Susah Payah Melawan Hoax, Mending Blokir saja Medianya

10 Feb 2020 10:14 314 Hits 1 Comments Approved by Plimbi
Jika kondisi terus begini. Maka buat apalagi kita susah payah mengatasi hoax seperti ini. Lebih baik tutup atau blokir saja media penyebar hoax. Facebook, Whatsapp, Youtube dan lainnya blokir saja.

Indonesia boleh berlegah untuk sementara karena virus Corona belum ditemukan di Tanah Air, ditengah dunia yang sedang bergelut melawan wabah penyakit tersebut.

Namun hal demikian sesungguhnya bukan sebuah prestasi yang terlalu dibanggakan. Karena dibalik itu justru di Indonesia malah disibukan dengan virus Corona versi +62. Miris ketika dunia bergelut melawan wabah penyakit bernama 2019 Novel Corona Virus, kenapa kita masih saja sibuk urusi hoax.

Kenapa kita mesti berbohong dan percaya kebohongan. Padahal masyarakat kita termasuk masyarakat yang religius, yang percaya bahwa kejujuran merupakan perbuatan mulia. Tapi kok faktanya kabar bohong tetap tumbuh subur.

Memegang teguh kejujuran juga sebaiknya lebih selektif dalam menerima kabar yang datang. Dan dengan ikut menyebarkan kabar bohong sama artinya kita telah gak jujur lagi. Sekalipun beralasan "dari grub sebelah".

Tapi ya sudah ya. Bangsa ini sudah susah payah dan habis banyak energi untuk mengurusi hoax atau kabar bohong. Sejak rentenan peristiwa politik 2014 hingga 2019. Indonesia sudah cukup dibuat terbelah dan "kacau". Yang mana kita tahu situasinya semakin diperparah oleh hoax. Kini diawal 2020, perkara genting sekelas Virus Corona masih juga diperparah hoax.

Mungkin kalau di daratan China sana ada yang berani menyebar hoax terkait virus Corona sudah pasti langsung diciduk. Bahkan ada yang kritik penanganan virus Corona ini saja akan diancam kurungan penjara.

Lantas mengapa di Indonesia hoax tetap menjadi masalah? Memang tidak apple to apple ketika membandingkan Indonesia dan Tiongkok dalam konteks keterbukaan informasi dan hoax.

Indonesia sudah terlalu banyak habis energi melawan hoax. Kita susah payah menangkal hoax, kampanye anti hoax dimana-mana, tapi hasilnya mana?

Sudah berbui mulut kita kampanye anti hoax. Tapi semakin banyak juga kaum rebahan yang kerjaannya scroll sosial media. Gak peduli siapa orangnya, jika orang tersebut hanya menggunakan gawainya untuk scroll di media sosial saja dan mempercayai informasi didalamnya. Maka orang tersebut rawan terdampak kabar hoax.

Dulu mesin pencarian Google dianggap pembodohan karena membuat orang jadi malas membaca. Sekarang eranya media sosial, kondisinya bisa dikatakan lebih parah. Orang jadi lebih malas cari informasi. Terlalu manja dan dicekoki terus informasi hanya dari media sosial.

Sistem media sosial ini sebenarnya jahat. Seperti sebuah tempurung. Dan penggunanya sebagai katak. Jika pengguna malas untuk cari informasi selain yang didapat dari feed media sosialnya. Maka jadilah seperti katak dalam tempurung.

Sebenarnya media sosial tidak dirancang seperti demikian. Facebook, Twitter, Youtube, Instagram dan lainnya tidak pernah menyatakan pihaknya sebagai portal berita resmi maupun sumber literasi terpercaya. Hanya kitanya saja yang salah kaprah memanfaatkannya. Apalagi dengan Whatsapp dan aplikasi pesan instan lainnya. Kita tahu fungsinya untuk komunikasi. Tapi saat ada yang broadcast suatu info, maka dipercayai juga. Padahal belum tentu ada yang menjamin kebenarannya.

Sudahlah buat apalagi kita habiskan banyak tenaga dan pikiran untuk melawan hoax. Lebih baik menyerah saja. Tokh buat apa bila orang-orang memang demennya rebahan dan scroll media sosialnya. Belum lagi kaum ansos dan antipati lainnya.

Buat apalagi kampanye anti hoax dan lainnya. Mereka juga gak dengar. Ah entahlah mau ngomong apalagi.

Susah payah kita melawan hoax. Berantas hoax dengan menangkap pelakunya. Tapi gitu lagi, gitu lagi. Miris tahu gak ketika tahu orang ketakutan virus Corona karena mengira virus ini menyebar lewat udara secara luas, terbang-terbang dia, lewat tatapan mata dan gilanya ada yang bilang Virus Corona tertular lewat hp xi*mi.

Jika kondisi terus begini. Maka buat apalagi kita susah payah mengatasi hoax seperti ini. Lebih baik tutup atau blokir saja media penyebar hoax. Facebook, Whatsapp, Youtube dan lainnya blokir saja.

Tokh perusahan media sosial tersebut sudah meraih banyak penghasilan dengan penggunanya yang lebih dari separuh penduduk Bumi ini. Masa iya blokir konten hoax tidak bisa.

Seharusnya hoax ini tanggung jawab mereka. Facebook, Whatsapp, Youtube dan lainnya seharusnya paham ketika mereka menerima milyaran pengguna. Maka otomatis itu menjadi tanggung jawabnya untuk memberi pelayanan terbaiknya. Masa iya penggunya menerima konten hoax, mereka diam saja.

Persamaannya seperti kita punya rumah. Lalu ada tamu masuk kerumah dan melakukan tindakan yang gak sewajarnya. Logikanya kita akan marah dong, dan mengusir tamu tersebut. Nah, pihak media sosial juga semestinya begitu. Jangan hanya maunya raup pundi-pundi Dollar dari iklan.

Otoritas di Indonesia juga mesti tegas pada perusahan media sosial dan flatform digital lainnya. Jika kedapatan ada kabar hoax di medianya, maka ancam dalam 24 jam harus ditertibkan. Jika tidak, blokir saja sudah.

Iya, kenapa gak Facebook, Whatsapp, dan lainnya diblokir saja. Jika tidak mampu menertibkan konten hoax di medianya.

Sudahlah gak usah bicara lagi soal kebebasan berpendapat. Jika kenyataannya lebih banyak mudaratnya, maka keputusan memblokir media sosial merupakan jalan keluar membrantas hoax.

Memang betul lebih baik cara persuasif seperti mendidik masyarakat untuk anti hoax. Tapi melihat kondisi masyarakat Indonesia sekarang yang minim literasi dan gak terlalu peduli dengan semangat anti hoax. Rasanya cara-cara lama untuk memberantas hoax di Indonesia sudah tidak lagi efektif.

Proses mengajari dan bikin orang sadar betapa bahayanya hoax sesungguhnya akan memakan waktu lama. Selama itu juga mesti ada cara konkret serta agresif untuk menekan angka hoax hingga nol. Blokir saja media sosialnya. That's it!

Tags

About The Author

Rianda Prayoga 38
Ordinary

Rianda Prayoga

Gak banyak bicara, sedikit cuek tapi lumayan ramah

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel