Bukan Salah Bakteri

4 Jun 2018 14:53 1234 Hits 0 Comments
Bukan salah bakteri, tetapi salah manusia sendiri.

Bakteri sering menjadi kambing hitam dalam berbagai persoalan. Sedikit-sedikit dibilang karena bakteri, bakteri ini jahat, bakteri itu harus dimusnahkan, dan sebagainya. Lalu diciptakanlah segala perangkat untuk membasmi atau melawan bakteri: antibiotik, vaksin, dan masih banyak lagi. Segala upaya perbaikan lebih kepada melihat yang di “luar”.

 

Dokter zaman modern jarang yang menyarankan tentang pembenahan di “dalam”. Kebanyakan adalah tentang obat, antibiotik, operasi, dan sebagainya. Mengapa?

 

Bakteri, sebagai organisme yang begitu dibenci itu, bukanlah sesuatu yang ada tanpa fungsi di alam. Bila ternyata terjadi sesuatu karenanya itu adalah salah manusia sendiri dan karena telah terjadi suatu ketidakseimbangan.

 

Berjalannya waktu telah mengubah banyak hal di dalam hidup manusia. Pertanian dan peternakan yang banyak terpengaruh oleh bahan kimia, maraknya rekayasa genetik, penciptaan teknologi yang mengandung efek samping negatif tinggi, pemrosesan dan pendistribusian yang kurang baik, dan sebagainya. Akibatnya, apa-apa yang dimakan oleh manusia menjadi “hampa” gizi dan (atau) lebih “beracun”. Sama-sama apel misalnya tetapi kandungan gizi apel masa kini lebih rendah daripada masa lalu.

 

Sedangkan kesehatan seseorang tergantung oleh makanannya. Makanan itulah yang akan menjadikan daya tahan tubuh kita baik atau buruk. Orang bisa saja sama-sama makan makanan yang mengandung bakteri penyebab diare, tetapi ada yang akhirnya kena diare parah, ada yang diare ringan, bahkan ada yang tidak diare sama sekali. Itu semua karena daya tahan tubuhnya berbeda.

 

Kekebalan alami tubuh berbeda dengan antibiotik dan vaksin. Antibiotik tidak hanya menghancurkan kuman yang diincar tetapi juga bakteri bermanfaat. Sedangkan vaksin, hanya bisa digunakan untuk mengatasi bakteri yang sangat spesifik saja. Jenis-jenis lain membutuhkan vaksin yang lain.

 

Jika seseorang lesu, kehilangan semangat, atau tetap lelah setelah beristirahat, artinya gizi yang masuk ke tubuhnya tak semuanya diubah menjadi tenaga dalam sel. Orang itu kurang sehat, sakit, atau mudah pikun. Penyebabnya adalah karena terjadi penumpukan sampah dalam sel-sel tubuh. Diperlukan detoksifikasi intraseluler untuk menyegarkan sel dan meremajakan tubuh. Tak bisa dipungkiri bahwa makanan yang kita makan setiap hari menentukan kondisi usus, mutu darah, dan sel kita.

 

Hiromi Shinya menyatakan pentingnya kesehatan usus bagi kesehatan tubuh manusia secara keseluruhan. Dua pertiga sel imun dalam tubuh kita terkumpul di usus. Jika tak dilakukan apapun untuk memperbaiki kesehatan usus, kita akan mudah mengalami gangguan kesehatan dan penyakit. Selain itu, kondisi usus juga menentukan kondisi darah yang mengangkut zat gizi ke tiap sel dalam tubuh. Dokter yang telah berpraktek selama setengah abad itu mengatakan, sebagian besar flora usus kita adalah bakteri netral, mikroorganisme oportunis, yang tidak termasuk “bakteri bermanfaat” atau “bakteri berbahaya”. Proporsi bakteri bermanfaat: bakteri berbahaya: bakteri netral adalah 20% : 30% : 50%. Kelompok penting yang memegang kendali lingkungan usus adalah bakteri netral. Sebab, jika proporsi bakteri berbahaya meningkat, bakteri netral bergeser menjadi bakteri berbahaya, dan sebagian besar bakteri usus jadi bertindak sebagai bakteri berbahaya.

 

Jadi, bukan bakterinya yang perlu terus menjadi fokus kita, melainkan peningkatan daya tahan tubuh. Di antaranya melalui makanan yang sehat dan kaya gizi, makanan organik, dan makanan yang masih kaya enzim.

 

 

Gambar: bakteri (sumber: Reddit.com)

 

Tags Kesehatan

About The Author

Dini Nuris Nuraini 28
Pena

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel