Peri Kecil dan Seorang Gembala

28 Apr 2021 17:40 483 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Peri kecil dan seorang gembala.

Pada jaman dahulu, di belahan bumi bagian barat, setiap malam pada akhir tahun menjelang perayaan Natal dan tahun baru, beberapa orang takjub, heran lalu memperbincangkan tentang suara – suara yang menyerupai trompet berasal dari langit, dimana suara tersebut menyebar dan terdengar hingga ke seluruh dunia. Menurut laporan dari para penghuni bumi yang tinggal di Amerika, Kanada, Jerman, Hungaria, Ceko, Denmark, Swedia, Inggris, Kosta Rika, Ukraina, dan Perancis bahwa suara – suara tersebut bisa dihubungkan dengan suara – suara sangkakala yang tertulis pada kitab – kita suci agama tertentu. Seharusnya, ketika mereka mendengar suara – suara tersebut membelah kesunyian alam ketika kidung – kidung suci dilantunkan oleh sekelompok penyanyi gereja di kapel – kapel pada suatu desa di Perancis, memanggil – manggil para penghuni bumi agar segera bertobat karena diduga hari kiamat akan segera datang.

Beberapa manusia kurcaci berkumpul di salah satu kapel untuk menjelaskan tentang fenomena alam yang sangat jarang terjadi ? Seorang manusia kurcaci paling tua bernama Greece menjelaskan bahwa ada beberapa hal menyebabkan terjadinya pergeseran lempeng bumi, tekanan atmosfer, tsunami, dan sederetan suara – suara bising di tengah kesibukan manusia – manusia kota metropolitan di Paris. Namun, kurcaci – kurcaci yang lain berpendapat bahwa akan terjadi gelombang air laut yang sangat besar melebihi tsunami merupakan aktor utama dalam munculnya suara - suara misterius di atas langit tersebut.

Satu jam kemudian, mereka menuju ke kantor yang letaknya bersebelahan dengan kapel, mereka membuka komputer untuk mendapatkan sebuah penjelasan yang pasti tentang kondisi laut, angin, dan dasar laut, dimana para penghuni bumi menemukan fakta bahwa jika gelombang air laut saling bertabrakan ketika bulan purnama bersinar penuh di langit yang gelap, maka fenomena alam ini akan menghasilkan gelombang seismik sekitar 13 detik atau kurang, dalam setiap riak yang ditimbulkan olehnya. Sedangkan gelombang air laut yang pelan akan menyebabkan pergeseran arus bergerak menuju ke dasar laut dan bisa menghasilkan gelombang seismik dengan frekuensi 3 hingga 300 detik. Satu jam kemudian, muncullah suara misterius yang berasal dari gelombang – gelombang sebagai akibat adanya pergeseran arus dan tekanan gelombang air laut yang maha dahsyat di dasar laut sehingga membuat bumi terdengar seperti berteriak.

***

Rapat penting tentang suara terompet yang berkumandang di atas langit ketika sedang ada perayaan Natal dan beberapa pesta kecil menyambut datangnya hari baru di tahun baru, segera dibubarkan. Ada seorang gembala kecil yang sangat tampan dan bijaksana sehingga terkenal hingga ke negeri – negeri nun jauh di lingkaran dongeng bernama Alexandra, dia juga mampu berkomunikasi dengan para penghuni lain di bumi yang bukan dari ras manusia kurcaci dan peri hutan yang baik hati adalah bisa memberikan beberapa jawaban yang bijaksana atas semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya dari keluarga raja para malaikat yang tinggal di sebuah kastil mewah bernama kastil Versailles di desa Colmar.

Keharuman budi pengerti sang gembala kecil bernama Alexandra tersebar luas hingga ke kerajaan tetangga dimana hidup keluarga kecil nan tentram bernama Raja Greek dan Ratu Achates di dalam sebuah kastil mewah, Mont Saint Michael di desa Riquewihr. Namun sang raja kurang percaya dengan apa yang rakyatnya kabarkan tentang gembala kecil tersebut, oleh karenanya, beliau mentitahkan seorang malaikat bernama Eneas untuk menjemput Alexandra agar bersedia menghadap ke istana raja.

Dengan mengendarai seekor kuda jantan ras Arab berwarna hitam, Eneas menuju ke desa Colmar terletak di provinsi Alsace sekitar 64 km di sebelah selatan Strasbourg. Kesan pertama tertangkap pada kedua mata malaikat sakti tersebut adalah desa ini sangat cantik dengan jejeran rumah – rumah kayu berwarna – warni di kelilingi oleh taman bunga, kanal – kanal cantik, dan jalan – jalan tikus berbatu yang sempit namun sangat rapi. Eneas juga takjub dengan toko – toko menarik dan kedai tradisional di pinggir kanal. Karena memiliki keunikan dan keindahan kota berarsitektur Eropa kuno menjadikan pemandangan di desa ini seperti sebuah cerita paling mengharukan di negeri dongeng.

Ternyata desa ini hanyalah sebuah pemukiman penduduk biasa yang mempunyai sekitar 100 buah rumah pohon. Sulit mencari jalan keluar ke dunia lain kecuali melalui sebuah sungai besar bernama Barito, mengingatkan sang malaikat kecil ini akan sebuah kampung halaman dimana nenek moyang mereka pada jaman dahulu kala hidup, awalnya rumah – rumah penduduk didirikan menghadap ke sungai Barito yang dikelilingi oleh pohon – pohon kelapa tumbuh subur di pinggir sungai, dimana banyak berkeliaran anak – anak kecil yang kalau kehausan, mereka suka mencari sebutir buah kelapa muda untuk diminum airnya sehingga dahaga mereka hilang. Eneas pun sangat berminat ingin memetik buah kelapa dan mengambil airnya untuk diminum.

Namun yang paling mengesankan adalah sebuah pondok yang terbuat dari kayu dan bambu terletak sangat manis di atas sebuah pohon perdu di tepi sungai Barito. Apalagi saat ini adalah musim semi menjelang musim panas, semua pohon buah – buahan di desa yang berdekatan dengan hutan ini sedang berbunga lebat dan sebentar lagi akan berbuah. Mereka mengeluarkan keharuman khas seperti bunga melati. Di salah satu rumah pohon itulah, Eneas menginap dan malam ini ia termenung seorang diri di teras rumah pohon, sambil asyik menikmati angin sepoi - sepoi berhembus membelai kedua sayapnya yang kokoh dan sesekali ia menghirum harum alami dari bunga – bunga pohon sakura tersebut.

Kadang - kadang ia memetik setangkai bunga lalu melepaskan satu persatu mahkotanya dan menjatuhkan perlahan – lahan ke bawah pohon. Dia suka melihat mahkota – mahkota bunga tersebut melayang – layang sangat ringan diterbangkan oleh angin dan jatuk tak berdaya di atas tanah.

Eneas naik ke puncak pohon, ia seperti berada di menara pengintai yang terletak di pinggir pantai dimana setiap hari beberapa kapal besar dan kecil bolak – balik bepergian dari satu desa ke desa yang lainnya. Di puncak pohon inilah Eneas bisa melihat dari kejauhan kalau ada sebuah kapal yang datang dari arah hulu dan mendengar beberapa peri pantai penjaga menara mercusuar berteriak memberitahukan penghuni pantai lainnya tentang kedatangan beberapa kapal tersebut. Aku turun perlahan – lahan dan mulai menghayal jika aku menjadi seorang peloncat indah, aku akan melompat dari puncak pohon ke tengah sungai Barito yang berair sangat jernih dan hangat. Byurrrrrrr, tubuh beratku terjatuh dengan ringan ke dalamnya, namun aku akan menikmati meluncur dari ketinggian di atas pohon dan tenggelam di air. Aku tidak segera muncul tapi membiarkan sekujur badan ini beberapa detik di selimuti oleh kehangatan air hingga oksigen di rongga dadaku menjadi berkurang, barulah aku berenang ke permukaan.

***

Keesokan harinya, Eneas memulai pekerjaannya yaitu mencari sebuah rumah yang didiami oleh sang gembala baik hati bernama Alexandra. Gembala ini tinggal bersama dengan kedua orangtuanya. Ketika Eneas berkunjung, dia sedang berada di peternakan domba milik sang majikan yang sangat kaya – raya.

Peternakan domba merupakan peternakan yang erat hubungannya dengan usaha budidaya domba yang dimanfaatkan daging dan susunya untuk dijual serta wool untuk bahan membuat berbagai model pakaian.

Di sebuah padang rumput yang sangat luas, akhirnya Eneas berjumpa dan kenalan dengan Alexandra yang sedang menjaga puluhan domba – domba milik sang majikan dengan ditemani oleh beberapa anjing penggembala. “ Ah, enak sekali menjadi seorang penggembala. Bisa santai dan menikmati angin yang bertiup sepoi – sepoi membelai sekujur tubuh ini. “ Eneas duduk di sebelah Alex sambil membuka sebuah percakapan ringan. “ Apakah ada yang bisa aku bantu wahai malaikat baik hati sehingga anda sudi mampir ke rumah kami yang kecil ? “ “ Aku mempunyai seorang raja bernama tuan Greek dan ratu Achates dari kerajaan Mont Saint Michael di desa Riquewihr. Beliau mendengar kabar burung bahwa anda memiliki kemampuan untuk mampu berkomunikasi dengan para penghuni lain di bumi yang bukan dari ras manusia kurcaci dan peri hutan yang baik hati adalah bisa memberikan beberapa jawaban yang bijaksana atas semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya dari keluarga raja para malaikat yang tinggal di sebuah kastil mewah bernama kastil Versailles di desa Colmar. Rajaku ingin minta tolong kepada anda untuk menghadap ke istana, dimana beliau sedang dalam kesulitan besar karena menghadapi wabah penyakit aneh dan menyebabkan semua tanaman buah dan sayur – mayur di ladang mereka mati ?! “ Tentu saja sang gembala baik hati setuju menerima ajakan dari peri kecil Elneas. Mereka berencana untuk mengadakan sebuah perjalanan jauh, esok hari. “ Apakah engkau mau makan siang dengan aku, hari ini kedua orangtuaku di rumah memasakkan hidangan spesial buat aku makan di sini, ada beberapa potong kue Denmark Toast, sekotak kue Apple Cinnamon Baked berasa sangat gurih, sekotak masakan dari China bernama mie siram saos spageti pedas, beberapa botol wine dan jus buah segar, dan lima biji apel hijau. Anda pasti menyukainya J “

Keindahan alam yang sangat memukau. Sedikit demi sedikit sang mentari mulai tenggelam di ufuk barat. Merahkan langit dan punggung bukit dimana para burung camar terbang menuju ke sarangnya masing – msing tuk menyampaikan salam hangat kepada penghuni bumi sebelum tidur. Kedua mahluk manis tersebut kembali ke rumah masing – masing.

***     

Ketika mereka tiba di istana sang raja, beliau bersabda kepadanya : “ Jika engkau bisa memberikan jawaban dari tiga pertanyaan yang akan kami berikan kepadamu, aku akan menerima engkau bekerja di dalam istanaku, engkau bisa memilih untuk menjadi apa saja dan akan aku anggap sebagai putra kami sendiri, engkau akan hidup lebih bahagia bila tepat memilih seorang istri soleha di dalam wilayah kerajaanku. “

“ Apakah ketiga pertanyaan yang paduka miliki, semoga saya bisa menjawabnya dengan tepat ! “ jawab sang gembala dengan hati was – was. “ Yang pertama adalah, berapakah banyaknya tetesan air hujan yang jatuh ke tengah samudera ? “

“ Tuanku paduka raja Greek , “ jawab sang gembala, “ Sebelum memulai untuk menghitung satu per satu tetesan hujan yang jatuh ke tengah samudera, hentikanlah hujan itu sendiri, semua tetesan air yang ada di atas langit sangat banyak sehingga tidak ada yang mampu buat menghitung, tak satu tetes pun yang akan masuk ke laut sebelum penghuni bumi berani menghitungnya, namun saat itulah waktu yang tepat bagi aku untuk memberitahu paduka berapa banyak tetesan air hujan yang jatuh tepat di tengah laut ! “

“ Pertanyaan kedua, “ kata sang raja, “ Berapakah banyaknya bintang yang betebaran di atas langit ? “ “ Sebelum saya memberikan sebuah jawaban, bantu saya dengan memberi selembar kertas putih berukuran besar .“ Sang gembala membuat begitu banyak lubang di atas kertas putih dengan sebuah pensil yang tajam sehingga tidak ada ruang kosong lagi di atasnya, terlalu banyak dan tidak memungkinkan bagi dirinya sendiri untuk bisa menghitung. Ketika selesai, ia berkata : Jumlah bintang yang ada di atas langit sama besar dengan lubang – lubang yang saya tulis di atas kertas ini, apakah saya mampu menghitungnya seorang diri ? “ Dan memang tak seorang pun dapat menghitungnya dengan tepat seorang diri. Kemudian sang raja melanjutkan pertanyaan terakhir, “ Pertanyaan ketiga adalah,  berapa  detik yang bisa dihitung dalam sebuah kehidupan yang dijalani oleh sepasang mahluk beda dunia hingga tiba pada kehidupan yang kekal dan abadi ? “

“ Apakah tuanku raja mengetahui bahwa di sebuah kerajaan nun jauh di kaki langit belahan bumi timur, ada sebuah gunung yang sangat tinggi bernama gunung Adamantine, seekor burung pipit yang sangat kecil dan lemah berhasil membuat perhitungan bahwa ukuran untuk gunung maha tinggi tersebut sekitar satu mil tinggi, satu mil lebar, dan satu mil dalam, dimana setiap seribu tahun sekali slalu mendapat kunjungan beberapa ekor burung hutan yang datang silih berganti untuk mengasah ketajaman paruh – paruh mereka pada batu – batu ajaib yang banyak berserakan di sungai – sungai besar yang ada di puncak gunung. Jika dalam waktu satu hari beberapa ekor burung berhasil mengasah paruh – paruh mereka menjadi setajam pisau maka pada malam harinya, seluruh penghuni gunung bisa mengetahui berapa detik sebuah keabadian hidup dapat dilalui oleh sekelompok burung – burung hutan tersebut. “

“ Engkau memang seorang gembala yang sangat pandai. Engkau sudah mampu menjawab tiga pertanyaan tersulit kami secara bijaksana, “ sabda sang raja, “ Dan saya sangat puas dengan jawaban – jawaban yang anda berikan kepada kami. Kami berharap, jawaban – jawaban itu mampu mengusir penyakit aneh yang sedang melanda seluruh area ladang buah – buahan dan sayur – mayur rakyat kami sehingga tahun depan diharapkan mereka akan panen besar. Selanjutnya engkau bisa memilih hadiah yang kami siapkan, hidup berdampingan bersama kami di dalam istana ini atau saya akan mengangkat anda menjadi putra kami tercinta dan anda bisa memilih seorang gadis di area kerajaan kami untuk disunting menjadi seorang permaisuri. “

***

Alexandra memandang keindahan malam dari balkon kastil mewah milik raja Greek. Sebentar lagi malam akan turun menyelimuti bumi. Warna senja dari bias sang mentari menciptakan sebuah romansa kehidupan yang penuh gairah. 

About The Author

Utamii 34
Ordinary

Utamii

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel