Di era Demokrat Tidak Dijumpai Istilah 'Sontoloyo'

8 Feb 2019 15:57 650 Hits 0 Comments
Nama-nama ini muncul di era Joko Widodo. Baik itu dari mulut Jokowi sendiri, maupun dari para pendukungnya.

Sontoloyo...

Genduruwo..

Jancuk..

Nama-nama ini muncul di era Joko Widodo. Baik itu dari mulut Jokowi sendiri, maupun dari para pendukungnya.

Baik, saya akan coba uraikan satu persatu asal mula istilah konotasi negatif ini muncul ditengah publik.

Sontoloyo. Kata ini diungkapkan Jokowi disaat dirinya merasa kesal ke politikus yang mengadu domba, fitnah, dan memecah belah untuk meraih kekuasaan.

Setelah sontoloyo, ada genduruwo. Istilah ini berhembus ke masyarakat tidak beberapa lama ungkapan Sontoloyo ramai dibicarakan media tanah air.

Lagi-lagi, ungkapan  tak lazim keluar dari mulut seorang kepala negara, Joko Widodo. Ya, tidak seharusnya seorang pemimpin bangsa mengeluarkan umpatan yang tidak beretika dan tidak sopan didepan publik.

Konotasi genderuwo ini merupakan ungkapan perasaan ketakutan Jokowi terhadap politik. Selain itu propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran di masyarakat. Dan menebarkan pesimisme.

Istilah sontoloyo pun melekat hingga kini ke rezim Jokowi. Terlebih bagi kubu oposisi untuk mengungkapkan rasa kekecewaan kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat.

Jika kita lihat terminologi kata son.to.lo.yo memiliki arti konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian). Sementara arti sebenarnya dari genderuwo jika dilihat dari Kamus Bahasa Indonesia milik Kemendikbud, hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat.

Istilah tidak beretika ini belum pernah dijumpai di pemerintahan sebelumnya. Di era presiden ke 6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, saya tidak mendengar ungkapan cacian atau umpatan dari mulut ketua umum Partai Demokrat tersebut.

Bahkan selama kepemimpinannya yakni 10 tahun, gesekan politik tidak pernah terjadi. Suhu politik begitu adem.

Saya begitu merasakan ketenangan saat SBY memimpin bangsa ini. Terlebih partainya Demokrat.

Kadernya mampu mengatasi persoalan-persoalan rakyat dengan cepat. Sehingga kolaborasi antara eksekutif dengan legislatif begitu singkron. Beda dengan rezim Jokowi. Gesekan antara eksekutif dan legislatif sering terjadi. Tidak solid. Saling lempar makian dan umpatan yang tidak seharusnya didengar publik.

"Fenomena penggunaan frasa 'genderuwo", yang kini digunakan kedua capres Pemilu 2019, sesungguhnya mengacu pada konsep tertentu, yang kejelasannya masih mengambang dan butuh direka-reka, namun seakan telah disepakati acuannya, Konsep itu tidak dapat diungkapkan dengan terus-terang dengan berbagai alasan," kata Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan, dilansir dari detikcom, Jumat (8/2/2019).

Dirinya menilai jika ungkapan ini disampaikan apa adanya, bisa jadi komunikasi yang terbentuk akan sangat kasar dan melukai pihak yang terlibat. Jika disampaikan terus terang bisa jadi ungkapannya jadi tuduhan yg sangat mungkin berujung pada tuntutan hukum.

Jancuk. Istilah baru yang muncul dari para pendukungnya sendiri. Presiden Joko Widodo diberi gelar 'Cak Jancuk'. Masih istilah konotasi negatif, tidak mendidik. Ibarat kata tidak bahasa dari kader yang intelektual.

Jancuk sendiri merupakan gelar yang disematkan kepada Jokowi dalam deklarasi Forum Alumni Jatim #01 di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2/2019) lalu. Baru di rezim ini pemerintah khususnya seorang Presiden dimaki dengan bahasa yang sangat tidak sopan!

 

  

Tags

About The Author

Sandi Manua 19
Pensil

Sandi Manua

Pemerhati sosial

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel