Jadilah Beradab, Berhenti Menyebut Single Fakir Asmara

28 Nov 2019 09:10 1463 Hits 1 Comments Approved by Plimbi
Cinta bukanlah permainan, perlombaan, apalagi fakir-fakiran. Berkatalah yang baik atau diam.

Baru pada zaman sekarang single disebut fakir asmara. Ada pula yang menyebutnya tuna asmara. Miris, karena yang menyebutnya adalah orang-orang berilmu dan religius. Pertama saya menemukannya pada postingan seorang tokoh agama (dosen/S2 agama) yang memiliki biro jodoh. Biro jodoh miliknya termasuk baru. Biro jodoh itu memiliki media sosial dan memberikan kursus pranikah, serta melakukan kegiatan di dunia nyata dan maya.

Pada masa akun itu berpromosi, terlontarlah nyinyiran “fakir cinta dan miskin asmara” itu diiringi tawa mengejek. Sementara dia menyebut apa yang dilakukannya sebagai zakat akademik. Saya memprotes tapi secepat kilat dia menghapus jejak saya. Sebaliknya, postingan dan frase rendahan itu dibiarkannya tetap ada. Sempat terhenyak kok ada ustaz seperti itu, apalagi seorang “religius”, membuka kursus pranikah pula, apa yang akan diajarkannya dengan akhlak demikian? Bagaimana pula nasib para jomlowan-jomlowati di tangannya? Belum apa-apa saja sudah dihina-hina. Padahal, syarat dasar sekali dari sebuah hubungan adalah kemampuan untuk menghormati dan menghargai sesama.

Ujaran kedua muncul dari seorang ustaz juga, ketika dia sedang mengadakan ceramah onair di radio bertema nikah. Lagi-lagi diiringi dengan kenyinyiran dan tawa yang mengejek. Bersama-sama dengan penyiarnya ustaz itu mengolok-olok para jomlo. Saya yang tadinya ingin beroleh ilmu mendadak ilfil, lagi-lagi frase itu.

Sudah semakin ngetren rupanya menjadikan jomlo bahan becandaan dan ejekan. Seolah-olah jomlo itu dosa, memalukan, menyedihkan, buruk, dan entah apa lagi. Sampai-sampai kata “fakir” yang biasanya disematkan pada penerima zakat (mustahik) pun harus disematkan kepada mereka yang belum menikah.

Lantas, apakah menikah itu prestasi, pencapaian, pasti lebih baik dan lebih bahagia, bebas masalah? Sudah menikah tidak ada yang tuna asmara? Jangan lupa, tidak semua pernikahan bahagia. Banyak orang bertahan dalam pernikahan walaupun tidak bahagia. Jangan lupa pula, rumahtangga tak selalu dalam fase bahagia. Kadang-kadang pun terjadi tuna asmara, kalau terpaksa “frase rendahan” itu harus digunakan.

Sebaliknya, tak semua single dalam usia menikah, sedang ingin menikah, ngebet/ingin buru-buru menikah, apalagi sampai fakir segala. Apakah mereka tahu mengapa tepatnya para single tadi belum menikah?

Kenyataan bahwa kedua ustaz tadi bergerak di bidang perjodohan atau terkenal sebagai ustaz jodoh, tidak membuat mereka lebih memahami atau lebih baik perlakuannya terhadap para jomlowan-jomlowati. Di balik kata “menolong” mencarikan jodoh atau memberikan ilmu tentang jodoh, perbuatan mereka malah menyakitkan hati.

Jika setiap kebaikan adalah sedekah, maka para ustaz tersebut telah menghilangkan pahala sedekahnya dengan menyakiti hati penerimanya. Aktivitasnya di dalam membantu atau memberikan tambahan ilmu kepada para single tadi menjadi kehilangan pahalanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah melarang yang demikian itu di dalam firman-Nya :

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (Al Baqarah:264)

Menjadi single bukanlah sebuah lelucon. Tak perlulah bagi orang-orang yang sudah menikah apalagi para ahli agama untuk menjadikannya ejekan dan olok-olokan. Terkadang apa yang dilalui para single saja sudah berat, bila mereka yang sudah menikah tak mampu meringankan janganlah menambah berat bebannya.

Dalam kasus kedua ustaz tadi misalnya, bukankah dengan datang atau hadirnya para single tadi kepada mereka artinya para single tadi sedang berikhtiar? Para single tersebut berusaha menambah ilmunya tentang rumahtanga, mereka berusaha menjemput jodohnya, tetapi malah menjadi korban kenyinyiran. Belum lagi ustaz-ustaz itu mengenal lebih jauh peserta atau jamaahnya, para ustaz itu sudah menemukan hal buruk untuk dikatakan. Bayangkan bagaimana jika info yang diketahui para ustaz tadi sudah semakin banyak (dari proses pencomblangan tadi)? Adakah jaminannya tidak akan terjadi keburukan lain lagi atau keburukan yang lebih jauh?

Tolonglah para ustaz-ustaz, tahanlah lisan kalian dari mengejek para single, baik melalui ceramah, video, tulisan, biro jodoh/biro taaruf, atau apapun. Kalian adalah orang-orang yang paham agama, yang diharapkan memberikan keteduhan dan menyebarkan kebaikan. Bukan melakukan keburukan atau memberi contoh buruk. Pernahkah para Nabi dan Rasul mengata-ngatai para single dengan “Fakir Asmara”? Atau pernahkah sahabat Rasulullah dan para tabiin melakukannya? Jika tidak, lantas kalian meniru siapa?

 

 

Tags

About The Author

Dini Nuris Nuraini 34
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel