15 Hal yang Hanya Dipahami oleh Penulis

21 Feb 2018 05:19 1148 Hits 0 Comments
Hal-hal ini sangat menyebalkan penulis

Memilih jenis pekerjaan apapun akan berhadapan dengan konsekuensi-konsekuensi, termasuk pekerjaan sebagai penulis.

Banyak yang tidak menganggapnya sebagai pekerjaan. Mungkin sebatas hobi, pengisi waktu luang, aktivitas yang mudah dilakukan, atau amal. Penghargaan yang diberikan cenderung rendah atau bahkan gratisan. Hal ini tampak dari pembicaraan beberapa orang, baik yang memang kenal, baru kenal, atau tidak kenal sama sekali.

Berikut ini adalah 15 hal yang hanya dipahami oleh penulis:

1. Dianggap pengangguran

Penulis sering dianggap pengangguran dan nggak ngapa-ngapain di rumah. Orang cenderung menilai kerja itu ya di kantor, luar rumah, atau pakai seragam.

 

2. Tulisin dong kisahku!

Nulis doang, kagak dibayar.

 

3. Minta bukunya dong

Minta? Beli!

 

4. Benerin dong tulisanku

Baca itu kan butuh waktu ya, apalagi benerin tulisan. Belum lagi kalau tulisannya sangat amburadul. Karena mereka memang hanya menulis, tidak mengedit atau merevisi. Sedangkan penulis yang sesungguhnya menulis dengan seni dan teknik tertentu, juga riset.

Artinya, mereka mengurangi jatah waktu penulis untuk bekerja mencari uang.

 

5. Ajarin dong!

Ini lebih ke arah konsultasi gratis. Ujung-ujungnya bisa mencakup poin ke-4 juga.

 

6. Ini lho tuliskan!

Orang-orang yang termasuk ke dalam tipe ke-6 biasanya merasa kalau dia punya tema atau sesuatu yang menarik untuk ditulis. Sehingga dia nyodor-nyodorin ceritanya, tapi nggak detail dan nggak bayar.

 

7. Ini lho terbitkan!

Yang ini malah salah sambung. Terbitkan ya ke penerbit, bukan ke penulis.

 

8. Gampang, tinggal kirim ke yang lain

9. Gampang, tinggal bikin lagi

10. Digantung penerbit atau media

Nggak dikabar-kabari, diundur penerbitannya, dan lain-lain.

11. Kerja penulis itu ringan, penerbit yang berat

12. Royalti tidak tepat waktu

13. Perjanjian penerbitan yang timpang (berat sebelah) /pelanggaran perjanjian penerbitan

14. Plagiasi dan pencurian ide itu biasa, risiko penulis

15. Royalti yang tidak jelas itu biasa, risiko penulis

 

Poin ke-8 sampai ke-15 adalah tentang dijejalkannya paham yang menggampangkan dan meremehkan pekerjaan/proses menulis.

Akhirnya, di kalangan sesama penulis pun tidak bersatu. Saya bukan fans Tere Liye tetapi saya mengagumi gebrakannya tentang pajak. Setidaknya, dia berani beda.

Menulis sebagai pekerjaan bukanlah menulis sekadarnya. Para penulis belajar bertahun-tahun untuk memperbaiki tekniknya, melakukan riset, mencari bahan tulisan, dan mempergunakan waktunya secara profesional untuk menulis.

Bila Anda pekerja kantoran, waktu profesional Anda Anda gunakan untuk tugas-tugas kantor. Bila Anda seorang wiraswasta, waktu profesional Anda Anda gunakan untuk mengerjakan usaha wiraswasta tersebut. Bila Anda menjalankan bisnis online, waktu profesional Anda Anda gunakan untuk menjalankan bisnis online tersebut. Sama juga dengan penulis, waktu profesional mereka mereka gunakan untuk menulis. Bukankah begitu arti dari sebuah pekerjaan?

Sayangnya, banyak orang yang tidak tahu atau pura-pura tak tahu.

 

 

Sumber gambar: Pixabay

Tags author Buku

About The Author

Dini Nuris Nuraini 28
Pena

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel