Cara Menangkal Hoax: Menghukum Pelakunya atau Mengajari Penyebarnya?

14 Aug 2018 07:00 393 Hits 0 Comments

Satu hal yang saya tahu tentang hoax ini: "hoax dibuat oleh orang pintar yang jahat. Disebarkan oleh orang baik tapi bodoh".

Maka saya pikir cara menangkal hoax dapat dilakukan dengan 2 cara: menguhukum pembuat berita hoax atau mengajari penyebar hoax.

Bosankah kamu dengan hoax? Sebuah fenomena yang amat sangat meresahkan. Sudah marak beberapa tahun belakangan, berbanding lurus dengan meningkatnya  pengguna internet.

Bosan atau tidaknya terhadap hoax, terkadang kita tidak merasakannya. Karena hoax kerap berkamuplase, sehingga kita menjadi gak menyadarinya. Tahu-tahu ikutan latah nyebarin hoax aja.

Marah iya, jijik iya, miris iya juga jika melihat kenyataan bahwa hoax masih saja dipercaya. Namun menyerah dan masa bodoh dengan bahaya hoax. Berarti sama saja kita membiarkan keburukkan terus terjadi, artinya kita sudah menyerah.

Tentu menjadi harapan kita semua bahwa hoax dapat dihilangkan dari muka Bumi ini. Namun kenyataannya ternyata tidak segampang komen julid di IG artis.

Hoax itu akan selalu ada dan mencari cela untuk mengacaukan. Sekali saja akal sehat tidak pada tempatnya, bisa jadi saat itu juga kita mulai percaya hoax.

Saat ini sudah banyak dibahas dimana-mana cara menangkal berita hoax. Lewat sosialisasi anti hoax di ruang-ruang publik, dampak hoax sedikit demi sedikit dikurangi.

Secara garis besar, hoax menyerang lewat 2 arah. Yakni dari mereka yang memproduksi hoax dan mereka yang menyebarkan hoax.

Satu hal yang saya tahu tentang hoax ini: "hoax dibuat oleh orang pintar yang jahat. Disebarkan oleh orang baik tapi bodoh".

Maka saya pikir cara menangkal hoax dapat dilakukan dengan 2 cara: menguhukum pembuat berita hoax atau mengajari penyebar hoax.

Menghukum pembuat berita hoax

Jangan anggap remeh pembuat berita hoax. Dari sejumlah kasus hoax yang terbongkar. Motif utama membuat berita hoax ialah uang.

Pembuat hoax bukanlah orang bodoh yang mudah termakan isu seperti kebanyakkan netizen. Saya duga disinilah bahaya dari mereka yang suka bikin hoax.

Mereka pembuat berita hoax tentu tidak akan memusingkan dampak negatif dari hoax yang dibuatnya. Tentu hanya uang yang dipikirkannya.

Bermodal bisa menulis sebisanya dan yang penting ialah tim untuk "menjual" berita hoax.

Banyak motif penyebaran hoax yang hampir selalu mengecoh banyak orang.

Sebagai otak pembuat berita hoax yang menjadi awal malapetaka. Sudah seharusnya pembuat berita hoax dihukum seberat mungkin.

Lantas apakah dengan menghukum berat sudah efektif memberi efek jerah untuk otak pelaku berita hoax?

Menghukum otak pelaku berita hoax ialah salah satu cara menangkal hoax. Namun masih belum cukup, jika belum memperbaiki dari sisi kitanya sendiri. Kita disini bisa diposisi masyarakat awam yang rentan menjadi korban hoax atau bahkan penyebar hoax.

Karena menghukum seberat apapun pelaku hoax, jika masyarakat masih belum paham bahaya hoax maka bisa dipastikan hoax tetap tumbuh subur.

Mengajari penyebar hoax

Berita hoax ini aneh, korban bisa menjadi pelaku sedangkan pelaku sebenarnya lebih sulit diketahui siapa dalangnya.

Masyarakat awam yang sebenarnya orang baik-baik dan saya yakin gak ada niatan untuk menyebarkan berita bohong atau hoax.

Namun karena kurang bijaknya memahami suatu hal, maka tak sedikit korban berita hoax justru menjadi "buzzer" hoax.

Inilah yang sesungguhnya diharapkan oleh otak dibalik berkembangnya berita hoax. Memanfaatkan ketidaktahuan sebanyak mungkin orang untuk mencapai tujuannya.

Sayangnya masyarakat awam masih begitu erat dengan budaya latah. Apapun yang lagi viral biasanya membuat orang tidak pikir panjang mengiikuti sebuah trend.

Apalagi buat mereka yang sebenarnya sedikit tahu, namun merasa paling bener. Sering memberi komentar tanpa berpikir panjang dulu. Malah terkadang hanya membaca judul suatu berita saja uda mengambil kesimpulannya sendiri dan menyebar ulang.

Maka sudah menjadi sebuah keharusan untuk mengajari atau mendidik masyarakat umum  agar lebih bijak menyikapi sebuah kabar berita. Cara yang paling sederhana ialah bacalah berita dan diam sebelum semuanya jelas. Jangan buru-buru menyebarkan sebuah berita yang belum pasti kebenarannya. Terlebih berita tersebut bersumber dari sumber yang tidak resmi.

Jadi apa cara terbaik untuk menangkal hoax? Bukan lagi bicara menghukum pelaku utama hoax atau mengajari para pembaca. Namun keduanya harus dilakukan secara bersamaan.

Menurut saya lebih utama mengajari atau mensosialisasi masyarakat sebanyak mungkin tentang bahaya hoax. Karena ketika semua masyarakat sudah cerdas dan dewasa dalam menyikapi sebuah berita. Maka berita-berita hoax akan terpinggirkan dengan sendirinya.

Ini semuanya hanya opini dan harapan saya. Sebuah bentuk keresahan saya melihat masih maraknya berita hoax. Saya harap semoga hoax ini nantinya tidak lagi menjadi panutan, namun hanya lelucon recehan doang.

Tags

About The Author

Rianda Prayoga 30
Pena

Rianda Prayoga

Gak banyak bicara, sedikit cuek tapi lumayan ramah

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel