Kisah Tua di Negeri Kurcaci,pada Puncak Bukit Xishan, Tiongkok

29 Apr 2021 14:50 407 Hits 0 Comments Approved by Plimbi

Kisah tua di negeri Kurcaci, pada puncak Bukit Xishan, Tiongkok.

 

 

Apakah anda pernah mendengar tentang sebuah negeri yang dihuni oleh mahluk – mahluk pecinta keindahan ? Negeri itu adalah negeri kurcaci, tempat tinggal bangsa kurcaci seperti Putri Salju, Cinderella, Pinokio, Bugs Bunny, Donald Duck, Tom dan Jerry, atau Spongebob. Tidak hanya ada di negeri – negeri barat saja, di Tiongkok pun negeri kurcaci benar - benar ada dan nyata.

Adalah sebuah desa kecil bernama Dwarf Empire, terletak di bukit Xishan, pinggiran kota Kunming, daerah Yunnan, Tiongkok, menarik perhatian masyarakat dunia karena memiliki penduduk asli bertubuh mungil sekitar 1.3 meter seperti manusia kurcaci di negeri dongeng. Sehingga desa ini disebut dengan kerajaan kurcaci. Mereka tinggal di rumah – rumah mini beratap jamur seperti yang dilakukan oleh bangsa kurcaci sesungguhnya dari negeri dongeng.

Hingga saat ini, dua kali dalam setahun, para wisatawan yang kebetulan berkunjung ke tempat ini disuguhi oleh pertunjukan seni yang pelakonnya adalah warga asli desa Dwarf Empire. Mereka menari, menyanyi, atau menyapa sang turis dengan mengenakan kostum - kostum lucu seperti para kurcaci di negeri asal mereka, di atas langit sambil membawa souvenir berupa bunga kering edelweiss, buah – buahan khas negeri Cina seperti Ying Tao, Li Zhi, Tao Zi, Xing, Pipa, Li Zi, Zao Zi, Wu Hua Gua, dan Huo Long Guo atau camilan – camilan ringan ala orang Cina, ada kue keranjang, kue lotus, manisan kolang – kaling, kue lapis legit, kue mangkok, kue maho, dan aneka sajian dari mie. Ternyata para turis tersebut suka.

Hal lain yang paling menarik anda bisa dapatkan di sini adalah suasana pedesaan persis seperti anda berada di dalam negeri dongeng, ibarat anda tidur di dalam sebuah kastil paling mewah di Eropa, bermimpi telah melakukan sebuah perjalanan rahasia yang sangat menakjubkan ! Itulah yang dialami oleh seorang turis, laki – laki berusia lima belas tahun dari sebuah kota cantik, Keukenhof, Belanda, bernama Nicolaus Sacharias Laurensius Xavier, oleh teman – teman dan keluarganya biasa dipanggil Nicolas.

***

Di bukit Xishan Tiongkok, di sebuah desa kurcaci bernama Dwarf Empire, hiduplah sepasang suami istri bernama Li Jun dan Liu Chen, mereka sangat miskin dan tinggal di sebuah pondok kayu di pinggir hutan bambu, dekat dengan sungai terbesar di Cina yaitu sungai Yangtze.

Sehari – hari mereka berdua bekerja di ladang, menanam bunga sesawi atau bunga canola kuning untuk dijual kepada para bangsawan kaya – raya dari negeri Eropa untuk berbagai keperluan. Meskipun ladang tersebut dihuni oleh para pekerja kasar dan kelompok petani miskin di Tiongkok, tak mengurangi keindahan alam di sekeliling ladang, selain menanam bunga canola, terdapat hamparan luas bunga – bunga herbal lainnya seperti spring snowflake, lily of the valley, violet, lords and ladies, lilac, dan glory of the snow.

Apabila musim semi atau musim bunga tiba, pada saat ini banyak sekali dijumpai hamparan ladang penuh warna – warni, segarnya udara pagi semakin cerah oleh keharuman alami dari kelopak bunga – bunga ladang tersebut, musim ini merupakan musim paling semarak karena sejauh mata memandang, hanya terlihat pesona alam paling indah di dunia, meskipun bunga - bunga ini adalah bunga musiman yang hanya muncul satu kali dalam setahun, keberadaan singkatnya membuat penghuni ladang dan desa merasa senang.

Ketika hari beranjak siang, sang suami pergi ke kebun bambu untuk mencari bambu tua yang akan digunakan membuat keranjang buah dari anyaman bambu, kemudian mereka jual di pasar – pasar tradisional. 

Pada suatu hari, ketika Li Jun memotong sebatang bambu berukuran besar di tengah hutan, di lereng gunung Fuji, ia sangat terkejut karena di dalam lubang bambu terlihat seorang bayi perempuan sedang tidur sangat lelap. Pelan – pelan, ia mengambil bayi itu, dan membawanya pulang untuk dirawat oleh sang istri yang sejak pertama mereka kawin, ingin segera mendapat momongan. Bayi mereka diberi nama Putri Bambu.

Putri Bambu adalah anugrah paling ajaib bagi keluarga petani miskin tersebut. Beberapa tahun telah berlalu dan saat ini dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik jelita dan lemah lembut sehingga semua penghuni desa suka berteman dengannya. Apalagi dia sangat rajin membantu kedua orangtuanya bekerja di ladang atau di rumah, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah seperti memasak, membersihkan rumah dan pekarangan atau menganyam bambu untuk dibuat aneka kerajinan khas negeri Cina yang sangat unik dan cantik. Dari pagi buta hingga menjelang sore, ia tak pernah mengeluh atau merasa bosan dan lelah.

Di sebuah pasar tradisional bernama pasar bu xing jie, terletak di pusat kota Xishan. Seperti biasa, dengan memakai kereta tradisional yang ditarik oleh dua ekor kerbau jantan, Putri Bambu berangkat ke pasar sejak dini hari sambil membawa benda – benda kerajinan dari bambu hasil tangannya sendiri dan barang – barang antik lainnya seperti vas bunga, pot – pot kuno, dan beberapa potong pakaian sutra tradisional. Ia menjual benda – benda tersebut di toko – toko milik warga Hongkong, dan selalu laku. Kemudian dia membeli kebutuhan hidup yang lain, menjelang sore hari, dia kembali ke desa.

Secara umum pasar tradisional di Tiongkok terbagi menjadi beberapa type, pertama adalah pasar kecil, kondisinya tidak didesign khusus melainkan dibiarkan berantakan secara alamiah dan sederhana, letak pasar ini berada di lingkungan desa – desa kecil dan terpencil, bisa di tengah - tengah permukiman warga, luas pasarnya sekitar 500 m2. Kondisi lantainya tidak permanen, bahkan beberapa diantaranya menggunakan tanah asli namun setiap hari selalu dikunjungi oleh ribuan pembeli dan penjual.

Type kedua adalah pasar sedang, pasar ini memiliki ukuran lebih besar dari pasar kecil, yang membedakan adalah jenis komoditas yang dijual. 90 % benda – benda di sini adalah kebutuhan sekunder seperti fashion, alat rumah tangga, dan perlengkapan sekunder lainnya, sedangkan 10 % adalah jenis makanan atau minuman khas Tiongkok siap saji atau jenis santapan para turis mancanegara dalam kemasan – kemasan unik. Kondisi pasar lebih nyaman bahkan ada beberapa bangunan berkelas seperti bertingkat, biasanya terletak di wilayah kota.

Type pasar ketiga adalah pasar jalan atau dikenal dengan istilah bu xing jie, pasar ini berlokasi di kota – kota besar, dimana pemerintah setempat membantu warganya dengan menyediakan jalan – jalan tikus karena area pasar sangat luas. Jalan yang tersedia bisa berukuran 1 km, ada yang beraspal namun pada umumnya jalan – jalan tersebut adalah jalan setapak, atau menggunakan ubin, lebarnya sekitar 10 m. Di sebelah kanan dan kiri jalan, berjejer rapi toko - toko dari berbagai penjuru dunia yang menjual beragam jenis pakaian, peralatan olahraga, peralatan musik, toko kue, mainan anak – anak, toko bunga, restoran dan lain sebagainya.

Di ujung pasar terdapat taman bermain dan tempat beristirahat bagi para pengunjung, dihiasi oleh taman bunga dan beberapa pasang meja dan kursi yang terbuat dari kayu, sedangkan pada bagian tengah taman adalah kafe – kafe tradisional untuk menjajakan camilan ringan khas Cina, contohnya teh, aneka jajanan basah, sate, aneka minuman dingin, topi dan kaos kaki, dompet, jasa fotografer untuk para turis, dan yang lainnya. Jenis pasar ini ditujukan bagi para pejalan kaki yang sengaja datang ke taman ini untuk menghilangkan penat karena lelah oleh pekerjaan sebagai pedagang di pasar, dimana suasananya segar dengan udara bebas dimana – mana serta jauh dari kebisingan kota karena tidak boleh ada kendaraan di sekitar pasar.

Type pasar keempat merupakan pasar besar atau pasar induk yang terbagai menjadi beberapa pasar. Untuk jenis komoditas yang dijual adalah sayur - mayur, biji - bijian dan palawija, minyak goreng dalam jumlah grosir dan beragam kebutuhan pangan, pasar induknya adalah pasar induk sayur - mayur, rempah – rempah mancanegara, buah – buahan dan bunga. Jenis komoditas tambahan seperti peralatan rumah tangga, fashion dan kebutuhan sekunder atau tersier lainnya sehingga disebut sebagai pasar induk sekunder. Kedua jenis pasar besar ini berlokasi terpisah bahkan beberapa diantaranya berbeda tempat, sehingga jarang terjadi kepadatan kendaraan dan pemakai jalan raya atau jalan – jalan tikus terutama saat ada pengiriman barang – barang ke pasar induk.

Pada suatu hari.

Putri Bambu sedang di pasar menjual beberapa helai kain sutra Cina. Tiba – tiba seseorang menghampirinya, “ Berapakah selembar kain sutra berwarna merah keemasan ini ? “ Ia adalah seorang laki – laki yang sangat tampan dan berkulit kuning langsat serta tinggi semampai bernama Pangeran Hongli Zheng. Berasal dari kerajaan Xishan, mereka tinggal di sebuah kastil mewah bernama istana Potala di atas puncak bukit Potala, berdekatan dengan kota Lhasa, Tibet.

Putri Bambu mengetahui tentang kemasyuran istana Potala beserta para penghuni di dalamnya. Mereka adalah bangsa kurcaci paling unik di seluruh dunia karena memiliki bentuk tubuh tinggi dan langsing serta rata – rata berwajah tampan atau cantik dan jelita layaknya manusia.

Kastil termegah dan terbesar di dunia.

Istana Potala berlokasi di kota Lhasa, Tibet, dikelilingi oleh pegunungan Potala, pada jaman dahulu merupakan kediaman raja dan ratu Chenresig dan Avalokitesvara, serta Dalai Lama hingga abad ke – 14, mereka mengungsi ke kerajaan Dharamsala di India, karena mendapat serangan dari sekelompok tentara kerajaan Eropa dan mengalami kekalahan besar. Selanjutnya, istana Potala pernah diubah fungsinya oleh pemerintah Cina menjadi sebuah museum sampai saat ini.

Bangunan utama istana berukuran 400 meter di bagian timur menuju ke arah barat dan 350 meter di bagian utara ke selatan, dengan sebuah pembatas berupa tembok batu yang memiliki ketebalan sekitar 3 – 5 meter pada bagian dasarnya, agar bangunan kuat sebagai penahan gempa bumi, materialnya dicampur dengan bubuk tembaga. Kastil ini memiliki tiga belas tingkat, lebih dari 1.000 kamar, 10.000 tempat pemujaan atau kuil dan 200.000 patung emas murni. Menjulang tinggi sekitar 117 meter di puncak bukit Marpo Ri, dan berlatarbelakang lembah merah atau Red Hill, sangat indah dilihat dari bawah, menantang langit dengan ketinggian sekitar 300 meter dari dasar lembah.

Sejak pertemuan pertama mereka di pasar, Pangeran Hongli Zheng  dan Putri Bunga menjalin sebuah pertemanan yang sangat akrab. Kemudian, sang pangeran mengirim seorang utusan untuk meminta Putri Bambu pindah ke istananya sebagai juru masak istana karena gadis ini terkenal sebagai ahli memasak di desanya. Ia bisa membuat sajian terlezat dari beberapa negara seperti Jepang, Korea, dan Eropa. Budaya dari negeri - negeri itu telah melekat dalam diri sang putri sejak ia masih kecil, dimana keluarga mereka sangat menjunjung tinggi keistimewaan, keindahan, keagungan dan kegunaan dari pohon bambu di tengah hutan liar atau bunga – bunga di ladang pertanian mereka.

Cobalah kita merenung dan sejenak melihat keistimewaan filosofi tanaman bambu.

Mengapa bambu sangat digemari oleh seluruh petani di dunia ini dan tak memandang kelas, apakah mereka kaya atau miskin ? Bambu adalah tanaman rumpun yang sangat kuat dan lentur, tak mudah tumbang atau patah batangnya meskipun diterpa oleh badai dan angin topan ! Apakah yang menyebabkan mereka seperti ini, karena memiliki akar – akar tertancap dalam ke dasar tanah ! Seperti akar pohon pinus atau pohon ek dan jati. Namun, bambu mampu bertahan terhadap tiupan angin kencang dibandingkan pohon – pohon yang lainnya. Rahasia ketahanannya adalah terletak pada sikapnya. Ketika badai menerjang, pohon - pohon lain berdiri kaku dan menantang alam, akibatnya, ranting dan batangnya patah. Sebaliknya, bambu selalu merunduk dan menunduk. Bambu membiarkan diri mereka diarahkan oleh tiupan angin walaupun tubuh – tubuh lemah mereka melengkung hingga menyentuh tanah. Sifat lentur inilah yang menyebabkan pohon bambu bisa bertahan dalam serangan badai dan topan. Sifat lenturnya mampu memulihkan sikap bangkit kembali setelah badai dan topan berlalu. Bambu mampu beradaptasi dan membuatnya menjadi lebih kuat.

Itulah keluarga kecil petani miskin dari marga Jun dan Chen. Mereka selalu belajar tentang kebijaksanaan rumpun bambu. Karena, manusia atau bangsa kurcaci dan peri ibarat pohon yang sewaktu - waktu mudah diterpa oleh badai atau beragam persoalan di dunia ini, kita pasti akan kesulitan dan mengalami sebuah penderitaan besar. Bagaimanakah sikap kita untuk menghadapi bencana yang tiba – tiba lewat ? Apakah kita akan menantang atau melawan angin seperti pohon - pohon besar lainnya atau mempelajari filosofi tanaman bambu ? Apakah anda menghendaki seluruh keluarga anda patah atau tumbang. Ataukah anda mengambil sikap lentur seperti pohon bambu, merunduk dan menunduk hingga mencapai permukaan tanah. Dengan sikap – sikap ini, anda mampu bertahan dan diharapkan segera pulih kembali. Sifat lentur adalah bisa melengkungkan diri sebagai sebuah rahasia untuk bertahan dan selamat.

Seperti kidung – kidung suci yang berkumandang dari loteng gereja di puncak bukit, Kristus selalu menyuruh pengikutnya untuk bertahan dari berbagai persoalan, kesulitan dan penderitaan yang sewaktu – waktu datang menerpa. Kepada para rasul, Ia bersabda, “ Bahwa jika kamu tetap bertahan, kamu akan mendapatkan kembali hidupmu. “ (Lukas 21:19). Hal ini diperkuat oleh seorang penyair besar bernama Ibrani, ia menulis, “ Bahwa bertahan dalam sebuah perjuangan adalah hal yang paling berat ! “ (Ibrani 10:19 - 39).

Bambu adalah seorang guru yang sangat bijaksana. Oleh karena itu, bambu dijunjung sebagai salah satu budaya kuno Kung Fu Tse di Jepang, Korea, dan Tiongkok sebagai filosofi tua untuk manusia atau para kurcaci, peri, bunga – bunga di ladang dan hewan – hewan cantik di dunia. Dalam seni memahat dan melukis, bambu adalah setitik lambang estetika. Fungsinya adalah sebagai lambang ketahanan dan ketekunan hidup. Ruang atau rongga kosong pada bambu, dalam agama Kung Fu Tse merupakan lambang pengosongan dan pemurnian bathin. Seperti latarbelakang kelahiran Putri Bambu di asalnya, hutan bambu.

Ia bercerita pada kedua orangtuanya. Mereka sangat bahagia mendengar. Namun mereka menyarankan agar ia tetap tinggal di rumah saja menekuni pekerjaan lama. Juga, mereka bisa hidup layak, setiap hari bisa membeli sekerat daging domba muda atau menjelang perayaan Natal mereka mampu membeli beberapa iris daging kuda jantan muda yang berasa sangat manis dan bertekstur lembut di lidah. Putri Bambu pun menurut, ia menulis sepucuk surat buat sang pangeran, “ Maafkan saya, pangeran muda, saya lebih berguna di desa bersama kedua orangtua saya daripada di dapur istana. Namun jika sang pangeran ingin menikmati masakan kami, mereka sewaktu – waktu bisa mengantar ke kastil untuk pangeran cicipi. “

Pangeran sangat senang menerima dan membaca surat dari sang putri di desa. Ia mengutus seorang pelayan istana untuk ke rumah sang putri, keluarga kerajaan memberi keluarga petani miskin tersebut setumpuk hadiah dan beberapa petak ladang sayur - mayur, ladang bunga – bunga herbal dan kebun stroberi. Mereka pun suka menerimanya. Sebagai balasan, mereka mengirim empat kotak sajian terlezat dari Prancis yaitu Quick tarte tatin (adalah sajian penutup klasik khas Prancis. Penampilannya seperti pie apel. Hanya saja, kue ini diberi campuran karamel, serta proses pembuatannya memakai wajan agar lebih praktis dan tak memerlukan waktu lama. Cream puffs with dark chocolate sauce (adalah sajian populer di Prancis. Adonan dasar dan cara membuatnya seperti kue sus, memakai telur, air dan mentega. Yang membuat makanan ini istimewa adalah hiasan dari lelehan cokelat di atasnya. Lemon soufflés (adalah kue bertekstur lembut karena terbuat dari putih telur sebagai adonan dasar. Taburan gula palem diatasnya adalah untuk menambah lezat sajian kue ini. Tepat dinikmati bersama secangkir teh atau kopi). Macarons (adalah kue berasa manis dan bertekstur crispy, serta dibagian tengahnya terdapat aneka jenis filling yang menyebabkan orang – orang penasaran dan ketagihan untuk mencicipi semua rasa dari kue ini. Juga diperkaya oleh warna – warna cantik yang menjadi daya tarik utama bagi si penikmat).

Begitulah hari – hari berlalu dalam damai di sebuah negeri kurcaci yang terletak nun jauh di puncak bukit Xishan, Tiongkok.

***

Brakkkkkkkkk !! Suara pintu di tutup dengan keras.

Nicolas kaget dan terbangun dari tidurnya yang sangat lelap di sudut ruang baca pada sebuah perpustakaan besar di pusat desa wisata Dwarf Empire, terletak di bukit Xishan, pinggiran kota Kunming, daerah Yunnan, Tiongkok. Perpustakaan itu berarsitektur sangat mewah, berlantai tiga, dan menonjolkan gaya Baroque khas Prancis. Namun, perpustakaan ini dipercaya adalah rumah berhantu peninggalan terakhir dari masa kejayaan kerajaan Potala abad ke – 14, pada jaman dahulu kala.

Manusia kurcaci di desa ini menyebut perpustakaan tersebut dengan istilah Moguicheng, artinya istana iblis. Moguicheng adalah desa tetangga berupa daerah padang pasir yang berlokasi di provinsi Xinjian, Tiongkok. Daerah ini terbengkalai dan hanya dihuni oleh kurcaci jenis vampir Cina, tak ada satu pun manusia yang betah tinggal di sekitarnya. Dikenal dengan kota iblis karena menyimpan setumpuk cerita mistis tentang kehidupan keluarga raja – raja Cina di Tiongkok beserta peristiwa – peristiwa penting menyertainya.

Apabila anda berjalan – jalan pada pagi atau siang hari di sekitar taman perpustakaan, anda akan merasakan sejuknya udara pedesaan dan tiupan angin sepoi – sepoi basah membelai kulit tubuh dan wajah anda, lalu angin – angin itu akan berbisik, membujuk setiap pengunjung supaya bersedia memejamkan mata, tidur dengan lelap dan membiarkan alam bawah sadar mereka mengembara ke dunia dongeng yang tertulis dalam buku – buku cerita kuno dari mancanegara sebagai koleksi paling menarik dari perpustakaan ini. Maka sayup – sayup, anda akan mendengar alunan merdu dan sangat lembut, sebuah melodi terindah menyerupai dentingan harpa emas atau bel dan dawai – dawai gitar milik seorang malaikat dari sorga.

Di luar gedung terdengar badai menderu – deru, pasir dan daun – daun kering beterbangan membuat malam ini semakin kelam dan di atas langit sangat gelap.

Tiba – tiba alunan melodi tersebut menghilang dari udara ! Dari ruang perpustakaan bawah tanah, terdengar suara auman harimau, jerit tangis bayi, suara hewan yang merintih kesakitan seperti disembelih, jeritan wanita sekarat dan di akhir suasana yang sangat mencekam tersebut, terdengar suara teriakan, tangis, dan kemarahan seseorang dengan suara – suara tak jelas, apakah dia seorang wanita atau laki – laki yang terjerat api neraka ? Hingga saat ini, fenomena langka ini tetap menjadi sebuah misteri bagi setiap turis yang tersesat di dalamnya.

Nicolas tidak bisa berbuat apa – apa. Pun sang guide yang tega meninggalkan dia tertidur dan terkunci di dalam perpustakaan tua ini. Ia mencari saklar lampu, menyalakannya dan ternyata di dalam ruangan sangat nyaman, hangat namun begitu sunyi dan mencekam karena ruangan baca terlalu luas dan sangat besar.   

Ia tidak bisa menguak misteri suara – suara gaib dan apa yang menyebabkan terdengarnya suara – suara yang sangat menyeramkan tersebut ? Apakah mitos tersebut benar, bahwa mereka adalah suara hantu penghuni dunia masa lalu, seperti terungkap dalam novel tua dari  Tiongkok  yang  sedang  dia baca saat ini ? Jin Ping Mei in Golden Lotus atau versi bahasa Inggris berjudul Plum In The Golden Vase ? Nicolas hanya sempat membaca buku seri satu, apakah kisah dalam mimpinya tersebut berakhir bahagia ?

 

***

Akhirnya Nicolas memilih untuk melanjutkan tidurnya malam ini di dalam perpustakaan, menunggu hingga esok pagi beberapa petugas perpustakaan datang atau sang guide teledor akan meneleponnya.

Goodnight, all !

 

 

 

      

 

 

 

About The Author

Utamii 34
Ordinary

Utamii

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel