Tottenham Hotspurs, Tim Yang Patut Diwaspadai Oleh Tim Lain Saat Ini

27 Aug 2018 19:34 205 Hits 0 Comments
Setelah Blackburn, tidak ada lagi yang mampu memecah dominasi big four di papan atas Liga Inggris, hingga akhirnya Tottenham muncul sebagai kuda hitam baru di Liga Inggris.

Dalam kurun waktu hampir 1 dekade terakhir, dominasi big four di Liga Inggris antara Manchester United, Arsenal, Chelsea, maupun Liverfool seakan mulai dipatahkan oleh beberapa tim. Sejak kemunculan nama Sheikh Mansour menjadi pemilik Manchester City, tim sekota United ini mampu memecah belah dominasi the big four di papan atas Liga Inggris.

Sebagai bukti, hanya dalam kurun waktu 9 tahun, tim yang musim ini ditukangi oleh pelatih sehebat Pep Guardiola ini berhasil menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali. Pencapaian tersebut tidak lepas dari hasil jerih payah mereka dalam membeli banyak bintang di setiap tahunnya. Alhasil, total pengeluaran tim berjuluk The Cityzens hingga musim ini berlangsung yaitu mencapai 11 Triliun Rupiah, jumlah yang sangat besar untuk membangun sebuah tim yang memiliki daya saing dengan big four.

Dengan kemunculan City yang menjelma sebagai raja sepakbola baru di ranah Ratu Elizabeth, membuat kompetisi Liga Inggris ini bisa dibilang tidak terlalu menarik karena mereka membangun sebuah tim bintang mereka sendiri. Belum lagi, mereka memiliki pelatih sehebat Pep Guardiola yang sudah menjuarai berbagai kompetisi bersama level klub yang ia latih.

Namun, hal tersebut tidaklah benar. Liga Inggris tetap menjadi liga yang paling kompetitif dibandingkan dengan Liga Eropa lainnya. Persaingan kompetisi yang sangat ketat, dimana semua tim yang bertanding memiliki kans yang sama untuk menang dan juara menjadi keunggulan dari Liga Inggris sendiri. Buktinya, diantara big four, maupun Manchester City, terselip nama Leicester City yang mampu mencatatkan sejarah untuk pertama kali menjadi juara pada tahun 2016 lalu. Di belakang Leicester, ada nama Tottenham yang muncul menjadi pesaing ketat dalam beberapa musim terakhir.

Sebelum Tottenham, Leicester, maupun Manchester City menjadi pesaing besar dalam perebutan gelar juara, tim big four selalu mendominasi peta persaingan juara Liga Inggris setiap tahunnya. Terakhir kali dominasi mereka dipecah yaitu pada tahun 1995, dimana Blackburn Rovers menjelma sebagai kuda hitam Liga Inggris yang mampu menjadi juara pada musim tersebut. Setelah Blackburn, tidak ada lagi yang mampu memecah dominasi big four di papan atas Liga Inggris, hingga akhirnya Tottenham pada 2010 muncul menjadi kuda hitam dengan finis di posisi 4.

Pada tahun 2010 tersebut, Tottenham memang tidak diunggulkan untuk memecah belah peta persaingan juara Liga Inggris. Bahkan, pekan pertama musim tersebut, mereka justru bertemu dengan Liverfool, yang musim sebelumnya hampir juara sebelum gagal di dua pekan terakhir Liga yang memaksa mereka memberikan gelar juara pada Manchester United. Namun, yang dikatakan tersebut justru sebaliknya. Tottenham mampu menjungkirbalikkan semua fakta tersebut, dimana mereka mampu mengalahkan Liverfool pada pekan pertama. Hal itulah yang membawa mereka semakin tidak takut dengan tim big four lainnya.

Perjuangan mereka berlanjut pada musim berikutnya, dimana mereka harus menjalankan pertandingan Liga Champions menghadapi Inter Milan di fase grup. Pada pertemuan pertama, Tottenham sudah tertinggal 4 gol hanya dalam satu babak saja, namun pemain asal Wales yang memperkuat Real Madrid sampai sekarang, yaitu Gareth Bale menunjukkan bakat hebatnya sebagai pesepakbola. Dia mampu memperkecil kekalahan Spurs menjadi 4-3 di pertemuan pertama, dan di pertemuan kedua mereka mampu membalas kekalahan tersebut. Kembali Bale menjadi aktor dengan sprint cepatnya yang menghasilkan 2 assist untuk 3 gol kemenangan Tottenham. Dimusim tersebut, prestasi mereka sedikit naik ke posisi 3 Liga Inggris yang membuat mereka lolos langsung ke UCL musim berikutnya.

Pasca mereka kehilangan Gareth Bale yang hengkang ke Real Madrid, Tottenham sedikit kehilangan ketajaman mereka. Mengapa demikian?Statistik mencatat bahwa hampir setengah gol dari Tottenham berasal dari kontribusi Gareth Bale, baik itu gol maupun assist yang ia buat. Hal itulah yang membuat mereka sedikit tersendat dalam musim 2014 lalu.

Namun, perlahan tapi pasti Tottenham mulai menemukan mesin gol baru. Ya, nama Harry Kane menjadi nama yang potensial pada musim berikutnya. Pada awalnya, Kane tampil tidak semenarik layaknya seorang penyerang. Namun, di pertengahan musim 2015, Kane mampu tampil menyeramkan di depan gawang lawan. Alhasil, pada musim tersebut, Kane mencatatkan 25 gol dan menjadikan dirinya sebagai top skor Liga Inggris pada musim yang sama. 

Sinar Kane bersama Tottenham semakin kuat. Dibawah pelatih Mauricio Pochettino pada musim 2016, karir Kane semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan. Meski gagal memberikan gelar juara pada musim tersebut setelah kalah bersaing dengan Leicester, namun Kane mampu kembali menjadi top skor dengan 30 gol yang ia lesakkan. Posisi peringkat yang dicapai Tottenham pula mampu membuat Tottenham memiliki kesempatan yang besar untuk bersaing di Liga Champions pada musim 2017.

Meski ditinggal banyak pemain bintang menjelang musim 2016-2017 dimulai, namun kecerdasan Pochettino mampu membuat Tottenham menjadi tim yang solid dengan pembinaan pemain muda yang mereka terapkan. Buktinya, pada musim tersebut, nama Dele Alli menjadi pemain muda terbaik Liga Inggris karena kontribusi hebatnya bersama Spurs. Selain Alli, performa Cristian Eriksen yang didatangkan sejak musim 2014 lalu semakin superior. Kecerdasan playmaker asal Denmark ini mampu membuat Kane maupun Alli menjadi ancaman berbahaya di pertahanan lawan.

Dengan kedalaman skuad pada musim tersebut, Tottenham berhasil finis di peringkat 3 Liga Inggris. Namun, kehebatan tersebut tidak sebaik yang mereka raih di Liga Champions, dimana mereka harus tersisih di fase grup. Namun, diluar kegagalan tersebut, secara keseluruhan Tottenham pada musim tersebut mulai menjadi tim yang patut diperhitungkan di musim-musim berikutnya.

Bahkan, meski musim lalu mereka tidak banyak mendatangkan pemain baru, namun Tottenham mampu tetap berhasil finis di posisi 3 Liga Inggris, satu tingkat di atas Liverfool yang saat itu sedang dalam tren menanjak. Selain itu, mereka juga mampu menaklukkan juara bertahan Liga Champions, Real Madrid di kompetisi serupa pada musim tersebut, meski pada akhirnya mereka pun harus tersingkir oleh Juventus di 16 besar.

Berkaca pada pencapaian tersebut, Tottenham saat ini merupakan tim yang patut disegani oleh tim-tim lain. Konsistensi dan kecerdasan yang mereka miliki menjadi kunci keberhasilan Tottenham mencapai 3 besar Liga Inggris. Di musim ini saja, mereka kembali tidak mendatangkan satupun pemain anyar untuk memperkuat tim mereka, namun dalam 2 pekan awal Liga Inggris musim ini mereka mampu menyapu bersih pertandingan tersebut dengan kemenangan. Dan, nanti malam mereka akan menghadapi ujian berat menghadapi Manchester United di Old Trafford. Lalu, apakah konsistensi mereka mampu mereka lanjutkan hingga musim-musim berikutnya?Kita patut memperhatikan seperti apa Tottenham beberapa tahun kedepan.

Tags

About The Author

Aldi Saepurahman-4 23
Pensil

Aldi Saepurahman-4

My Coding My Adventure

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel