan mengatakan bahwa orang yang mereka tahan lama-lama hanya karena bercadar adalah pendekarnya hari ini. Dia adalah orang baik, terlepas seperti apa penampilan fisiknya. Cadarnya tak merintanginya berbuat baik kepada orang yang belum dikenalinya, bahkan tak perduli apa agamanya. Hubungan manusia ber-hablum, minannas-lah, yang mendasarinya memberikan tangan untuk sesama.” (Halaman 88).

Kisah lain yang tak kalah menarik adalah kisah Rangga, suami Hanum. Dengan kecerdasan yang dimilikinya melalui Game Theory yang dimainkannya, Rangga berhasil mengecoh teman-temannya dan mendapatkan keuntungan sebesar 415 Euro. Jumlah yang sangat fantastis. Namun Rangga tidak menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadinya melainkan disumbangkan kepada organisasi remaja dan muda-mudi Muslim Linz (LMJO).

Nah dari kisah-kisah tersebut di atas, masih ada 14 kisah lainnya yang dirangkai secara apik dan apa adanya oleh tim penulis. Semua kisah yang ditulis sederhana namun sarat akan makna dan banyak ada kejutan yang diberikan oleh penulis terselip dalam cerita yang dirangkai yang diharapkan mampu membuat pembaca tercengang dan kagum.

Demikian kami menjelaskan dengan singkat tentang review buku berjudul berjalan di atas cahaya yang kami rangkum dari berbagai sumber berita. Semoga memberikan banyak manfaat bagi pembaca buku ini.

 

Tags Keluarga

About The Author

Utamii 44
Ordinary

Utamii

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel