Sore di matamu

19 Nov 2016 10:23 1750 Hits 2 Comments
Cerpen

“Oke, so let’s play the game,” Seorang pria menenggak habis secangkir espresso.

“Mau mulai darimana?” Tanya seorang wanita.

“Sebelum pulang, kita buat taruhan.”

“Taruhan??” Si Wanita menatap penuh curiga.

“Berani??”

“Oke…” Kata Si Wanita dengan jawaban mengambang.

Sebelumnya, mereka bertemu di media maya. Entah siapa yang memulai. Seperti ada kesengajaan yang dibuat begitu rapih dan tidak terburu-buru. Ada perasaan yang mengantung pada diri Si Pria, entah perasaan macam apa itu. Barangkali Si Wanita sama, tapi dia berusaha menutupinya. Hal yang biasa dilakukan seorang wanita ketika percikan timbul di hatinya.

Hujan sore itu menghalangi mereka untuk pulang lebih cepat. Bahkan alam-pun masih ingin melihat mereka berdua, menikmati kecanggungan yang terus mencoba diusir paksa dalam diri, namun terus gagal. Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja terjadi. Keduanya menyerahkan itu semua pada perasaan masing-masing. Bertanya satu sama lain. Memberi pesan terselubung diantara Kata. Si Pria menangkapnya dengan mudah. Si Wanita, terus belagak bodoh, padahal dia pintar, paham, mengerti apa pesan yang hendak disampaikan.

Dua tiket nonton menjadi bukti dimana dua pasang mata baru saja saling tatap di dalam kegelapan. Di dalam teater yang menyuguhkan satu film bertema perang. Ada yang mengganggu pikiran Si Pria. Dia menganggap ini tidak benar. Tidak dalam artian kenapa bukan mengapa. Pikiran memang mudah dimanipulasi. Hati-pun demikian, dia bahkan lebih ekstrim—mudah dibolak-balik. Meski hanya tuhan yang bisa melakukan hal itu.

“Starbucks??” Si Wanita menawari.

“Starbucks yaaa??” Si Pria tidak yakin.

“Why??”

“I’m not sure,” Si Pria dengan nada pelan.

“Oke… kita kesini??” Si Wanita menunjuk satu toko donat.

“Boleh,” Si Pria tersenyum.

Cukup bagi Si Pria untuk mengunjungi Starbucks. Tempat itu terlalu ambigu untuk didatangi. Disana, ada perasaan yang ditinggal dan tidak ingin lagi disentuh. Si Pria merasa perlu menghabiskan waktu dengan Si Wanita tanpa ada bayang-bayang dari masa lalunya. Masa yang paling dihindari manusia, masa yang sebenarnya tidak punya salah apa-apa. Manusia selalu mencari alasan pembenaran yang melibatkan langsung masa lalunya, menghina, mencaci, menghardik. Padahal, dia sendiri yang menciptakan masa lalunya.

Si Pria senang, senyum di bibir Si Wanita terus mengembang. Artinya, Si Wanita mulai nyaman, meski dia harus memaksa menahan sesuatu yang ada di dalam dirinya. Ungkapan jujur yang hanya menunggu waktu untuk keluar atau barangkali dipaksa keluar oleh orang lain. Wanita memang makhluk paling spesifik. Siapapun pria yang memahami detailnya, selalu bisa membuat mereka merasa menjadi wanita paling beruntung. Setidaknya bagi Si Pria. Karena kenyamanan selalu datang tiba-tiba. Tidak tertebak, seperti racun sianida yang langsung mencekat, membunuh—menghilangkan nyawa.

Hari itu Si Pria memakai celana panjang hitam dan baju warna merah marun. Tampilan sederhana yang sangat disukainya. Dengan topi hitam dan tote bag yang selalu dia bawa kemanapun. Si Pria merasa tidak perlu mendeskripsikan bagaimana tampilan Wanita pendek yang duduk di depannya, yang dipisahkan meja bundar kecil di toko donat itu. Wanita itu sungguh menawan meski mendung di luar sangat pekat.

“So, gimana perasaanmu hari ini??” Tanya Si Pria.

“Not pretty sure. Tapi, aku merasa bahagia hari ini,” Si Wanita menjawab girang.

“Aku juga nggak cukup yakin,” Kata Si Pria.

“Kenapa??”

“Aku yakin, yang barusan itu cuma jawaban spontan. Untuk menutupi jawaban sebenarnya.”

“Kamu sok tahu,” Warna merah mulai muncul di pipi Si Wanita.

“Oke…” Si Pria terkekeh.

“Jadi gimana filmnya tadi??” Tanya Si Wanita.

Si Pria tidak peduli dengan filmnya. Sebelumnya, dia memang sudah menontonnya saat penayangan hari pertama. Tapi Si Pria  merahasiakannya. Si Pria hanya butuh pertemuan. Wanita itu adalah manifesto pertemuan sempurna yang diharapkan. Saat Si Wanita mengutarakan pandangannya tentang film itu, Si Pria hanya tersenyum dan sedikit menanggapi. Wanita itu begitu manis, polos. Masih terus mencoba menutupi rasa grogi yang terus saja muncul.

Si Wanita tidak tahu, sepanjang film, berulang kali Si Pria menatapnya, melihatnya diantara senyum dan debar jantung yang tidak terkontrol. Benar-benar tidak peduli dengan film yang sebenarnya sangat disukai. Si Pria menatap sisi kanan mata Si Wanita, begitu lembut, meneduhkan.  Saat Si Wanita menoleh untuk menanyakan sesuatu hal, Si Pria dengan gerak sigap langung belagak serius menonton. Sembari menahan kecanggungan yang merajai tubuh. Ketakutan untuk ketahuan dan dipergoki.

“Aku suka baca blogmu, loh,” Si Wanita antusias, setelah menyeruput coffee latte.

“Serius?? Suka yang mana??”

Si Wanita mengambil ponselnya, jarinya beradu dengan layar. Si Pria terus menatap setiap detail Si wanita.

“Ini,” Si Wanita menunjukkan ponselnya. Satu judul cerita yang familiar bagi Si Pria. Cerita tentang masa lalunya, cerita tentang kemungkinan dia berhenti dalam urusan cinta. Si Pria hanya tersenyum. Sesungguhnya dia paling tidak ingin membahas cerita itu.

“Kenapa diem?? Ini udah aku baca berkali-kali, loh.”

“Ohiya?? Kenapa gitu??”

“Nggak ngerti juga sih. Berasa deket aja.”

“Deket??”

“Iya deket, berasa kenal aja sama tokohnya.”

“Kamu sok tahu,” Si Pria terkekeh.

Ada jeda setelahnya. Masing-masing memainkan ponsel—mencoba mengusir canggung yang baru saja datang tanpa permisi. Meski sebelumnya telah banyak obrolan yang mempir di bibirnya dan di bibir Si Pria. Soal banyak hal, bahkan hal-hal yang membuat pengujung lain terpaksa curi-curi untuk mendengarkan karena obrolan yang menantang dan menarik. Sesekali Si Pria perlu menahan Si Wanita karena suaranya yang mengundang perhatian banyak orang. Obrolan itu terus berlanjut sampai pada obrolan soal perasaan.

“Kamu tahu, kenapa hubunganmu nggak pernah lebih dari enam bulan??” Tanya Si Pria.

“Karena nggak cocok,” Kata Si Wanita setelah meminum coffee latte.

“Bukan. Kalo nggak cocok kamu nggak mungkin bertahan lebih dari satu bulan.”

“Terus??” Tanya Si Wanita.

“Kamu main-main sama perasaanmu. Kamu pacaran karena gengsi lihat temen-temenmu pacaran, sedangkan kamu enggak.”

“Eh, ya nggak gitu,” Si Wanita cepat membalas.

“Jangan membela diri… Jujur, selain gengsi. Kenapa kamu pacaran??”

“Karena nafsu!” Tegas Si Wanita menjawab.

“Salah… Aku yakin kamu belum pernah ciuman, kan??” Si Pria menggeleng pelan.

“Kok tanya gitu??”

“Karena kamu masih membela diri. Jawab seadaanya, spontan. Tanpa mikir matang-matang.”

“Memangnya wajar, orang pacaran ciuman??” Tanya Si Wanita.

“Bagiku wajar… Oh come on, nggak ada istilah pacaran sehat. Itu semua bullshit. Mereka di belakang diam-diam penuh dengan nafsu.”

“Itu wajar??” Tanya Si Wanita.

“Wajar! Aku nggak mau munafik seperti kamu. Kita perlu sadar budaya macam itu datang dari barat. Pelan-pelan jadi bagian dari gaya hidup kita.”

“Oke…” Kata Si Wanita, kalimatnya mengambang.

“Kamu tahu, dalam hal ini kenapa wanita nggak lebih bahagia dari pria??”

“Kenapa??”

“Karena soal cinta, wanita masih diperngaruhi teman-temannya. Pilihanmu pasti terpengaruh sama temen-temenmu. Sadar atau tidak.”

Si Wanita terdiam, sekali lagi.

“Kamu tahu, kenapa hubunganmu nggak pernah lebih dari enam bulan??” Si Pria bertanya sekali lagi.

“Karena gengsi.” Kata Si Wanita.

“Karena kamu belum pernah ciuman.”

Si Wanita terdiam, ada yang mengganggu pikirannya. Perasaanya terus bergejolak. Pria di depannya telah membuka matanya. Pria di depannya telah membuatnya terpesona untuk urusan berdebat. Untuk urusan obrolan panjang yang dicari banyak wanita. Si Wanita ingin membalas dendam, ingin memutar balik obrolan. Dia punya cukup bahan untuk membuka siapa wanita yang masih menghuni hati Si Pria. Saatnya untuk memutar keadaan, pikir Si Wanita.

“Aku tahu siapa wanita itu.”

“Jangan sok tahu,” Kata Si Pira, memainkan ponsel.

“Yaa. Aku nebak aja sih.”

“Oke… Aku dengerin,” Si Pria beralih menatap Si Wanita.

“Tapi kamu harus akui kalo memang bener.”

“Kamu cukup lihat ekspresiku aja, kira-kira gimana.”

“Ini kan??” Si Wanita menunjukkan ponselnya. Foto seorang wanita.

“Hmm… Bisa jadi iya, bisa juga enggak,” Si Pria tersenyum.

“Tapi aku yakin.”

“Bagus dong kalo yakin.”

“Jadi bener, kan??”

“Kalo kamu yakin, berarti kamu punya keyakinan.”

“Yeee… Bener nggak??” Si Wanita setengah kesal.

“Menurut kamu??”

“Menurutku sih iya.”

“Bisa jadi iya, bisa juga enggak,” Senyum Si Pria menatap Si wanita.

Mereka terdiam, cukup lama. Memainkan ponsel masing-masing.

“Oke… Aku ceritain sedikit. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Meskipun aku tahu mulut wanita, mulut-mulut ember. Oke??”

“Oke,” Si Wanita mengangguk, antusias.

Belum pernah Si Pria berani bercerita soal perasaannya pada masa lalu. Soal perasaanya kepada seorang Wanita yang menjadi tokoh dalam cerita yang sangat disukai Si Wanita. Bagi Si Pria, dalam lembut mata Si Wanita, ada sesuatu yang dapat dia percaya, yang cukup meyakinkannya untuk menceritakan wanita dari masa lalunya pada Si Wanita. Bukan tanpa sebab, Wanita yang duduk di depannya adalah kemungkinan yang paling mungkin bagi hatinya, saat itu. Dan disaat yang sama, Si Pria berani melepas cerita paling rahasianya itu di langit-langit toko donat.

Setelah lama bercerita timbul sedikit perdebatan karena Si Wanita menyarankan Si Pria untuk Move On. Bagi Si Pria, move on adalah hal yang sia-sia. Orang-orang yang tersakiti hatinya, perlu membuka semua kemungkinan yang ada, kemungkinan yang datang pada dirinya. Menyerahkan dan membiarkan tuhan membolak-balikkan perasaan juga hatinya. Karena kesalahan orang-orang yang patah hatinya adalah ketika mereka membina kemunafikannya, merasa sakit namun tidak pernah berusaha mencari obatnya. Tidak pernah membuka kemungkinan bagi orang-orang yang bisa dan bersedia mengobati rasa sakitnya.

Move on bukan soal melupakan atau mengikhlaskan. Move on adalah daya tipu, jalan berputar yang lebih jauh. Padahal ada jalan lurus yang sangat dekat dan bisa ditempuh dengan mudah. Mudah jika berani membuat dan membuka semua kemungkinan yang ada. Seorang yang tidak bersedia mengingat masa lalunya sama saja buta dengan masa kini dan bisu akan masa depan.

 

-----

 

“Jadi, apa taruhannya??” Si Wanita bersemangat.

Si Pria terdiam cukup lama.

“Aku deg-degan,” Kata Si Pria, membuat tawa mereka pecah.

“Kamu ih, jangan bikin penasaran.”

Si Pria terdiam lagi.

“Aku ragu mau bilang ini.”

“Kenapa ragu??” Tanya Si Wanita.

“Ini masalah sensitif. Aku bisa kamu benci setelah ini.”

“Ayolah…” Si Wanita memohon.

Si Pria terdiam. Si Wanita menatapnya begitu dalam. Penasaran akan apa yang keluar dari bibir Si Pira setelah ini.

“Entah kapan. Suatu saat nanti. Bibirku bisa menyentuh bibirmu,” Si Pria mengucapkannya dengan cepat. Ada kelegaan setelahnya.

“Nggak mungkin,” Si Wanita menggeleng dan tertawa.

“Responmu barusan bukan untuk menutupi responmu sebenarnya, kan??” Tanya Si Pria.

Si Wanita terdiam.

“Oke kita taruhan… Aku bilang ini nggak mungkin,” Kata Wanita setengah tertawa.

“Aku mungkin.”

“Deal??” Si Wanita mengajak bersalaman.

“Deal!” Si Pria membalasnya, mantap.

Mereka beranjak. Saling memberi senyum, lalu berpisah. Beberapa langkah menjauh, Si Pria berhenti, menoleh, berharap Si Wanita ikut menoleh. Beberapa detik menunggu momen itu, Si Pria hanya melihat punggung Si Wanita hingga sosoknya ditelan habis bangunan di sekitarnya. Si Wanita terus memikirkan tentang taruhannya di sepanjang jalan pulang. Si Pria lega karena telah membuka satu lagi kemungkinan yang ada.

-----

Tags

About The Author

Zahid Paningrome 36
Ordinary

Zahid Paningrome

Creative Writer

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel