Dimana Letak Keadilan?

8 Nov 2018 19:33 141 Hits 0 Comments
Hukum dan keadilan

Salah satu tujuan hukum adalah untuk mencapai keadilan. Indonesia sebagai negara hukum, tentunya hukum di Indonesia juga untuk menegakkan keadilan. Penegakan keadilan melalui hukum di Indonesia sendiri telah di atur dalam Undang Undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat (1) yang menyebutkan semua orang harus di perlakukan sama di depan hukum. Jadi semua masyarakat Indonesia berhak memperoleh keadilan dari masyarakat lain maupun dari negara tanpa terkecuali. Keadilan seharusnya tidak pernah memandang bulu, baik itu rakyat kecil, orang miskin, orang kaya, ataupun pejabat sekalipun harus diperlakukan dengan seadil adilnya. Namun sekarang keadilan di Indonesia menjadi sebuah krisis, dimana keadilan itu sendiri bisa dibeli oleh para “penguasa”. Hukum di Indonesia di pegang oleh yang mempunyai uang banyak, walaupun mereka melanggar sebuah aturan jika mereka mempunyai uang sudah di pastikan mereka akan aman dari gangguan hukum. Banyak orang yang menyatakan hukum di negeri ini itu tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Orang miskin yang ketahuan melakukan tindakan yang tidak seberapa langsung ditangkap dan di jebloskan ke penjara, sedangkan para pejabat dan petinggi negara yang melakukan korupsi uang negara miliyaran rupiah dapat berkeliaran dengan bebasnya. Terlihat seperti hukuman hanya berlaku untuk orang miskin yang tidak punya uang dan tidak berlaku untuk orang kaya yang meliki segalanya, jadi kebanyakan orag menganggap bahwa hukum di Indonesia itu dapat di beli oleh uang. Berikut adalah contoh kasus nyata, bukti tidak berlakunya keadilan secara hukum di Indonesia

Nenek Minah (55) tak pernah menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) akan menjadikannya sebagai pesakitan di ruang pengadilan. Bahkan untuk perbuatannya itu dia diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3 bulan.

Ironi hukum di Indonesia ini berawal saat Minah sedang memanen kedelai di lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, pada 2 Agustus lalu. Lahan garapan Minah ini juga dikelola oleh PT RSA untuk menanam kakao.

Ketika sedang asik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao yang sudah ranum. Dari sekadar memandang, Minah kemudian memetiknya untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, 3 buah kakao itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon kakao.

Dan tak lama berselang, lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA. Mandor itu pun bertanya, siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos, Minah mengaku hal itu perbuatannya. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu tidak boleh dilakukan karena sama saja mencuri.

Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan kepada mandor tersebut. Minah berpikir semua beres dan dia kembali bekerja.

Namun dugaanya meleset. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang. Sebab seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Proses hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang terdakwa kasus pencuri di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto.

Kamis (19/11/2009), majelis hakim yang dipimpin Muslih Bambang Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362 KUHP tentang pencurian. (https://www.kompasiana.com/aripimawan/5535a25c6ea834780fda4339/ironi-hukum-di-indonesia-yang-kecil-dipenjara-yang-besar-bebas-berkeliaran)

 

Sungguh miris bukan penegakkan keadilan di negeri kita tercinta ini?

Tags

About The Author

Muhamad Agam Yupa 6
Kapur Tulis

Muhamad Agam Yupa

Mahasiswa Bina Nusantara

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Muhamad Agam Yupa