Plimbi.com - Dalam beberapa tahun terakhir ada banyak perusahaan besar seperti berlomba-lomba adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk tujuan tingkatkan efisiensi kerja. Tidak sedikit yang pangkas ribuan karyawan karena yakin AI mampu menggantikan sebagian besar pekerjaan manusia tetapi saat ini tren tersebut mulai berubah.
Sejumlah perusahaan teknologi hingga otomotif kini justru memilih kembali rekrut tenaga-tenaga kerja manusia setelah menyadari bahwa AI belum mampu sepenuhnya gantikan peran manusia terutama pekerjaan yang butuh kreativitas, pengalaman hingga pengambilan keputusan.
Berikut adalah empat perusahaan yang mengaku terlalu bergantung kepada AI dan saat ini kembali membuka lowongan kerja untuk manusia.
1. Ford kembali merekrut ratusan tenaga engineer manusia
Produsen otomotif yang berasal dari Amerika Serikat, Ford menjadi salah satu perusahaan terbaru yang mengubah strategi operasional perusahaan. Perusahaan ini mengaku terlalu ambisius andalkan AI dalam urusan pengembangan produk yaitu kendaraan.
Perusahaan sempat mengharapkan sistem AI mampu menghasilkan desain-desain dan menjaga kualitas produk secara otomatis tetapi pada kenyataannya hasil yang diperoleh belumlah sesuai dengan harapan.
Pada akhirnya Ford merekrut kembali lebih dari 350 engineer termasuk sejumlah mantan karyawannya. Para insinyur bersangkutan bertugas untuk menemukan penyebab masalah pada produk mereka. Melatih generasi engineer berikutnya dan menyempurnakan sistem AI yang digunakan perusahaan.
Setelah mengembalikan peran manusia dalam proses pengembangan, Ford berhasil menekan biaya-biaya garansi dan penarikan produk (recall) sekaligus meningkatkan kualitas kendaraannya.
2. Klarna mengakui terlalu berlebihan memakai tenaga AI
Perusahaan fintech yang berasal dari Swedia yaitu Klarna juga menjadi sorotan karena sebelumnya mengganti sebagian besar layanan pelanggan dengan chatbot AI. Pada tahun 2024, perusahaan memangkas sekitar 1200 karyawan termasuk ratusan petugas customer service yang digantikan AI.
Meskipun chatbot mampu mempercepat waktu respons para pelanggan dari sekitar 11 menit menjadi hanya 2 menit saja, perusahaan menilai hasil akhirnya belum cukup memuaskan.
CEO Klarna yaitu Sebastian Siemiatkowski mengakui bahwa perusahaan terlalu agresif dalam mengadopsi AI. Saat ini Klarna kembali membuka berbagai posisi baru dengan fokus meningkatkan kualitas layanan pelanggan dan produktivitas.
3. Salesforce pada akhirnya memilih untuk tetap mengandalkan tenaga manusia
Perusahaan software Salesforce juga sempat memangkas sekitar 4,000 karyawan di divisi layanan pelanggan. Posisi tersebut sengaja digantikan oleh agen AI yang mampu menangani berbagai permintaan para pelanggan secara otomatis. Namun ada sisi positif di sini yaitu pihak perusahaan tidak full tinggalkan tenaga-tenaga manusia.
Perusahaan kini mengaplikasikan sistem kerja yang sifatnya kolaboratif melalui konsep omni channel supervisor yaitu AI dan tenaga manusia yang bekerja bersama-sama untuk memberikan layanan yang lebih baik. Pendekatan ini dinilai menjadi lebih efektif jika dibandingkan menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI.
4. Perusahaan IBM kembali putuskan perbanyak rekrutmen
IBM sebelumnya memangkas rerata 2,700 karyawan sebagai bagian dari transformasi berbasis AI. Namun memasuki tahun 2026, perusahaan justru mengumumkan rencana untuk melipatgandakan perekrutan karyawan entry level hingga tiga kali lipat.
Menurut pendapat IBM, tenaga dari AI memang cerdas kerjakan teknis contohnya adalah coding dasar untuk tugas-tugas administratif. Namun perusahaan tetap membutuhkan talenta-talenta muda yang mampu melakukan komunikasi yang ramah dengan klien. Memahami keperluan dasar bisnis serta mampu kolaborasi dalam tim dan mengambil keputusan strategis.
IBM menilai jika perusahaan berhenti merekrut talenta-talenta muda maka akan terjadi kekurangan sumber daya manusia berkualitas di masa depan.***