Tak Menyangka, Rahasia Di Balik Kontraktor Baja Sangat Mengejutkan

9 Oct 2018 09:09 231 Hits 0 Comments
kerumitan dalam pengerjaan konstruksi baja wf, yang harus diperhatikan dan harus dipelajari agar menghasilkan hasil yang maksimal

Dalam beberapa pekerjaan konstruksi memerlukan data profile baja agar bisa mengitung dimensi baja yang dibutuhkan dengan keinginan untuk memperoleh susunan yang kuat juga murah. Untuk kepentingan dalam memberikan keringanan dalam berencana dan melaksankan satu pekerjaan bangunan susunan baja jadi dikerjakan satu pengembangan dengan membuat beberapa jenis bentuk baja yang dibarengi dengan tabel berat baja berisi ukuran dimensi, berat baja, besarnya peristiwa inersia, letak titik berat dan lain-lain yang bisa disaksikan pada tabel berat baja, karenanya ada beberapa jenis baja ini jadi bisa dikerjakan penetapan type baja yang akan dipakai untuk jadikan calon pemakaian material baja pada suatu susunan bangunan nanti.

Dalam tabel itu ada:

• Macam-macam profil

• Berat

• Ukuran profil

• Titik berat profile baja

• DLL

Jenis – jenis bentuk profile baja diantaranya:

• Profil siku

• Profil I

• Profil WF

• Profil Pipa

• Profil Canal

• Plat baja

• Profil H beam

• Contoh satu gambar penampang profile baja bersama ukuran dimensinya:

Di bawah ini Tabel baja dalam format microsoft excel Untuk bentuk – bentuk baja dengan jenis spesifik yang tidak ada dalam tabel baja bisa dihutung beratnya dengan sendiri dengan memakai dasar berat baja per m 3 menurut standard nasional indonesia yakni 7850 kg/m3 , bila kurang demikian meyakini tentang nilai berat baja per m3 yang telah dikasihkan oleh standard nasional indonesia jadi bisa dikerjakan riset berat baja sendiri yang posisi penelitianya bisa disaksikan pada artikel mengenai penetapan berat baja per m3

Histori Susunan Baja

I. Histori Susunan Baja

Pemakaian logam menjadi bahan struktural dengan diawali besi tuangkan untuk bentang lengkungan (arch) selama 100 ft (30 m) yang dibuat di Inggris pada tahun 1777 – 1779. Dalam kurun waktu 1780 – 1820,. Dibuat lagi beberapa jembatan dari besi tuangkan, umumnya berupa lengkungan dengan balok – balok utama dari potongan – potongan besi tuangkan indivudual yang membuat batang – batang atau kerangka (truss) konstruksi. Besi tuangkan juga dipakai menjadi rantai penghubung pada jembatan – jembatan suspensi sampai seputar tahun 1840.

Sesudah tahun 1840, besi tempa mulai ganti besi tuangkan dengan contoh pertamanya yang terpenting ialah Brittania Bridge di atas selat Menai di Wales yang dibuat pada 1846 – 1850. Jembatan ini memakai gelagar –gelagar tubular yang membentang selama 230 – 460 – 460 – 230 ft (70 – 140 – 140 – 70 m) dari pelat serta profile siku besi tempa.

Proses canai (rolling) dari beberapa profile mulai tumbuh saat besi tuangkan serta besi tempa sudah makin banyak dipakai. Batang – batang mulai dicanai pada taraf industrial seputar tahun 1780. Rencana rel diawali seputar 1820 serta diperluas sampai pada bentuk – I mendekati tahun 1870-an.

Perubahan proses Bessemer (1855) serta pengenalan jalur basic pada konverter Bessemer (1870) dan tungku siemens-martin makin memperluas pemakaian produk – produk besi menjadi bahan bangunan. Semenjak tahun 1890, baja sudah ganti posisi besi tempa menjadi bahan bangunan logam yang terpenting. Saat ini (1990-an), baja sudah mempunyai tegangan leleh dari24 000 s/d 100 000 pounds per square inch, psi (165 sampai 690 MPa), serta sudah ada untuk beberapa kepentingan struktural.

Di bawah ini ialah semula ditemukannya Baja.

• • Besi diketemukan dipakai pertama-tama pada seputar 1500 SM

o • Tahun 1100 SM, Bangsa hittites yang merahasiakan pembuatan itu saat 400 tahun dikuasai oleh bangsa asia barat, pada tahun tersebbut proses peleburan besi mulai didapati dengan luas.

o • Tahun 1000 SM, bangsa yunani, mesir, jews, roma, carhaginians serta asiria juga pelajari peleburan serta memakai besi dalam kehidupannya.

o • Tahun 800 SM, India sukses membuat besi sesudah di invansi oleh bangsa arya.

o • Tahun 700 – 600 SM, Cina belajar membuat besi.

o • Tahun 400 – 500 SM, baja telah diketemukan penggunaannya di eropa.

o • Tahun 250 SM bangsa India temukan langkah membuat baja

o • Tahun 1000 M, baja dengan kombinasi unsur lainnya diketemukan pertama-tama pada 1000 M pada

kekaisaran fatim yang dimaksud dengan baja damascus.

• 1300 M, rahasia pembuatan baja damaskus hilang.

• 1700 M, baja kembali di teliti pemakaian serta membuatnya di eropa.

II. Material baja

 

2.1 Type – type Baja

Dengan baja ditujukan satu bahan dengan keserbasamaan yang besar, yang terpenting terdiri atas ferrum (Fe) berbentuk hablur serta 0,04 @ 1,6% zat arang (C); zat arang itu didapatkan dengan jalan bersihkan bahan pada temperatur yang tinggi sekali, dengan memakai proses – proses yang akan dimaksud sejumlah besar dari besi kasar, yang dibuat oleh dapur – dapur tinggi.

Semua type – type baja dikit banyak bisa ditempa serta bisa disepuh, sedang untuk baja lunak pada tegangan yang jauh di bawah kemampuan tarik atau batas patah TB, yakni apakah yang diberi nama batas lumer atau tegangan lumer Tv, berlangsung satu kondisi yang aneh, di mana pergantian bentuk berjalan selalu sekian waktu, dengan tidak jadi besar beban yang ada.

Karakter – karakter baja tergantung sekali pada kandungan zat arang, makin bertambah kandungan ini, makin naik tegangan patah serta regangan menurut prosen, yang berlangsung pada suatu batang eksperimen yang dibebani dengan tarikan, yakni regangan patah jadi lebih kecil.

Prosentase yang begitu kecil dari unsur – unsur yang lain, bisa memengaruhi karakter – karakter baja dengan kuat sekali, secar baik atau buruk. Untuk membedakannya, type – type baja dikasih nomer yang sama dengan tegangan patah yang ditanggung serta yang paling rendah pada eksperimen tarik yang normal, tapi untuk tiap-tiap type baja juga dipastikan satu TBmaks.

 

1.2 Klasifikasi Baja

1. Baja Karbon

Baja Karbon dibagi jadi empat kelompok berdasar pada prosentase karbonnya : Karbon rendah (kurang dari 0,15%); Karbon lunak (0,15 – 0,29%); Karbon tengah (0.3 – 0.59%); serta karbon tingi (0,6 – 1,7%). Baja Karbon struktural termasuk juga dalam kelompok karbon lunak. Baja Karbon susunan memberikan titik leleh dfinit, penambahan perentase karbon akan menigkatkan kekerasannya akan tetapi kurangi kekenyalannya, hingga lebih susah dilas.

2. Baja Kombinasi Rendah Berkekuatan Tinggi

Kelompok ini mencakup baja – baja yang mempunyai tegangan leleh dari 40 – 70 ksi (275 – 480 MPa), yang memberikan titik leleh yang pasti, sama juga dengan yang berlangsung pada baja karbon. Menambahkan beberapa bagian gabungan pada baja seperti krom, kolubium, tembaga, mangan, molibden, nikel, fosfor, vanadium atau zirkonium, akan melakukan perbaikan karakter – karakter mekanisnya. Jika Karbon memperoleh kemampuan dengan menambahkan kandungan karbonnya, bagian – bagian gabungan membuat penambahan kemampuan lebih dengan mikrostruktur yang halus daripada mikrostruktur yang kasar yang didapat saat proses pendinginan baja. Baja gabungan rendah berkkuatan tinggi dipakai dalam keadaan seperti tempaan atau keadaan normal yaitu keadaan di mana tidak dipakai perlakuan panas.

3. Baja Paduan

Baja gabungan rendah bisa didinginkan serta disepuh agar bisa sampai kemampuan leleh sebesar 80 – 110 ksi (550 – 760 MPa). Kemampuan leleh umumnya didefinisikan menjadi tegangan pada regangan offset 0,2%, sebab baja ini tidak memberikan titik leleh yang pasti. Dengan prosedur yang pas baja ini bisa dilas, serta umumnya tidak memerlukan penambahan perlakuan panas sesudah pengelasan dikerjakan. Untuk beberapa kepentingan spesial, terkadang diperlukan pengendoran tegangan. Beberapa baja karbon, seperti baja desakan fluida spesifik, bisa didinginkan serta disepuh agar bisa memberi kemampuan leleh seputar 80 ksi (550 MPa), akan tetapi umumnya baja dengan kemampuan demikian adalah baja gabungan rendah. Baja gabungan rendah ini biasanya mempunyai karbon seputar 0,2% agar bisa batasi kekerasan mikrostruktur btiran kasar (martensit) yang mungkin tercipta saat perlakuan panas atau pengelasan, hingga bisa kurangi bahaya retakan.

Perlakuan panas terbagi dalam pendinginan (pendinginan dengan cepat dengan air atau minyak sangat tidk 16500F (9000C) sampai seputar 300 – 4000F); lalu penyepuhan dengan pemanasan kembali sampai sekurang-kurangnya seputar 11500F (6200C) dan dilewatkan mendingin. Penyepuhan, walau kurangi dikit kemampuan serta kekerasan berbahan yang sudah didinginkan, akan tetapi bisa tingkatkan kekenyalan serta keuletan. Pengurangan dalam kemampuan serta kekerasan dengan penambahan temperatur dikit dilawan oleh timbulnya pengerasan sekunder yang berlangsung karena penyerapan kolubium, titanium atau vanadium karbida. Penyerapan ini diawali pada temperatur seputar 9500F (5100C) serta jadi semakin cepat sampai seputar 12500F (6800C). Penyepuhan pada atau seputar 12500F untuk memperoleh penyerapan maximum dari karbida mungkin akan menyebabkan masuknya bagian itu ke zone transformasi serta akhirnya mikrostruktur jadi lebih lemah yang mungkin bisa didapat tiada pendinginan serta penyepuhan.

Dengan singkat, pendinginan membuahkan martensit, satu mikrostruktur getas yang begitu keras serta kuat ; pemanasan kembali sedikit akan kurangi kemampuan serta kekerasan, akan tetapi akan tingkatkan keuletan serta kekenyalan.

III. Karakter Baja

v Baja tahan garam (acid-resisting steel)

v Baja tahan panas (heat resistant steel)

v Baja tiada sisik (non scaling steel)

v Electric steel

v Magnetic steel

v Non magnetic steel

v Baja tahan gunakan (wear resisting steel)

v Baja tahan karat/korosi

IV Susunan Baja

Susunan bisa dibagi jadi tiga kelompok umum :

a) Susunan rangka (framed structure), di mana bagian – elemennya peluang terbagi dalam batang – batang tarik, balok, serta batang – batang yang memperoleh beban lentur gabungan serta beban aksial,

b) Susunan type cangkang (shell tipe structure), di mana tegangan aksial lebih menguasai,

c) Susunan type suspensi (suspension tipe structure), di mana tarikan aksial lebih menguasai skema simpatisan utamanya.

 

a) Susunan Rangka

Umumnya konstruksi bangnan tipikal termasuk juga dalam kelompok ini. Bangunan berlantai banyak umumnya terbagi dalam balok serta kolom, baik yang terhubungkan dengan rigid atau cuma tersambung simpel dengan penopang diagonal untuk mengawasi kestabilan. Walau satu bangunan berlantai banyak berbentuk tiga dimensional, akan tetapi umumnya bangunan itu dibuat demikian rupa hingga lebih kaku pada salah satunya arah daripada arah yang lain. Dengan begitu, bangunan itu bisa diperlakukan menjadi rangkaian rangka (frame) bagian. Meski begitu, jika perangkaan demikian rupa hingga tingkah laku batang – batangnya pada salah satunya bagian cukuplah memengaruhi tingkah laku pada bagian yang lain, rangka itu mesti diperlakukan menjadi rangka ruangan tiga dimensi.

Bangunan – bangunan industrial serta bangunan – bangunan sau lantai spesifik, seperti gereja, sekolah, serta gelanggang, biasanya memakai susunan rangka baik keseluruhannya ataupun cuma beberapa saja. Terutamanya skema atap yang mungkin terbagi dalam rangkaian kerangka datar, kerangka ruangan, satu kubah atau juga sisi dari satu rangka datar atau rangka kaku satu lantai dengan pelana. Jembatan juga umumnya adalah susunan rangka, seperti balok serta gelagar pelat atau kerangka yang umumnya menerus.

b) Susunan Type Cangkang

Dalam type susunan ini, tidak hanya melayani fungi bangunan, kubah juga bertindak selaku penahan beban. Salah satunya type yang umum di mana tegangan utamanya berbentuk tarikan ialah bejana yang dipakai untuk menaruh cairan (baik untuk temperatur tinggi ataupun rendah), salah satunya yang sangat populer ialah tanki air. Bejana penyimpanan, tanki serta tubuh kapal adalah contoh – contoh yang lain. Pada banyak susunan dengan type cangkang, bisa dipakai juga satu susunan rangka yang digabungkan dengan cangkang.

Pada dinding – dinding serta atap datar, sesaat berperan dengan satu kerangka kerja, bagian – bagian “kulit”nya bisa berbentuk tekan. Conto pada tubuh pesawat terbang. Susunan type cangkang umumnya dibuat oleh seseorang spesialis.

c) Susunan Type Suspensi

Pada susunan dengan type suspensi, kabel tarikmerupakan bagian – bagian utama. Umumnya subsistem dari susunan ini terbagi dalam susunan kerangka, misalnya rangka pengaku pada jembatan gantung. Sebab bagian tarik ini dapat dibuktikan sangat efektif dalam meredam beban, susunan dengan ide ini makin banyak dipakai.

Sudah dibuat juga banyak susunan spesial dengan beberapa gabungan dari type rangka, cangkang, serta suspensi. Meski begitu, seseorang desainer spesialis dalam type susunan cangkang ini juga pada intinya juga harus mengerti design serta tingkah laku susunan rangka.

V. Desain

a. Design Struktur

Design susunan bisa didefinisikan menjadi satu gabungan dari sains serta seni, yang menggabungkan perasaan intuitif seseorang insinyur yang memiliki pengalaman tentang tingkah laku susunan dengan pengetahuan yang dalam tentang prinsip – prinsip statika, dinamika, mekanika bahan serta analisa susunan, untuk membuat satu susunan yang aman serta ekonomis hingga bisa berperan seperti yang diinginkan.

b. Prinsip – prinsip Desain

Design adalah satu proses untuk memperoleh penyelesaian yang optimum. Dalam design apa pun, mesti dipastikan beberapa persyaratan untuk menilainya apa yang optimum itu sudah terwujud atau belumlah. Untuk satu susunan, persyaratan – persyaratan itu dpat berbentuk :

1. Cost minimal,

2. Berat yang minimal,

3. Waktu konstruksi yang minimal,

4. Jumlahnya tenaga kerja minimal,

5. Cost pembuatan produk – produk pemilik yang minimal,

6. Efisiensi pengoperasian yang maximum buat pemilik.

Umumnya dilibatkan beberapa persyaratan yang masing – masing butuh dikasih berat nilai. Dengan memerhatikan persyaratan yang mungkin seperti di atas, tampaklah jika penetapan persyaratan – persyaratan yang terarah dengan jelas juga (seperti berat serta cost) untuk sampai satu optimum seringkali dapat dibuktikan tidak gampang, bahkan juga tidak mungkin dikerjakan. Dalam umumnya keadaan praktis, penilaian cuma bisa dikerjakan dengan kualitatif.

Jika satu persyaratan spesifik bisa diwujudkan dengan matematis, untuk mendapatkan titik maximum serta minimal dari manfaat netral yang berkaitan, bisa dipakai tehnik – tehnik optimasi. akan tetapi sebaiknya kita tidak melupakan persyaratan subyektif yang lain, meskipun pengintegrasian dai prinsip – prinsip tingkah laku dengan design bagian – bagian baja susunan cuma berdasar pada persyaratan – persyaratan netral yang sderhana saja, contohnya berat serta cost.

c. Prosedur Desain

Prosedur design bisa dipandang terbagi dalam dua sisi, design fungsional serta deain kerangka kerja struktural. Design fungsional jamin tercapainya hasil – hasil yang diinginkan seperti :

a. Ruang kerja yang lega serta memenuhi,

b. Ventilasi atau pengkondisian hawa yang pas,

c. Sarana – sarana transfortasi yang ideal, seperti lift, tangga, serta derek atau alat –alat untuk mengatasi bahan – bahan,

d. Pencahayaan yang cukuplah,

e. Estetika.

Design kerangka kerja struktural bermakna penentuan susunan dan ukuran bagian – bagian susunan yang pas, hingga beban – beban service bekerja dengan aman.

Dengan gari besar, prosedur design dengan iteratif bisa dilukiskan seperti berikut :

1) Rencana. Penetapan manfaat – manfaat yang akan dilayani oleh susunan yang berkaitan. Tetapkan persyaratan – persyaratan untuk mengukur apa design yang dibuat sudah sampai optimum.

2) Konfigurasi susunan pendahuluan. Susunan dari bagian – bagian yang akan melayani manfaat – manfaat pada langkah 1

3) Penetapan beban – beban yang perlu dipikul.

4) Penentuan batang pendahuluan. Penentuan ukuran batang yang penuhi persyaratan netral, seperti berat atau cost minimal dikerjakan berdasar pada ketetapan dari langkah 1,2 serta 3.

5) Analisa. Analisa susunan dengan membuat jenis beban – beban serta kerangka kerja struktural untuk memperoleh style – style internal serta defleksi yang diinginkan.

6) Pelajari. Apa semua kriteria kemampuan serta potensi kerja sudah tercukupi serta apa akhirnya telah optimum? Banding dengan persyaratan – persyaratan yang sudah dipastikan awal mulanya.

7) Redesain. Menjadi dari hasil pelajari, dibutuhkan perulangan sisi manakah saja dai posisi 1 s/d 6. Langkah – cara barusan adalah satu proses iteratif. Akan tetapi dengan mengingat jika konfigurasi susunan serta pembebanan luar sudah dipastikan awal mulanya.

Tags

About The Author

Ardanita W 10
Pensil

Ardanita W

Pengarang & Penulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel