Musim Azael

30 Apr 2021 16:10 888 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Musim Azael.

Suatu pagi hari di pinggir sungai Raccoon yang membelah pusat kota Des Moines, Iowa.

Ada beragam kegiatan air yang dapat Anda lakukan di sini, seperti memancing ikan forel atau naik kapal, namun satu kegiatan favorit masyarakat setempat yang selalu dilakukan di pagi buta adalah menonton matahari terbit dari tepi langit bagian timur. Saat sang pagi mulai muncul di kaki bumi, memberi sinar di hati mereka yang sedang bersemayam dalam kotak musik kuno Balerina dan selalu menemani seluruh kegiatan kami dengan alunan musik merdu klasik dari Beethoven.

Begitu indah.

Pagi telah menyapa alam dimana kami dapat melihat bidadari beterbangan di sepanjang pinggir sungai, berwarna putih bersih dengan seraut wajah mungil dan lucu sibuk mencari ikan – ikan kecil, atau menunggu uluran tangan terbaik dari kami untuk menaburkan remah – remah roti ke tengah sungai lalu mereka berlomba mendapatkan sepotong. Kemudian perlahan namun pasti, waktu bergulir sangat cepat hingga akhirnya tidak lagi mampu berjalan dan malam pun segera tiba. Namun kaki ini masih bisa melangkah menyusuri jalan setapak penuh kerikil – kerikil kecil dan hijaunya rumput liar hanya untuk melihat beberapa gerombolan anak – anak kecil tertawa bahagia meskipun mimpi – mimpi mereka masih jauh dari harapan indah.

Selembar pelangi terlukis begitu mempesona namun tiba – tiba menjadi buram karena hujan mulai turun membasahi bumi membuat mata ini tidak bisa lagi melukiskan satu – per satu kata – kata manis tetapi kami selalu bisa memetik hikmah terindah dari semua itu adalah merupakan anugerah alam tertinggi yang telah diciptakan – Nya buat seseorang seperti kami untuk selalu menjaga dan melindungi. Cahaya bulan menusuk hingga ke dalam mata menyebabkan semua terlihat seperti hal – hal yang telah lewat dan dengan sempurna sudah dibentuk, bagaikan setitik kilat melintasi otak, begitu abadi hingga waktu benar – benar berhenti berputar.

Sungai Raccoon, bak kumpulan awan berwarna putih, dengan airnya yang jernih mengalir begitu deras membuat pesona terdalam yang tidak mampu dipahat helai demi helai menggunakan kapak tertajam sekali pun sehingga muncul mahkota – mahkota romantis di atasnya membuat seluruh dunia akan terpesona oleh suasana alam yang tercipta begitu indah dari pagi hingga malam tiba.

Itu juga menjadi awal dari sebuah cerita menarik.

Mackenzie Yoho bertemu dengan Laura Bairrfhionn di Aspen Athletic Club pada Merle Hay Road di Des Moines sekitar tahun 2007. Seseorang yang lain yaitu teman bersama mereka, Brammeier juga bekerja disini sebagai pelatih senam tetapi karena ada perubahan sistem di dalam tubuh perusahaan, dia kemudian dipindah tugas ke kantor klub yang ada di Australia.

Laura adalah seorang gadis Katolik dari Wilton. Dia pergi ke St. Ambrose University, dimana ia banyak belajar olahraga dan kinerja manusia. Kebugaran adalah gairah hidupnya yang utama. Awal karirnya sempat menjadi cover model majalah The Brunette dengan kekhasan dari diri Laura, mata cokelat dan senyum ramah, tubuh ramping dan lentur dalam segala gerakan yang dia lakukan, cocok untuk profesi yang dia pilih namun jalan hidupnya ke masa depan, Laura memilih bekerja di klub gym. Dan persahabatan yang terjalin erat antara Yoho, owner klub dengan semua karyawannya ternyata memiliki sikap menular, pekerja keras, merupakan khas sikap orang Amerika pada umumnya, sikap yang mendorong rekan – rekan kerja mereka untuk bekerja dengan giat dan sedikit lebih keras. “ Dia selalu dalam semangat yang tinggi, “ kata Aaron Helder, seorang teman dekat lainnya dari mereka, bersama – sama bekerja di Aspen. “ Dia selalu meluangkan waktunya dan siap untuk bekerja. Dia punya kepribadian serta sikap peduli yang sangat besar dan benar - benar ingin selalu terlibat dalam membantu orang. “

Laura adalah seorang pelatih pribadi senior klub dimana Yoho menjadi salah seorang bosnya langsung. Yoho merupakan figur seorang pemuda Jepang asli memiliki postur tubuh sempurna, dada barel dan lengan seperti meriam. Dia adalah seorang keluarga kaya raya blasteran Jepang dan Des Moines, memiliki hobi bermain bisbol semasa kuliah di University of Iowa. Di sela – sela waktu luang, ia senang menghabiskan dua musim sekaligus sebagai seorang pemain bisbol handal meskipun itu hanya dilakukan sebagai penyaluran hobi saja disamping hobi lain yang memerlukan ketenangan pikiran yaitu pertanian Milwaukee Brewers, milik keluarga kakek Yoho yang ada di Belanda. 

Musim bunga sudah tiba di Belanda. Sebagian besar desa – desa yang ada disini dipenuhi oleh hutan, padang rumput dan tentu saja perkebunan dari buah – buahan, sayur dan bunga. Sehingga membuat Belanda termasuk ke dalam salah satu tujuan wisata favorit dunia untuk mereka para pencinta aneka tanaman khususnya bunga, ada tulip, matahari, lavender, poppies, aster, red clover atau mawar. Pada saat musim semi atau musim panas tiba, Anda bisa sepuas hati menikmati kastil – kastil tua yang berlatar belakang hamparan bunga – bunga dalam sejuta warna.

Pertanian Milwaukee Brewers, milik keluarga kakek Yoho yang ada di Belanda adalah mengkhusus untuk perkebunan bunga lavender yaitu salah satu tanaman semak yang tumbuh subur di daerah pegunungan, merupakan perbatasan dengan negara - negara bagian barat dari Mediterania. Bunga ini juga banyak dibudidayakan secara luas dan bernilai ekonomi tinggi untuk bunga aromatik terutama di wilayah Perancis, Italia dan Inggris, bahkan sampai ke utara Norwegia. Hal ini sangat erat hubungannya dengan perkembangan yang cukup pesat dari pertumbuhan pabrik – pabrik  parfum dan produk kosmetik ternama dunia lainnya di Belanda.

Bunga lavender mempunyai aroma keharuman yang mirip kamfer sehingga pada waktu disuling akan menghasilkan minyak yang banyak dipakai sebagai bahan dasar campuran pembuatan parfum, kosmetik, pengharum ruangan dan obat nyamuk. Perkebunan lavender dari pertanian Milwaukee Brewers, milik keluarga kakek Yoho di Belanda, didirikan dengan salah satu tujuan yaitu untuk memproduksi minyak lavender adalah merupakan sebuah perusahaan yang dikelola di bawah managemen keluarga mereka dari Belanda dan Jepang.

Bayangkan, berdiri di tengah ladang bunga lavender yang sangat luas, dengan udara segar di sekeliling kami dan mengeluarkan aroma harum memabukkan serta menciptakan suasana alam khas desa – desa di Belanda, menggugah kenangan termanis ketika musim panas tiba. Lavender adalah perlambang kesejukan sekali pun Anda berada di bawah teriknya sinar matahari musim panas, perasaan tenang dalam nuansa warna hijau dan ungu dari tanaman lavender itu sendiri. Lavender seperti halnya bunga mawar, bersama – sama  menawarkan satu kombinasi menyenangkan dari sisi keindahan mahkota, warna dan aroma. Musim bunga lavender yang indah membuat suasana desa penuh warna - warni taman bunga yang hanya terjadi setiap enam bulan sekali. Dengan aroma menyengat dari kelopak bunga, membuat syair lembut dari senandung kepak sayap lebah dan kupu - kupu serta ramah menyambut tamu – tamu kecil lainnya seperti siput, lalat bunga dan kumbang seribu kaki untuk bersama – sama menikmati aneka hidangan lezat di area ladang, ada bunga – bunga kecil liar, beragam rumput maupun jamur.

Di pinggir ladang, terdapat bangunan kastil tua dimana beberapa pekerja kebun tinggal untuk keperluan mengurus kebun – kebun bunga tersebut dari mulai tanam hingga musim panen tiba. Kami berdua, Yoho dan Laura sering menghabiskan cuti bersama di sini yaitu sebuah desa yang terkenal sebagai salah satu kawasan wisata pertanian internasional di Belanda, Franekeradeel Harlingen. Kami dan beberapa pekerja ladang senang membuat semacam pesta kebun di belakang kastil tua milik keluarga Yoho, kami membuat sirloin steak sapi barbeque pedas berbalur kentang panggang dan mixed vegetable. Sepiring salad segar sebagai hidangan pembuka dari sayur wortel, mentimun Jepang, tomat, dan kubis merah, ditambah irisan tipis daging sapi panggang, udang goreng, taburan keju Belanda, irisan tipis buah bit, bawang bombay, terakhir disiram saus jeruk segar.

Beberapa hidangan penutup berupa puding roti, sate buah (anggur merah, anggur hijau, stroberi, dan daging apricot) yang dipanggang dengan kombinasi saus cokelat, ada cake buah, sorbet buah dengan campuran bahan dasar seperti teh, buah jeruk dan chamomile, atau sorbet mangga dicampur teh Earl Grey, sungguh lezat kami santap bersama – sama di hari libur yang menyenangkan ini apalagi ditambah dengan aneka minuman segar dari sari buah – buahan.

Hingga liburan kami usai, berdua kembali terbang ke Iowa.

Di kantor. Setiap pagi tiba dan sebelum memulai untuk bekerja sebagai seorang pelatih, baik Laura maupun Yoho selalu membuat langkah pertama yang sama di dalam memudahkan jalannya pekerjaan mereka masing - masing. Namun disela – sela waktu sibuk mereka berdua, anggota klub senang menggoda, “ Kalian bekerja dalam satu hari begitu giat, seharusnya kalian berdua sekali – kali menghabiskan waktu bersama untuk berkencan ! “ dan akhirnya membuat Laura berpikir serius seratus kali. “ Aku seperti berada di angkasa biru, oh tidak, jangan lakukan itu. Dia adalah bos saya. “ Tetapi beberapa hari kemudian, Yoho mengatakan penuh semangat,   “ Hei, klien Anda mengatakan kita harus dinner bersama ! “ Mereka menertawakan kekonyolan kami berdua. Namun di akhir cerita, benih – benih cinta mulai tertanam dan tumbuh subur di hati kami masing – masing.

 

 

About The Author

Utamii 36
Ordinary

Utamii

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel