Antara Saya, Saya, dan Saya

11 Mar 2019 09:24 677 Hits 2 Comments Approved by Plimbi
Bagaimana jika manusia melawan kloning dan AI-nya?

Bagaimana jika suatu hari nanti Anda terbangun lalu menemukan ada Anda-Anda yang lain (kembaran Anda) dalam berbagai bentuknya? Entah hanya satu atau malah seribu. Apakah Anda yang asli bisa menang/selalu lebih unggul dari mereka? Yakin, tidak?

Tulisan ini adalah tentang manusia sebagai mahakarya (masterpiece) Tuhan melawan kembarannya sebagai hasil karya manusia (meskipun terjadinya juga atas izin Tuhan pastinya). Kembaran yang saya maksud adalah hasil kloningnya dan robot/mesin dengan kecerdasan buatan (AI/Artificial Intellegence).

 

Kloning dan AI, Mana yang Lebih Menakutkan Bagi Anda?

Antara Saya, Saya, dan Saya

Zhong Zhong dan Hua Hua (monyet hasil kloning)

Sumber: https://tirto.id (dari REUTERS)

Di dalam bukunya, 21 Lessons for the 21st Century, Yuval Noah Harari, salah seorang dari 100 pemikir terbaik 2018, menyatakan, ada 3 masalah terbesar dunia pada masa mendatang. Masalah tersebut adalah perang nuklir, perubahan iklim, dan gangguan teknologi (AI dan bioteknologi). Kloning dan AI termasuk dalam masalah gangguan teknologi itu.

Jika sekarang Anda sudah takut bersaing dengan manusia lain, tantangan ke depan berbeda. Anda mungkin akan bersaing juga dengan manusia hasil kloning dan robot/mesin dengan AI. Meskipun kloning manusia masih kontroversi tapi mungkin saja suatu saat aturan berubah/ada yang melanggar. Setidaknya, undang-undang Belanda tidak melarangnya.

 Jika kloning manusia benar-benar terjadi, hasil kloning atau AI yang lebih menakutkan bagi Anda? Siapkah Anda ketambahan pesaing? Kompetitor Anda menjadi sesama manusia (dari dalam dan luar negeri), manusia hasil kloning, dan robot/mesin AI. Yakinkah jika Anda bisa menang, dan apa yang Anda butuhkan untuk menang?

 

Perkembangan dalam Dunia Kloning dan AI Saat Ini

Pada Februari 1997 kelahiran Dolly diumumkan. Domba hasil kloning pertama pada mamalia itu kemudian mati pada usia 6 tahun karena sakit-sakitan. Dalam perkembangannya, para ilmuwan akhirnya telah berhasil menghasilkan hewan-hewan kloning yang sehat, tidak cacat, tidak sakit-sakitan, dan bisa berumur panjang (tidak mengalami penuaan dini).

Kabar terbarunya, para ilmuwan telah berhasil mengkloning anjing dan monyet. Sehingga mereka semakin percaya diri bahwa akan mampu mengkloning manusia juga.

Pada 26 Desember 2002, Clonaid mengaku berhasil mengkloning manusia, yang dinamai Eve. Namun, tidak ada yang meyakininya, karena keberadaannya terkesan disembunyikan. Begitupun klaim kloning-kloning manusia lainnya oleh Clonaid, menyusul kelahiran Eve, semuanya misteri.

Jadi, ketika Zhong Zhong dan Hua Hua lahir sebagai hasil kloning monyet, kloning manusia dianggap semakin memungkinkan. Itu karena kekerabatan monyet dianggap dekat dengan manusia. Zhong Zhong dan Hua Hua merupakan monyet ekor panjang hasil kloning oleh para peneliti Cina di Institut Ilmu Saraf Akademi Sains Cina, Shanghai.

Terobosan lain muncul dari Yi Zhang, seorang ahli biologi sel punca di rumah sakit Boston Children sekaligus penyelidik di Institut Kedokteran Howard Hughes. Zhang telah menemukan bahan kimia yang berhasil meningkatkan persentase perkembangan embrio. Tanpa molekul pelepas gen, embrio hasil kloning tidak akan berkembang dengan benar.

Beralih ke teknologi AI, kini mesin dan robot juga telah mengalami kemajuan signifikan. Pada aplikasi-aplikasi Playstore misalnya, sudah ada aplikasi yang bisa diajak mengobrol, misalnya Yuu. Pada robot (berbentuk fisik) pun demikian, sudah bisa melakukan berbagai gerakan, menunjukkan mimik tertentu, memecahkan soal/tes, bahkan ngobrol.

Robot Sophia adalah salah satunya. Meskipun dia tidak bisa/belum mampu berjalan, tetapi sangat cerdas. Ia bisa melakukan kontak mata, melihat dan mengingat wajah, bercakap-cakap, diajak curhat, memberi nasehat, memiliki berbagai ekspresi wajah, bahkan membahas isu yang berat (Inet.detik.com, 27/2/2019, https://www.youtube.com/watch?v=oty3KqNtklE).

 

Pertarungan antara Manusia dengan Hasil Kloningnya dan Robot/Mesin dengan AI-nya, Siapa yang Menang?

 

1. Manusia VS Hasil Kloningnya

Antara Saya, Saya, dan Saya

Hasil kloning dari 3 ibu (di Korea)

Sumber: https://www.flickr.com (by Steve Jurvetson) dengan edit ukuran gambar

 

Sejujurnya saya tidak bisa membayangkan akan ada “Saya-Saya yang lain” (atau setidaknya tiruan manusia), apalagi melawan mereka. Tetapi sesuatu itu memang harus diprediksi dan diantisipasi.

Terkait kloning, sejauh ini hasilnya tidaklah selalu sama dengan induknya. Induk di sini adalah yang menjadi sumber inti sel tubuh yang telah ditanamkan pada sel telur perempuan. Pada Cc (hasil kloning kucing) dan Gunni (hasil kloning anjing labrador) misalnya, mereka berbeda/tidak persis induknya.

Meskipun kloning pada primata (monyet) sudah berhasil dan gen yang tersumbat sudah berhasil dilepaskan, tetapi masih ada hal yang perlu diperhatikan. Hasil kloning ternyata hanya menyalin potensi induknya, dan tidak termasuk hasil latihan/usahanya. Selain itu, ia juga masih dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Yi Zhang sendiri memandang masih gila dan tidak praktis (serta ilegal) untuk mencoba mengkloning seseorang. Meskipun efisiensi lebih tinggi, ia mencatat bahwa tim China menggunakan 63 ibu pengganti dan 417 telur untuk membuat dua klon monyet. Bayangkan saja mengatur lusinan pengganti manusia dan donor telur.

Dari segi fisika, dimuat di dalam jurnal Nature, dijelaskan bahwa tidak mungkin menghasilkan kloning yang persis sama, kecuali partikel primernya dimusnahkan. Status dan penyebaran partikel di dalam individu baru itu sangat jauh berbeda dengan induknya. Anda juga mungkin akan dimusnahkannya, karena ia ingin menduduki posisi/status Anda.

 

2. Manusia VS Robot/Mesin dengan AI-nya

Antara Saya, Saya, dan Saya

Robot Sophia

Sumber: https://www.flickr.com (by ITU Pictures) dengan edit ukuran gambar

Jika pada kloning persaingan masih susah dan dipengaruhi oleh lingkungan dan hasil usaha, bagaimana dengan pada robot/mesin dengan kecerdasan buatan? Sama, tidak sederhana juga. Contohnya pada permainan catur. Manusia pernah kalah melawan robot R-Turki, imbang melawan Deep Blue, dan menang melawan AlphaGo.

Kemenangan melawan AlphaGo diperoleh setelah Lee Sedol kalah dulu tiga kali berturut-turut. Artinya masih dimungkinkan manusia menang melawan robot/mesin AI. Apa rahasia Lee Sedol? Ternyata “kejutan”/langkah baru yang tak terduga. Bagaimanapun juga, robot/mesin itu ada programnya, segala yang di luar programnya bisa menjadi kelemahannya.

Bisa dikatakan bahwa sebagai manusia asli seharusnya sisi manusiawinya lebih unggul daripada tiruannya. Akan ada hal-hal “manusiawi” yang tidak bisa ditiru oleh robot/mesin AI-nya. Misalnya, Erica, robot asal Jepang. Ia bisa berkomunikasi, menjawab pertanyaan, bercanda, dan sangat fasih berbahasa Inggris; tetapi tertawanya masih sangat kaku.

Sementara itu, datang kabar menggemparkan dari Liljat Tamminen dari Helsinki, Finlandia. Menurutnya, kabar mengenai robot Sophia adalah hoaks dan pemasarannya dilakukan melalui scamming di media sosial. Para ilmuwan tidaklah memiliki ide aktual tentang bagaimana mengajar AI untuk memahami masalah dunia manusia yang kompleks.

Sophia tidak mungkin bisa menyelesaikan semua masalah yang telah ditelusuri penelitian AI selama 70 tahun terakhir. Hal itu karena tidak mungkin kita memiliki komputer yang cukup untuk menjalankan hal seperti itu.

 

Potensi dan Kelemahan Manusia

Dari uraian di atas kita tahu bahwa manusia sebagai mahakarya Tuhan tidak akan bisa ditiru persis oleh buatan manusia. Kita lebih canggih. Robot/mesin dengan AI hanya mampu melakukan satu atau beberapa fungsi kerja saja. Andaipun fungsi itu mirip dengan manusia, tidak akan bisa persis aslinya. Masih jauh dengan manusia (sebagai mahakarya Tuhan).

Meski demikian, tetaplah waspada. Manusia bukan Tuhan. Tuhan sudah pasti berbeda dari makhluk-Nya dan tidak takut tersaingi, tetapi manusia tidak. Manusia menciptakan sendiri dan takut-takut sendiri. Seandainya kita bersaing dengan hasil kloning dan robot AI dengan wajah dan penampilan kita, siapa yang akan menang, kita masih takut.

Bagaimanapun juga, beberapa kerja manusia sudah bisa digantikan oleh robot/mesin AI. Apalagi, dengan kemajuan teknologi, manusia semakin jarang memanfaatkan “aset-aset kemanusiaannya”. Sehingga, selain sifat manusiawinya bisa berkurang (dan lebih mirip robot), organ-organ tubuhnya juga bisa mengerut/mengecil dan fungsinya berkurang/hilang.

AI juga belum tentu lebih cerdas dari manusia. Karena masih banyak manusia yang belum mengoptimalkan kecerdasannya. Jika Anda pernah membaca tentang Scott Hagwood, bagaimana dia bersusah payah agar tidak kehilangan memorinya saat pengobatan kanker tiroid, Anda mungkin akan tahu. Otaknya bisa sangat efisien dan memorinya sangat baik.

Bahkan, menurut Arnold Benneth di dalam The Human Machine, otak manusia bisa didisiplinkan serta dinyalakan dan dimatikan seperti nyala dan matinya lampu kamar. Manusia memiliki potensi yang “tak terbatas”, sedangkan robot AI hanya bisa melakukan apa yang diprogramkan padanya, selain juga bisa mengalami kesalahan program/bug.

Kesalahan misalnya dilakukan oleh GPT-2. AI yang diciptakan sebagai sistem pemrediksi bahasa ini, ternyata malah berkembang menjadi alat pembuat hoaks. Hoaks yang dibuat pun sangat bagus dan meyakinkan.

Selain itu, AI tidak memiliki akal sehat, pemahaman/pemaknaan, perasaan, kurang dalam kreativitas radikal, orisinalitas irasional, bahkan sedikit kegilaan tidak logis. Ia juga cenderung rasis, serta tak mampu merumuskan target, atau menyelesaikan masalah.

Kekurangan lain dari AI adalah ia tidak berpikir seperti manusia, dapat melakukan kesalahan, tak dapat menjelaskan mengapa dia mengambil keputusan, dan memungkinkan terjadinya bias.

Menurut laporan McKinsey pada 2017, dengan teknologi saat ini hanya 5% pekerjaan yang benar-benar dapat diotomatitsasi, namun pada 60% pekerjaan sepertiga kemampuannya telah diambil alih oleh robot. Sedangkan tidak semua robot menggunakan AI.

Memang, beberapa pekerjaan akan diambil alih oleh robot, beberapa akan hilang/berubah, beberapa akan bertahan, dan sisanya akan muncul pekerjaan baru. Bahkan, ada pula aktivitas-aktivitas tertentu yang mungkin dilakukan AI lebih baik daripada manusia. Misalnya menghitung kemungkinan dan mengenali pola.

Kita tetap bisa berusaha bertahan dengan mengoptimalkan segala daya dan potensi kita, termasuk sisi-sisi manusiawi kita.

Presiden Universitas Northeastern Joseph Aoun, yang menulis buku Robot-Proof: Higher Education in the Age of Artificial Intelligence, Joseph Aoun mengatakan kita harus menggabungkan keterampilan teknis, data, dan kemanusiaan untuk beradaptasi di masa depan yang penuh dengan ketidakpastian.

Menurutnya, solusinya ada 3, yaitu kemampuan teknis (memahami bagaimana mesin berfungsi dan bagaimana berinteraksi dengannya), disiplin data (menavigasi informasi yang dihasilkan oleh mesin), dan disiplin manusia (melakukan apa yang tidak dapat ditiru oleh mesin).

Aoun mengatakan kemampuan ini termasuk kreativitas, kecerdasan berbudaya, empati, dan kemampuan untuk mengambil informasi dari satu hal dan menerapkannya pada hal lain.

Meskipun demikian, membandingkan antara 1 pengemudi manusia dengan 1 mobil yang bisa berjalan sendiri, atau 1 dokter tunggal dengan 1 dokter AI tunggal itu salah. Yang seharusnya dibandingkan adalah kemampuan dari kumpulan individu manusia dengan kemampuan pada jaringan terintegrasi. Begitulah cara membandingkan manusia dengan AI.

Manusia bukanlah Tuhan. Semakin kita mencoba “menyaingi” ciptaan Tuhan, semakin tampaklah kelemahan kita sebagai manusia.

 

Sumber:

Harari, Yuval Noah. 2018. 21 Lessons for the 21st Century. US: Spiegel & Grau.

Benneth, Arnold. 2004. The Human Machine. Jonathan Ingram, and the Online Distributed Proofreading Team.

Https://www.globalchange.com/clonaid.htm

Https://www.liputan6.com/global/read/47511/manusia-kedua-hasil-kloning-dilahirkan

Https://id.crowdvoice.com/posts/bayi-bayi-hasil-kloning-manusia-yang-gagal-2aLw

Https://tirto.id/kloning-monyet-berhasil-kloning-manusia-semakin-dekat-cDWR

Https://www.merdeka.com/teknologi/yuu-chatbot-karya-anak-bangsa-yang-bisa-diajak-ngobrol.html

Https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2018/apr/20/pet-cloning-is-already-here-is-human-cloning-next

Https://inet.detik.com/cyberlife/d-4446235/luar-biasa-cerdasnya-robot-sophia

Https://jendelailmu-faisal.blogspot.com/2018/01/mesin-catur-robot-turki.html

Https://internasional.kompas.com/read/2018/02/10/07370901/hari-ini-dalam-sejarah-laga-catur-garry-kasparov-melawan-deep-blue?page=all

Https://www.merdeka.com/teknologi/manusia-akhirnya-menang-lawan-komputer-super-cerdas-google.html

Https://www.youtube.com/watch?v=oty3KqNtklE

Https://liljat.fi/2017/11/humanoid-robot-sophia-sad-hoax-harms-ai-research/

Http://www.erabaru.net/2016/03/21/kloning-masihkah-merupakan-sosok-yang-sebenarnya/

Http://jateng.tribunnews.com/2019/02/20/gpt-2-kecerdasan-buatan-yang-berbahaya-jika-dilepas-ke-publik-karena-bisa-buat-hoaks

Https://www.lyceum.id/artificial-intelligence/

Https://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-39252824

Https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-43565556

Https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-47112693

 

Sumber cover image: Pixabay (by Geralt)

About The Author

Dini Nuris Nuraini 30
Pena

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel