Tidur Tak Berkualitas, Kesehatan Mental Terhempas

25 Aug 2018 14:16 679 Hits 0 Comments
Jangan sepelekan masalah tidur.

Banyak orang menyadari pentingnya tidur bagi kesehatan. Sayangnya, jarang diterapkan. Temuan tersebut merupakan hasil survei Philips pada Februari 2018 terhadap kebiasaan tidur lebih dari 15.000 orang dewasa di 13 negara.

 

Mita Diran merupakan contoh korban meninggal akibat kurang tidur. Copywriter ini bekerja berlebihan serta memaksa dirinya dengan mengonsumsi vitamin dan penambah energi setiap hari.

 

Di Jepang malah ada istilah karoshi (kematian karena bekerja berlebihan) dan karo jisatsu (bunuh diri karena bekerja berlebihan). Serupa dengan Mita Diran, Kenichi Uchino mati kelelahan setelah lembur 80 jam setiap bulan.

 

Begitupun anak-anak dan remaja di Beijing. Tidurnya banyak yang kurang akibat PR, kecanduan gadget, buruknya pola tidur, serta karier.

 

Journal Sleep menyebutkan, “Wabah sulit tidur” mempengaruhi 150 juta orang di dunia. Sementara itu, penelitian-penelitian lain melaporkan prevalensi insomnia di Indonesia sebesar 10% populasi atau 28 juta orang (Joglosemarnews.com).

 

Berkaitan dengan kualitas tidur, Melia Hotel & Resorts bekerja sama dengan aplikasi Sleep Cycle, meneliti 975,742 orang selama lebih dari 81,298,155 malam selama 2017. Hasilnya, kualitas tidur mayoritas masyarakat Indonesia masih rendah.

 

Oleh karena itu, untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya tidur, setiap 10 Oktober diperingati sebagai Hari Tidur Sedunia.

 

Pentingnya Tidur

 

Tidur yang berkualitas mampu menyehatkan fisik dan mental.

 

Seseorang dikatakan mengalami gangguan tidur jika jam tidurnya kurang, susah tidur, sering mimpi buruk, sering terbangun, atau bangun terlalu awal.

 

Kekurangan tidur kronis dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, obesitas, kanker, penuaan, hipertensi, gelisah, alzheimer, dan depresi. Selain itu, ia juga dapat menurunkan imunitas, memori, dan kejernihan berpikir; meningkatkan risiko peradangan, serta menurunkan libido dan kesuburan.

 

Tidur juga mempengaruhi kesehatan mental, yaitu berupa:

1. Meningkatnya risiko konsumsi alkohol dan obat terlarang pada remaja

Hasil penelitian Brant P Hasler dalam Jurnal Drug and Alcohol Dependence menyatakan, anak-anak yang kuantitas atau kualitas tidurnya kurang berisiko lebih awal mengonsumsi alkohol dan marijuana. Setiap waktu tidur berkurang 1 jam, risiko konsumsi marijuana dan alkohol naik hingga 20% (m.timesindonesia.co.id).

 

2. Meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan bunuh diri

Hasil penelitian Kangbuk Samsung Medical Center menyatakan mereka yang tidurnya kurang berpotensi depresi, cemas, dan bunuh diri.

 

3. Meningkatkan egoisme

Dilansir oleh Medical Daily, Amie Gordon, psikolog di University of California, Berkley mengatakan, “Kurang tidur dapat meningkatkan egoisme.”

 

4. Menurunkan memori

Survei CareerBuilder terhadap 61% pekerja kurang tidur menyatakan: 17% menurun memorinya. Lalu 30% pekerja yang kurang tidur merasa hari berjalan lebih lambat dan 27% menurun motivasi kerjanya (Gaya.tempo.co).

 

5. Presenteeism, yaitu fisiknya di tempat kerja tetapi gagal menyelesaikan pekerjaan.

 

6. Penyimpangan mental

Profesor Itzhak Fried dari University of California di Los Angeles mengatakan, “Kurang tidur membuat beberapa bagian otak pasien tertidur, sehingga mentalnya menyimpang”. (Liputan6.com). Penyimpangan tersebut bisa berupa depresi, ADHD, kecemasan, dan bipolar.

 

Mengingat betapa bahayanya kurang tidur, dibutuhkan penanganan khusus oleh ahlinya. Dengan bantuan para ahli Insya Allah masalah Anda akan segera teratasi.

 

Sumber: berbagai sumber di internet

Sumber gambar: army.mil

About The Author

Dini Nuris Nuraini 33
Pena

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel