Ngoding Terlihat Keren, Tapi Kenapa Banyak yang Berhenti di Tengah Jalan?

26 Jan 2026 15:55 51 Hits 0 Comments Approved by Plimbi
Belajar ngoding memang terlihat keren, tapi realitanya penuh tantangan. Banyak orang berhenti di tengah jalan karena ekspektasi yang terlalu tinggi, seringnya error, dan capek secara mental. Padahal, stuck dan bingung adalah bagian normal dari proses belajar coding. Artikel ini membahas alasan kenapa banyak orang menyerah belajar programming dan menekankan bahwa yang bertahan di dunia IT bukan yang paling pintar, melainkan yang mampu konsisten dan tahan menghadapi proses.

Holaaa Sobat Plimbi!! ,
Kalau kamu perhatiin, dunia coding itu kelihatannya keren banget ga sihh . Banyak konten di media sosial yang selalu  nunjukin betapa seruunya asiknya jadi developer: kerja depan laptop, ngopi santai, fleksibel, dan katanya gajinya menjanjikan. Nggak heran kalau banyak orang tertarik masuk ke dunia programming.

Di awal,semua berjalan dengan motivasi-motivasi yang masih tinggii, semuanya terasa seru. Install tools, ikut course, nonton tutorial, dan mulai nulis baris kode pertama. Bahkan nggak jarang orang update status, “lagi belajar ngoding”. Tapi anehnya, beberapa bulan kemudian, banyak yang menghilang. Laptop masih ada, tutorial masih tersimpan, tapi semangatnya  entah ke mana dan motivasi nya sudah habis.

Pertanyaannya: kenapa banyak orang berhenti di tengah jalan?Apa Mereka Menyerah?
Padahal peluang di dunia IT masih terbuka lebar.

Jawabannya nggak sesederhana “karena malas”.

 

Ekspektasi Terlalu Tinggi, Realita Terlalu Keras

Salah satu penyebab utama orang berhenti ngoding adalah ekspektasi yang nggak realistis. Banyak yang masuk dunia coding dengan bayangan semuanya bakal cepat dan mulus.

Ekspektasinya:

  • belajar sebentar, langsung paham
  • ikut tutorial, kode pasti jalan
  • bikin aplikasi atau projek akan berjalan mulus

Realitanya:

  • tutorial jalan, tapi kode sendiri error
  • satu bug kecil bisa makan waktu berjam-jam
  • makin belajar, makin sadar banyak yang belum dipahami

Di titik ini, banyak yang kaget.
Ternyata ngoding itu lebih banyak mikir daripada ngetik, dan itu melelahkan secara mental.

 

Error Itu Capek, Bukan Memalukan

Error adalah  makanan sehari-hari programmer. Tapi buat pemula, error sering terasa seperti tamparan mental.

Bayangin sudah nyoba berbagai cara, googling, nanya sana-sini, tapi error masih muncul. Rasanya campur aduk antara kesel, bingung, dan ngerasa diri sendiri nggak mampu.

Padahal faktanya, error itu bukan tanda kegagalan.
Error adalah bukti bahwa kamu sedang benar-benar berhadapan dengan masalah nyata, bukan sekadar meniru.

Developer profesional juga ketemu error setiap hari. Bedanya, mereka sudah terbiasa dan nggak mengaitkan error dengan harga diri.

 

Ngoding Itu Lebih ke Mental daripada Otak

Banyak orang fokus belajar:

  • bahasa pemrograman apa
  • framework apa
  • tools apa yang harus dikuasai

Tapi lupa satu hal penting: mental bertahan.

Ngoding itu ngajarin:

  • sabar saat solusi belum ketemu
  • teliti melihat detail kecil
  • berani salah dan memperbaiki
  • menerima bahwa progres itu lambat

Yang bikin orang berhenti sering kali bukan karena mereka nggak pintar, tapi karena capek menghadapi prosesnya.

 

Terlalu Sering Membandingkan Diri

Di era media sosial, membandingkan diri jadi makin gampang. Lihat orang lain:

  • “baru belajar 3 bulan sudah bikin aplikasi”
  • “kok dia cepat banget ngerti?”
  • “gue kok masih error terus?”

Yang jarang kita lihat adalah:

  • berapa lama mereka belajar sebelumnya
  • berapa kali mereka gagal
  • seberapa sering mereka stuck dan hampir nyerah

Setiap orang punya jalur dan tempo sendiri.
Ngoding bukan lomba cepat-cepatan. Ini maraton panjang.

 

Banyak yang Berhenti Saat Sudah Hampir Bisa

Ini ironis tapi sering terjadi.

Banyak orang berhenti bukan di awal, tapi justru saat sudah melewati fase dasar. Saat materi mulai lebih kompleks, logika mulai bercabang, dan error nggak bisa diselesaikan dengan satu kali copy-paste.

Di fase ini, sebenarnya kemampuan sudah mulai terbentuk. Tapi karena capek dan frustrasi, orang memilih berhenti sebelum melihat hasilnya.

Padahal, sedikit bertahan lagi sering kali bikin segalanya mulai masuk akal.

 

Yang Bertahan Bukan yang Terpintar

Fakta jujur di dunia IT:
yang bertahan bukan selalu yang paling pintar, tapi yang paling tahan proses.

Developer yang bertahan biasanya:

  • mau balik ke dasar tanpa gengsi
  • mau bertanya tanpa malu
  • mau istirahat tanpa menyerah
  • mau konsisten walau pelan

Sedikit demi sedikit, kemampuan mereka naik. Dan suatu hari, orang lain mulai bilang, “wah, jago ya”. Padahal yang terjadi hanyalah proses panjang yang nggak kelihatan.

 

Berhenti Itu Boleh, Menyerah Total Itu Sayang

Ada kalanya kamu memang butuh jeda. Capek, pusing, dan mumet itu manusiawi. Istirahat sebentar itu wajar.

Tapi beda antara istirahat dan menyerah.

Istirahat itu buat ngisi ulang tenaga.
Menyerah itu nutup pintu sebelum tahu sejauh apa kamu bisa berkembang.

Kalau kamu masih kepikiran coding walau capek,
kalau kamu masih penasaran walau sering error,
itu tanda kamu masih cocok di sini.

 

Penutup

Ngoding memang nggak selalu menyenangkan. Ada pusingnya, ada mumetnya, ada momen pengin berhenti. Tapi justru di situlah proses pembentukan mental seorang developer.

Yang bertahan bukan karena mereka nggak capek,
tapi karena mereka tetap jalan walau capek.

Tags

About The Author

Rizwan Herlan Zailani 17
Novice

Rizwan Herlan Zailani

menampilkan artikel yang menarik
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel