Ketika Cinta Bicara (When Love Talks) Chapter 6

11 Apr 2016 17:27 7849 Hits 4 Comments
Keadaan semakin ruwet dan membingungkan buat Tumpal dan Tiur, orang tua kandung Choky. Ia pun diteror oleh Efendi, yang empunya uang. Sementara anaknya Choky bukan kembali ke tangannya ,tapi masih bersama Kayla.

 

Baca sebelumnya : http://www.plimbi.com/article/164030/ketika-cinta-bicara-when-love-talks-chapter-5

 

Kamis, Pukul 03.05 pagi…

 

Sebuah rumah sakit yang terletak di kota Tanjung Morawa dikejutkan oleh rombongan Ringgo cs yang datang ke rumah sakit tersebut. Mobil Ringgo dikemudikan oleh sahabatnya Ijon, sementara Nina duduk di kursi depan sambil memangku Choky yang kini sudah terbangun. Ringgo didampingi oleh Kayla dan Ferdy. Di depan mereka komandan poilisi Bambang Jaelani bersama beberapa anggotanya sedang melajukan mobilnya dengan kencang. Ijon pun terpaksa ikut mengemudikan mobil Ringgo dengan kencang, karena tidak mau ketinggalan.

Sementara itu polisi yang lain membawa beberapa kawanan penjahat yang berhasil diringkus ke kantor polisi. Begitu juga dengan tas yang dibawa Ringgo yang semula sempat berada di tangan penjahat kini sudah diamankan polisi.

Pintu depan rumah sakit tersebut dibuka lebar. Seorang perawat pria yang bertugas jaga tampak tergesa-gesa melarikan tempat tidur dorong ke luar halaman rumah sakit menuju ke mobil Ringgo. Dua orang perawat wanita yang lain ikut menyusul di belakangnya. Ijon dan Ferdy memapah Ringgo turun dari mobil dan dengan dibantu oleh salah satu perawat wanita itu, Ringgo ditidurkan ke tempat tidur dorong tersebut. Dengan cekatan, para perawat itu membawa Ringgo ke ruang Unit Gawat Darurat diikuti oleh Ijon, Kayla, Nina serta Ferdy yang kini menggendong Choky. 

Kayla memegang tangan Ringgo erat. Matanya terus memandang wajah kekasihnya. Ia tak sanggup berkata-kata lagi. Sesekali ia mengusap darah yang masih menetes dari pelipis Ringgo. Sambil berjalan cepat mengikuti langkah sang perawat pria yang mendorong tempat tidur dorong tersebut, Kayla tetap berada di sisi Ringgo.

“Tahan ya, Boss. Sebentar lagi sudah sampai.” Ijon menyemangati sahabatnya Ringgo untuk bertahan. Ijon berada di samping kiri Ringgo, sementara Kayla disebelah kanan. Nina berjalan di belakang Ijon sedangkan Ferdy berjalan dibelakang Kayla sambil menggendong Choky. Nina hanya bisa menangis sambil sesekali menyeka air matanya dengan sapu tangan. Tak berapa lama Ringgo sudah berada di ruang Unit Gawat Darurat (UGD). 

“Mohon maaf, bapak dan ibu tidak bisa masuk. Tunggu disini dulu…” perawat pria itu melarang mereka masuk ke ruangan tersebut. Kayla terpaksa melepaskan genggaman tangannya. Mereka pun menunggu dengan perasaan cemas. Pintu ruangan UGD pun ditutup.

“Tuhan, tolong selamatkan bang Ringgo…” desis Kayla. Mulutnya tak berhenti komat-kamit memanjatkan doa.

Ferdy menurunkan Choky dari gendongannya. Choky berjalan mendekati mamanya.

 “Mama…,” Choky memanggil Kayla.

Kayla menoleh dan tersenyum. Karena perhatiannya terpusat pada Ringgo, ia sampai tidak memperhatikan anak angkatnya itu. Ia pun berjongkok dan mengadahkan tangannya ke arah Choky. “Choky sayang, sini sama mama...”

Merekapun berpelukan mesra.

“Ma, om Ringgo kenapa ma?” Choky bertanya sambil tetap memeluk diri Kayla. Ia begitu rindu dengan mama angkatnya itu.

Kayla bingung menjawab pertanyaan Choky. Ia pun mengajak Choky duduk di sebuah bangku panjang yang sudah tersedia dan mencoba menceritakan pada Choky.

“Nggak kenapa-kenapa sayang, cuma ada luka sedikit. Nanti juga sembuh kok, kan sudah ditangani dokter…” Kayla membelai wajah Choky dengan lembut.

“Om Ringgo kena tembak ya, ma?” Choky menjawab polos tapi tepat sasaran. Kayla tersenyum manis.

“Mmmm… nanti saja mama jelaskan ya, sayang. Choky doakan saja om Ringgo. OK?” Kayla memandang wajah anak angkat kesayangannya lekat-lekat, sedetik kemudian ia merapikan rambut Choky yang acak-acakan dengan tangannya. Choky pun menuruti kemauan ibu angkatnya.

Kini Choky sudah bersama dengan Kayla. Hatinya berbunga-bunga, ia begitu bahagia. Setelah mamanya selesai merapikan rambutnya, ia mendekap pinggang Kayla erat. Ia mendekapnya begitu erat seperti ingin memberitahukan kepada Kayla bahwa ia tidak mau kehilangan mamanya lagi. Kayla merasakan hal itu, ia pun membalas dekapan Choky dengan membelai-belai pundak Choky dengan tangan kanannya.

Sebenarnya semenjak Kayla ‘menyembunyikan’ Choky dua bulan yang lalu, Choky sering ditinggal Kayla sendirian, hanya ditemani oleh pembantunya, Suti. Kayla hanya bisa menyempatkan diri datang melihat keadaannya setiap hari Sabtu dan Minggu, dan hari Minggu kemarin mereka baru saja bersama-sama. Namun untuk perpisahan kali ini, Choky merasakan ada sesuatu yang lain. Suatu kegelisahan  yang luar biasa, namun dia tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ia hanya bisa menyimpannya dalam hati. 

Tak lama Nina menghampiri Kayla dan Choky. Kayla tersenyum lalu menggeser tempat duduknya dan membiarkan Nina duduk di sampingnya.

“Kay, kamu baik-baik saja kan? Kamu nggak diapa-apakan mereka kan?” Nina memberondong Kayla dengan sejumlah pertanyaan.

“As you can see. I’m allright.” Kayla tersenyum kecil sambil menatap wajah sahabatnya.

“Thanks God. I’m worry about you.” Nina menghela nafas lega sambil salah satu tangannya merapikan bagian depan rambut sahabatnya itu.

“Thanks, Nin atas perhatiannya. Kamu memang sahabat sejati.” Kayla memuji. Nina membalasnya dengan menaikkan kedua pundaknya sambil senyumnya tersungging lebar di wajahnya.

“Sebenarnya aku merasa tak enak dengan kalian semua. Aku sudah menyusahkan…” Kayla pun mengeluarkan isi hatinya.

“Sudahlah, Kay. It’d happen. Yang penting kamu selamat.” Nina mencoba menghibur Kayla.

“Tapi bang Ringgo, Nin. Aku takut dia kenapa-napa…” Rasa takut dan khawatir terdengar jelas dari ucapan Kayla. Ia mulai terbata-bata.

“Percayalah Kay. Bang Ringgo pasti selamat. Don’t worry, OK?” Nina memegang kedua tangan Kayla lalu menatapnya lekat-lekat. Ia mencoba memberi kekuatan. Kayla pun menangis dan memeluk Nina erat. Mereka berangkulan, sementara Choky hanya bisa memandang mereka.

Setelah menunggu cukup lama, seorang dokter keluar dari ruang UGD, menemui Kayla, Nina beserta Ijon dan Ferdy, sementara polisi Bambang sudah pamit kembali ke kantornya.

“Bapak-bapak ini keluarganya Bapak Ringgo?” Dokter itu bertanya kepada Ijon dan Ferdy yang kebetulan sedang berdiri di dekatnya.

“Ya benar. Bagaimana, dokter?” Ijon menjawab dengan was-was.

Melihat dokter itu berbicara dengan Ijon dan Ferdy, Kayla bangkit dari duduknya sambil tangan kanannya memegang erat tangan Choky dan menghampiri mereka, diikuti oleh Nina, “Bagaimana keadaannya, dokter?”

“Ibu istrinya?” dokter itu menebak dengan yakinnya.

“Oh, b-bukan, saya…tunangannya...” Kayla tergagap, terkejut dengan pertanyaan seperti itu.

“Oh, maaf… Begini bu, setelah saya periksa, peluru yang menembus ke paha tunangan ibu masuk cukup dalam, sehingga harus segera dioperasi, agar bisa diambil pelurunya…”

Kayla tercekat, ia tidak tahu harus berkata apa. Dokter melanjutkan keterangannya.

“Tidak bisa menunggu lama lagi, karena darah yang keluar sudah cukup banyak. Kita tidak punya banyak stok darah di sini. Saran saya saudara Ringgo harus segera dioperasi. Bagaimana bu?” Kayla tidak dapat berbicara, ia hanya mengangguk.

“Baiklah kalau begitu. Bapak ini sungguh beruntung, kebetulan saya dokter bedah yang sedang jaga. Jadi saya bisa langsung segera operasi. Untuk data selengkapnya, biar suster saya saja yang berhubungan dengan ibu, ya?”

“Ta-tapi dia akan baik-baik saja, kan dok? Ti-tidak perlu diamputasi kan, dok?” Kayla meyakinkan dirinya kalau Ringgo tidak sampai diamputasi.

“Oh, tidak, tidak! Jangan kuatir! Pelurunya tidak sampai menembus tulang, jadi tidak perlu diamputasi. Selain itu bapak Ringgo cukup kuat dan tangguh, kok. Ia pasti selamat. Ibu doakan saja, ya.” Dokter itu memberi jawaban yang simpatik.

“Terima kasih, Dok.” Kayla tersenyum lega.

Dokter itu mengangguk. Tak lama ia memanggil salah satu susternya dan masuk kembali ke dalam.

Kayla tidak dapat menyembunyikan kelegaan hatinya. Ia pun memekik senang. Ia yakin Ringgo pasti akan selamat.

“See, Bener kan gue bilang. Kamu dengar sendiri kan dokter bilang apa?” Nina.

“Syukurlah, Nin.” Kayla.

Mereka pun berteriak kegirangan sambil kembali berpelukan. Akhirnya mereka boleh benafas lega.

 

***

 

Dingin dan mencekam. Begitulah gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan sebuah ruangan di rumah sakit tempat Ringgo berada. Ringgo terbangun. Ia membelalakkan matanya. Sebuah jarum infus menancap ditangannya sebelah kiri, sementara kaki kirinya dan pelipis kanannya yang terluka ditutupi oleh perban. Ia melihat dirinya bertelanjang bulat tanpa pakaian sehelai pun namun bagian sensitifnya ditutupi selimut. Ringgo terheran-heran. Ia melihat sekitarnya. Tidak ada orang. Begitu sepi. Yang ada hanya peralatan rumah sakit yang biasanya ada di ruangan ICU.

Aneh, batin Ringgo. Ia mulai memanggil Kayla dan sahabat-sahabatnya yang lain. Masih teringat dengan jelas saat terakhir kali sebelum ia tak sadarkan diri, ia masih menggenggam tangan Kayla dengan erat dan masih melihat rupa teman-temannya yang lain. Perasaan tidak tenang mulai berkecamuk. Ia pun memutuskan untuk bangkit berdiri.

Ringgo mencabut jarum infus dari tangannya. Sambil menahan sakit yang masih terasa di bagian yang terluka, ia berdiri. Tak lupa ia menutupi bagian sensitifnya dengan selimut putih. 

“Kaylaa!!!” Ia memanggil lagi nama kekasihnya sambil berjalan pincang ke luar ruangan. Suaranya menggema,

Kini ia sudah berada di luar ruangan. “Hallooo!!!” Kembali suaranya menggema. Tak ada jawaban, hanya terdengar gema suaranya saja.

Ia berjalan menuju ke ruang jaga perawat. Juga sepi. Benar-benar sepi. Ketakutan mulai menggerayangi dirinya. Ia bermaksud kembali ke ruangannya, tetapi mendadak ruangan itu seperti berlari menjauh dan ia seperti berjalan di tempat. Lorong itu menjadi terasa panjang.

Ada apa ini?, teriaknya dalam hati. Keringatnya mulai mengucur. Ia meringis saat tetesan air keringat mengenai luka di pelipisnya.

Mendadak lampu-lampu di seluruh lorong mati. Ia terkesiap.

“Heiii!!” Ringgo berteriak marah. Tak berapa lama lampu-lampu itu hidup kembali.

“Pfff…!!” Ringgo menghela nafas lega.

Saat itulah ia merasakan hawa panas berada di belakangnya. Bulu kuduknya pun berdiri. Ia ketakutan. Perlahan tapi pasti ia memberanikan dirinya menengok ke belakang. Seseorang berwajah tengkorak dengan memakai jubah panjang berwarna hitam tepat berdiri di hadapannya.

“AAAAKKHHHHH!!!” Ringgo berteriak histeris. Sekujur tubuhnya bergetar ketakutan. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Ia terbangun.

“Bang!! Bang!! Ini Kayla bang!” Kayla memegang kedua pundak Ringgo.

“Tenang, bang. Itu cuma mimpi!” Kayla berusaha menenangkan Ringgo sambil mengusap-usap pundaknya. 

Menyadari bahwa semua itu adalah mimpi, Ringgo bernafas lega. Namun nafasnya tersengal-sengal. Ia masih ketakutan akibat mimpi buruknya itu. Seolah tak percaya, ia menatap Kayla dalam-dalam dan memandang seluruh ruangan tempat ia berada. Ruangannya sama persis, hanya bedanya kini ada Kayla dan Choky di sampingnya, sementara seluruh sahabatnya telah pamit lebih dahulu. Merasa masih belum yakin, ia menampar wajahnya sendiri.

“Aduuh!,” ia kesakitan. Melihat Ringgo akan menampar wajahnya lagi, Kayla mencegahnya dengan memegang lengan Ringgo. Ringgo pun mengurungkan niatnya. Setelah itu ia melihat dirinya telah terbungkus baju rumah sakit, sementara bagian lukanya sudah diperban.

Setelah yakin bahwa ia benar-benar bermimpi buruk, ia pun menghela nafas panjang. Setelah tenang, ia menceritakan mimpinya pada Kayla.

***

 

Tidak seperti biasanya, kemacetan di salah satu ruas utama di pusat kota Medan begitu parah. Membutuhkan waktu berjam-jam untuk bisa sampai ke tujuan. Seorang laki-laki berkaca mata hitam baru saja keluar dari mobilnya setelah sebelumnya sempat terjebak macet. Ia berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam gedung bertingkat dan memasuki lift dengan terburu-buru sementara ditangannya memegang tas kulit berwarna hitam. Ia menuju kesebuah kantor yang berada di gedung tersebut. Setelah berbicara dengan staf administrasi di kantor itu, ia diperbolehkan masuk ke salah satu ruangan yang di atas pintunya bertuliskan Direktur.

“Masuk.” Terdengar suara dari dalam ruangan tersebut. Laki-laki itupun masuk.

“Pak Ronal. Selamat siang, pak.” Seorang laki-laki berbadan tambun dan bermata sipit berdiri dari kursi kerjanya dan menyambut hangat tamunya itu.

“Siang, pak Efendi. Apa kabar pak?” Laki-laki yang bernama Ronal itu membalas. Sambil membuka kaca mata hitamnya, mereka pun bersalaman.

“Baik, silahkan duduk.” Efendi menjawab ramah. Dengan logat kentalnya yang tidak bisa mengucapkan huruf ‘r’ dengan jelas, ia mem-persilahkan tamu yang sudah ditunggunya duduk. Mereka duduk bersama di sebuah kursi sofa panjang berwarna krem. Tak lama mereka sudah terlibat pembicaraan hangat.

“Ini laporan yang bapak minta. Semua sudah sesuai dengan list. Silahkan bapak baca.” Ronal mengambil sebuah map tebal dari dalam tasnya dan memberikannya pada Efendi. Lalu Efendi membacanya dengan seksama.

“Daftarnya sudah lengkap?” Efendi bertanya sambil mata sipitnya melirik Ronal.

“Sudah, pak. Sudah termasuk dengan nama-nama yang baru masuk kemarin.” Ronal meyakinkan.

Efendi membacanya sekali lagi. Kali ini dengan mimik yang serius. Setelah merasa yakin, iapun menutup map itu. Ia memandang mata Ronal lekat-lekat. Raut mukanya berubah. Kerutan-kerutan di wajah putihnya yang semula tidak terlihat kini jadi terlihat jelas. Ronal jadi merasa tak enak.

“You sudah dengar berita kemarin?” Efendi bertanya menyelidik.

Sejenak Ronal terdiam. Lalu sambil menelan ludah, ia menyahut, “Berita apa, pak?”

“Tigor nyaris tertangkap…” Efendi menjawab to the point. Ronal tidak menjawab, ia hanya mendengarkan.

“Sekarang polisi pasti mencurigai kita. Beberapa anak buah Tigor ada yang sudah diringkus. Mereka pasti ada yang bocor…” Efendi melanjutkan.

“Jadi maksud Bapak?”

“Saya minta ini ditunda dulu. Saya tidak mau karir yang sudah saya bangun susah payah hancur berantakan karena ulah si Tigor bodoh itu!. You paham kan maksud saya?” Efendi terlihat emosi. Ronal hanya mengangguk.

“You bilang sama boss you, jangan macam-macam dulu. Kalau tidak, kita bisa ikut-ikutan terseret.” Efendi memberikan map itu pada Ronal.

“Kapal jangan berangkat dulu?” Ronal menebak.

“Betul. Jangan berangkat dulu. Tunggu dua tiga hari ini sampai suasana  kondusif.”  Efendi  mengiyakan  sambil  menyenderkan  badannya  ke sofa, melipat kedua  tangannya  di  dada  dan  memperbaiki   duduknya.

“B-baiklah pak, nanti saya bilang sama Boss saya, kalau sementara ini jangan jalan dulu sampai suasana kondusif. Begitukan maksud bapak?” Ronal mencoba memastikan.

“Ya, benar itu. Nanti saja kalau suasana sudah kondusif.” Efendi mengangguk-angguk. Ia menarik nafas lega.

“OK-lah kalau begitu. Saya permisi dulu…” Ronal mohon diri sambil memasukkan kembali map tebal ke dalam tas-nya. Efendi mengangguk. Ronal pun berdiri. Mereka bersalaman sekali lagi. Sedetik setelah Ronal membelakangi Efendi, mendadak Efendi memanggil.

“Tunggu!”. Ronal menghentikan langkah-nya dan menoleh ke belakang. Efendi bangkit berdiri.

“Kamu kenal yang namanya Kayla?” Efendi bertanya.

“Tidak pak.” Ronal menggeleng.

“Tigor dan Tumpal pernah menyebut nama itu ke saya. Anaknya si Tumpal sudah lama sama perempuan itu sampai sekarang. Si Tigor pernah bilang kalau perempuan itu tahu bisnis kita. Bisa hancur kita!” Efendi berbicara setengah berteriak. Ronal tidak menjawab.

“Saya yang menyuruh Tigor membawa perempuan itu untuk bicara baik-baik, bukannya diculik. Dasar Tigor saja yang guoblok. Sekarang berantakan jadinya…” Efendi curhat. Belum selesai Efendi bicara, Ronal memotong pembicaraan, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Sebentar pak. Saya memang tidak kenal dengan wanita itu, tapi ibu Janti sepertinya pernah menyinggung namanya. Ia menyuruh saya mencari informasi tentang dirinya.” Ronal berusaha mengingat-ingat.

“O-oh, Boss elu bilang begitu? Lalu?” Efendi penasaran Ia mengernyitkan alisnya.

“Nama lengkapnya Kayla Audrina. Dia bekerja di perusahaan advertising. Dia yang mengepalai bagian pemasaran di tempat kerjanya. Dia orang penting di perusahaannya, pak.” Ronal meyakinkan. Efendi terdiam. Ia mulai khawatir.

“Bapak tidak usah khawatir. Menurut saya, selama kita bermain smooth, tidak akan ada masalah.” Ronal tersenyum. Ia memegang pundak Efendi, seolah-olah mengerti perasaan Efendi.

“Saran saya, bapak tidak usah berhubungan dulu dengan Tigor.” 

Efendi mengangguk, “Ya benar, orang itu bawa bencana saja.”

Ronal kembali mohon diri. Efendi mengantarkan koleganya keluar. Tak lama kemudian mereka pun berpisah.

***

 

Efendi baru saja bersiap-siap meninggalkan ruangan kantornya. begitu handphonenya berdering. Di layar Hpnya tertera nama Tigor. Sial!, umpatnya dalam hati. Ia membiarkan Hpnya berdering sampai berhenti. Begitu bunyi Hp berhenti, ia pun langsung mematikan Hp-nya. Setelah itu ia meninggalkan kantornya dengan santai.

Jauh di sana, begitu menyadari orang yang diteleponnya tidak mau menerima teleponnya, Tigor marah dan memaki-maki Efendi dengan sebutan “Cina ****sat!” sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Benar dugaanku! Si Cina ***ima(12) itu tidak mau mengangkat teleponku. Ia pasti tahu kita sudah jadi incaran polisi!!” Umpat Tigor lalu meninju  tembok di dekatnya dengan keras. Benni yang sebelumnya berada di dekat Tigor dengan sigap langsung mundur menjauhi Boss-nya, takut kena bogem mentah. Begitu juga dengan anak buahnya yang lain.

Saat ini Tigor sudah berada di tempat persembunyian yang terletak di luar kota. Mereka   bersembunyi  di  sebuah  komplek  perumahan yang sepi, dan terletak agak jauh dari keramaian.

(12) ***ima : bangsat

Selain Tigor dan Beni, juga ada Tumpal, ayah Choky dan dua orang anak buah Tigor.

Tumpal sebenarnya ikut dalam “peristiwa” semalam yang menyebabkan Ringgo terluka, namun ia berada di tempat lain tak jauh dari hutan dan bersama dua orang anak buah Tigor yang lain, mereka stand by di sana. Ini merupakan salah satu trik yang biasa  dipakai Tigor  jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan sesuai rencana.

Saat mereka melihat Tigor dan Benni berlari ke arah mereka, saat itulah mereka menjemput Bossnya dan kabur meninggalkan lokasi.

“Borjong!! Ini gara-gara perempuan sialan itu!” Tigor masih melampiaskan kemarahannya. Kali ini ia membanting meja yang berada didekatnya. Setelah puas, ia mengatur nafasnya.

“Polisi pasti sudah mengendus kita. Kita harus bergerak lebih hati-hati lagi. Aku tidak mau mendekam di penjara!” Tigor berkacak pinggang.

Semua anak buahnya terdiam. Tidak ada yang berani angkat bicara, termasuk Tumpal. Tigor memandang Tumpal. Ia pun berjalan mendekati tempat Tumpal duduk. Matanya yang buas tidak melepaskan pandangannya ke arah Tumpal. Tumpal ketakutan, namun ia memberanikan diri menghadapinya.

“Kalau bukan kawan, sudah habis riwayatmu dari dulu! Tahu kau!!” Tigor mendekatkan bibirnya ke telinga Tumpal dan berbicara pelan namun penuh dengan kebencian.

“Ini juga gara-gara kau! Kalau sampai terbongkar, …” Tigor tidak dapat lagi melanjutkan pembicaraannya. Ia sangat marah.

Tumpal terdiam. Ia hanya bisa menunduk dan membisu. Namun di hatinya terpancar kebencian. Ingin rasanya memukul siapapun yang ada didekatnya. Tapi ia tak berdaya.

Setelah puas berteriak dan memaki-maki sesuka hatinya, Tigor terduduk lesu. Ia pun terdiam. Suasana menjadi hening. Setelah agak tenang, Tumpal mencoba bicara.

“Beri saya waktu sedikit lagi, bang. Biar saya sendiri yang menyelesaikan masalah ini.” Tumpal berbicara pelan. Tigor menoleh.

“Sudah sering kau bilang seperti itu. Tapi semua nonsen. Kau bayar sajalah utangmu sama si Cina itu. Aku mau hidup tenang!” Tigor protes. Tumpal terdiam.

“Masih untung aku dan anak buahku yang turun tangan. Kalau sampai anak buahnya yang turun tangan, habislah kau!” Tigor menakut-nakuti Tumpal, kemudian tanpa basa-basi lagi langsung pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Satu persatu anak buahnya Tigor pun ikut meninggalkan ruangan itu. Kini tinggal Tumpal sendiri.

Tumpal tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia benar-benar putus asa. Semua ini gara-gara istrinya. Seandainya anaknya Ucok tidak dititipkan pada orang lain, masalahnya belum tentu seberat ini. Tapi semua sudah terlambat. Tidak ada jalan lain, ia harus segera menyelesaikannya sendiri.

***

 

Tumpal menggedor pintu rumahnya dengan keras. Akibat gedoran tersebut, membuat pintu rumahnya yang terbuat dari kayu bergetar. Ia menggedor sekaligus berteriak memanggil nama istrinya.

“Tiur!! Buka pintunya, cepat!!!” Ia menggedor lagi. Tak peduli dengan tetangganya, ia terus berteriak keras memanggil istrinya.

Tiur terkejut, ia yang sebelumnya berada di dapur terpaksa terburu-buru berjalan menuju ke ruang tamunya. Ia membukakan pintu rumahnya dengan bersungut-sungut. Sudah menjadi kebiasaan suaminya jika pulang ke rumah selalu memarahi dirinya. Namun kali ini perasaannya tidak enak. Sepertinya suaminya sedang marah besar.

“TIUUURR!!!” Ia bermaksud mendobrak pintunya. Belum sempat hal itu terjadi, pintu terbuka.

“Ada apa teriak siang-siang begini! Aku tidak tuli!!” Tiur balik memarahi suaminya.

“Gara-gara kau!! Habis aku dimarahi si Tigor, tau kau!!” Tumpal memaki-maki istrinya, kemudian langsung masuk ke rumahnya.

“Koq aku? Apa pulak hubungannya dengan aku?” Tiur protes tidak terima. Ia menutup pintu kemudian mengikuti langkah suaminya yang berjalan menuju kamar mereka.

“Gara-gara kau kasih anak kita sama si perempuan itu, sekarang begini jadinya!” Tumpal membuka lemari pakaiannya, lalu sibuk mencari-cari sesuatu.

“Kayla maksudmu? Tidak ada aku kasih sama dia. Aku hanya titipkan anak kita. Mana aku tahu kalau begini jadinya.” Tiur membela diri. Tumpal tidak menjawab. Ia masih sibuk mencari-cari sesuatu di lemari pakaiannya.

“Cari apa kau?” Tiur berkacak pinggang.

“Dimana alamat rumah si perempuan itu yang di Siantar?”

“Untuk apa? Kau jangan bikin masalah lagi ya. Sudah cukup hidup kita menderita seperti ini, jangan kau tambah lagi. Kau dengar itu?” Tiur merepet(13)  kesal. Ia memukul pundak suaminya.

“Kau pikir aku mau hidup seperti ini, haa? Kau pikir aku senang?? BAHH!!” Tumpal berdiri, lalu dengan kasar mendorong tubuh istrinya. Ia marah akibat repetan istrinya. Tubuh Tiur yang kurus dan kurang gizi dengan sukses mendarat di kasur tempat tidur mereka yang  tipis dan kotor. Tiur menjerit.

(13)  merepet : mengomel panjang lebar

“Di mana kau sembunyikan? Lekas beritahu!”

“Apa maksud kau minta alamat rumahnya?” Tiur seketika berdiri kemudian memegang tangan kanan Tumpal meminta jawaban.

“Tak ada maksud apa-apa. Aku hanya minta baik-baik anakku!. Itu saja!” Tumpal menepiskan tangannya.

“Bang! Aku mohon, bang! Jangan lagi abang berbuat yang tidak-tidak. Sudah banyak kita kehilangan. Anak pertama kita si Rimbun, harta kita, gara-gara abang tidak bisa menghilangkan kebiasaan abang berjudi dan mabuk-mabukkan. Jangan sampai si Ucok juga jadi korban, bang...” Tiur  menangis sejadi-jadinya, lalu jongkok dan memegang kaki suaminya, berharap suaminya mau mengurungkan niatnya mendatangi Kayla dan merebut anaknya sendiri.

“Aaakhh…!! Sudahlah! Tak usah kau berburuk sangka. Tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah!” Tumpal tak sampai hati melihat rengekan istrinya. Ia memegang tangan Tiur agar segera berdiri.

“Kalau begitu jangan ganggu mereka. Biar aku saja yang bicara baik-baik dengan Kayla….”

Permohonan Tiur meluluhkan hati suaminya. Dengan setengah terpaksa, ia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Tiur tersenyum. Merekapun duduk di tempat tidur mereka.

“Satu lagi bang. Jangan lagi abang berhubungan dengan Tigor dan komplotannya. Mereka sudah buat banyak masalah. Jangan lagi abang masuk ke jurang yang sama. Akan lebih sulit melepaskannya.” Tiur mencoba menasehati suaminya. Tumpal terdiam. Ada rasa penyesalan yang dalam di dalam hatinya.

“Lalu bagaimana aku bisa bayar hutangku yang menumpuk ini? Si Cina itu sudah mengejar-ngejar aku sekarang. Hanya bang Tigor yang bisa menolongku. Ampuuun…! koq begini jadinya?” Tumpal memegangi kepalanya dengan kedua tangannya lalu meremas-remas rambutnya. Kepalanya mendadak pusing.

“Tapi abang kenal dia kan dari Tigor, bang. Jadi bukan Tigor yang menolong kita. Sebaliknya justru ia yang menjerumuskan kita. Itulah akibatnya kalau abang tidak mendengar ucapanku dari dulu. Beginilah jadinya kalau mau cari jalan pintas. Bukannya untung, malah jadi buntung…” Kembali Tiur bicara panjang lebar.

Tumpal meringis. Ia teringat kembali saat pertama kali berjumpa dengan Tigor. Saat itu ia belum terlilit hutang dan belum menikah. Sementara kebiasaannya berjudi sudah ia lakoni sejak masih remaja. Ia sudah mencoba untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu, namun rasanya seperti sudah mendarah daging. Sulit sekali dilepaskan. Mereka pun bertemu di tempat perjudian. Pertemuan semakin intens. Karena senasib, mereka pun menjadi sahabat. Senasib sepenanggungan, begitulah kira-kira menurut mereka. Berbagai masalah mereka tanggung bersama. Mereka jadi tak terpisahkan. Layaknya abang adik, kurang lebih.

Setelah menikah, persoalan pun dimulai. Pekerjaan yang serabutan, tidak cukup untuk menafkahi istrinya, sementara istrinya sedang hamil muda. Ia pun meminta tolong pada Tigor untuk membantu mencarikannya pekerjaan yang layak. Saat itu Tigor cukup sukses. Tak ada pilihan lain, ia mau saja saat Tigor menawarinya pekerjaan yang ternyata menjadi kurir narkoba. Begitu mengetahuinya, Tumpal sangat terkejut, namun tak berdaya. Saat itu ia membutuhkan uang yang banyak. “Sementara saja, sampai kau bisa memenuhi keperluanmu. Setelah itu kau boleh keluar,” begitulah dalih Tigor. Tumpal pun melakoninya.

Ketika Tumpal menceritakan pada istrinya bahwa ia berhasil mendapatkan pekerjaan, tentu saja Tiur sangat gembira, namun Tumpal tidak memberitahukan pekerjaan yang sebenarnya. Ia hanya memberitahukan bahwa ia sudah bekerja  di  sebuah  perusahaan  bank swasta  sebagai  seorang karyawan.

Hari demi hari dan bulan demi bulan berlalu. Kehidupan ekonomi keluarga pasangan Tumpal – Tiur mulai membaik. Mereka pun membeli rumah dan kereta motor sendiri. Mereka juga bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka sehari-hari tanpa berhutang lagi. Saat itu Tiur benar-benar bahagia. Kebahagian itu semakin lengkap saat anak pertama  mereka  lahir.  Anak  itu  diberi  nama  Rimbun.

Namun kebahagiaan itu ternyata hanya sementara saja. Hari yang naas bagi Tumpal pun tiba. Setelah setahun bulan berlalu, Tumpal tertangkap tangan oleh polisi saat sedang melaksanakan aksinya. Saat itulah Tiur baru mengetahui bahwa suaminya terlibat aksi jual beli narkoba. Bagai disambar petir di siang bolong, Tiur jatuh pingsan. Ia merasa dunia terbalik. Kehidupan yang semula sudah membaik, kini berputar  kembali  180  derajat  menuju  kehancuran.

Beruntung, Tumpal dibebaskan oleh Tigor dengan jaminan. Namun di dunia ini tidak ada yang gratis. Tumpal harus bayar harga dan harganya harus lunas dibayar. Ia pun berhutang besar pada Tigor. Semua barang-barang yang ia miliki terpaksa harus digadaikan termasuk rumah dan motor pribadinya untuk membayar hutangnya pada Tigor.

Kehidupan Tumpal kembali carut marut. Mereka kembali jatuh miskin. Ia dan keluarganya terpaksa menumpang di rumah orang tuanya yang hanya seorang petani di kampung. Kebutuhan semakin bertambah, sementara pekerjaan yang ia dapati hanya sebagai sopir angkutan umum. Kebiasaannya berjudi dan mabuk-mabukan yang tidak bisa ia hilangkan ditambah lagi dengan hutang yang kembali menumpuk akibat kalah main judi, membuat Tumpal kembali mendatangi Tigor.

Tigor sendiri sebenarnya sudah tidak mau lagi berurusan dengan Tumpal. Namun kesulitan ekonomi yang kembali melilit temannya ini membuat ia terpaksa menolong Tumpal sekali lagi. Ia pun mempertemukan Tumpal dengan seorang pengusaha keturunan yang tak lain adalah Effendi. Meskipun Effendi adalah seorang pengusaha yang sukses di Medan, Effendi ternyata juga menjalankan “bisnis gelap” yaitu bisnis trafficking atau perdagangan wanita dan anak. Sialnya, Tumpal bekerja dengan Effendi justru di bisnis ilegal tersebut. Tentu saja, karena Tigor menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan Effendi di bisnis tersebut. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Tiur menepuk pundak Tumpal. Tumpal kaget. Ia baru saja membuyarkan lamunan panjang suaminya.

“Minum dulu teh ini, bang. Biar abang tenang.” Tiur memberikan segelas teh hangat pada suaminya. Tiur duduk disebelah kanan suaminya sambil mengelus-elus pundak belakang suaminya, sementara Tumpal meminum teh buatannya dengan perlahan.

“Abang istirahat lah dulu, biar segar. Lagi pula sekarang sudah maghrib.” Tiur menyuruh Tumpal tidur. Ia menuruti keinginan istrinya. Kepalanya yang penat dan pusing memang cocok untuk diistirahatkan dulu. Tak lama Tumpal sudah tidur berbaring di kamarnya.

Tiur menutup pintu kamarnya. Dengan hati yang gundah gulana, ia meninggalkan Tumpal sendirian dan masuk ke dapur. Setelah menyiapkan makan malam untuk suaminya, ia membuka lemari makannya, kemudian dari balik lipatan kayu lemarinya, ia mengambil secarik kertas kecil yang sengaja ia sembunyikan di situ. Isinya adalah alamat rumah Kayla yang di Pematang Siantar. Ia pun teringat anaknya. Hatinya sangat rindu dengan anak bungsunya. Ingin rasanya ia memeluk anak itu dan mendekapnya terus. Terbersit penyesalan yang dalam di benaknya.

Andai aku tak pernah menitipkan anakku pada perempuan itu, ia pasti masih bersamaku sekarang ini, batin Tiur berperang. Tak terasa, ia menitikkan air matanya.

***

Pada suatu hari, di suatu tempat… tiga tahun yang lalu…

Panas yang terik begitu terasa. Sinar matahari yang dipancarkan seperti menembus ke dalam tubuh. Rasanya seperti bukan lagi bumi yang mengitari matahari melainkan matahari yang bergerak mendekati bumi. Namun sinar yang panas itu tidak mengurungkan niat seorang anak perempuan berjalan sambil tangannya digandeng oleh seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan yang berjalan disampingnya.

Anak perempuan itu berusia sekitar 7 tahun. Walaupun kotor dan dekil, tapi sebenarnya anak gadis ini berwajah manis. Ia sama sekali tidak protes saat dirinya berjalan dengan seseorang yang sebenarnya tidak dikenalnya. Ia patuh saja.

Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan mereka. Di dalam mobil itu ternyata juga ada beberapa ibu dan anak kecil yang akan pergi bersama-sama mereka menuju ke suatu tempat yang telah ditentukan.

Setelah mendapat tempat duduk yang sudah disediakan, anak gadis ini duduk. Tangan kanannya masih memegang tangan wanita itu. Tatapannya kosong. Ia hanya memandang lurus ke depan. Ia duduk di depan bersama wanita itu, sementara yang lain duduk berhimpitan di belakang.

Tak lama mobil van itu meninggalkan tempat.

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mereka sampai di sebuah rumah. Anak perempuan itu turun dari mobil dan berjalan gontai mengikuti langkah sekumpulan wanita dan anak-anak yang keluar dari mobil itu dan berjalan di belakang mereka. Mereka diminta berjalan berbaris dan tertib. Tak lama mereka memasuki rumah tersebut. Di dalam nama mereka dipanggil satu persatu, termasuk nama anak perempuan ini.

“Rimbun.” Mendengar namanya dipanggil, anak itu mendongakkan kepalanya tapi tidak menyahut. Ia menunjuk tangannya malu-malu.

“Rosiah beru Tarigan.” Ibu yang sejak tadi memegang tangan Rimbun mengangkat tangannya. Rimbun menoleh dan menatap ibu itu manggut-manggut. O, ibu ini yang namanya Rosiah Tarigan, demikian batin Rimbun. Dengan seksama ia mendengarkan nama ibu-ibu dan anak-anak yang lain dipanggil sesuai giliran.

Setelah selesai didaftar, mereka pun masuk ke kamar masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. Rimbun bersama ibu Rosiah dan lima orang yang lain berada di kamar nomor 6. Kamar tersebut hanya berukuran 3x4 m. Di dalam kamar tersebut terdapat satu buah tikar besar, dua buah kasur dan tiga buah bantal yang telah lusuh dan tipis karena terlalu sering dipakai. Juga terdapat lemari kecil tempat menyimpan pakaian. Kamar itu tidak mempunyai jendela, hanya tiga buah ventilasi kecil. Bisa dibayangkan betapa sesaknya kamar tersebut jika harus diisi dengan tujuh orang.

Dengan berat hati Rimbun duduk di atas tikar besar yang telah robek di bagian pinggirnya dan meletakkan barang bawaannya di sisinya. Ibu Rosiah duduk di sampingnya. Ia mengambil sebuah roti yang disimpan dalam tasnya dan memberikannya pada Rimbun. Setelah itu ia mengambil lagi sebungkus roti dan memakannya sampai habis. Seorang anak laki-laki berumur lima tahun hanya bisa memandang ibu Rosiah yang memakan roti itu dengan lahap tanpa bisa berharap untuk ikut memakannya. Karena kasihan, Rimbun bermaksud memberikannya pada anak itu namun ibu Rosiah mencegahnya. Ia melototi Rimbun dan memukul tangan Rimbun dengan keras. Sambil marah-marah ia menyuruh Rimbun untuk memakannya sendiri. Dengan berat hati, Rimbun pun memakannya dan memandang anak itu dengan perasaan tak enak.

Demikianlah hari-hari Rimbun diisi dengan hari-hari yang penuh kebosanan dan menunggu tanpa kepastian. Rimbun pun teringat akan rumah dan orang tuanya, juga adik kesayangannya. Ia hanya bisa membayangkan mereka tanpa bisa memastikan kapan ia bisa bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Entah kapan.

Esoknya sehabis sarapan pagi, seperti biasa Rimbun menyempatkan diri bermain-main di taman depan rumah. Bersama dengan anak-anak sebaya yang lain, ia larut dalam keceriaan. Mereka bermain petak umpet. Rimbun mendapat kesempatan bersembunyi. Ia mencari tempat yang sulit ditemukan oleh teman-temannya.

Sedang asyik bermain, tampak sebuah mobil Colt butut memasuki pekarangan rumah tersebut dan tanpa ragu-ragu memarkirkan mobilnya tepat di tempat mereka sedang bermain. Seorang laki-laki berkumis tebal dan berwajah garang keluar dari mobil. Tanpa basa-basi orang itu langsung masuk ke dalam rumah disusul dua orang yang lain mengikutinya dari belakang.

Anak-anak itu masih melanjutkan permainannya. Tempat persembunyian Rimbun berhasil diketahui oleh kawannya. Akhirnya giliran dirinya yang harus menutup matanya dan membiarkan kawan-kawannya yang lain bersembunyi. Saat ia membuka matanya dan bermaksud mencari kawan-kawannya, ia melihat sesosok orang yang dikenalnya.

“Bapak??” Rimbun bertanya sendiri. Antara percaya dan tidak, ia mendatangi orang tersebut yang sudah sempat masuk ke dalam mobil Colt butut.

“Paak?? Bapak??” Rimbun memukul kaca mobil belakang yang berwarna hitam pekat dengan maksud orang itu akan membuka pintu atau jendela mobilnya.

Orang itu melihat Rimbun dari dalam namun tidak berniat sedikitpun untuk membuka kacanya.

“Rusli!, jalan Rus!” Orang yang disangka Rimbun adalah bapaknya justru menyuruh temannya yang mengemudikan mobil untuk segera menjalankan mobil dan pergi dari situ.

Melihat keadaan tersebut, membuat Rimbun bertambah curiga. Tiba-tiba perasaannya berkata bahwa orang  itu  adalah  benar  bapaknya.  Rimbun  berteriak  histeris.

“PAAAK!! JANGAN TINGGALKAN RIMBUN, PAK!!!” Rimbun menangis. Dalam hitungan detik mobil segera berlalu dan meninggalkan Rimbun yang sempat mengejarnya dari belakang. Mobil semakin menjauh, Rimbun hanya bisa terpana. Inilah terakhir kalinya ia melihat wajah  bapaknya…

***

 

Setelah beberapa hari lamanya di rumah sakit, Ringgo akhirnya diperbolehkan pulang. Ringgo masih harus beristirahat lagi di rumah selama beberapa  hari  sampai  kondisinya  benar-benar  pulih.

Tak dapat dipungkiri, kebahagiaan terpancar di raut wajah Kayla yang selalu menemani kekasihnya itu saat dirawat di rumah sakit. Meskipun ia sangat lelah namun ia berusaha menutupinya dengan selalu tersenyum. Peristiwa yang terjadi akhirnya bisa dilalui meskipun ia sama sekali tidak pernah menduganya. Kini Kayla hanya bisa berharap bahwa persoalan ini sudah berakhir.

Di dalam mobil Kayla …

 

“Bang, abang benar-benar nggak marah kan?” Kayla membuka percakapan.

Ringgo menoleh heran. “Maksud kamu?”

“Yah, gara-gara aku abang jadi susah…” Kayla menjawab pelan sementara matanya tetap focus memandang ke depan.

“Ohh, itu…” Ringgo menghela nafas, “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Semua sudah terjadi…” Ringgo menghibur Kayla sambil tangan  kanannya  membelai  rambut  panjang  Kayla.

“Abang yakin, para penjahat paok(14) itu pasti tertangkap. Mereka tidak akan berani menculik kamu lagi...” sambung Ringgo.

(14)  paok : bodoh

Kayla pun tersenyum. Sedetik kemudian Ringgo mendekatkan dirinya lalu mendekap erat Kayla dari samping. Kayla merasakan sentuhan kehangatan lelaki impiannya. Inilah salah satu sifat yang paling disukai Kayla dari diri Ringgo. Ringgo benar-benar tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan cara yang elegan. Terlihat jelas Ringgo sangat melindungi Kayla.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Kayla pun merebahkan kepalanya di pundak Ringgo dan membiarkan Ringgo mencium ubun-ubun kepalanya serta membelai rambutnya hitamnya hingga puas.

“Kamu tenang saja. Masalahnya sudah berakhir. Percayalah…” Ringgo berbisik.

“Terima kasih, bang atas semuanya. Kalau nggak ada abang, aku nggak tahu bagaimana jadinya…,” Kayla berterima kasih. Perasaannya mulai tenteram.

Belum selesai Kayla bicara, Ringgo menempelkan jari telunjuknya ke bibir Kayla, berharap Kayla tidak menyelesaikan ucapannya, “Hussshh, jangan bicara begitu. Semua sudah ditentukan. Yang penting kamu selamat…”

Kayla mengangguk senang. Ia semakin merasa tenang sekarang. Senyumnya mengembang sumringah.

“Sudah, jangan bicara itu lagi. Kita pulang ya…” Ringgo mengusap-usap pundak Kayla lembut kemudian perlahan melepaskan dekapannya.

“Iya.” Kayla tersenyum ceria.

Mereka pun memperbaiki tempat duduknya dan bersiap-siap meninggalkan rumah sakit. Kayla menstarter mobilnya dan tanpa menunggu waktu lama, mereka pun pergi…

 

***

 

“Bang…, bangun bang…!” Tiur menggerak-gerakkan tubuh Tumpal. Tumpal tidak bergeming. Ia masih belum tersadar dari mimpinya.

“BAAANGG…!!” Tiur masih terus menggerak-gerakkan tubuh suaminya. Tumpal pun membuka matanya. Ia merasakan tubuhnya diguncang-guncang.  Ia  heran,  Apa  ada  gempa  ya,  pikirnya. 

“Bangun, bang. Ini, ada telepon.” Tanpa basa-basi Tiur langsung menempelkan handphone Tumpal yang sedang berbunyi ke telinga suaminya. “KRRIIINGG!!” Bunyi handphone yang keras sontak membuat Tumpal melompat karena kaget dan dengan mulus Tumpal terjatuh dari tempat tidurnya. “GUBBRRAAKKK!!!” 

“HIHIHI!!!” Tiur tertawa puas. Tumpal marah.

“BAAHH!! Apa apaan kau ini…?! Kau mau aku jantungan, ya?!!” Tumpal berdiri dan hendak memukul istrinya. Tiur tidak takut. Dengan cueknya ia memberikan Hp suaminya yang masih berbunyi, “Nahh, ada yang telepon.”

Tumpal tak jadi marah. Ia mengambil Hp-nya dari tangan istrinya lalu membaca nama orang yang sedang menghubungi dirinya. Benni. Ada apa dia telepon aku pagi-pagi begini?, Tumpal heran.

Dengan segera Tumpal meninggalkan kamarnya lalu menuju ke luar rumah. Sepertinya ia tidak mau percakapannya dengan Benni didengar istrinya.

“Yak. Ada apa Ben?” Tumpal membuka percakapan.

“Bang. Ada kabar buruk.” Jawaban Benni yang to the point langsung membuat Tumpal kaget dan gusar.

“Akh, kau. Pagi-pagi bukannya kasih kabar baik, malah kabar buruk! Bagaimananya kau!!” Tumpal protes.

“Maaf bang. Tapi aku sedang tidak bercanda. Aku serius. Si Effendi sekarang sedang mencari abang. Ia mau menagih hutang abang.” Benni membela diri.

“Apaa? Aakh, yang benar kau Ben? Kau tahu dari mana?” Kini Tumpal benar-benar terkejut. 

“Dari anak buahnya, si Herman. Dia yang beri tahu aku.”

“Terus?”

“Si Cina itu ingin abang segera bayar hutang abang.  Ia  tidak  mau  menunggu  waktu  lama  lagi, bang.”

Wajah Tumpal mulai pucat. Perasaannya tak menentu. “Kalau tidak?”

“Ya abang tau lah. Mereka pasti tidak akan segan-segan menggunakan kekerasan. Jangan sampai anak buahnya bertindak. Kalau sudah bertindak bisa gawat abang.” Benni tidak sedang menakut-nakuti Tumpal. Namun kenyataannya lain, Tumpal pun bergidik.

“Mak jang! Bagaimana ini? Apa bang Tigor sudah tahu?” Tumpal merapatkan bibirnya ke gagang ponselnya. Ia berbicara pelan, takut didengar istrinya. Nada suaranya menyiratkan  kegelisahan.

Benni merasakan kegelisahan Tumpal. Ia pun tidak sampai hati, tapi ia harus menceritakan yang sebenarnya.

“Sepertinya belum bang. Aku saja baru tahu semalam.”

“Jadi bagaimana ini?” Tumpal bingung. Ia seperti menemui jalan buntu.

“Maaf bang. Bukannya tidak mau bantu. Tapi waktu kami bantu abang saja kami nyaris celaka. Untung kami masih bisa lolos. Kalau tidak…?”

Tumpal terdiam sesaat. Ia teringat peristiwa malam itu.

“Gara-gara abang sekarang kami jadi incaran polisi. Terpaksa kami harus sembunyi dulu. Masih untung abang belum masuk daftar buronan…” Benni berbicara panjang lebar. Tumpal tak dapat berkata apa-apa.

“Begini sajalah bang, Abang selesaikan saja dulu masalah abang baik-baik dengan si Ako(15) itu. Mungkin dia masih mau beri kesempatan.” Benni mencoba memberi jalan keluar.

“Satu lagi, bang. Pesan aku, abang jangan dulu temui kami,  terutama  bang  Tigor. Ia  masih  marah  sama abang.”

“….” Tumpal terhenyak. Ia tidak tahu lagi harus bicara apa.

(15) Ako, koko (bahasa Hokian) : abang

“Jadi ini dulu yang bisa aku bantu.  Mudah-mudahan bisa abang selesaikan. OK, bang?” Benni mohon permisi.

“Oh…, ya…ya… Ok lah Ben. Mauliate(16).”

(16)  Mauliate : terima kasih (bahasa batak)

“OK.”

Klik!. Inilah saat-saat yang tidak diharapkan Tumpal. Kini ia benar-benar bingung dan ketakutan. Sekujur tubuhnya lemas. Ia tidak tahu harus bagaimana.

***

 

Tumpal melajukan motor butut pemberian almarhum orang tuanya yang tinggal satu-satunya itu. Hanya motor tua inilah warisan dari orang tuanya yang belum dijual Tumpal. Ia menuju ke suatu tempat, hendak bertemu seseorang.

Motor Tumpal harus melewati gang yang sempit dan berliku. Tak lama kemudian, ia menghentikan  kendaraannya  dan  menuju  ke sebuah rumah petak berlantai dua berwarna coklat.

Warna cat rumah tersebut tampak pudar dan kotor, gerbangnya pun terlihat berkarat, seperti tidak pernah terawat.

Seperti sudah sering ke rumah ini, tanpa segan Tumpal membuka gerbang dan memasuki motornya ke pekarangan rumah lalu setelah mematikan mesin motor tersebut, ia mengetuk.

 

“TOK!!, TOK!!, TOK…!!” Ketukan Tumpal terdengar keras. Suasana cukup sepi dan hening, tak ada yang menyahut. Tumpal mengetuk pintu sekali lagi.

Selang beberapa lama seorang perempuan bertubuh pendek dan montok dan berusia sekitar 45 tahunan menyahut ketukan Tumpal kemudian dengan santainya membukakan pintu rumahnya dan menyilahkan Tumpal masuk. Setelah Tumpal masuk, perempuan itu mengunci pintu rumahnya. Di dalam rumah, mereka terlibat pembicaraan yang serius.

 

Tak jauh dari sana, di dalam sebuah mobil Atoz berwarna perak, tampak seorang wanita berambut ikal panjang dan berkacamata hitam sedang memperhatikan gerak-gerik Tumpal dengan seksama dan penuh curiga …

BERSAMBUNG

 

About The Author

Arya Janson Medianta 46
Ordinary

Arya Janson Medianta

0813 7652 0559 (WA) Arya_janson@yahoo.com
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel