Sedekah Terarah Lebih Bermakna

29 May 2017 22:57 1368 Hits 0 Comments
Perlunya pengaturan sedekah yang lebih baik agar kemanfaatannya lebih besar

Hari itu aku tersesat. Tempat yang kutuju sudah pindah. Tetapi, berawal dari situlah aku mendapatkan sesuatu yang menarik, tentang sedekah.

 

Para tukang becak heboh. Mereka yang sedari tadi mangkal di sekitar gedung lama berlarian. Sambil menuju ke sebuah mobil, dipanggilnya teman-temannya. Mobil itu melintas, hanya sekejap. Dari atasnya tampak seseorang membagi-bagikan nasi bungkus. Aku menunggunya berlalu. Kupikir Pak Becak itu terlalu sibuk dengan nasinya, tak akan konsen denganku. Setelah mereka semua dipastikan sudah mendapat jatah, akupun naik ke salah satunya. Kami berbincang sebentar. Dia bilang, “Kalau Jumat banyak (yang bagi-bagi nasi bungkus), Mbak.”

 

See. Kalau Jumat banyak. Kalau hari lain? Memang sih Jumat itu merupakan hari istimewa dalam Islam, sehingga mungkin banyak yang berburu kebaikan di hari itu. Tetapi kalau jadinya seperti tadi bagaimana? Menjadi ketidakseimbangan di hari lainnya.

 

Contoh lain terjadi di dekat rumahku. Waktu itu aku berkunjung ke sebuah panti asuhan kecil. Aku beruntung bertemu langsung dengan pimpinannya. Dia bercerita tentang banyak hal, termasuk sesuatu yang ironis, yaitu tentang sedekah Al Quran. Diceritakannya bahwa ada suatu lembaga besar yang memberi panti mereka sekian Al Quran, yang ternyata tidak dibutuhkannya. Aku tertegun. Sayang sekali ya. Niat baik lembaga besar itu tidak tercapai. Niat baik donaturnya juga sama, jadi mungkin tidak jadi dapat pahala sedekah jariyah.

 

Lebih jauh dari yang tadi, ada panti asuhan lain. Aku pernah ke sana membawa sesuatu untuk kusedekahkan. Pengurus langsung bilang, “Buat anak-anak (anak yatim/dhuafa) ya!” Sebagai kemungkinan pertanda bahwa di sana anak-anak kekurangan dana. Maksudnya, alokasi dana kan bermacam-macam. Donatur bisa memilih donasinya ditujukan untuk yang mana, apakah untuk pembangunan gedung panti, untuk anak yatim/dhuafa, atau lainnya. Sepertinya di sini ada ketimpangan/ketidakseimbangan, sehingga dana untuk anak-anak masih kurang dibanding lainnya.

 

Memilih sendiri donasi akan dialokasikan ke mana kekurangannya memang berada di situ. Bisa-bisa pada satu pos dananya berlebih sedangkan pos lain kurang. Tetapi praktek semacam ini masih sangat sering ditemui. Di media online pun begitu. Di suatu website penggalangan dana, terdapat suatu program yang sampai berlebih banyak sekali dananya dan sebaliknya ada yang kekurangan dana (target tidak tercapai). Padahal, untuk kasus website ini sudah tertera kebutuhan dana untuk kegiatan tersebut sekian. Akan lebih baik jika dananya bersifat fleksibel. Jika target sudah tercapai, buat kesepakatan antara pemilik web, pencari dana, dan donatur bahwa donasi untuk kegiatan tersebut ditutup atau bisa dialokasikan untuk keperluan lain.

 

Kemudian tentang orang-orang yang atas inisiatifnya sendiri mencari dana di medsos untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Dengan alasan yang kurang lebih sama dengan di atas, menurutku mungkin lebih baik ditangani oleh Dinas Sosial/LAZIS. Mekanismenya begini, ketika kita kasihan kepada si X dan mau menolong (dengan menggalang dana via medsos), hubungi Dinas Sosial/LAZIS tentang si X tersebut. Lalu, donasi diarahkan kepada Dinas Sosial/LAZIS itu, dialokasikan sesuai kebutuhan yang bersangkutan. Dengan cara ini diharapkan tidak terjadi yang satu kelebihan donasi dan yang lain tidak kebagian/kekurangan. Di sini kita berasumsi bahwa Dinas Sosial dan LAZIS tadi amanah ya! Tentang donasi ini, jangan berkata tentang anggap saja rezekinya si X segitu (dan si Y rezekinya kurang), karena ini dimaksudkan untuk kemanfaatan yang lebih besar dari setiap donasi yang masuk! Harapannya bisa mengentaskan kemiskinan/membantu kesusahan lebih banyak orang.

 

Kadang-kadang aku kasihan. Waktu itu, saat melihat webnya, donasi untuk luar negeri terkumpul sangat banyak, sedangkan untuk kemanusiaan di dalam negeri masih banyak yang kurang.

 

Intinya, pembuatan pos-pos yang spesifik untuk alokasi dana jangan sampai membuat ketidakseimbangan perolehan dana bagi pos lain/program lain/orang lain. Semoga hal-hal semacam ini bisa lebih diperhatikan, agar sedekah bisa lebih terarah dan bermakna.

 

Sumber gambar: Republika

 

Tags Agama

About The Author

Dini Nuris Nuraini 34
Ordinary

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel