Insomnina: Kompilasi 24 Curhat Susah Tidur

12 Dec 2015 01:13 7789 Hits 4 Comments
Begadang masa lajang Tuhuk Ma'arit selama Mei-Juni 2013

#16

Mari Insomnina

Ada yang mengetuk pintu

Saat itu anak-anak berbaju rapi, ada sarang-sarang kepompong di perut mereka.

Saat itu anak-anak memakai topi, ada jerigen-jerigen kosong di kepala mereka.

Saat itu anak-anak berkalung dasi, ada singa-singa ompong di dada mereka.

Dia melongok dari jendela

O, hanya Insomnina

 

Insomnina mulai menggedor pintu

Kunci laci-laci

Terkadang rantai dan gembok tidak melindungi.

Silahkan masuk, Insomnina.

 

Insomnina meringkuk beku

Ribuan kilometer dari pintu

Tak punya tangan tuk merangkak

Matanya jatuh

 

Aku aman dalam gelap, bersama weker, sajadah, tulangku, tubuhku.

Dia menyimpannya dengan rapi.

Terkadang lantai dan tembok tidak melindungi.

Mari Insomnina

Mataku tertusuk tiang bendera

 

#17

Seakan Aku Pernah

Senja dimulai pagi itu dengan ceria.

Bunga-bunga bermekaran diselimuti nyenyak dalam bantal,

Ada juga obat nyamuk, obat malaria, obat anemia.

 

Lembu terus berpacu di arlojiku yang menempel di dindingku.

Senja hendak beranjak, matahari telah menanjak,

Aku rindu anjing yang menggonggong.

 

Dapurku disinari matahari;

di sana pernah berserakan kekecewaan yang tega membanting gelas dan piring,

kini terbaring di bak sampah.

 

Aku merenung hingga ayam berkokok, matahari tenggelam.

Saatnya tidur, Insomnina membanting ranjang.

 

#18

Memahami Teman

Seorang teman menatap apel di atas meja. Aku mengerti arti tatapannya, lalu memberinya pisau. Dia mulai mengupasnya sambil terus melirikku. Aku tidak mengerti arti lirikannya.

 

Seorang teman membanting pisau-ku.

Gila susah betul. Menggiurkan tapi kulitnya bencana.

Makan saja bersama kulitnya.

Aku memimpikan apel tanpa kulit.

Kamu akan menyesal saat apel-mu jatuh ke lumpur.

Aku tidak memakan yang telah jatuh.

Kamu akan merindukan seni mengupas jika hidup di antara apel-apel tak berkulit.

Aku sudah mati sebelum berbakat andai itu memang seni.

Aku terdiam.

 

Seorang teman terdiam.

Kulit apel juga terdiam, teronggok di lantai, berdarah, darah-seorang teman.

Seperti hidup. Solusi melukai jika terlalu tajam, tak berguna jika terlalu tumpul. Sebagian orang menelan dunia, bersama kulitnya, bersama darahnya, bersama pisaunya. Kadangkala kulit apel berlapis-lapis, terkadang isinya kulit melulu-kulit melulu. Aku menanam apel, siapa tahu ada yang memakannya. Aku mendalami seni mengupas tapi tidak mengamalkannya. Seharusnya aku mengerti arti lirikan-seorang teman.

 

Daftar Isi

About The Author

Tuhuk Ma'arit 49
Ordinary

Tuhuk Ma'arit

Bodoh, miskin, dan pemalas. Lahir di Kotabaru (Kalimantan Selatan) pada tanggal 30 Januari 1988. Menulis adalah hal yang biasa bagi saya, saya sudah melakukannya sejak Sekolah Dasar. Saya sudah terbiasa menyalin contekan PR, dihukum menulis di papan tulis, menulis absen dari jarak jauh ketika bolos (mungkin bisa disebut mengisi absen secara online), menulis cerpe'an sebelum ulangan, dan menulis surat cinta di tahun 90-an. Tetapi, menulis ide orisinil adalah hal baru yang akan saya kembangkan. Semoga, amin. Sekarang saya bekerja tetap sebagai pengangguran. Hobi saya yang bercita-cita memberi pekerjaan kepada sejuta rakyat Indonesia adalah bermalas-malasan. Jika istri saya tidak mengetahui akun ini, berarti status saya adalah masih single dan available. Eh?

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel