Kalau ada satu kalimat yang mungkin pernah bikin designer menghela napas panjang, kalimat itu adalah, “coba dibikin lebih bagus ya.” Sekilas memang tidak ada yang salah. Kalimatnya sopan, tidak marah, dan terdengar sederhana. Tapi masalahnya, “lebih bagus” itu yang seperti apa?
Bayangkan kamu sedang mengerjakan sebuah desain poster. Warna sudah dipilih, foto sudah dicari, tulisan sudah ditata. Setelah berjam-jam duduk di depan layar, akhirnya desain dikirim. Beberapa saat kemudian datang balasan yang isinya hanya tiga kata.
“Bikin lebih bagus.”
Selesai.
Tidak ada lingkaran merah di bagian tertentu. Tidak ada catatan. Tidak ada petunjuk. Hanya tiga kata yang terdengar sederhana, tapi bisa membuat satu ruangan penuh designer mendadak terdiam. Lucunya, kejadian seperti ini bukan sesuatu yang langka. Banyak designer pernah mengalaminya. Bahkan ada yang bercanda kalau “bikin lebih bagus” sudah seperti bahasa resmi dalam dunia revisi.
Yang sering dilupakan adalah setiap orang punya definisi bagus yang berbeda-beda.
Ada yang menganggap desain bagus itu yang penuh warna. Ada yang justru suka desain yang bersih dan sederhana. Ada yang merasa tulisan besar lebih menarik. Ada juga yang lebih suka gambar yang mendominasi.
Ketika seseorang hanya mengatakan “kurang bagus”, designer sering kali berada dalam posisi menebak-nebak. Hari ini warna diganti. Besok font diganti. Lusa tata letaknya diubah lagi. Setelah semuanya dicoba, kadang muncul komentar yang tidak kalah terkenal.
“Yang tadi sebenarnya sudah lumayan.”
Kalimat yang bagi sebagian designer terasa seperti plot twist.
Padahal kebanyakan designer bukan keberatan menerima revisi. Revisi memang bagian dari pekerjaan. Tidak ada desain yang langsung sempurna sejak percobaan pertama. Yang bikin pusing justru ketika revisi datang tanpa arah.
Ibarat naik ojek online, tujuan akhirnya tidak diberitahu, tetapi pengemudinya diminta langsung jalan.
“Pokoknya cari jalan yang paling bagus.”
Ya bingung.
Hal yang sama sering terjadi dalam proses desain. Banyak orang sebenarnya tahu ada sesuatu yang kurang dari sebuah desain, tetapi kesulitan menjelaskan apa yang mereka rasakan. Akhirnya pilihan paling mudah adalah mengatakan, “coba dibikin lebih bagus.”
Padahal komentar sederhana seperti “tulisannya kurang kelihatan”, “warnanya terlalu ramai”, atau “kesannya belum cocok dengan produk kami” biasanya jauh lebih membantu.
Designer tidak harus selalu setuju dengan semua masukan. Namun setidaknya ada petunjuk yang bisa dijadikan pegangan. Fenomena ini menunjukkan bahwa desain memang bukan sekadar urusan membuat sesuatu terlihat menarik. Ada banyak hal yang bermain di dalamnya. Selera, kebiasaan, pengalaman, target pasar, bahkan suasana hati seseorang bisa memengaruhi cara mereka melihat sebuah desain.
Mungkin itu juga alasan kenapa dua orang bisa melihat desain yang sama tetapi memberikan pendapat yang bertolak belakang. Yang satu bilang keren, yang satu bilang biasa saja.
Tidak ada yang benar-benar salah.
Karena pada akhirnya desain bukan matematika yang hasilnya selalu pasti. Ada ruang untuk pendapat dan selera di dalamnya. Jadi kalau suatu hari kamu bekerja sama dengan seorang designer dan merasa ada yang kurang dari hasil desainnya, coba jelaskan sedikit lebih banyak. Tidak perlu menggunakan istilah desain yang rumit. Cukup ceritakan bagian mana yang terasa mengganjal atau belum sesuai harapan.
Percaya atau tidak, satu kalimat penjelasan tambahan sering kali jauh lebih berguna daripada kalimat “bikin lebih bagus”.
Dan bagi para designer, kalau besok pagi ada pesan masuk berisi revisi yang hanya terdiri dari tiga kata itu, tenang saja. Kemungkinan besar kamu tidak sendirian. Jadi, lain kali kalau melihat desain dan merasa masih ada yang kurang, jangan cuma bilang, “bikin lebih bagus.” Coba lihat lagi sebentar dan cari tahu apa yang sebenarnya membuat desain itu terasa kurang pas. Mungkin warnanya, tulisannya, gambarnya, atau memang konsepnya yang belum sesuai. Hal kecil seperti itu kelihatannya sepele, tapi bagi designer bisa membuat proses revisi jadi jauh lebih jelas. Toh, tidak ada yang berharap designer bisa membaca pikiran hanya dari satu kalimat.