Ujian Tersulit, Soal Dibocorkan pun Masih Banyak yang Tidak Lulus

6 Jul 2017 15:57 1067 Hits 0 Comments
Sangat sulit. Anda belum tentu bisa lulus dalam ujian ini!

Pada banyak ujian, entah UNAS atau lainnya, biasanya orang-orang sibuk mencari bocoran soal ataupun jawaban. Karena begitu inginnya lulus dengan mudah. Tetapi ujian yang satu ini berbeda, soal memang sengaja dibocorkan, disosialisasikan malah, tapi tetap banyak yang tidak lulus. Ujian itu adalah ujian-ujian kelayakan masuk surga. Sedangkan jawabannya menuntut konsistensi seseorang di seluruh hidupnya.

 

“Tidak akan tergelincir dua kaki anak Adam pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, dan tentang ilmunya apa yang diperbuatkan dengan ilmu tersebut.” (HR. Al Bazzar dan Al-Thabrani).

 

Mengapa bisa banyak yang tidak lulus? Itu karena banyak di antaranya yang tidak memahami tujuan hidupnya: untuk apa dia diciptakan. Sehingga mereka tidak memaknainya.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

 

Tujuan hidup merupakan hal terpenting bagi Anda dan sekaligus ujung integritas. Ia merupakan kombinasi dari nilai-nilai, karunia, dan bakat Anda. Ketika menjalaninya, nilai-nilai, keyakinan tertinggi, dan segala sesuatu yang bermakna bagi Anda berjalan beriringan, sehingga kepribadian Anda dapat memancarkan sisi terbaik Anda. Ia membuat Anda bergerak ke arah yang tetap dan berfokus di dalamnya. Apalagi jika dijalani dengan teguh, maka akan semakin menegaskan diri dan hidup Anda. Oleh karena itu, hidupkanlah sepenuhnya! Selain agar hidup menjadi kaya makna, bakat-bakat yang dimiliki pun dapat digunakan dengan cara yang bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

Setiap manusia mempunyai sesuatu yang istimewa untuk ditawarkan, yaitu beberapa kontribusi unik yang diberikan sepenuh hati. Ia bisa berupa anugerah-anugerah, bakat-bakat, dan kemampuan khusus, yang di antaranya belum pernah Anda gunakan, atau terpendam sejak masa kanak-kanak. Atau bisa pula berupa pengalaman hidup Anda. Menghidupkan tujuan hidup Anda berarti Anda memilihnya dan membuat hati berperan. Hal itu membuat Anda menjadi lebih berintegritas, komunikasi lebih jelas dan langsung, kreativitas dan efektivitas meningkat, lebih dinamis dan berkomitmen, serta lebih dipercaya.

 

Selaraskan Perilaku dengan Tujuan Hidup Anda

 

Perilaku dapat didefinisikan dengan apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan. Jika semua ini sejajar satu sama lain (integritas), maka Anda akan sangat kuat. Seluruh tindakan yang diambil dari titik ini memiliki peluang yang lebih besar untuk sukses dan mengandung kualitas penghargaan.

 

Jika Anda bisa memilih cara pandang terhadap kehidupan, maka Anda juga dapat memilih sikap dan perilaku Anda. Karena menjadi apapun Anda adalah juga apapun yang Anda miliki, dalam pengertian hasil-hasil sekaligus pengalaman Anda. Maka dengan hanya memanfaatkan kekuatan pilihan, Anda bisa menguasai sarana yang satu ini. Karena cara pandang Anda menentukan suasana hati Anda.

 

Fokus Anda Menentukan Aliran Segala Hal

 

Pilihan Anda mempengaruhi dunia Anda dan dunia ini.

 

Ubahlah Bentuk Negatif (Seperti: jangan, tidak) Menjadi Bentuk Positif

 

Hal ini lebih membahagiakan dan lebih efektif

 

Untuk mewujudkan perubahan-perubahan, Anda dapat berpedoman pada hal-hal berikut:

  1. Anda harus menjadi perubahan-perubahan yang Anda cari dalam dunia ini.
  2. Kekuatan dapat memberi manfaat atau menghancurkan. Gunakanlah dengan bijak!
  3. Mulailah untuk meninggalkan kenangan buruk di belakang dan mulai membangun sesuatu yang baru.
  4. Memimpin dengan melayani, melayani dengan memimpin.
  5. Pertama-tama, cobalah untuk memahami, dengan cara mendengarkan dengan saksama.
  6. Gunakan kata seefisien mungkin namun sudah mencakup semuanya.
  7. Seorang mahaguru tidak menciptakan murid, seorang mahaguru menciptakan mahaguru.
  8. Berusahalah untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam sebanyak mungkin situasi. Praktekkan selama 1 bulan, agar menjadi karakter Anda.

 

Anda juga perlu menuliskan dengan detail:

1. Di mana Anda sekarang

2. Ke mana Anda hendak pergi

3. Bagaimana Anda merencanakan rute di antara kedua titik itu?

  1. Tetapkan sejumlah sasaran/tantangan yang cocok untuk Anda sekarang. Berhat-hatilah, karena jika terlalu banyak akan membuat terbebani, sedangkan jika terlalu sedikit perubahan-perubahan akan berjalan lebih lambat.
  2. Periksa kembali sasaran-sasaran setiap 2-3 bulan.
  3. Rencanakan sebuah hadiah untuk setiap sasaran yang ditetapkan.
  4. Capai sasaran-sasaran itu dengan “gaya sikap” pilihan Anda, untuk memastikan bahwa tindakan-tindakan itu memotivasi, menginspirasi, dan membebaskan.
  5. Tulislah sasaran-sasaran Anda masing-masing dalam 5 kata atau kurang!
  6. Tujuan hidup hanya bisa hidup melalui tindakan-tindakan yang sederhana, jelas, dan jujur.
  7. Bekerja samalah, sehingga “daya” yang dibutuhkan lebih ringan.

 

Anda adalah penulis, sutradara, dan aktor dalam kehidupan Anda. Ini adalah kisah Anda. Menghidupkan tujuan hidup Anda membantu meyakinkan Anda bahwa ini adalah betul-betul hidup yang ingin Anda jalani.

 

Tidak selalu ya kalau soal dibocorkan itu pasti lulus. Tetapi untuk soal yang ini, berusahalah untuk lulus. Anda telah diberi bocoran soal cuma-cuma, bukan dalam konteks curang. Maka manfaatkan sebaik mungkin agar lulus di dalam ujiannya!

 

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu tujuan dia diciptakan dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut.

 

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas? Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata: hadits hasan).

 

 

Sumber:

Muslim.or.id

J, Richard. 2009. Mencari Tujuan Hidup, Inilah Panduannya. Yogyakarta: GaraIlmu.

 

Sumber gambar: blog.ruangguru.com

 

 

 

About The Author

Dini Nuris Nuraini 34
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel