Kenali Dirimu Sebelum Orang Lain Lebih Mengenalimu

29 Mar 2019 10:18 1338 Hits 0 Comments Approved by Plimbi

Cara mengenali diri sendiri.

Jika orang lain lebih mengenal diri kita akan sangat berbahaya.

Memasuki Era Hacking Manusia

“Kita sekarang berada pada pertemuan dua revolusi besar. Para ahli biologi menguraikan misteri tubuh manusia, khususnya otak dan perasaan manusia. Pada saat yang sama, ilmuwan memberi kita kekuatan pemrosesan data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ketika revolusi bioteknologi menyatu dengan revolusi infotek, itu akan menghasilkan algoritma data yang besar yang dapat memantau dan memahami perasaan manusia jauh lebih baik dari yang manusia itu bisa, dan kemudian otoritas mungkin akan bergeser dari manusia ke komputer. Dengan memiliki cukup data biometrik dan kekuatan komputasi, sistem pemrosesan data eksternal dapat meretas semua keinginan, keputusan, dan pendapat Anda. Dengan kata lain, mereka bisa tahu persis siapa Anda.” (Yuval Noah Harari, 21 Lessons for the 21st Century). Peretasan (hacking) tidak lagi hanya menimpa komputer, tetapi juga manusia (hacking manusia). Mereka memantau semua aktivitas kita dengan mengandalkan data besar dan pembelajaran mesin, sehingga bisa mengenali kita lebih baik. Setelah itu mereka akan mengendalikan dan memanipulasi kita. Jika algoritma memahami kita lebih baik daripada diri kita sendiri, maka otoritas akan bergeser kepada mereka.

 

Di sisi lain, orang banyak membangun pencitraan yang sempurna di dunia online sehingga melekat pada ciptaan mereka sendiri dan keliru tentang diri mereka sendiri. Kebohongan ini juga diungkap oleh Seth Stephens-Davidowitz dalam bukunya yang berjudul Everybody Lies. Dia menemukan bahwa semua orang pembohong, termasuk berbohong pada dirinya sendiri. Seth juga menyatakan bahwa orang lain bisa menganalisa kita dari kepingan informasi yang kita tinggalkan di internet. Lalu memahami apa yang kita pikirkan, inginkan, dan lakukan. Internet yang dimaksud terutama adalah mesin pencari Google (Google Search). Berbeda dari Facebook, pada Google Search orang bisa menjadi dirinya sendiri, termasuk menanyakan sesuatu yang tidak mungkin dia ungkapkan pada orang lain karena sensitif. Di Facebook, sebagian besar adalah kepalsuan, banyak orang menampakkan diri bahagia, padahal sebenarnya tidak.

 

Semakin Sering Berbohong Semakin Tidak Mengenali Diri Sendiri

 

Robert Feldman, psikolog dan profesor dari University of Massachusetts Amherst menyatakan, rata-rata manusia berbohong sebanyak 11 kali dalam sehari. “Enam puluh persen dari kita memiliki waktu yang sulit untuk melalui 10 menit percakapan tanpa berbohong setidaknya dua kali,” ujarnya.

 

Manusia sering berbohong atau menipu orang lain karena banyak sebab. Di antaranya disebabkan karena pencitraan (kesan baik), menjaga perasaan orang lain, atau untuk alasan yang buruk (misalnya kejahatan). Diri kita yang asli/otentik menjadi semakin kabur. Semakin tidak kita pahami. Ketika kita berusaha menipu atau membohongi orang lain terkadang sebenarnya kita membohongi diri sendiri.

 

Membohongi diri sendiri juga tidak kalah bahayanya. Aktivitas tersebut bisa dijumpai misalnya dengan tidak menepati tekad/janji pada diri sendiri. Mengutamakan orang lain juga terkadang mengandung sisi membohongi diri sendiri. Banyak dari kita yang mungkin diajarkan bahwa mengutamakan/memperhatikan diri sendiri itu egois, sehingga banyak orang kehilangan/kekurangan cinta diri (self love) dan menuntut orang lain untuk membalas/memenuhi kebutuhan dirinya. Orang sering mengacaukan arti egois dengan memiliki batasan (boundaries) dan standar. Selain itu, kepribadian kita juga seringkali tercampur dengan gambaran ideal/keinginan orang lain. Kita tidak meyakini bahwa diri kita itu indah, memiliki keunggulan dan kebaikan sendiri, dan layak untuk dicintai dan diterima apa adanya. Bahkan, berpura-pura selalu bahagia dan ceria pun tidak baik. Seorang doktor psikologi pernah mengatakan hal itu dapat menyebabkan bipolar disorder.

 

Semua Bermula dari Masa Kanak-Kanak

 

Ada suatu kata-kata bijak yang berbunyi, “Belajar di waktu kecil bagai menulis di atas batu. Belajar di waktu besar bagai menulis di atas air.”

 

Hingga usia 7 tahun, otak kita berada dalam fase teta (kondisi hipnosis), yaitu kondisi saat pikiran bawah sadar dibentuk. Mengubahnya itu sangat sulit karena kita diprogram untuk kesadaran yang tidak kita pilih. Kita menjadi autopilot pada sekitar 95% waktu. Pengaruh lingkungan, baik itu keluarga, tetangga, teman, guru, atau lainnya sangatlah besar. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, juga prinsip-prinsip hidup, keyakinan, keteladanan, serta ajaran lain sangat mempengaruhi kehidupan kita pada masa dewasa. Kepribadian yang terhapus, tergantikan, atau tertimpa kepribadian lain ini kemudian membingungkan kita di kala dewasa. Kita menjadi sulit mengenali/menjadi diri sendiri.

 

Bahaya Tidak Mengenali Diri Sendiri dan Cara Mengatasinya

 

Mengenali diri sendiri merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan kita. Sayangnya, seringkali dilupakan, diabaikan, atau bahkan jarang ada orang yang menyadari siapa dirinya. Begitu pentingnya mengenali diri sendiri sampai-sampai ada kata-kata bijak yang berbunyi, “Barangsiapa mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya”. Seistimewa itu.

 

Lalu, apa bahayanya jika orang lain lebih mengenali kita daripada diri kita sendiri? Dalam konteks asmara, kita bisa terjatuh pada pasangan yang abusive. Sedangkan dalam konteks lain, kita bisa dimanfaatkan, ditipu, dicurangi, dipermainkan, atau diperlakukan buruk. Dalam hal pekerjaan, jika kita tidak mengenali diri sendiri, kita mungkin akan tidak bahagia atau sulit sukses.

 

Seperti telah dibahas sebelumnya, Yuval Noah Harari maupun Seth Stephens-Davidowitz mengatakan bahwa big data dapat digunakan untuk meng-hack/meretas dan memanipulasi diri kita (pikiran kita) untuk tujuan orang/kelompok tertentu. Jangankan big data, sesuatu yang offline pun bisa digunakan untuk tujuan yang sama.

 

Bayangkan, bagaimana jika kita terus-menerus tidak “sadar” dan tidak mengenali diri sendiri. Di luar sana ada banyak sekali orang yang berusaha meng-hack pikiran kita. Bahkan, saya pernah menjumpai ada situs pelatihan asmara dan akun kursus untuk menjadi pria nakal/player/playboy (bad boy) menunjukkan hal serupa. Mereka bermain di mindset. Mereka akan membingkai ulang pikiran para anggotanya lalu mengajarkan para anggotanya membingkai ulang pikiran korbannya ke mode siap “diterkam”. Begitupun di bidang agama atau lainnya, ada pembingkaian ulang mindset, sehingga korbannya bisa terpengaruh.

 

Lebih dari itu, kita tidak bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan kita tanpa menjadi diri kita yang terjujur. Pemenuhan datang ketika kita memilih untuk bertemu dengan diri kita yang asli. Kita tidak bisa mencapai potensi penuh atau menjadi versi terbaik diri kita tanpa menjadi diri kita yang terjujur. Selain itu, kita juga tidak bisa memiliki keintiman dan kedekatan (intimacy and closeness) serta kehangatan dengan orang lain tanpa menjadi diri kita yang terjujur. Kita sering mencoba menutupinya dengan hal lain untuk menutupi kerentanan kita, misalnya melalui emosi marah. Karena bagi banyak orang marah lebih menunjukkan kuasa dan lebih bisa diterima daripada menangis atau mengeluh, kalah, salah, atau gagal. Orang sering malu untuk menangis, tetapi tidak malu untuk marah. Jadi, banyak sekali kebohongan yang mungkin kita lakukan yang sebenarnya membuat diri kita sendiri menderita.

 

Mengubah hal-hal di atas tidaklah mudah. Diperlukan kesadaran (hadir yang sebenar-benarnya), dengan cara mengamati pikiran serta pemicu dan reaksi kita. Kita akan mengulangi perilaku yang sama berulang-ulang sampai kita melakukan 2 hal, yaitu:

  1. Menjadi sadar dari perilaku bawah sadar (otomatis/autopilot) kita,
  2. Menciptakan ruang di antara kita dan pikiran kita,

 

Pemrograman ulang pikiran ini membutuhkan komitmen dan kesabaran. Akan ada banyak pergulatan batin, namun hal itu layak. Sebagai imbalannya, kita akan kembali/menemukan diri kita yang asli.

 

Sumber gambar:

Akun IG Mehrshadenglish

About The Author

Dini Nuris Nuraini 33
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel