Bab 1. Awal Mula Yang Menakutkan Arif. Aku tak dapat memejamkan mata. Hari ini mungkin hari yang paling buruk dalam hidupku. Lebih tepatnya sih, hari yang paling buruk dalam hidup adikku, Budiman. Gara-gara tak bisa menahan pipis, adikku pingsan. Kepalanya dipukul orang dari belakang, sampai sekarang belum sadar. "Whaatt?? Sampai segitunya?", begitu kata pacarku Gayatri, yang tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Jangankan Gayatri, aku saja tidak percaya. Padahal itu ibu yang bilang. Aku juga mengatakan kalimat yang sama persis dengan yang Gayatri katakan kepada ibu. "Kamu ini kalau dibilangin kok ngeyel?" Ibu malah marah, ujung-ujungnya aku yang kena semprot. Halah! "Ngapain sih Ibu bohong, Arif? Adikmu Budi tidak sadarkan diri sampai sekarang! Kamu tidak kasihan?" "Ya bukannya begitu, Bu. Tapi aku juga kan nggak bisa pulang tiba-tiba sekarang! Aku besok ujian lho, Bu!" "Kamu kan bisa langsung pulang setelah ujian. Bisakan? Masak kamu nggak pulang, sih. Mbak-mu Bunga saja jauh-jauh dari Kalimantan juga pulang lho, Rif. Bawa anaknya lagi. Kamu pulang ya?" Duh, kalau bukan ibu yang bicara sudah kututup handphone ini dari tadi. Sudah kebiasaan ibu memang kalau bicara tidak ada titik komanya. Ini kan namanya pemaksaan. Dasar! "Iya, iyaa, Arif nanti pulang! Lusa ya, Arif pulang? ""Secepatnya ya Rif, Ibu mau kita bertiga kumpul. Ibu nggak tahan lihat kondisi adikmu ini Rif! Sedih banget lho Ibu! Huhuhu!!" Yaah, ibu malah nangis! Senjata terakhir yang nggak bisa kutolak! Haiiss!! Tadinya setelah mendengar info dari ibu, aku sudah mantap dengan keputusanku untuk pulang. Tapi jadi pusing lagi setelah se-jam kemudian Gayatri, pacarku yang manja menelepon. "Whaatt?? Pingsan dipukul orang? Masa sampai segitunya?" "Budi dipukul kepalanya dari belakang, Tri. Setelah kubaca dari Mbah Google, dipukul dari belakang bisa bikin gegar otak dan bisa bikin orangnya lupa ingatan, bahkan beberapa kasus bikin orang yang dipukul meninggal dunia!" Aku menakut-nakutinya biar seram, tetapi memang bisa juga terjadi. "Aaahhh, masa sih?" Katanya dengan manja. Manja yang bikin aku senang, senang untuk gaplok! "Iyaaa, makanya Ibu minta aku untuk pulang. Bisa yah?" Lha, aku kenapa malah minta ijin sama dia, dia kan belum sah jadi istriku. Dasar aku juga terlalu lembek! "Kalau Mas Arif pulang, yang antar jemput aku ke kantor siapa, Mas? Mas kan tahu aku phobia sama keramaian, nggak bisa ditunda yah?" Ditunda dengkulmu! kataku dalam hati. Sayangnya aku tidak berani bicara sekasar itu sama Gayatri. Aku terlalu cinta. "Sebentar saja kok, Tri. Ntar kan balik lagi! Mas kan bukannya di sana terus!" "Betul ya, sebentar?" Katanya manja. Di sana mulutnya pasti lagi dimonyongin nih. Yakin aku, sudah hafal soalnya! "Iya tuan putri!" "Pulangnya jangan lupa bawa oleh-oleh, ya Mas. Ini perintah tuan putri! Awas kalau nggak segera pulang!" Busyet! Pakai ngancam segala! Betul-betul minta digaplok ini cewek! "Siap tuan putri!" Tuh kan, memang aku juga pria yang lemah sih! Huuh! "Tuut!" Telepon ditutup. Akhirnya! Kini dalam kesendirian, aku baru merasakan kalau mungkin ini yang disebut dengan kesedihan, kesedihan yang mendalam lebih tepatnya. Bagaimana tidak sedih, adik kandungku satu-satunya mengalami musibah besar gara-gara perkara sepele, kalau anak zaman sekarang bilang, perkara receh! Bayangiin! Siapa sih laki-laki yang nggak pernah kencing sembarangan? Aku saja pernah! Tapi nggak pernah kan ngalamin sampai harus dipukul orang dan pingsan segala! Mending kalau sudah bangun, ini masih belum sadar juga coba! Oh Tuhan! Ini sangat tidak adil! Yang paling kasihannya lagi, Budi sudah punya anak dua, masih kecil-kecil pula. Kerjanya juga cuma jadi penyanyi daerah. Penghasilannya tentu tidak sebesar penyanyi nasional, apalagi internasional. Penghasilannya kadang ada, kadang tidak. Untung istrinya, Sri, seorang PNS, jadi masih bisa bantu menutup kebutuhan sehari-hari. Tapi mau sampai kapan? Ditambah lagi dengan musibah seperti ini, tentunya akan sangat memberatkan Sri. Mudah-mudahan Sri bisa tabah dan kuat, begitu doaku untuk mereka. Sambil minum kopi saset buatan sendiri, aku buka kembali album foto masa lalu yang selalu kubawa dari rumah. Album ini jadi pengobat rindu akan sebuah keluarga dan kampung halaman. Di album tua itu ayahku masih hidup. Kami lengkap berlima. Aku yang paling jelek kalau difoto, soalnya aku benci dipotret. Sering ibu marah kalau sudah menata gayaku, soalnya nanti aku rubah lagi gayaku pada saat difoto jadi lebih jelek. Alhasil tanganku merah-merah kena cubit. Beda jauh dengan adikku. Budi selalu jadi kesayangan ibu dan ayah, terutama ibu sih. Ayah almarhum masih berlaku adil. Itu sebabnya aku kehilangan sekali sosok ayah. Budi jadi kesayangan ibu mungkin karena sifatnya juga ada yang bagus, yaitu penurut. Semua kata ibu pasti dituruti. Selain itu mereka memiliki darah seni yang sama, yaitu sama-sama suka seni musik dan foto model. Adikku ini suka menyanyi dan difoto, juga jago main alat-alat musik, Budi bukan saja mahir main gitar, tapi juga main keyboard dan drum. Bakat seninya sangat tinggi, sama dengan ibuku yang juga suka nyanyi dan difoto. Ibu juga yang meminta agar Budi jadi penyanyi panggung di kampung kami, dan Budi pun menurut. Pantas saja jadi kesayangan ibu. Tapi bukan berarti aku iri dan tidak sayang adikku, yah. Aku justru sayang dengan Budi, juga kakakku, Bunga, bahkan ayah dan ibuku pastinya. Aku ini tipe lelaki sayang keluarga lho, nggak sombong. Gaji yang kuperoleh dari hasil keringatku sering lebih banyak kuberikan ke mereka daripada untukku sendiri. Aku juga boleh dibilang paman yang paling dermawan sama keponakan-keponakannya. Setiap aku pulang ke kampung halaman, pasti tidak lupa kuberikan oleh-oleh untuk mereka. Seperti sekarang ini. Yah, mudah-mudahan cobaan ini hanya sebentar saja. Mudah-mudahan ibu cuma berlebihan dan semua bisa kembali baik seperti sedia kala. Mudah-mudahan.*** Bersambung.
From Author
Comments (0)
No comments yet. Be the first to comment.