If I Stay

21 Apr 2021 16:10 441 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
If I stay.

Facebook.

Nama saya adalah Nicolas Christian berusia 17 tahun. Memiliki dua teman perempuan yang sangat akrab dengan saya, seorang bernama Kristen adalah teman satu bangku di sekolah sementara yang lainnya adalah teman di desa dimana opa dan oma tinggal, Adelyn selalu dengan setia menemani liburan musim semi ketika panen bunga tulip tiba, kami selalu berhubungan via facebook atau yahoo messenger, sekedar say hello atau bercerita tentang masa depan.

Kedua hubungan tersebut berjalan sangat bersih, bebas dari kencan meskipun keduanya bagaikan seorang bidadari, cantik, sexy dan cerdas hingga usia saya mendekati 20 tahun dan saat ini tercatat sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas besar di kota London. Suatu malam, seperti biasa saya melewatinya dengan bermain komputer di kamar, membentuk kelompok chating dalam chat room remaja. Sedang asyik saya bercanda dengan beberapa sahabat lama, seorang pendatang baru menyapa saya, “ Hi J “ Saya melihat nama samaran orang tersebut adalah Sandra2000, pikiran saya menduga bahwa dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik seperti kedua teman perempuan saya yang lainnya, Kristen dan Adelyn. “ Hi, how are you, my name is Nic, nice to meet you. “ Itulah awal hubungan kami mulai berjalan akrab dan kami menandainya, tanggal 13 Agustus 2000.

Anyways, waktu berjalan sangat cepat, Sandra mulai menampakkan sikap aslinya, agak sombong bagi saya sehingga saya tidak memberi banyak perhatian buat dia, meskipun kadang – kadang dia cukup lucu (saya suka tipe orang yang lucu). Saya merasa membuang terlalu banyak waktu dan mengabaikan teman – teman lainnya. Hingga beberapa hari saya offline, dan pada Jumat malam, aku tidak bisa menahan diri untuk berbicara dengan dia lagi, saya melihat dia sedang online di layar komputer. Ini adalah kesempatan bagus buat saya untuk benar - benar mengenal dia lebih dekat. Saya berusaha mengubah seluruh pandangan saya tentang Sandra.

Dia bukan lagi anak sombong ketika saya bertemu dia pertama kali via chat room remaja. Ternyata beberapa menit melalui percakapan biasa, dia adalah seorang gadis yang manis dan menawan, seperti tidak tahu di mana waktu berlalu, dia so hot dan saya mulai menunjukkan perhatian lebih serius.

Saya mendengar banyak cerita tentang gadis itu, malam ini. Bahwa kedua orangtuanya sudah bercerai seperti saya, meskipun ia membawa situasi tersebut menjadi lebih sulit daripada yang saya lakukan. Ketidaksetiaan ibunya dengan ayahnya membuatnya kehilangan semua minat untuk tampil menjadi seorang gadis biasa seperti yang dilakukan oleh teman – temannya yang lain. Kami bercerita hal - hal pribadi lainnya, saya melakukan hal yang sama.

Dia mengatakan tidak ada yang pernah mengerti dia seperti yang saya lakukan saat ini, hingga kami berbagi cerita tentang program favorit di televisi, saya memintanya untuk tetap tinggal (please) dan mengobrol lebih banyak lagi, menumbuhkan rasa simpati dan saya merasa bahwa aku benar - benar mencintainya setelah melalui bentang waktu yang cukup lama, kami masih tinggal sepanjang malam hingga pukul 03:00 malam waktu setempat (seperti kami adalah pemilik malam ini).

Hampir 6 bulan saya tidak online di yahoo messenger, dan ternyata dia sudah berada di sini mendahului (dengan lucu memberi saya sebuah pesan ringan). Dia mengatakan kepada saya bahwa ia telah mengubah gaya rambutnya menjadi super pendek dan mewarnai dengan cat warna hitam. Kemudian dia juga memperkenalkan teman laki – laki terdekatnya saat ini, Mathew. Sekali lagi aku mengerti dan seperti biasa kami hanya melewatkan waktu yang ada dengan bercakap – cakap. Kami berdua punya persamaan pribadi seperti ketakutan kita, kenangan manis di masa lalu, dan apa yang kita inginkan di masa depan.

Oh my god, saya mulai berpikir bahwa perasaan ini begitu kuat, ketika kami mengobrol pada hari berikutnya, saya akhirnya berani memberitahu bahwa aku mulai menyukainya, (namun belum mengatakan cinta). Sebuah senyuman membuat saya puas.

Kejadian lain, malam ini.

Sesuatu yang membuat saya sangat terkejut dan tidak mempunyai pilihan lain, aku mengerti, ibu saya menikah dengan kekasih internet terbarunya akhir tahun ini. That’s bagaimana sebuah iman sedang dinilai karena mereka terlalu cepat saling jatuh cinta via internet, then pada Selasa malam, teman baik saya Kristen mengajak online. Tentu saja saya merasa senang, hampir satu tahun melupakan dia karena kehadiran Sandra, teman baru di chating, aku akhirnya meminta nasihat dan berbisik kepada Kristen tentang bagaimana saya berharap bahwa Sandra akan melakukan hal yang sama. Seperti biasa, Kristen menanggapi dengan bijaksana, “ Aku berharap hubungan kalian berakhir bahagia. “ “ Bagaimana hubungan anda dengan Ahmed ? “ Saya bersumpah bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang paling romantis meskipun saya tahu bahwa hubungan mereka dilanda pasang surut sejak awal berkenalan dan berani menjalin hubungan serius, lalu ia berhenti sejenak dan dia mulai mengetik lagi, dia berkata, “ Ahmed sangat mencintai saya. “ Aku merasa terharu dan senyum paling besar di wajah saya adalah menebak bahwa hari pernikahan mereka bersamaan dengan hari perkawinan kedua ibu dan kekasih internetnya. Aku ingin memeluk Kristen namun saat ini dia berada di Amerika, ikut kedua orangtuanya bekerja di sebuah kantor swasta.

Malam ini saya pergi tidur soooo happy.

Saya dan Sandra masih terlibat dalam chating pribadi walaupun hubungan Sandra dengan kekasih barunya semakin serius, sementara beberapa sahabat chat lainnya mungkin berpikir kita terlalu muda, saya tidak berpikir begitu sekalipun. Saya pikir usia hanyalah angka hukum untuk menikmati setiap teguk minuman, merokok, drive dan ke klub untuk kencan. Saya tidak melakukan semua itu dengan cara sembrono. Saya berharap yang terbaik dari keberuntungan yang kebetulan disiapkan untuk saya atau bagi semua orang di dunia luar sana. Saya harap anda menemukan cinta sejati seperti ibu dengan kekasih terbarunya, Kristen dengan Ahmed atau yang terbaru adalah Sandra dengan Mathew. Seperti Allah memiliki seseorang yang istimewa untuk semua orang tapi tidak pernah ia meletakkan batas dimana anda akan menemukan mereka.

Adelyn.

Saya memutuskan kembali ke desa, menjumpai kedua orang yang paling saya cintai, kakek dan nenek, adalah desa Uttlesford merupakan desa pertanian dimana para warganya mudah mendapatkan pekerjaan seperti bertani atau memancing ikan di beberapa sungai terbesar Inggris, juga kesehatan dan cuaca sangat bagus, membuatnya tercatat sebagai salah satu desa terbaik untuk hidup.

Di dekat rumah kami, berdiri dengan megah Big Ben duplikat adalah ikon kota London yaitu menara jam besar dan tertinggi ketiga di dunia. Jika sekali waktu anda ke London, anda harus menyempatkan sedikit waktu untuk melihat jam – jam kuno tersebut, mulai berdetak dan dikenalkan kepada warga sejak tanggal 31 Mei tahun 1859. Pada malam hari, saya dan kakek keliling desa untuk menyaksikan pemandangan menakjubkan yaitu Big Ben setinggi 96,3 meter ini semakin indah oleh hiasan lampu - lampu kuning keemasan dari miniatur Istana Westminster di kota London. Big Ben mengingatkan saya akan kemegahan menara jam lainnya di belahan dunia lain yaitu jam Allen Bradley di Milwaukee, Wisconsin, AS.

Di lain hari, kami berdua melakukan ritual duduk – duduk di dalam kereta api, sama dengan ritual duduk di atas ferry. Orang - orang di sekitar kami juga melakukan hal yang sama, membuka koran, membuka laptop, chatting memakai Black Berry atau Nokia atau sekedar geleng - geleng kepala dengan penutup putih di kuping, mendengar lagu – lagi teromatis di dunia, dimana penyanyinya kebanyakan berasal dari kota London. Kami melakukan ini tanpa suara, tanpa gemuruh, tanpa lonjakan, tanpa goncangan, dan kereta atau ferry meluncur begitu saja hingga tiba di desa tetangga. Bahkan kami tidak memulai sebuah percakapan apapun kecuali bunyi tik – tik, keyboard dan gemerisik kertas koran dibuka bolak - balik. Seperti di dalam sebuah kantor besar, jam kerja dimulai sejak kami duduk rapi di kursi kereta.

Hingga jam makan siang tiba.

Saya memilih makan di luar rumah saja, bersama Adelyn. Juga, sinar matahari di  Uttlesford adalah terbaik yang bisa dinikmati ketika pagi hari tiba, merupakan tempat yang tepat untuk terbebas dari kesumpekan dan kotornya udara kota.

Adelyn tampak manis dalam balutan dress Tokyo, kami berjalan santai menuju ke sebuah kafe tidak jauh dari rumah kakek. Kami memesan menu spesial, ada black truffle, wagyu beef, draught beer dan sup daging domba. Hmmmmm, semua terasa lezat di lidah ini. Kami tidak memiliki rencana apa – apa setelah keluar dari kafe, sementara liburan masih panjang, saya hanya akan menghabiskannya bersama Adelyn di ladang bunga tulip kami atau jalan – jalan di sepanjang sungai Themes. Bergandengan tangan, saling mendengarkan dunia berkata – kata melalui angin sungai yang mengacak – ngacak rambut cantik Adelyn, meskipun hubungan berjalan tanpa ikatan yang pasti, semua di depan kami terlihat sangat indah, selagi kami masih saling percaya, lalu tertawa bersama sebelum terpisah oleh rumah, saya mengantar Adelyn ke pondok kedua orang tuanya dan kembali ke rumah kakek, menikmati waktu malam hari untuk tidur pulas.

Goodnight.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About The Author

Utamii 34
Ordinary

Utamii

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel