Pancasila Bukan Sandang Pembalut

2 Jun 2016 18:13 4253 Hits 2 Comments
doktrin patuh terhadap negara yang gemah ripah loh jinawi. Semboyan mikul duwur mendem njero terhadap pemerintahan. Kalau nggak kuning, nggak nge-hits

Kegalauan muda-mudi yang baru saja selesai mengerjakan tes SBMPTN. Tak larut dengan 180 soal yang harus dikerjakan selama 2 X 105 menit. Pusing pala barbie sudah di antisipasi dengan mengkonsumsi obat-obatan khas warung, seperti Panamex, Paradol, Fatigin, dan sejenisnya. Kalau tidak cukup, jangan berani-berani nguntal pil koplo.  Refreshing saja dengan teman, pacar, dan gebetan. Selain itu mantan yang sudah dikumpulkan selama masa putih abu-abu bisa di ajak reunian sebelum musim ramadan. Intinya, lakukanlah hal-hal yang positif.

Kabar positif, bahwa 1 juni akan dijadikan hari libur tampaknya bukan gurauan semata. Hari dimana Bapak Ir. Soekarno mencetuskan pemikiran mengenai dasar negara.  Yudi Latif dalam buku Negara Yudisial mencatumkan lima prinsip untuk elemen bangsa ini.  Pertama, Kebangsaan Indonesia. Kedua, Internasionalisme atau Perikemanusian. Ketiga, Mufakat dan Demokrasi. Keempat, Kesejahteraan Sosial. Kelima, Ketuhanan yang Berkebudayaan. Lima poin tersebut menjadi cikal bikal apa yang disebut oleh beliau Panca “Lima” Sila “Dasar”. Bapak Proklamator memandang kelima prinsip tersebut akar kuat dalam jiwa bangsa Indonesia.

Pancasila memang sungguh luar biasa. Kita selaku anak bangsa yang menikmati kemerdekaan secara lahiriah seharusnya memanfaatkan masa-masa emas ini untuk kemajuan bangsa. Namun, bagi yang batiniah (jomblo) masih saja gundah gulanah ketika di-kecengin persoalan jodoh. Cukup hafal kelima sila pancasila. Alangkah rancunya, ketika seorang jomblo hafal mantan dari SD-SMA. Namun, ndomblong kala ditanya “Hafal Pancasila ndak ?”. Kalau masih hidup dijaman Mbah “Pie enak zamanku tho” bakal kena teguran guru atau dikira kaum kuminis.

Pancasila Ngorba

Zaman dulu dengan kredo P4. Bapak & Ibu terkena doktrin patuh terhadap negara yang gemah ripah loh jinawi. Semboyan mikul duwur mendem njero terhadap pemerintahan. Kalau nggak kuning, nggak nge-hits.  Kalau kuminis jadi kaum terpinggirkan dan negara memberi embel-embel di kartu tanda penduduk dengan tulisan Ex Tahana Politik disingkat “ET”.  Rak percoyo, takono mbokmu dewe’. Bapak Pembangunan yang kini dicalonkan jadi pahlawan nasional.  Mak dyar, pembangunan dulu apa bedanya dengan program PNPM zaman Bapak “Lanjutkan”. Moso meh saingan dadi pahlawan ? Mikir !

Pahlawan dalam KBBI definisnya orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanyanya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

“Lha, zaman P4 masih di ajarkan apakah Mbah “Pie enak zamanku tho” menonjol dengan keberanianya ?”.

“Ya. Buktinya, Peristiwa 65, Malari, Talangsari, Trisakti, 98, dan keberanian yang menumpahkan darah rakyat kecil tak tahu diri.”

“Kok bisa begitu.”

“Kan, prinsipnya Asal Bapak Senang. Mikul duwur mendem njero.  Para aktivisi dan akademisi yang pro dengan pancasila zaman orba di unggulkan dan jadi ilmuwan. Kalau kontra, di kubur hidup-hidup saja. Apalagi yang minta reformasi. Culik saja beres.”

“Oh, cukup tahu.”

Pancasila di zaman itu seperti pegadaian. Tempat untuk mengatasi para pendekar-pendekar yang cerewet dan sok mikir negara.  Menjadikan pancasila untuk mengatasi masalah dengan solusi (menganggap mereka anti-pancasila). Jadi Pancasila ditunggangi oleh jendral yang berkuasa selama 32 tahun.  Mabure wes tekan ndi pas zaman sak mono ?

Pancasila vis a vis kekerasan seksual

“Seks adalah soal kenikmatan dan persetujuan. Sedangkan perkoasaan adalah persoalan kuasa” kutipan Dr.       pengajar Filsafat UI dalam Jurnal Perempuan.  Kasus YY di Bengkulu serta bocah MI yang diperkosa oleh 20 remaja di Semarang memang terasa miris. Jomblo-jomblo yang faham & mengamalkan ditengah kehidupan masyrakat. Ingin rasanya ngopi lan ngudud bareng. Supaya tahu betapa susahnya mendidik “pisang” apabila isi kepala serta pikiran yang ngomongin soal seks yang nikmat tanpa persetujuan.  Ndes, memang perlu Pancasila ikut mendidik “kuasamu” agar tidak membuat onar dimana-mana ?

Budaya lelaki yang selalu gagah dihadapan wanita. Diplintir ke arah kenikmatan tanpa persetujuan hingga menimbulkan korban anak di bawah umur. Dorongan seksual yang dikatakan berasal dari video porno. Alamak, konten-konten porno kata pihak Kementrian Teknologi dan Informatika sudah diblokir bekerja sama dengan provider internet. Qiila wa qiila, minuman beralkohol dapat menyebabkan otak oleng, nafsu tak terkontrol, perasaan ingin tidur dengan seseorang harus dituruti saat itu juga. Kalau sudah tidak nonton porno dan nyiu, masih saja memperkosa. Apa alasan selanjutnya ? Individunya.

“Leh, ucapkan sila kedua pancasila ?.”

“Kemanusian yang adil dan beradab.”

Manusia yang adil dan beradab. Ada orang berpakaian rok mini jangan heran. Ada yang bercadar jangan mengatakan teroris. Ada yang telanjang di kamar mandi, jangan di intip. Ini semua soal nafsu. Semua orang diberikan fantasi untuk melakukan seksual. Kini fantasi “seksual” harus di imbangi dengan sikap pancasila “kemanusian yang beradab”. Manusia yang difitrahi sifat tidak puas terhadap satu perkara. Fantasi A sudah tercapai tentu fantasi-fantasi selanjutnya ingin dilalui dengan indah.

Dab, kalau sudah urusan “intim” memang perlu gerakan dari masyarakat.  Kelua

Tags

About The Author

Fadli rais 42
Ordinary

Fadli rais

Pecinta mamah muda made in Indonesia
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel