Begitu Membosankankah Berita Mainstream, Sehingga Banyak Orang Lebih Percaya Berita dari Sumber Tidak Resmi

4 Jan 2019 06:57 495 Hits 0 Comments
 B 

Di jaman keterbukaan informasi seperti sekarang, seharusnya berita hoaks lebih gampang ditangkal. Beda dengan jaman dahulu, dimana saluran informasi masih terbatas. Masyarakat hanya bisa menerima informasi dari satu atau dua sumber, itupun hanya beberapa kalangan saja yang mampu beli televisi, radio atau sekedar beli koran.

Dulu itu, sumber informasi itu sangat vital karena masih terbatas jumlahnya. Satu sumber saja bikin berita bohong, imbasnya masyarakat jadi kebingungan. Bingung sebingungnya, karena gak tau lagi mau kemana konfirmasi berita yang benar.

Jaman sekarang, media informasi sudah banyak jumlahnya dan dibuka seluas-luasnya. Bila ada satu dua sumber informasi yang gak benar memberitakan suatu kabar. Seharusnya bisa ditelusuri dengan membandingkan sumber informasi lainnya. Bila perlu langsung konfirmasi ke pihak terkait. Atau bila belum tahu validitas suatu berita, jangan keburu di share.

Namun nyatanya Berita hoaks tetap merajarela. Terlebih ditahun politik seperti sekarang. Salah satu penyebabnya ialah rendahnya minat baca.

Tingkat minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Sehingga untuk mengetahui sumber berita terpercaya saja masih kurang, apalagi untuk menyaring informasi.

Hadirnya smartphone sebenarnya lumayan meningkatkan minat baca. Karena ada media online, buku online, bahkan lewat video bila malas baca. Namun antusias berburu informasi digital tersebut kerap tidak tersalur pada tempatnya.

Jaman sekarang banyak orang yang mengaku tahu dan selalu update dengan perkembangan informasi. Sayangnya informasi yang didapat seringa tidak berasal dari sumber terpercaya.

Saat ini sumber berita dari media mainstream atau resmi bisa dibilang menjadi acuan masyarakat mendapat berita aktual. Entah kenapa juga sebagian masyarakat malas membaca berita lewat media mainstream. Apa karena membaca berita mainstream sudah membosankan?

Membosankan? Mungkin. Barangkali kini masyarakat sudah merasa hebat dan serba tahu dengan smarphone digenggamannya masing-masing. Belum ada memang ulasan resmi terkait hal ini.

Namun nyatanya beginilah fenomena yang ada. Sebagian netizen baca berita baru judulnya saja sudah menyimpulkan macam-macam.

Sudah baca berita dari sumber resmi malas. Namun pesan berantai lewat aplikasi pesan singkat dipercaya. Bahkan lebih suka membaca ulasan orang perorangan yang bernada teori-teori sepihak. Dan anehnya dipercaya juga.

Barangkali memang "informasi" dari sumber bebas dan liar, lebih menarik perhatian. Apalagi kalau ada bumbu-bumpu politik, teori konspirasi dan cerita dibawa meja.

Berbeda dengan berita mainstream. Kesannya mungkin sedikit kaku. Dan beberapa orang mungkin tidak puas dengan berita yang biasa-biasa saja, sekalipun itu benar.

Atau mirisnya karena pandangan politik, membuat sebagian orang dibutakan dan mengingkari kebenaran. Lebih percaya informasi yang sesuai dengan pemikirannya, sekalipun kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Berat memang bila menerima kenyataan yang berbeda dengan yang kita inginkan. Itulah kenapa saya katakan hoaks ada karena disukai.

Pada akhirnya bukan karena berita mainstream yang tampak membosankan, sehingga sebagian masyarakat lebih suka percaya informasi yang gak jelas. Namun lebih karena sebagian masyarakat tidak tahu dimana sumber berita terpercaya atau karena memang gak mau baca karena informasi mainstream gak sesuai dengan pemikirannya.

Tags

About The Author

Rianda Prayoga 35
Pena

Rianda Prayoga

Gak banyak bicara, sedikit cuek tapi lumayan ramah

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel