LENSA NEGATIF

30 Sep 2016 21:11 1380 Hits 0 Comments
Lensa Negatif sebuah cerpen tentang sisi keindahan muncul dari negatif juga. Sebuah cerpen romance yang menguak tentang masa lalu.

Lensa Negatif

Oleh: Baiq Cynthia

Manik mataku merasa panas saat beberapa kilasan cerita melesat dengan cepatnya. Kaki terus berlari meski bercak-bercak bening mulai berceceran di antara sepasang sepatu yang bergantian berpacu. Mendongak ke atas, langit begitu kelabu dan sepertinya hujan deras akan datang.

Merasa kehilangan tujuan. Menempuh tempat tinggal masih 15 menit lagi. Hanya tempat kecil bertuliskan kedai--bisa menampung sementara. Jemari panjang mulai menyeka mata yang mulai basah. Sedikit terengah. Aku langsung duduk di dekat jendela bening ujungnya ada ukiran kayu.

Beberapa menit datang seorang lelaki dengan catatan kecil dan pensil.

“Coklat hangat,” jelasku membuang muka.

Sepertinya tak perlu menunggu lama, akhirnya dia pergi.

Disandarkan kepala yang sedikit pening, mungkin akan lebih ringan jika segelas susu hangat yang telah mendarat di meja diminum. Rasa letih ternyata langsung memeluk badan gelas tanpa merasa panas. Hatiku lebih panas.

 

Hari ini untuk pertama kali aku tak hadir di mata kuliah yang paling aku minati. Bukan karena tertidur atau macet atau mendung. Bukan! Tadi, saat aku di kantin—duduk menanti jam kuliah selanjutnya. Meletakan buku dan berkas seperti biasanya di atas meja. Tanpa aku tahu muncul sosok yang tak kukenal menodai lembaran putih yang akan aku serahkan kepada dosen. Minuman kopi dinginnya tumpah tepat di atas meja aku duduk. Tak tahu asal makhluk keturunan adam yang wajahnya sekilas mirip artis—Pelantun Nuansa Bening.

“ Maaf mbak, saya gak bermaksud untuk....”

Rona merah kini dominan di wajahku. Aku langsung lari secepat mungkin. Aku melupakan jam kuliah 5 menit lagi yang akan dimulai. Hari itu benar-benar dongkol. Bahkan datanya masih tersimpan di dalam laptop yang dipinjam temanku.

Kuliah kali ini, dengan berat hati absen. Mungkin dosen mata kuliah Statistik akan marah besar. Mengingat aku harus presentasi hari ini. Bodohnya aku tak membeli map. Sungguh rasanya aku ingin menjerit. Namun, ini bukan tempat yang tepat.

Hujan turun sangat deras, perlahan menghapus luka di hati. Menatap lurus ke arah jalanan yang lengang. Dering handphone notifikasi pesan. Mau tak mau harus merogoh tas. Benar saja. Dosenku mencari. Aku abaikan.

Sesaat kemudian ada panggilan masuk, tanpa melihat layar, aku angkat.

“Hallo! Apa kabar?” rasanya puncak kepala meluap. Aku lihat dari no tak dikenal.

“Ini siapa? Please jangan ganggu aku!”

“Mel, ini Adwan,” seketika sambungan terputus. Bukan karena bateraiku, tapi memang hilang. Kurasa jaringan buruk.

Aku merasa familiar dengan nama itu. Tapi, aku tak ingat siapa.

Urat kepala rasanya berdenyut. Hari ini benar-benar aneh. Tugas berlumur  kopi, absen kuliah, hujan, dan Adwan. Mengingat sesuatu yang telah lama, seperti berusaha mengingat orang yang tak dikenal.

Kini nada notifikasi muncul di chat. Adwan. Satu kalimat pendek membuat leher terasa tercekik. Separuh jiwaku terasa hilang dan kini aku lunglai.

“Bisa ketemu?”

“Bisa, lokasi?”

Dengan segera kubagikan lokasi tempat memesan coklat hangat. Tempat biasa aku melarikan diri, lebih tepatnya menenangkan diri.

16 menit kemudian. Muncul pesan lagi, Adwan sudah sampai. Aku hanya memberi tahu nomor meja. Aku melihatnya dari celah jendela. Postur ideal dan mengingatkan aku pada sosok kelam.

“Maaf lama menunggu,” wajahnya kini depan mejaku—dia menarik kursi dan kita duduk berhadapan.

Aku diam. Beberapa detik sunyi. Kemudian dia mulai lagi.

“Sayang kenapa sih kamu pergi?”

“Sayang? Sejak kapan kamu sok genit gitu?!” Aku mendengus kesal.

“Okay Nevermind,” wajahnya yang senduh seolah mengisyaratkan sesuatu.

“Ceritakan maksud pesan itu,” sesekali aku menyeruput coklat yang mulai dingin.

Bibirnya mulai bergerak, tanganku meletakan kembali gelas berisi separuh cairan berwarna gelap. Aku meresapi kejadian-kejadian yang diceritakan. Tanpa terasa mataku berair. Secepat itukah semuanya terjadi. Dengan sigap menyeka bulir bening yang hendak membasahi pipi. Mataku tertutup beberapa saat.

Merasakan jika aku yang terlibat di sana. Akan sakit sekali. Menarik napas panjang. Lebih menajamkan pendengaran. Adwan terus bercerita, tangannya bergerak-gerak. Seperti mendongeng anak-anak kecil. Hingga berhenti di sebuah nama. Andrean.

Jleb, hatiku terasa tertikam. Untuk beberapa menit rasanya tak ada detak lagi.

Peluh mulai menetes. Aku mati-matian menahan emosi yang sewaktu-waktu akan meledak. Tapi, dihembuskan napas kecil. Rasanya aku mual dan pening. Cerita yang dibawa Adwan sungguh mendramatisir juga sangat mencekam. Ini bukan seperti cerita hantu dan thriller yang menakutkan juga berdarah-darah. Lebih dari itu. Ini menyakiti relung hati.

“Stop, Adwan aku izin ke toilet sebentar,” Lelaki berwajah tirus hanya mengangguk kecil.

Segera mungkin berjalan sambil membawa tasku menuju toilet. Toilet lengang dan aku basahi wajah. Mataku merah, kini eye-linerku berantakan. Wajah yang biasanya selalu mengembang, tersenyum tipis. Kini tak ada lagi. Bahkan mirip dengan badut. Hidung merah, mata sembab dan bibir kering. Jelek sekali.

Sesegukan aku menangis kini tak ditahan lagi. Aku benar-benar menangis. Bagai rangkaian film yang diputar kebelakang. Semuanya begitu jelas. Sesekali aku menahan diri untuk keluar.

Kupoles bibir dengan lipgross, wajahku dengan bedak tipis agar aura pucat hilang. Merapikan busana panjang dan tersenyum. Manis!

Tak membuang waktu aku kembali dan Adwan sudah menghilang. Hanya secarik kertas tisu di atas meja yang memuat satu paragraf.

Itu murni cerita aku tentang Andrean. Aku harap kamu sadar. Cobalah melihat sisi baiknya ambil hikmahnya saja. ~Adwan~

Seulas senyum kini tulus aku keluarkan. Hujan sudah reda, suasana kota Malang begitu dingin namun, aku cukup tertolong dengan baju berbahan tebal berwarna toska.

 

Segera menuju kasir kemudian pergi. Kakiku terus melangkah, entah akan kembali ke kampus atau rumah kontrakan. Langit masih mendung beberapa dahan basah. Aroma sejuk mengisi rongga dada yang sesak. Jadi, aku putar arah. Menuju tempat aku bercanda dengan buku dan khayalanku. Ya! Aku suka membaca. Betah meski berjam-jam di sana.

Sejak aku putus dengan lelaki yang tingginya hampir menyamai aku. Lelaki yang biasanya menemani aku mengerjakan tugas. Sosok yang biasa menemani belanja buku dan perlengkapan bulanan. Lelaki yang rela tengah malam mengantar makanan, namun hanya sekedar mengantar. Tak masuk atau bersua.

Selalu berwajah teduh dan mengomeli aku saat aku asyik dengan buku tak makan. Tapi, rela menunggu di parkiran saat aku malas jalan kaki. Rela hujan-hujanan mengantarkan payung. Saat aku lupa—meninggalkan di komisariat.

Dia yang biasanya menjaga dan merawat aku sewaktu menginap di gedung penuh aroma obat dan tiang infus. Dia yang sabar saat aku marah-marah tak jelas tiap tanggal tertentu. Dia yang rela kedinginan, memberikan jaket saat cuaca tak bersahabat.

Saat aku pergi tanpa tujuan jelas, rela menghubungi meski aku abaikan. Namun, tetap mencari. Padahal aku pasti berteduh di cafe dan memesan coklat hangat.

Aku memang wanita jahat, egois dan sensitif. Aku begitu karena dia menjadi makhluk yang selalu mengganggu aku. Lebih tepatnya dia peduli dan khawatir keadaanku.

Jujur aku itu cemburu—cemburu tanpa kejelasan status. Bisa-bisanya lelaki yang baik tadi masih berkomunikasi dengan sesorang yang pernah mengisi hatinya. Kenapa?

Kemudian berubah 180 derajat. Lebih dekat denganku. Aku tak paham. Jalinan ini begitu rumit. Sadar bahwa setiap hubungan pasti ada konflik.

Tapi, dengan sifat keras kepala wanita yang masih saja dilawan. Bahkan menuduh dekat dengan sahabatku. Aku muak. Bagus buliran bening itu muncul. Tanpa komando. Kini aku membiarkan jatuh ke tanah. Setidaknya hati ini merasa tenang.

Langkahku terhenti melihat aliran sungai yang pekat. Kali Brantas yang begitu deras menerjang batu. Namun, tak ada perlawanan. Sungai ini membelah jalanan sekaligus jembatan sebelum masuk hellypad kampus.

Aku bahkan tak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Setahun--dua belas bulan—31.536.000 detik. Setiap detik harus melewati waktu-waktu pahit atau manis bahkan masam. Kembali lagi melihat langit. Aku harap Tuhan mendengar tangisanku, tangisan seseorang yang baru menyadari arti perjuangan sosok yang kadang tak dianggap perjuangannya.

“Andreannn....” hanya itu yang aku panggil. Aku tahu sosoknya tak akan muncul saat itu. Karena Adwan juga memberikan kotak kecil berisi lingkaran perak dan surat di sana.

Mungkin saat Engkau membuka kotak ini, bingung. Iyakan? Walau sampai detik ini wajah ranummu masih jelas teringat. Dalam lubuk paling dalam hanya kamulah yang aku cintai. Will you Marry,me? Sejenak aku terdiam, menggigit bibir, tak tau harus menjawab apa. Kuteruskan membaca paragraf selanjutnya.

Tapi, usiaku lebih singkat dari yang kuduga. Kata dokter kanker Paru ini kronis. Kutunggu di Surga. Simpan ya....Yang merindukanmu Andrean.

Batinku terasa terpukul Andrean tenyata benar-benar telah tiada. Adwan melihat dengan kepalanya sendiri, sahabat yang dicintainya itu tiada. Ucapan yang didengar hanya Camelia.... Namaku.

 

Situbondo, 28 September 2016

 

 

 

 

 

 

 

Baiq Cynthia yang merupakan mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Malang. Lahir di Bondowoso, tanggal 30 Juli. Tulisannya hadir di beberapa media online. Terutama di MediaMahasiswa. Menulis di beberapa buku antologi cerpen. Tergabung di "Poejangga Writers" dalam novel Before the Last Day. Motto menulisnya adalah Menulis membuatmu tak sendiri. 

Tags

About The Author

Baiq Cynthia 20
Pensil

Baiq Cynthia

Just wanna to be inspirator to everyone. autor, content writer, blogger. contact me : baiq_cynthia@yahoo.com

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel