Menanam “Ribuan” Tahun Musnah dalam “Sehari”

25 Nov 2019 12:15 223 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Kekuatan manusia, bisa merusak ataupun membangun lingkungannya

Tekad kuat dari seorang manusia dapat mewujudkan terjadinya perubahan dahsyat. Pada Winston Howes misalnya, demi mengabadikan cinta terhadap Istri, sejak tahun 2000 ia menghijaukan sendiri Southwest England dengan 6000 oak. Dalam waktu berdekatan, di Cina, Ma Sanxiao melakukan hal serupa. Malahan, ia tanpa kaki dan mampu menanam lebih banyak, yaitu tujuh belas ribu pohon. Kemudian ada pula Sebastiao Ribeiro Salgado dan istrinya Lelia Deluiz Wanick. Mereka menghabiskan waktu yang sama dengannya untuk memulihkan kembali hutan di Lembah Sungai Doce, Brazil.

Keempat orang tadi mengawali aksinya pada saat usianya telah lanjut. Namun, tidak semua pejuang lingkungan seperti mereka. Jadav Payeng dan Abdul Samad Sheikh telah memiliki kepedulian besar sejak remaja. Jadav Payeng yang kini berusia 50-an tahun itu bahkan tetap bersemangat meneruskan aktivitasnya hingga akhir hayatnya. Melalui sentuhan tangannya, ia menghutankan kembali tanah tandus di kawasan Pulau Majuli, India Utara. Ia tak masalah melakukannya sendirian asalkan dapat menghentikan laju erosi sekaligus menyelamatkan hewan-hewan.

Berbeda dari yang lain, Abdul Samad Sheikh menggunakan cara lebih strategik. Sejak berumur 12 tahun, pria Bangladesh ini rutin menanam satu pohon per hari, hingga kini pohonnya mencapai tujuh belas ribu. Semua tak lain karena cintanya yang besar terhadap mereka.

Indonesia juga memiliki sosok berhati mulia semacam itu, misalnya Sadiman dan Agus Bei. Sayangnya, masyarakat malah menganggap keduanya kurang waras. Sadiman dianggap demikian karena berusaha memulihkan hutan di Desa Geneng, Wonogiri, tempat tinggalnya. Ia khawatir maraknya penebangan pohon dan kebakaran hutan di sana akan menyebabkan hutan gundul dan keringnya mata air. Sehingga, warga susah mendapatkan air bersih. Beruntung kemudian aksi Sadiman mampu mengakhiri krisis tahunan tersebut. Desa yang semula terkena bencana itu kini malah dilirik menjadi agrowisata.

Area yang membutuhkan penghijauan tidak hanya hutan gundul dan tanah tandus, melainkan juga pesisir pantai dan gurun. Agus Bei memilih menghijaukan pesisir pantai. Ia berharap dapat mencegah terulangnya bencana puting beliung di daerahnya. Meskipun warga menganggapnya kurang waras, isu itu mereda sendiri seiring dengan tumbuhnya ribuan mangrove miliknya. Mangrove-mangrove tersebut akhirnya mampu mengantarkan kawasan Graha Indah sebagai wisata unggulan di Kota Balikpapan.

Sementara itu, selama 20 tahun Yacouba Sawadogo mencari cara untuk mengatasi erosi parah dan kekeringan di gurun Afrika. Dan usahanya berhasil. Ia mampu meningkatkan produktivitas puluhan ribu hektar lahan di utara Burkina Faso tersebut seorang diri.

Semua kisah di atas menunjukkan bahwa manusia mampu membuat perubahan besar walaupun sendirian. Namun, prosesnya lama dan kurang efektif. Pasalnya begitu upayanya berhasil ancaman pembalakan liar, kebakaran hutan alami maupun karena ulah manusia, serta ancaman lain kembali mengintai. Apalagi kebakaran hutan, sekali terbakar ribuan pohon bisa melayang. Pada Agustus ini saja misalnya, BNPB sudah menyatakan 6 provinsi mengalami darurat kebakaran hutan dan lahan, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimanatan Tengah, dan Kalimantan Selatan (VOAIndonesia, 1/8/2019). Tanpa dukungan dan kerja sama dari kita, usaha dari para pejuang lingkungan yang bergerak sendiri-sendiri tadi bisa musnah dalam sekejap. Uang, waktu, dan tenaga mereka seolah sia-sia karenanya.

Ini yang disayangkan, mengingat manusia sudah tahu bahwa banjir, erosi, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, turunnya hewan-hewan hutan, bahkan tsunami dapat disebabkan atau diperburuk oleh minimnya pepohonan di sekitarnya. Namun, alih-alih menjaga atau memperbaiki, mereka malah merusaknya. Yaitu dengan menjadi pelaku perusakan, membiarkan pelaku, atau menghalang-halangi dan mengolok-olok para pejuang lingkungan.

Bila satu orang saja bisa menghasilkan perubahan-perubahan besar seperti di atas, bayangkan bagaimana bila banyak orang memiliki kesadaran yang sama!

Mengetahui manfaat pepohonan saja tidak penting tanpa ada kepedulian untuk menjaganya. Jika menanamnya saja membutuhkan waktu seribu tahun, mengapa kita membiarkan mereka musnah dalam sehari?

 

 

 

Tags

About The Author

Dini Nuris Nuraini 34
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel