6 Permainan Sunda Yang Terlupakan

28 Jul 2016 12:10 5070 Hits 2 Comments
Sayang ya permainan ini sudah jarang kita mainkan!

Ragam permainan di Nusantara memang tiada duanya. Selain beragam, permainan asli Indonesia ini juga memiliki edukasi yang sangat positif.

Terutama di Jawa Barat, banyak sekali permainan yang sering dimainkan anak - anak dengan asyiknya. Mereka bermain sambil belajar sampai berkeringat karena senangnya.

Akan tetapi, di zaman modern seperti ini sudah banyak sekali permainan asal Sunda ini yang terlupakan akibat adanya game - game buatan negeri luar seperti playstation, game komputer, game android dan lain - lain.

Berikut ulasan 6 permainan asal Jawa Barat yang hampir terlupakan:

1. Sorodot Gaplok

Sorodot Gaplok adalah permainan yang menggunakan batu sebagai alat permainannya. Biasanya permainan ini hanya dimainkan oleh anak laki - laki saja. Sorodot Gaplok mempunyai 2 kata, sorodot artinya "meluncur" dan gaplok artinya "tamparan". Dinamakan sorodot gaplok karena dalam permainan ini pemain harus meluncurkan batu ke batu lainnya sehingga menghasilkan suara "plok" seperti suara tamparan. Permainan ini biasanya dimainkan 2 orang atau lebih dengan jumlah pemain genap.

2. Engklek

Engklek adalah permain tradisional yang banyak dimainkan oleh anak - anak di penjuru negeri. Karena banyaknya anak yang memainkan permainan ini, disebutlah bahwa engklek merupakan permainan khas asli Nusantara. Padahal, sebenarnya engklek berasal dari negeri Pizza Italia tepatnya di kota Roma.Tidak percaya?

Di Roma sendiri permainan ini disebut dengan Hopscotch yang berasal dari kata Hop (melompat) dan scotch (garis-garis), karena memang cara bermainnya adalah dengan melompat diantara berbagai garis yang digambar di tanah. Awalnya permainan ini digunakan untuk melatih kekuatan, kecepatan dan stamina para prajurit Roma dalam upaya penjajahan di Glasgow, Skotlandia. Saat itu arenanya sendiri dibuat dengan ukuran yang sangat besar, 31 meter.

Nama engklek sendiri juga berasal dari Belanda yang asal katanya zondag-maandag. Di Indonesia permainan ini akan banyak kita temui khususnya di Jawa Barat. Di Jawa Barat sendiri permainan ini dinamakan engklek sedangkan di daerah lain namanya berbeda - beda.

3. Perepet Jengkol

Perepet jengkol jajahean

Kadempet kohkol jejeretean

Eh jaja eh jaja eh jaja eh jaja

Kalau orang Sunda pasti tahu lagu ini lagu apa, karena lagu ini sering dinyanyikan anak - anak sewaktu bermain perepet jengkol bersama kawan sebayanya.

Meskipun nama permainan ini perepet jengkol, tapi sebenarnya dalam permainan ini tidak melibatkan jengkol. Entah kenapa permainan ini disebut permainan perepet jengkol, yang pasti permainan ini sudah ada sejak dulu. Konon kabarnya permainan ini sering dimainkan saat terang bulan, anak - anak pergi main ketika terang bulan dan sering memainkan permainan ini.

Biasanya permainan ini sering dilakukan oleh 3 orang atau lebih. Karena jika orangnya lebih banyak maka permainannya akan semakin seru.

4. Cing Ciripit

Cing ciripit adalah lagu yang biasa dinyanyikan anak - anak dalam bermain. Lagu ini seperti ritual untuk menentukan siapa yang akan menjadi kucing dalam permainannya nanti.

Cara bermainnya juga gampang kok, pertama biasanya anak - anak berkumpul dan membentuk lingkaran, lalu salah seorang membuka telapak tangannya dan disimpan ditengah (biasanya orang yang paling tua atau mempunyai jiwa kepemimpinan).

Setelah itu semua anak - anak harus menempatkan jari telunjuk mereka di atas telapak tangan tadi sambil menyanyikan lagu cing ciripit. Berikut lirik lagunya:

Cing ciripit

Tulang bajing kacapit

Kacapit ku bulu pare

Bulu pare seuseukeutna

jol, pak dalang mawa wayang, Jekjeknong!

Setelah lagunya berakhir peserta harus siap - siap mengangkat jari telunjuknya tadi, karena jika tidak jari telunjuknya akan ditangkap oleh telapak tangan tadi dan membuat yang tertangkap menjadi kucing.

5. Congklak

Permainan ini umumnya dimainkan oleh kaum wanita baik tua, muda dan anak-anak, dilakukan dikala waktu senggang. 
Alat yang diperlukan sebuah congkak terbuat dari kayu/plastik beserta 98 butir biji-bijian atau kewuk/lokan. 
Permainan dilakukan oleh 2 orang dapat dilakukan di lantai atau di atas meja. Permainan congkak melatih keterampilan menghitung dan melatih tanggung jawab pada diri sendiri dan rasa setia kawan.

6. Gatrik

Gatrik atau Tak Kadal pada masanya pernah menjadi permainan yang populer diIndonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok.
Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupaitongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil. Pertama potongan bambu yang kecil ditaruh di antara dua batu lalu dipukul oleh tongkat bambu, diteruskan dengan memukul bambu kecil tersebut sejauh mungkin, pemukul akan terus memukul hingga beberapa kali sampai suatu kali pukulannya tidak mengena/luput/meleset dari bambu kecil tersebut. Setelah gagal maka orang berikutnya dari kelompok tersebut akan meneruskan. Sampai giliran orang terakhir. Setelah selesai maka kelompok lawan akan memberi hadiah berupa gendongan dengan patokan jarak dari bambu kecil yang terakhir hingga ke batu awal permainan dimulai tadi. Makin jauh, maka makin enak digendong dan kelompok lawan akan makin lelah menggendong.

Itulah 6 permainan khas Sunda yang hampir terlupakan oleh semua orang. Seandainya saja permainan tersebut masih dimainkan oleh anak - anak di zaman sekarang pasti kita semua akan merasa senang melihatnya karena budaya permainan Nusantara dilestarikan. Tapi sayangnya sekarang sudah jarang sekali anak - anak yang memainkan permainan tersebut. Sebenarnya masih banyak lagi permainan yang hampir terlupakan bahkan sudah punah di zaman sekarang

Sumber: http://berbagiserbagratis.blogspot.co.id/2015/01/10-permainan-khas-sunda-yang-hampir.html

Tags

About The Author

Rijwan 45
Ordinary

Rijwan

Saya merupakan anak RPL yang bercita - cita membangun web sendiri juga menjadi ahli pemrograman serta komputer.

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel