Ingin Kaya? Jangan Membenci Uang

31 Oct 2019 11:36 579 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Sikap terhadap uang dan orang kaya menentukan kondisi keuangan Anda di masa depan

Mungkin tak banyak yang tahu jika agar kaya kita tak boleh membenci uang dan orang kaya. Sering saya menemukan orang-orang sukses di dalam bukunya menceritakan bagaimana orang-orang yang tidak sukses membenci mereka. Di dalam kehidupan sehari-hari pun saya sering menjumpainya, baik dari pengalaman sendiri maupun dari pengamatan dan cerita orang lain. Apa yang mereka alami juga terkadang tidak sederhana, tetapi berupa kekerasan/kebencian yang cukup ekstrim/membahayakan. Bila haters mungkin sekadar mengganggu dengan kata-kata, itu tingkatannya lebih lagi. Anggap saja haters dengan level yang lebih tinggi.

Nah, ternyata kebencian terhadap uang dan orang kaya ini banyak yang diturunkan melalui pola asuh. Ketika orangtua atau lingkungan terdekatnya dulu melakukan, merespon, atau mengajarkan sesuatu yang berupa kebencian terhadap uang, materi, atau orang kaya, atau “pihak lain” yang dianggap bertanggungjawab atas kondisi keuangan mereka, maka tanpa sadar anak akan menjadi sosok yang menolak atau menghindari uang. Meskipun pada beberapa kasus memang kebencian terhadap orang kaya muncul karena ada orang kaya yang menyakiti mereka, tetapi efeknya sama, anak akan menjadi sosok yang menolak atau menghindari uang saat dewasa. Inilah yang membatasi anak tersebut dari potensi mereka yang sebenarnya akan kekayaan.

Anda mungkin sudah tidak asing dengan pernyataan “Orang kaya itu jahat”, “Orang kaya itu serakah”, “Orang kaya itu curang”, “Uang itu tidak berguna, tidak bisa dibawa mati”, “Uang tidak tumbuh di atas pohon”, “Uang tidak penting, yang penting cinta”, dan semacamnya. Anggapan dan perkataan semacam inilah yang membuat anak tidak mau, benci, tertekan, menganggap uang tidak penting, merasa bersalah, atau malu menjadi orang kaya. Sehingga, kalaupun mereka bisa menghasilkan uang yang banyak, mereka akan dengan cepat menghabiskannya. Seolah tidak tahan bersama uang berlama-lama. Mirisnya lagi, ada juga keluarga yang membuat anak bingung, dengan mengkondisikan diri mereka “Menjadi miskin adalah hal yang memalukan, tetapi menjadi kaya adalah kejahatan”. Bingung, kan? Jadi, miskin atau kaya nih yang diinginkan?

Brad Klontz dan Ted Klontz di dalam bukunya Mind Over Money menjelaskan dengan detail bagaimana peristiwa masa kecil berpengaruh terhadap cara kita mengelola uang saat dewasa. Penolakan atau penghindaran terhadap uang bisa berwujud hal-hal seperti boros, suka belanja, memilih pekerjaan yang bersifat sosial/pelayanan masyarakat (tidak digaji), menetapkan bayaran terlalu rendah di bawah yang pantas diterimanya, suka mengambil tindakan-tindakan berisiko tinggi, berjudi, menyerahkan pengelolaan uang pada orang lain (misalnya pasangan), suka menimbun/mengoleksi barang-barang yang tidak perlu, tidak mempedulikan uang, dan lain-lain.

Jadi, sadar atau tidak, orangtua telah menanamkan sesuatu yang entah itu akan menguntungkan atau menyusahkan anak nantinya. Anak kecil itu menyerap seperti spons. Tak peduli Anda sengaja atau tidak menanamkan keyakinan atau pemikiran itu, apa yang dilihat, didengar, atau diamati anak tetap tertanam dan dimaknai sesuai kemampuan berpikir Si Anak itu sendiri. Jadi, sekarang kembali kepada Anda, ingin anak Anda sukses dan kaya atau tidak?

 

 

Tags Keluarga

About The Author

Dini Nuris Nuraini 33
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel