Postingan Apa yang Disukai Netizen?

18 Mar 2019 10:51 930 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Perhatikan baik-baik ya, jangan sampai salah!

Untuk ke sekian kalinya, saya menemukan postingan yang menyoroti tentang kebahagiaan/kesuksesan orang lain pada media sosial. Sesuatu yang sebenarnya didapati juga pada kehidupan nyata, entah berapa kadarnya.

Ketika orang posting kebahagiaan/kesuksesan, banyak orang tidak suka. Ada yang menyebutnya pamer, sombong, kepalsuan, dan ada juga yang menyadari itu hanya sementara, alias potongan episode kehidupan. Hanya satu angle dan tidak menggambarkan keseluruhan. Selain itu, tentu masih ada pemikiran-pemikiran yang lain.

Seseorang pernah protes, mengapa mereka (dia dan pasangannya) dianggap tidak benar-benar indah hubungannya? Lalu, siapakah netizen yang menjawab? Tidak tahu juga. Mungkin seharusnya dia bertanya saja pada rumput yang bergoyang.

Di sisi lain, netizen juga tidak menyukai postingan berupa kesedihan, kemarahan, keluhan, dan sebagainya. Bahkan, posting ibadah atau kebaikan pun dipandang pamer atau riya. Apalagi kejahatan, malah dikatakan mengajak berbuat keburukan.

Lalu, kita harus posting apa? Padahal, menurut ilmu psikologi, orang paling suka berbicara tentang dirinya sendiri. Meskipun dunia maya, hal itu tidak membuatnya berubah.

Jika ingin posting tentang orang lain pun, seberapa banyak sih kita tahu tentang mereka. Lagipula, kita menjadi tidak terlalu terhubung dengan orang lain. Ketika netizen mengatakan, “Ah, kebahagiaanmu cuma topeng”, “Ah, kesuksesanmu cuma topeng”, “Ah, kamu sendiri nggak alim kok, ngapain posting keagamaan”, “Ah, kamu sendiri nggak sekuat itu kok, ngapain posting motivasi”, dan semacamnya, lalu meminta netizen lain jujur dan terbuka dengan diri sendiri, itu adalah sesuatu yang aneh.

Kita semua tahu bahwa hidup itu penuh warna. Juga, “nano-nano” rasanya. Bagaimana kita bisa menjadi diri sendiri jika kita diharapkan untuk terus tampil positif? Itu akan menjadi beban dan melelahkan. Apalagi kalau hal itu menimpa public figure. Apakah kita senang melihat mereka melakukan sesuatu yang negatif, padahal kita sangat hormat, kagum, atau nge-fans padanya? Selain itu, kita jangan menutup mata bahwa zaman sekarang ini media sosial sudah difungsikan seperti CCTV. Mau bekerja diintip medsosnya, cari jodoh diintip medsosnya, dan sebagainya.

Tuhan itu Maha Kaya. Kalau orang lain bahagia, tidak berarti kita pasti sedih, karena kebahagiaannya sudah habis diambil oleh dia. Kalau dia bahagia, kita juga bisa bahagia. Apakah jika kita menderita kita ingin ada teman yang juga menderita atau bahkan lebih menderita daripada kita? Terkadang itu hanya masalah waktu, karena kebahagiaan itu dipergilirkan. Setiap orang diuji dengan kesenangan dan kesedihan. Semua ada “jatahnya”. Lagipula, bukankah setiap satu kesulitan akan diikuti dengan minimal dua kemudahan?

Mengapa kita suka membandingkan hidup kita dengan orang lain tentang hal-hal semacam itu? Padahal, Rasulullah sudah mengajarkan bahwa yang terbaik di antara kita adalah yang paling baik akhlaknya. Selain itu, perlombaan lain yang dianjurkan di dalam Islam adalah berlomba-lomba di dalam kebajikan.

Perilaku suka membanding-bandingkan keduniawian kemungkinan besar berasal dari didikan orangtua. Orangtua yang narcissist abusive suka membanding-bandingkan anak-anaknya dengan anaknya yang lain, dengan teman anaknya, sepupunya, tetangganya, dan sebagainya. Yang dibandingkan macam-macam, bisa fisik, kepandaian, kekayaan/penampilan, atau lainnya. Anak kemudian menjadi tidak suka orang lebih dari dirinya, iri, dengki, dan semacamnya.

Sampai di sini masih bingung bukan postingan apa yang disukai netizen? Posting ini salah, posting itu salah. Ah, mungkin orang lain nggak boleh posting. Yang boleh posting hanya orang itu sendiri. Atau lebih amannya ya sudah tidak usah posting. Kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot”.

 

 

Sumber gambar: Pixabay (by rawpixel)

Tags Internet

About The Author

Dini Nuris Nuraini 32
Pena

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel